Seri Klub Bola Legendaris

Real Madrid 1950-an: Memang Kuat atau Karena Faktor Franco?

Oleh: Faisal Irfani - 15 April 2019
Dibaca Normal 5 menit
Lima kali menjuarai kompetisi Eropa secara beruntun dan empat kali juara liga membikin Real Madrid di era ini disebut-sebut sebagai tim terbaik di dunia.
tirto.id - Glasgow 18 Mei 1960. Hari itu, di Hampden Park, ratusan ribu pasang mata bersiap menyaksikan final Piala Champions━sekarang Liga Champions Eropa━yang mempertemukan Real Madrid (Spanyol) dan Eintracht Frankfurt (Jerman).

Madrid, sebagaimana ditulis BBC, datang dengan optimisme tinggi mengingat mereka telah menyapu bersih gelar juara selama empat tahun beruntun. Sementara Frankfurt berharap modal kolektivitas yang dibangun dan berhasil mengantarkan mereka ke final masih ampuh untuk dipakai.

Frankfurt mencetak gol terlebih dulu di menit 18. Madrid tersengat, menggila, dan mencetak total tujuh gol ke gawang musuhnya itu. Alfredo Di Stefano mencetak hattrick, Ferenc Puskas membikin quatrick. Kedudukan akhir ialah 7-3━menjadi skor terbesar dalam penyelenggaraan final Liga Champions Eropa.

Kemenangan atas Frankfurt malam itu menjadi penanda dominasi Madrid di Eropa. Madrid, era itu, disebut-sebut sebagai klub terbaik di dunia. Memang tak salah. Lima gelar juara Piala Champions secara beruntun (1956-1961), empat kali juara La Liga, dan sekali menggondol Piala Interkontinental adalah buktinya.

“Aku bermain di delapan final [Piala Champions] dan menang enam kali. Kami adalah tim terkuat di dunia dan itu menjadi kebanggaan tersendiri karena aku bermain bersama pemain-pemain ajaib,” tegas Francisco Gento, pemain sayap Madrid, seperti dilansir situs UEFA.


Duet Maut Adalah Kunci


Kampanye Madrid dimulai pada 1956. Di final, anak didik Jose Villalonga ini mengalahkan kesebelasan asal Perancis, Reims, dengan skor 4-3 setelah sebelumnya dua kali tertinggal. Pada musim kompetisi 1957, giliran Fiorentina yang mereka kalahkan dengan dua gol tanpa balas di Stadion Santiago Bernabeu.

Kemenangan bagi Madrid terus berlanjut di tiga musim berikutnya: menyingkirkan AC Milan dengan keunggulan tipis di Brussels (1958), kembali mengalahkan Reims (1959), dan membantai Frankfurt dengan amat telak (1960). Dalam lima musim Piala Champions itu, Madrid mencetak 112 gol dan begitu digdaya di kandang dengan 17 kemenangan.

Selama periode itu, Madrid konsisten memakai pendekatan taktik menyerang dengan formasi andalan 3-2-5. Formasi ini sendiri pada perkembangannya dapat bertransformasi menjadi 3-4-3 serta selalu digunakan tiga masa kepelatihan yang berbeda: dari Villalonga, Luis Antonio Carniglia, hingga Miguel Munoz. Bagi Madrid, setiap pertandingan tak cuma berarti memperoleh kemenangan melainkan juga mencetak gol sebanyak-banyaknya.

Taktik Madrid tentu tak akan terealisasi bila tak didukung sumber daya yang mumpuni. Madrid saat itu adalah tempat berkumpulnya pemain-pemain sangar. Di posisi penjaga gawang ada Rogelio Dominguez yang sangat cekatan; di lini pertahanan ada trio Marquitos-Jose Santamaria-Pachin yang memberi garansi kesolidan; sementara di lini tengah Madrid memiliki Gento, Luis del Sol, dan Raymond Kopa yang punya naluri menyerang sama-sama tinggi.

“Tidak ada yang bisa mengalahkan Madrid waktu itu,” tulis wartawan asal Perancis, Jean Eskenazi. “Penampilan mereka seperti pertunjukan kembang api paling fantastis yang pernah ada.”

Meski demikian, kunci kejayaan Madrid kala itu berada pada duet maut Alfredo Di Stefano dan Ferenc Puskas. Di Stefano merupakan penyerang ulung: mencetak 216 gol dalam 284 pertandingan di Madrid. Sedangkan Puskas, yang datang ke Madrid saat usianya sudah menginjak angka 31, terkenal dengan kemampuan kaki kirinya serta reputasinya membikin 84 gol dalam 85 pertandingan bersama tim nasional Hungaria.

Di Stefano lahir di Buenos Aires pada 1926. Semasa kecil, ia menghabiskan banyak waktu dengan bermain bola di jalanan ibukota. Di usia 19 tahun, Di Stefano direkrut River Plate, kendati kemudian dipinjamkan ke Club Atletico Huracan. Klub ini nyatanya membantu Di Stefano untuk berkembang pesat dan ia diberi julukan “La Saeta Rubia” (“Blond Arrow”) karena kemampuan mencetak golnya.

Memasuki 1950-an, Di Stefano merantau ke Kolombia dengan bergabung bersama Millonarios of Bogotá dan tampil begitu produktif: memasukan 100 gol dalam 110 laga. Aksi Di Stefano menarik perhatian Presiden Madrid, Santiago Bernabeu, kala Millonarios melakukan tur ke Spanyol dan mengalahkan Madrid dengan skor 4-2 dalam pertandingan persahabatan.

Namun, Madrid bukan satu-satunya klub yang berminat pada jasa Di Stefano. Di belakang mereka, ada Barcelona yang mengutarakan keinginan serupa. Kedua klub tersebut lantas terlibat dalam pusaran konflik transfer. Barcelona menganggap mereka telah sepakat dengan klub asli Di Stefano, River Plate. Di lain sisi, Madrid punya keyakinan yang berhak diajak mengurus kontrak adalah klub Di Stefano sekarang, Millonarios.

Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) akhirnya mengambil jalan tengah: Di Stefano, untuk sementara waktu, diminta bermain di dua klub━keputusan yang konyol pastinya. Perintah RFEF ditaati kedua klub. Tak lama kemudian, Barcelona memutuskan untuk menjual Di Stefano sebab si pemain terlihat tak antusias untuk membela klub asal Catalunya ini.

Madrid pun segera menampung Di Stefano. Di Madrid, Di Stefano langsung tancap gas dan menjadi pemain kunci. Ia berhasil meraih gelar pencetak gol terbanyak Liga Spanyol selama empat musim dan melepaskan gol di setiap laga final Madrid di Piala Champions. Total, bersama Madrid, Di Stefano sukses menggetarkan jala lawan sebanyak 308 gol dari 390 penampilan.

Kekuatan Di Stefano terletak pada betapa efektifnya ia sebagai penyerang tengah. Di Stefano punya kontrol bola di atas rata-rata, stamina yang kuat, serta kecepatan yang membuat bek lawan kelimpungan. Dengan kombinasi tersebut, Di Stefano menjadi jantung, jiwa, sekaligus konduktor Madrid.

Sedangkan tandem Di Stefano, Ferenc Puskas, lahir di Budapest pada 1927. Puskas merupakan bagian dari generasi emas tim nasional Hungaria yang mempermalukan Inggris di kandangnya sendiri, Wembley, pada 1953 dengan skor 6-3. Tiga tahun berselang, 1956, Puskas dan beberapa rekan setimnya memperoleh skors dari FIFA karena menolak bermain bersama timnas akibat di dalam negeri sedang terjadi revolusi yang menentang intervensi Uni Soviet.

Keadaan itu tak membuat minat Bernabeu terhadap Puskas luntur. Ia ingin membawa Puskas ke Madrid untuk melengkapi kepingan Galacticos miliknya serta mengisi kekosongan tandem bagi Di Stefano yang baru saja ditinggal Raymond Kopa ke Perancis. Pada 1958, setelah lobi-lobi kepada UEFA dan FIFA agar mencabut larangan bermainnya, Madrid berhasil meneken kontrak dengan Puskas.

Ketika datang di Madrid, Puskas nampak tidak ideal untuk ukuran pemain bola. Badannya tambun dan lebih mirip pejabat pemerintah yang tak pernah memeras keringat. Bahkan, Puskas sendiri bilang ke petinggi Madrid bahwa ia tak dapat bermain bola karena badannya yang kelewat gemuk.

Jajaran kepelatihan Madrid tak diam begitu saja. Pelatih Madrid, Luis Antonio Carniglia, meminta Puskas menurunkan berat badannya dengan berbagai macam workout. Carniglia tak ingin kedahsyatan Puskas tertutup pola hidupnya yang tak sehat.

Setelah melewati proses demi proses, Puskas akhirnya terbukti menjadi rekrutan Madrid yang tepat. Ia total berhasil mencetak 240 gol dalam 260 pertandingan untuk Madrid, termasuk 35 gol di kompetisi Eropa. Kekuatannya terletak pada tendangan kaki kiri yang mematikan. Yang paling bikin Madrid bungah, Puskas menjadi tandem ideal bagi Di Stefano. Keduanya, selama enam musim, dari 1958 sampai 1964, menjalin duet yang dahsyat━meski usia mereka tak lagi muda.

Kunci keberhasilan duet tersebut adalah fakta bahwa Puskas rela mengalah demi pesona bintang Di Stefano. Alih-alih berupaya merebut posisi Di Stefano, Puskas, seperti ditulis Paul McParlan dalam “How Alfredo Di Stefano and Ferenc Puskas Became Football’s Most Prolific Partnership” (2018) yang dirilis These Football Times, malah menyediakan ruang sebesar-besarnya bagi Di Stefano untuk unjuk kemampuan. Puskas sadar Di Stefano merupakan simbol Madrid dan ia tak ingin kedatangannya justru jadi bara dalam sekam.

Sikap saling pengertian itulah yang lantas menjadi bekal keduanya untuk besar bersama dan mengantarkan Madrid berjaya selama dekade 1950-an.


infografik real madrid
undefined

Dibantu Diktator Franco?


Suara-suara sumbang bermunculan menanggapi kejayaan Madrid saat itu. Salah satu yang populer━dan kemudian dianggap masuk akal━ialah Madrid dibantu diktator Francisco Franco untuk menguasai jagat bola Spanyol dan Eropa. Asumsi tersebut didasarkan pada kasus transfer Di Stefano.

Dalam “Franco Gets His Man: The Di Stefano Signing” yang dipublikasikan di Soccer Politics, dijelaskan bahwa Franco “meminta” kepala pemandu bakat Barca waktu itu, Josep Samitier, untuk mengatur kondisi agar Madrid bisa memperoleh jasa Di Stefano tanpa banyak pesaing. Dalam blog yang dikelola Laurent Dubois, profesor sejarah di Duke University sekaligus penulis The Language of the Game: How to Understand Soccer (2018), ini juga ditulis bahwa Franco, lewat tangan kanannya, akan memberi sejumlah uang dan fasilitas lainnya kepada Samitier.

Cerita lainnya yaitu pemerintahan Franco mengeluarkan undang-undang yang melarang pembelian pemain asing. Regulasi ini dibikin untuk mencegah Di Stefano bergabung dengan Barcelona. Akhirnya, Dewan Direktur Barcelona menyerahkan hak pembelian secara penuh ke Real Madrid, asalkan Barcelona menerima kembali uang yang sebelumnya mereka bayarkan ke River Plate.

Kisah-kisah yang dituturkan di atas, terlepas dari tingkat akurasi kebenarannya, memperlihatkan simbol kekuatan Franco sebagai pemimpin rezim. Franco membangun banyak pengaruh dengan menggunakan taktik politik di belakang layar guna menegaskan kontrol penuh negara.

Memilih Madrid sebagai tim kesayangan━atau lebih tepatnya alat propaganda━sebetulnya bukan langkah yang mengejutkan. Sesuai sifatnya, suatu rezim dibangun di atas tanah ibukota, dan pemerintahan Franco, secara politik maupun ekonomi, terpusat di sekitar Madrid.

Untuk alasan ini, Real Madrid, yang punya nilai jual tinggi di dunia sepakbola, besar kemungkinan menjadi tim yang disukai sang diktator. Tak heran bila sepanjang 1950-an, Franco sering melakukan kunjungan rutin ke markas maupun pertandingan Madrid.

Akan tetapi, mendakwa Madrid berjaya hanya karena uluran tangan sang diktator adalah argumentasi yang gegabah, demikian tegas Nick Fitzgerald dalam “The Story of Real Madrid and the Franco Regime” (2015) yang diterbitkan di laman These Football Times.

Menurutnya, Franco justru perlu Madrid sebab kesebelasan ini bisa dijadikan alat propaganda yang sakti guna menopang visi-misi kediktatorannya. Pasalnya, Madrid melambangkan segala hal yang diperjuangkan Franco━sentralisasi kekuasaan dan nilai-nilai tradisional yang ditinggalkan reruntuhan Kerajaan Castilla.

Real Madrid penting bagi diplomasi Franco sebab, pertama, keberhasilan Madrid di kompetisi Eropa secara tidak langsung dapat merefleksikan gagasan tentang Spanyol yang kaya, bahagia, dan bersatu. Kedua, dukungan terhadap Madrid dapat digunakan secara implisit oleh Franco sebagai kritik terhadap Catalunya dan Basque yang menggunakan sepakbola untuk mengekspresikan identitas budaya serta suar penolakan terhadap rezim junta militer.

Atas dasar ini pula, selama beberapa dekade Franco berkuasa, klub-klub seperti Barcelona dan Athletic Bilbao, yang mewakili identitas Catalunya maupun Basque, kerap ditekan oleh rezim. Pada 1941, misalnya, Franco meminta Athletic Club Bilbao mengubah namanya menjadi “Atletico Club” karena kata “Athletic” sendiri punya konotasi yang jelas dengan bahasa Basque.

Los Leones━julukan Bilbao━juga diminta meninggalkan kebijakan yang hanya memungkinkan pemain kelahiran Basque bermain untuk klub. Bagi Franco, Spanyol harus didasarkan pada identitas budaya, etnis, dan bahasa yang tunggal.

Catatan sejarah tersebut kemudian menjadi keyakinan pikir yang melekat di masyarakat: Madrid adalah klub konservatif, sedangkan Barcelona dan Bilbao merepresentasikan klub yang liberal dan berafiliasi dengan kelompok sayap kiri.

Nick, masih dalam tulisannya, menyebut bahwa mengaitkan kesuksesan Madrid dengan Franco merupakan wujud ketidaksukaan klub-klub lain terhadap prestasi Madrid. Cara yang paling mudah, terang Nick, yaitu dengan menghubungkannya dengan pengaruh penguasa.

Lagi pula, kejayaan Madrid juga tak abadi. Setelah final Piala Champions 1960, dominasi mereka lama-kelamaan tergerus karena satu dan banyak sebab. Namun, satu hal yang pasti: tak ada klub yang bisa mendominasi Eropa seperti yang dilakukan Madrid di era 1950-an━dan mereka melakukannya bukan karena Franco.

Baca juga artikel terkait LIGA CHAMPIONS atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono