tirto.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong produk industri berbasis sumber daya lokal, khususnya kopi dan tembakau, untuk masuk lebih dalam ke pasar global.
Wamenperin Faisol Riza meyakini Tanah Air memiliki sumber daya untuk menjadi negara berbasis agroindustri yang dapat mendorong produk agro serta turunannya masuk lebih dalam ke pasar global.
"Indonesia siap untuk menjadi anchor dari negara-negara BRICS khusus sektor agro-based industry," sebutnya di kantor Kemenperin, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Menurut dia, peluang tersebut didukung prospek pasar makanan dan minuman artisan global yang diperkirakan mencapai 332 miliar dolar AS pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi 627,3 miliar dolar AS pada 2032.

Faisol menyatakan, produk yang memiliki daya saing antara lain kopi, olahan kakao, teh, hortikultura, susu, hingga produk fermentasi.
Kinerja Ekspor Industri Kopi Olahan Terus Menanjak
Dari sektor kopi, Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat dunia dengan produksi biji kopi hijau nasional mencapai 834.822 ton pada 2025. Ekspor biji kopi tercatat 508,65 ribu ton dengan nilai 2,50 miliar dolar AS. Negara tujuan ekspor utamanya, yakni AS, Mesir, Jepang, India, dan Malaysia.
Sementara itu, industri kopi olahan mencatat ekspor sebesar 182,4 ribu ton dengan nilai 692,1 juta dolar AS. Komoditas kopi yang diproduksi didominasi jenis robusta sebesar 72 persen, sedangkan arabika sebesar 28 persen.
Tujuan ekspor utama kopi olahan meliputi Filipina, Malaysia, Uni Emirat Arab, Rusia, dan Thailand.
"Industri pengolahan kopi, Indonesia menjadi produsen kopi terbesar keempat di dunia dengan mencapai peningkatan kinerja ekspor kopi olahan mencapai 692 juta US dolar pada tahun 2025 atau meningkat sebesar 4,36 persen," ujar Faisol.
Tembakau dan Cerutu Premium Deli Bidik Peringkat Atas Global
Pekerja menunjukkan daun tembakau di Bangsal Tembakau Deli, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Sabtu (4/7/2026). PT Perkebunan Nusantara I terus melakukan pengembangan daun tembakau deli dengan perluasan area tanam, peningkatan kualitas dan produktivitas untuk memenuhi industri bahan cerutu premium di pasar Internasioanl seperti Amerika Latin dan Jerman. ANTARA FOTO/Yudi Manar/foc.

Faisol menyebut, industri hasil tembakau juga menunjukkan kinerja ekspor yang kuat. Total ekspor industri tembakau pada 2025 mencapai 2,12 miliar dolar AS atau naik dari 1,85 miliar dolar AS pada 2024.
Nilai tersebut meningkat 127 persen dibandingkan 2021 yang berada di level 932,9 juta dolar AS. Tanah Air juga tercatat sebagai eksportir produk tembakau terbesar keenam dunia.
Kemudian, produk cerutu, ekspor meningkat dari 62,6 juta dolar AS pada 2024 menjadi 79,6 juta dolar AS pada 2025 atau tumbuh 27 persen. Negara tujuan utama ekspor cerutu Indonesia, yakni Jepang dengan pangsa 15,2 persen, Jerman 12,4 persen, dan AS 7,6 persen.
"Industri hasil tembakau, kinerja ekspor industri hasil tembakau juga menunjukkan kemampuan yang kuat menempatkan Indonesia sebagai eksportir terbesar keenam. Salah satu produk hasil tembakau unggulan adalah cerutu premium berbasis tembakau Deli dan Besuki yang telah diakui pasar global," tutur Faisol.

Komoditas Kakao dan Nanas Kaleng Ikut Perkuat Devisa Negara
Selain kopi dan tembakau, Kemenperin mencatat, industri olahan kakao menghasilkan nilai ekspor 3,525 miliar dolar AS pada 2025. Produk olahan kakao Indonesia diekspor ke lebih dari 112 negara, dengan tujuan utama AS, India, China, Estonia, dan Malaysia.
Sementara itu, ekspor produk hortikultura mencapai 544,8 juta dolar AS pada 2025. Komoditas dengan nilai ekspor terbesar, yakni nanas kaleng sebesar 262,5 juta dolar AS, yang berkontribusi sekitar 48 persen terhadap total ekspor produk hortikultura. Ekspor jus nanas juga mencapai sekitar 60 juta dolar AS.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id







































