tirto.id - Manchester City didakwa bersalah atas 114 pelanggaran finansial yang dilaporkan Premier League. Selepas melewati proses penyelidikan panjang, kasus tersebut memasuki tahap krusial, yakni menunggu sanksi yang akan dijatuhkan kepada klub.
Namun demikian pemberian hukuman diprediksi bakal melewati proses lama, mengingat kompleksitas kasus serta jumlah dakwaan yang sangat banyak. Di sisi lain, pihak Manchester City masih berpeluang mengajukan banding terhadap dakwaan.
Kini The Citizens dihadapkan sejumlah ancaman hukuman yang dapat menjerat klub pada waktu mendatang. Mulai dari pengurangan poin dan pembatasan transfer pemain, hingga yang terberat pencabutan gelar juara Premier League serta degradasi ke Divisi Championship.
Lantas apakah kasus ini bakal menjadi awal keruntuhan Man City di Liga Inggris dan Eropa? Bagaimana efek domino yang ditimbulkan dari kasus ini, serta langkah apa yang dilakukan pihak klub untuk meminimalisir hukuman yang bakal dijatuhkan?
Kronologi Kasus Manchester City dan Dakwaan Terbaru
Kronologi kasus Manchester City berawal dari dugaan 115 pelanggaran dalam periode 2009 hingga 2018 yang dilaporkan Premier League. The Citizens diduga melanggar aturan financial fair play (FFP) dan profitability sustainability rules (PSR).
Pelanggaran berlangsung dalam periode panjang, mulai 2009 sampai 2023. Mencakup persoalan laporan keuangan, pembayaran gaji pemain dan manajer, aturan profitabilitas dan keberlanjutan, regulasi UEFA, hingga kewajiban klub bekerja sama dalam proses investigasi.
Setelah investigasi selama 4 tahun, Premier League mendakwa Manchester City dengan 115 dugaan pelanggaran aturan finansial. Perkara ini kemudian dilimpahkan kepada komisi independen untuk mengadili berbagai dakwaan yang diajukan Premier League.
Bulan September 2024, komisi independen menggelar sidang tatap muka antara pihak Premier League dan Manchester City secara tertutup. Proses hukum berjalan lebih panjang dari perkiraan, karena permasalahan yang kompleks dan jumlah dakwaan yang banyak.

Kemudian pada September 2026, The Athletic melaporkan bahwa komisi independen sudah menjatuhkan keputusan, Manchester City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 tuduhan yang dilaporkan oleh Premier League.
Secara rinci, Man City melakukan 54 pelanggaran berupa kegagalan menyediakan informasi keuangan yang akurat dan terperinci (accurate financial information). Ada 14 pelanggaran terkait menyediakan laporan keuangan terkait kompensasi/gaji pemain dan manajer.
Kemudian 5 pelanggaran mematuhi regulasi keuangan UEFA (Financial Fair Play). Serta sisanya pelanggaran regulasi profit dan keberlanjutan (PSR), serta kegagalan bekerja sama (failure to cooperate) dalam proses penyelidikan Premier League.
Potensi Efek Domino dan Dalih Manchester City
Hasil dakwaan terbaru terhadap Man City berpotensi menimbulkan efek domino di Liga Inggris. Sejumlah klub Premier League mulai mencari masukan dari sisi hukum untuk menuntut kompensasi terhadap kerugian yang diakibatkan pelanggaran Manchester City.
Langkah tersebut muncul usai Man City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan pelanggaran aturan finansial. Klub yang posisinya terdampak bisa melakukan klaim kehilangan kesempatan meraih gelar atau mempertahankan posisi di Premier League.
Kendati demikian, manajemen Manchester City berdalih bahwa pihaknya tidak pernah melakukan pelanggaran laporan keuangan. Manchester City masih berpeluang mengajukan banding terhadap dakwaan tersebut.
“Proses Premier League masih terus berlangsung, dengan beberapa elemen signifikan yang masih harus diselesaikan, serta terikat oleh aturan kerahasiaan yang ketat. Oleh karena itu, posisi Manchester City FC tetap konsisten dengan pernyataan resmi Klub pada Februari 2023.” ungkap Khaldoon Al Mubarak, chairman klub Man City.

Khaldoon juga menegaskan bahwa kubu Man City terus menaati prosedur hukum saat penyelidikan. Chairman Man City berharap keputusan yang diambil dapat bersifat objektif, adil, dan tidak memihak.
“Klub telah patuh dan tekun menghormati proses hukum ini selama 8 tahun, atas dasar kepercayaan bahwa Dewan dan Eksekutif Premier League bertindak sebagai regulator yang independen, tidak memihak, dan adil, serta bebas dari pengaruh partisan,” imbuh Khaldoon Al Mubarak.
Selain itu, kubu Man City juga sudah menunjuk pengacara David Pannick untuk memimpin tim hukum mereka. Pannick dikabarkan menerima bayaran sangat besar yang mencapai ribuan poundsterling per jam atau sekitar 1,5 miliar rupiah per hari.
David Pannick dikenal sebagai salah satu ahli hukum publik dan hak asasi manusia terkemuka di Inggris. Ia pernah menangani kasus besar seperti membela mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, dan pernah menjadi penasihat hukum Ratu Elizabeth II.
David Pannick merupakan sosok kunci yang sukses membela Manchester City memenangkan banding di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) pada tahun 2020, dari hukuman pelanggaran finansial UEFA.
Ancaman Sanksi: Awal Runtuhnya Dominasi Manchester City?
Man City kini dihadapkan sejumlah ancaman sanksi yang dapat menjerat klub akibat 114 pelanggaran yang didakwakan Premier League. Menurut The Athletic, Man City berpeluang menerima hukuman mulai dari yang ringan hingga terberat.
Sanksi ringan dapat berupa denda dengan nominal yang cukup besar, pengurangan poin serta pembatasan transfer pemain dalam beberapa periode. Sementara sanksi berat berupa pencabutan gelar juara, hingga pengusiran dari kompetisi Premier League.

Hukuman denda dan pengurangan poin relatif memiliki dampak kecil bagi perjuangan Man City di kompetisi Liga Inggris dan Eropa. Akan tetapi sanksi pembatasan transfer pemain jelas berpengaruh terhadap kedalaman skuad The Citizens untuk musim-musim berikutnya.
Sanksi berat berupa pencabutan gelar juara Premier League berpotensi memunculkan tuntutan kompensasi dari tim-tim lain. Selama periode pelanggaran itu, Man City sanggup memenangkan 3 gelar Premier League, 2 Piala FA, 4 Piala Liga, serta 1 Community Shield.
Sementara itu, sanksi pengusiran dari Premier League bakal membuat Man City terancam degradasi ke divisi terbawah Liga Inggris. The Citizens setidaknya harus berjuang dari kasta ke-5 Liga Inggris (National League) untuk kembali tampil di Premier League.
Penulis: Ahmad Zidan Nahari
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id

































