Menuju konten utama

Stigma Air Hujan Kotor Keliru, Bisa Jadi Air Minum Gratis

Ning menekankan, air hujan yang turun ke bumi pada dasarnya bersih sebelum bersentuhan dengan permukaan tanah maupun bangunan.

Stigma Air Hujan Kotor Keliru, Bisa Jadi Air Minum Gratis
Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih dalam sesi talkshow, sebagai bagian dari peringatan 1 Dekade Tirto, di Kopi Kina Kemang, Sabtu (8/8/2026). FOTO/Khaila Adinda
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Anggapan air hujan merupakan air kotor, asam, dan tidak layak dikonsumsi dinilai tidak tepat. Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, menilai, stigma tersebut justru menutup potensi air hujan sebagai solusi air bersih yang bisa diakses siapa saja secara gratis.

"Kalau kita ngomong normatif, ternyata di masyarakat itu mindsetnya sudah tersistem, terstruktur. 'Ih, air hujan kotor, air hujan tuh asam,' hampir semuanya begitu," kata perempuan yag disapa Ning dalam sesi talkshow sebagai bagian dari peringatan 1 Dekade Tirto, di Kopikina Kemang, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

"Kenapa air hujan itu asam? Kenapa kok air hujan itu kotor? Kita bisa belajar bersama,” lanjutnya.

Ning menjelaskan soal proses alami penguapan air yang hanya membawa unsur murni ke atmosfer. Dia menekankan, air hujan yang turun ke bumi pada dasarnya bersih sebelum bersentuhan dengan permukaan tanah maupun atap bangunan yang berpotensi membawa kontaminan tambahan.

"Coba kalau air tanah, sudah sampai ke tanah itu sesuai amal perbuatan kita masing-masing dalam menjaga lingkungan," katanya.

Ning menegaskan air hujan yang ditampung sebelum jatuh ke tanah lebih minim risiko kontaminasi dibanding air tanah. Dia menyebut air yang tiba di tanah sebagai 'tempat menginap air' dari berbagai jenis polutan dari lingkungan sekitar.

Untuk mengubah air hujan menjadi layak minum, Sekolah Air Hujan Banyu Bening mengenalkan konsep pengelolaan bertahap yang mereka sebut "5M", yakni menampung, mengolah, meminum, menabung, hingga memandirikan akses air di tingkat rumah tangga.

"M pertama adalah bagaimana air hujan yang jatuh di wilayah kita ini kita tampung sesuai kebutuhan, maka konsep teknologi yang kami perkenalkan adalah teknologi Isolah, Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan," kata Ning.

Teknologi lain yang mereka kembangkan adalah elektrolisa air untuk mengubah air hujan menjadi air siap minum. "Di proses elektrolisa ini memecah molekul air, di mana H2O dipecah menjadi air yang bermuatan hidrogen untuk diminum," jelasnya.

Di balik upaya pengelolaan itu, Ning mengatakan gerakan mengampanyekan air hujan ini bermula dari keresahan dirinya atas pola konsumsi air masyarakat yang menurutnya hanya mengambil tanpa mengembalikan ke tanah. "Kalau masyarakat kita hanya tahu mengambil air tanpa mengembalikan, apa sih yang akan terjadi sepuluh, lima belas tahun ke depan?" katanya.

Ning melihat berdasarkan ketimpangan akses air bersih yang muncul di tengah kondisi warga yang bergantung pada air berbayar. "Kenapa kita nggak berpikir memanfaatkan air yang melimpah ini, yang jelas terlihat dari langit? Dan yang paling penting gratis, daripada air PAM yang kita bayar," katanya.

Ning menyebut inisiatif kemandirian air hujan ini semestinya menjadi bagian dari amanat konstitusi soal penguasaan sumber daya alam oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

"Kita harus sadar bicara air bukan hanya bicara tentang sumber daya, tapi bicara air adalah bicara soal peradaban," katanya.

"Air ini hak publik, tidak hanya untuk generasi saat ini, tapi untuk peradaban ke depan,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait AIR HUJAN atau tulisan lainnya dari Khaila Adinda

tirto.id - Flash News
Reporter: Khaila Adinda
Penulis: Khaila Adinda
Editor: Andrian Pratama Taher