Menuju konten utama

Dari La Masia, Mereka Kini Jadi Pelatih Luar Biasa

Selain dikenal sebagai produsen para pemain berbakat, akademi La Masia Barcelona ternyata juga turut melahirkan para pelatih terbaik di dunia.

Dari La Masia, Mereka Kini Jadi Pelatih Luar Biasa
Stadion Camp Nou, Barcelona. foto/riis bcw global
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Akademi klub FC Barcelona atau La Masia dikenal sebagai salah satu produsen pemain sepak bola terbaik di dunia. Tidak sedikit lulusan akademi tersebut yang kemudian punya karier bagus sebagai pemain profesional. Namun demikian cukup banyak pula eks La Masia yang sukses sebagai pelatih alias juru taktik.

Pep Guardiola serta mendiang Tito Vilanova merupakan 2 pelatih hebat yang dahulu memulai karier sepak bola di La Masia. Selain memberikan sumbangsih nyata bagi Barcelona sebagai juru taktik, mereka juga sukses ketika melatih klub lain.

Barcelona tak hanya membuka jalan bagi Guardiola dan Vilanova saat memulai karier sebagai pemain profesional. Pasalnya Blaugrana juga menjadi jembatan awal bagi mereka ketika memutuskan terjun sebagai pelatih usai gantung sepatu.

Pada era yang lebih modern deretan juru taktik serupa lantas muncul dalam diri Mikel Arteta, Cesc Fabregas, lalu Xavi Hernandez. Musim lalu Arteta bahkan sukses mengantar Arsenal menjuarai Liga Inggris (EPL) 2025/2026.

Kemudian pada generasi yang terbaru terdapat nama Sergio Busquets, Andres Iniesta, dan Thiago Alcantara, yang akan memulai karier di dunia kepelatihan. Lalu, apakah mereka bertiga bakal sukses seperti Guardiola, Arteta, dan yang lainnya?

Lonjakan Karier Pelatih Muda: Arteta, Fabregas, dan Xavi

Era saat ini, setidaknya ada 3 nama lulusan La Masia yang bisa dianggap sebagai pelatih muda potensial. Mereka adalah Xavi Hernandez, Cesc Fabregas, serta Mikel Arteta.

Dari sisi jumlah gelar juara, Xavi agaknya menjadi yang terbaik di antara mereka. Xavi memulai karier kepelatihan sejak tahun 2019, dan sampai kini sudah meraih 9 trofi.

Ketika masih aktif bermain, sosok bernama lengkap Xavier Hernández Creus itu dikenal sebagai otak tiap serangan Barcelona. Ia adalah pemain kunci di lini tengah bersama Iniesta, Busquets, serta Fabregas.

Xavi merebut 25 trofi bersama Barcelona. Kemudian ketika bermain untuk klub Al Sadd di Liga Qatar, Xavi mempersembahkan 4 gelar juara. Xavi juga merebut 4 gelar juara bersama Timnas Spanyol baik level senior maupun junior.

Kegemilangan masih diteruskan Xavi Hernandez ketika alih profesi menjadi pelatih mulai tahun 2019. Al Sadd memberi jalan bagi Xavi sebagai juru taktik mereka pada periode 2019-2021.

Total ada 7 gelar juara yang diberikan Xavi sebagai pelatih Al Sadd, yaitu: 1 Liga Qatar (2020-21), 2 Qatar Cup (2020, 2021), 1 Sheikh Jassim Cup (2019), 2 Emir of Qatar Cup (2020, 2021), lalu 1 Qatari Stars Cup (2019-20).

Tahun 2021 ketika Barcelona butuh pelatih baru, usai mengakhiri kerjasama dengan Ronald Koeman, pihak manajemen mulai melirik Xavi.

Xavi resmi menjadi pelatih Barcelona sejak November 2021. Awal kepelatihan Xavi di Blaugrana tidak mudah, karena saat itu Barca baru saja ditinggal sang bintang Lionel Messi ke PSG.

Tapi perlahan Xavi mulai bisa membuktikan kualitasnya. Ia membawa Barca menjuarai Liga Spanyol 2022-23 serta Supercopa de España 2023. Dua trofi tersebut makin melambungkan nama Xavi.

Xavi tidak bertahan terlalu lama di Camp Nou. Pada Mei 2024 ia digantikan oleh Hansi Flick. Xavi kemudian ditunjuk sebagai pelatih Timnas Belanda pada Agustus 2026.

Mikel Arteta

Mikel Arteta, Pelatih Arsenal membawa bola Arsenal. instagram/mikelartetaSudah Diverifikasi•

Pelatih berikutnya adalah Cesc Fabregas. Saat masih aktif bermain dikenal sebagai gelandang cerdas, yang pernah membela Barcelona, Arsenal, serta Chelsea. Sebagai pemain, Fabregas mempersembahkan 6 gelar juara bagi Barcelona.

Fabregas belum berhasil meraih trofi sebagai pelatih. Sosok berusia 39 tahun itu memulai karier juru taktik pada 2024 bersama klub Italia, Como. Sebelum itu Fabregas sempat menjadi pelatih tim Como U19 dan Como B.

Fabregas musim lalu sukses mencetak sejarah bagi Como. Ia menjadi pelatih pertama dalam sejarah klub, yang sanggup mengantar tim lolos ke Liga Champions Eropa (UCL). Como mengakhiri Liga Italia Serie A 2025-2026 di peringkat 4, dengan koleksi 71 poin.

Lantas ada Mikel Arteta. Akhir musim 2025-2026 lalu Arteta sukses membawa Arsenal menjuarai Liga Inggris (EPL), lalu runner-up Liga Champions (UCL) dan Carabao Cup.

Pada 16 Agustus 2026 lalu, Mikel Arteta juga berhasil membawa The Gunners merebut trofi FA Community Shield, dengan menundukkan Manchester City 3-0.

Juara Liga Inggris musim lalu terasa sangat spesial bagi Arteta dan Arsenal. Pasalnya itu adalah gelar pertama The Gunners usai terakhir kali juara liga pada musim 2003-2004 silam. Mikel Arteta total sudah memberikan 5 trofi juara bagi Arsenal.

Ketiga pelatih muda jebolan La Masia di atas punya statistik bagus. Xavi sudah melakoni 239 pertandingan sebagai pelatih, dengan rasio kemenangan sebesar 65,6 persen.

Kemudian Arteta sudah memimpin Arsenal untuk 353 laga sampai akhir musim 2025-2026. Rasio kemenangan Arteta mencapai 61,8 persen.

Fabregas yang paling junior dalam dunia kepelatihan, ternyata juga punya statistik bagus sampai akhir musim 2025-2026. Memimpin Como dalam 97 pertandingan, Fabregas memiliki rasio kemenangan 44,3 persen.

Satu hal menarik adalah Mikel Arteta menjadi lulusan La Masia yang tidak pernah membela tim utama Barcelona. Sejak lulus akademi tahun 1999, Arteta hanya masuk Barcelona B. Ia kemudian pindah ke PSG tahun 2001.

Bukti Tsunami Trofi dari Para Pelatih Jebolan La Masia

Sebelum era Xavi, Fabregas, dan Arteta, sudah ada setidaknya 2 pelatih jebolan La Masia yang sanggup memborong banyak trofi untuk timnya. Mereka adalah Pep Guardiola dan Tito Vilanova.

Guardiola membela tim senior Barcelona sebagai pemain pada periode 1990-2001. Ia berposisi sebagai gelandang bertahan. Guardiola total bermain dalam 384 pertandingan, dengan torehan 11 gol dan 57 assists, serta mempersembahkan 15 trofi juara.

Kesuksesan itu diteruskan Guardiola ketika ditunjuk sebagai pelatih. Barcelona memberikan jalan tersebut pada tahun 2008. Berbekal para pemain kunci seperti Xavi, Iniesta, dan Lionel Messi, sosok Pep Guardiola sukses besar dengan memborong total 14 trofi juara.

Kualitas Guardiola sebagai pelatih tidak hanya ditunjukkan di Barcelona. Ketika melatih Bayern Munchen periode 2013-2016, ia juga berhasil membawa 7 trofi. Kemudian saat melatih Manchester City periode 2016-2026, Pep Guardiola menggila dengan koleksi 20 trofi juara. Total sebagai pelatih, Guardiola sudah merebut 41 trofi!

Statistik Guardiola sebagai pelatih tidak main-main. Dari total 1.001 pertandingan sampai akhir musim 2025-2026, Guardiola membukukan 726 kemenangan, 140 imbang, dan 135 kalah. Rasio kemenangan Guardiola sebagai pelatih mencapai 72,5 persen.

Manchester City Menang

Pelatih Manchester City Pep Guardiola, kiri, dan asistennya Mikel Arteta memegang trofi ketika mereka merayakan dengan pendukung mereka di Stadion Etihad di Manchester, Inggris, Minggu 12 Mei 2019Jon Super/AP

Beralih ke Tito Vilanova, ia merupakan pelatih yang memiliki jejak mirip Mikel Arteta. Vilanova menjadi lulusan La Masia, tapi tidak pernah membela tim utama Barcelona sebagai pemain profesional.

Tapi hal berbeda ia tunjukkan ketika menjadi pelatih. Vilanova sempat melatih Barcelona pada 2012-2013. Meski hanya semusim melatih tim utama Barca, Vilanova sempat pula menangani tim junior Barcelona tahun 2002-2003, lalu menjadi asisten pelatih Barcelona tahun 2008-2012 yakni asisten Pep Guardiola.

Satu musim sebagai pelatih kepala Barcelona, Vilanova mempersembahkan sebuah trofi, yakni LaLiga 2012-2013. Pada musim tersebut Vilanova memimpin Barca dalam 45 pertandingan. Hasilnya 33 kemenangan, 6 imbang, dan 6 kekalahan, dengan rasio kemenangan 73,3 persen.

Sayang sekali Vilanova beberapa kali absen melatih, karena menderita penyakit kanker parotid. Vilanova hanya setahun melatih Barca, sebelum akhirnya meninggal dunia pada 25 April 2014.

Meski singkat, namun Vilanova punya jasa lain bagi Barcelona. Lionel Messi menuturkan bahwa Vilanova adalah pelatih pertama yang memberinya kepercayaan bermain ketika masih memperkuat tim Barcelona U16.

"Tito (Vilanova) adalah orang pertama yang percaya kepada saya, karena pada waktu itu saya hanya menjadi pemain pengganti atau tidak bermain sama sekali. Dia pelatih yang menjadikan saya starter di tim U16," ucap Messi, dikutip dari laman Tribuna.

Awal Petualangan Busquets, Alcantara, dan Iniesta, Bisa Menyusul?

Selain deretan pelatih muda potensial Xavi, Arteta, dan Fabregas, kemudian Guardiola juga belum pensiun, kini sudah muncul lulusan La Masia lain yang menjajaki karier dalam dunia kepelatihan. Mereka adalah Sergio Busquets, Thiago Alcantara, serta Andres Iniesta.

Busquets membela Barcelona periode 2008-2023, ia memutuskan pensiun dari dunia pemain sepak bola profesional pada 25 September 2025 usai memperkuat Inter Miami. Kurang dari setahun kemudian, Busquets diketahui sudah ditunjuk sebagai pelatih Barcelona B.

Sergio Busquets

Sergio Busquets. Instagram/ sergiobusquets16

Kemudian ada Thiago Alcantara, gelandang Barcelona era 2009-2013 yang saat ini jadi salah satu asisten pelatih Hansi Flick di tim utama Barcelona. Sementara Iniesta kini sudah menjadi pelatih kepala Gulf United di Liga Uni Emirat Arab.

Guardiola pada tahun 2023 pernah berkata bahwa Busquets bisa menjadi seorang pelatih hebat. Semasa masih aktif bermain, Busquets memang dikenal sebagai gelandang yang piawai membaca alur permainan. Ia merupakan salah satu pemain yang ditemukan serta dikagumi oleh Guardiola.

"Dia (Busquets) adalah yang terbaik, dia bisa membaca semuanya, dia bisa mengantisipasi dan membaca situasi. Dia tidak banyak bergeser dari pusat permainan dan bisa menyelesaikan semua masalah di lapangan dengan otaknya," kata Guardiola, dikutip dari laman AS.

"Sungguh luar biasa bisa bekerja sama dengannya dan belajar darinya. Saya katakan padanya, dan saya berharap bahwa dia bisa menjadi pelatih yang luar biasa," imbuh Guardiola.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA atau tulisan lainnya dari Wan Faizal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Wan Faizal
Penulis: Wan Faizal
Editor: Oryza Aditama