tirto.id - Manchester City diputuskan bersalah dalam 115 dari 116 dakwaan pelanggaran keuangan antara tahun 2008-2018. Namun, alih-alih langsung memberikan sanksi seperti yang pernah dilakukan kepada Nottingham Forest dan Everton ketika dinyatakan bersalah, Premier League masih menunggu situasi.
Pelanggaran keuangan yang dilakukan Manchester City dan tim besar lain di Liga Inggris seperti Chelsea seolah jadi rahasia umum. Kedua klub tersebut dianggap diperlakukan istimewa meski melakukan kesalahan, terutama Manchester City.
Dalam laporan Dan Roan, yang diterbitkan oleh BBC, Premier League selaku pemilik kebijakan disebut mengesampingkan hukuman pencabutan gelar, degradasi ke divisi bawah maupun pengurangan poin. Padahal, Manchester City sudah dinyatakan bersalah atas pelanggaran keungan, begitu pula dengan Chelsea yang lebih dulu diputuskan melakukan pelanggaran dalam transfer pemain antara tahun 2011-2018.
Selain pelanggaran soal transfer pemain, Chelsea diketahui memalsukan laporan pembukuan mereka dengan total 74 item pelanggaran. Namun, hingga saat ini belum ada hukuman tegas yang diberikan Premier League terhadap klub-klub papan atas yang melakukan pelanggaran.
Gelar Juara Manchester City dan Chelsea Layak Dicabut?
Mauricio Pochettino, pelatih Timnas Amerika Serikat yang pernah melatih Tottenham Hotspur, membuka kembali bahasan soal Chelsea yang belum mendapatkan balasan setimpal atas pelanggaran yang mereka lakukan. Menurut Pochettino, Spurs seharusnya mendapatkan gelar juara Liga Inggris 2016-2017, karena Chelsea yang juara di musim tersebut mendapatkannya dengan cara yang tidak fair.
Pelanggaran yang dilakukan Chelsea terjadi dalam rentang waktu 2011-2018. Dalam pandangan Pochettino, gelar juara Chelsea musim 2016-17 tersebut seharusnya dicabut sebagai balasan atas pemalsuan laporan keuangan dan pelanggaran lain yang dilakukan secara sengaja oleh manajemen The Blues.
Pada musim 2016-17, Chelsea menjadi juara Premier League dengan raihan 93 poin. The Blues unggul 7 poin dari Tottenham yang menempati peringkat 2. Jika saja ada ketegasan, menurut Pochettino seharusnya pihak Premier League berani mencabut gelar juara Chelsea dan memberikannya kepada Spurs sebagai runner-up.
"Sudah saya katakan bahwa seharusnya kami bisa mendapatkan satu gelar juara Premier League. Kami seharusnya mendapatkan gelar itu. Jika itu (pelanggaran Chelsea) benar dan memang terjadi, jelas bahwa kami pantas menjadi juara musim itu karena kami tim terbaik kedua," kata Pochettino.

Pelanggaran yang dilakukan Chelsea terjadi saat klub masih berada dalam kepemilikan Roman Abramovich. Pada tahun 2022 lalu baru terjadi peralihan setelah Todd Boehly membeli saham mayoritas klub yang dimiliki Abramovich.
Dengan kepemilikan baru, Chelsea harus menjalani proses investigasi oleh Premier League. Hukuman akhirnya diterima Chelsea, di antaranya berupa denda sejumlah 10,75 juta euro yang berkaitan dengan pelanggaran laporan keuangan, investasi pihak ketiga, dan pengembangan tim muda.
Chelsea juga dijatuhi hukuman berupa larangan transfer di tim akademi selama 9 bulan dan hukuman transfer di level tim utama selama 1 tahun. Namun, hukuman transfer untuk tim utama itu masih ditangguhkan selama 2 tahun ke depan. Hal itu membuat Chelsea masih bisa mendatangkan banyak pemain di bursa transfer musim panas 2026.
Dalam rilis resminya, Premier League membeberkan faktor yang membuat Chelsea tidak mendapatkan hukuman seberat yang diperkirakan pihak lain. Menurut Premier League, kubu Chelsea bersikap proaktif dalam melaporkan hal itu, mengakui adanya pelanggaran, dan bekerja sama penuh selama proses investigasi.
Keputusan itu dianggap masih merupakan hukuman ringan. Sebab dampak dari pelanggaran memang cukup masif imbasnya dengan performa tim di lapangan hijau. Pelanggaran itu membuat Chelsea jadi bisa mendatangkan pemain hebat yang membantu tim bersaing dalam perebutan gelar juara.
"Mungkin dengan aturan serupa, jika kami menerapkan hal yang sama, mungkin kami bisa mendatangkan beberapa pemain yang bisa membuat tim lebih baik atau mencetak gol lebih banyak. Ini bukan saya yang mengeluh. Tapi memang begitu faktanya," tambah Pochettino.

Bukan hanya Chelsea yang mendapat perlakuan istimewa dari Premier League, klub kaya raya lainnya Manchester City juga belum dihukum walau sudah diputuskan bersalah dalam 115 dari 116 dakwaan yang diajukan jaksa. The Citizens diduga melakukan pelanggaran keuangan sejak diambil alih Abu Dhabi United Group Investment and Development Limited pada 2008 dan terus diulang sampai 2018.
Suntikan dana yang diberikan oleh pemilik tidak melalui mekanisme yang sah, membuat Manchester City mampu berkembang pesat. Mereka mampu mendatangkan banyak pemain bintang dengan harga mahal dan gaji tinggi, meski pendapatan klub tidak cukup.
Sejak akuisisi Abu Dhabi United Group Investment and Development Limited, Manchester City secara total meraih 26 gelar juara. Mereka mampu memenangi Premier League sebanyak 8 kali, 4 Piala FA, 7 Carabao Cup, 4 FA Community Shield, 1 Liga Champions, 1 Piala Super Eropa, dan 1 Piala Dunia Antarklub.
Hukuman Berat Everton dan Nottingham Forest
Ketika Manchester City dan Chelsea mendapat perlakuan istimewa, cerita yang berbeda dialami oleh Everton dan Nottingham Forest. Kedua klub Inggris yang tidak kaya-kaya amat langsung mendapat hukuman berat yang nyaris membuat terdegradasi ke Championship.
Everton dan Nottingham Forest melakukan aturan yang mirip yakni Profit and Sustainability Rules (PSR). Everton melakukan pelanggaran pada musim 2021-2022 dan mendapat hukuman pengurangan 10 poin di musim 2023/2024 ketika dinyatakan bersalah.
Pihak Everton kemudian melakukan banding. Walau diberi keringanan, mereka tetap dijatuhi pengurangan 6 poin. Mereka kemudian mendapat pengurangan 2 poin lagi di musim berjalan karena melakukan pelanggaran serupa.
Klub lain yang ditindak tegas oleh Premier League saat melakukan pelanggaran adalah Nottingham Forest. Mereka juga melakukan pelanggaran Profit and Sustainability Rules (PSR), tetapi dengan nilai yang lebih kecil dibanding Everton. Walau begitu, The Forest tetap dihukum pengurangan 4 poin di musim 2023-2024.
Hukuman pengurangan poin yang diterima nyaris membuat Everton dan Nottingham Forest terdegradasi. Everton yang meraih 13 kemenangan, 9 hasil imbang dan 16 kali kalah sepanjang musim finis di peringkat 15 dengan 40 poin, dari seharusnya 48 poin.
Situasi lebih sulit dialami Nottingham Forest karena harus berjuang hingga detik-detik akhir akibat pengurangan poin. Mereka akhirnya finis di posisi 17 alias batas terakhir selamat dari zona degradasi. Mengumpulkan 32 poin, atau berjarak 6 poin saja dari Luton Town yang terdegradasi ke Championship.
Dugaan Kecurangan Manchester City di Bursa Transfer 2026
Saat tuduhan 116 pelanggaran keuangan yang dilakukan Manchester City belum tuntas, mereka diduga melakukan kecurangan lagi di bursa transfer musim panas 2026. Dugaan itu berasal dari hengkangnya Omar Marmoush dan Savinho yang sama-sama dilepas ke Tottenham Hotspur.
Dalam laporan pembukuan klub, Savinho dilepas Manchester City ke Tottenham Hotspur dengan harga 75 juta poundsterling. Angka tersebut dianggap tidak masuk akal untuk pemain seperti Savinho yang jarang dimainkan di musim terakhir.
Peningkatan harga Savinho, berkaitan dengan transfer pemain Manchester City lainnya Omar Marmoush yang dilego ke Spurs dengan harga 60 juta pundsterling. Padahal, secara kualitas dan nilai pasar, Marmoush seharusnya dijual lebih mahal dibanding Savinho.
Dugaan penggantian harga pemain dilakukan Manchester City dan Tottenham Hotspur untuk mengakali klausul komisi yang harus dibayarkan Manchester City kepada Eintracht Frankfurt. Menurut laporan Goal, Manchester City wajib memberikan sebagian uang penjualan kepada Frankfurt apabila sang pemain dijual dalam harga tertentu.
Manchester City pun diduga sengaja memasukkan harga jual Marmoush ke harga jual Savinho. Dengan demikian, semakin murah nilai penjualan Marmoush, semakin kecil pula persentase uang yang dibayarkan City kepada Frankfurt.
Penulis: Wan Faizal
Editor: Permadi Suntama
Masuk tirto.id
































