tirto.id - PT United Tractors Tbk (UNTR), perusahaan di bawah Group PT Astra International Tbk (ASII), membukukan pendapatan bersih Rp58,29 triliun pada semester pertama 2026. Meski turun 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kinerja perseroan tetap solid ditopang oleh bisnis kontraktor penambangan yang mencatat pertumbuhan pendapatan.
Berdasarkan laporan perkembangan usaha perseroan, pendapatan dari bisnis kontraktor penambangan yang dijalankan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) meningkat 4 persen menjadi Rp27,2 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh penguatan kurs dolar Amerika Serikat.
Kinerja tersebut menjadi penopang di tengah penyesuaian aktivitas pertambangan akibat alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah. Hingga semester pertama 2026, volume pemindahan tanah PAMA Grup tercatat 481 juta bcm, turun 10 persen, sementara produksi batu bara untuk klien turun 3 persen menjadi 67 juta ton.
UNTR juga terus memperkuat diversifikasi bisnis kontraktor penambangannya ke sektor mineral selain batu bara, khususnya emas dan nikel. "Langkah strategis ini merupakan bagian dari komitmen dalam membangun portofolio bisnis yang berkelanjutan serta memperkokoh fondasi pertumbuhan jangka panjang Pama Group," tulis manajemen perseroan dalam keterangannya, dikutip Senin (10/8/2026).
Di sisi lain, bisnis emas UNTR mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah operasional Tambang Emas Martabe kembali berjalan pada kuartal kedua 2026, setelah sebelumnya penghentian sementara operasional tambang tersebut menekan penjualan emas perseroan. Tercatat, pendapatan bersih dari bisnis emas dan mineral lainnya mencapai Rp2,4 triliun pada semester pertama 2026.
Secara keseluruhan, laba bersih UNTR yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp956 miliar. Angka tersebut terdampak pencatatan non-recurring items senilai Rp3,3 triliun, terutama berupa penurunan nilai atas Supreme Geothermal Energy serta pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan di Tambang Nikel Stargate.
Jika tidak memperhitungkan non-recurring items, laba bersih UNTR mencapai Rp4,26 triliun. Perseroan mencatat penurunan tersebut terutama disebabkan lebih rendahnya penjualan emas dan penurunan pendapatan yang mencerminkan dampak alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah.
UNTR juga masih memiliki posisi keuangan yang relatif terjaga dengan rasio gearing sebesar 8,5 persen per 30 Juni 2026. Pada periode tersebut, perseroan mencatat utang bersih Rp9,4 triliun, terutama mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































