tirto.id - Tottenham Hotspur terjebak dalam kondisi sulit pada periode awal musim 2026/2027. Dari 5 laga yang sudah dilakoni di Liga Inggris (Premier League), The Lilywhites ironisnya belum pernah menang. Mereka hanya mendapat 2 imbang dan sudah menelan 3 kekalahan.
Satu-satunya hasil positif yang sejauh ini bisa diraih Tottenham pada musim 2026/2027 terjadi ketika unggul 5-1 atas Charlton Athletic di babak 64 besar Carabao Cup 2026. Namun selepas itu langkah Spurs langsung terhenti di babak 32 besar, usai kalah 3-1 dari Liverpool.
Tottenham Hotspur sejatinya tengah membangun fondasi tim di bawah komando pelatih Roberto De Zerbi. Sejak ditunjuk pada akhir musim 2025/2026 lalu, juru taktik asal Italia tersebut mampu menyelamatkan Spurs dari jurang degradasi.
Akan tetapi, tren performa Tottenham justru menunjukkan anomali dengan menukik pada awal musim 2026/2027. Meski sudah mendatangkan deretan pemain dengan nilai fantastis, Spurs justru terdampar di dasar klasemen EPL.
Lalu apa yang menjadi penyebab anomali performa Tottenham di tangan Roberto De Zerbi pada awal musim 2026/2027? Apa langkah yang mesti dilakukan De Zerbi dan manajemen klub untuk mendongkrak performa tim?
De Zerbi, from Hero to Zero?
Roberto De Zerbi boleh dibilang menjadi pahlawan Tottenham pada akhir musim 2025/2026. Selepas menjuarai Europa League 2024/2025, Spurs justru terpuruk pada musim berikutnya di bawah pelatih Thomas Frank dan Igor Tudor.
Tottenham berkutat di papan bawah klasemen Liga Inggris 2025/2026, hingga terancam degradasi. Situasi ini membuat manajemen klub merekrut pelatih De Zerbi pada pekan ke-32. Performa Spurs lantas perlahan meningkat, lalu selamat dari ancaman degradasi.
Hingga akhir musim 2025/2026, juru taktik asal Italia itu sanggup membukukan 3 kemenangan, 2 imbang, dan 2 kalah. Tottenham finis di posisi 17 klasemen akhir Liga Inggris 2025/2026, dengan koleksi 41 poin. Spurs berjarak 2 poin dari West Ham di zona degradasi.

Semua masih berjalan normal, karena Tottenham tampil relatif menjanjikan ketika pramusim 2026. Di bawah arahan Roberto De Zerbi, The Lilywhites sanggup mengantongi 5 kemenangan dan 2 imbang dari laga uji coba, termasuk menundukkan Chelsea dalam tur Australia.
Akan tetapi, performa Tottenham langsung memburuk pada awal musim 2026/2027. Meski hanya bermain dalam kompetisi domestik, Spurs hanya membukukan 1 kemenangan, 2 imbang, dan 4 kekalahan di ajang EPL dan Carabao Cup.
Kini Tottenham tengah terbenam di dasar klasemen Liga Inggris 2026/2027, dengan koleksi 2 poin. Spurs dituntut segera bangkit usai jeda FIFA Matchday bulan September-Oktober 2026, demi melepaskan diri jeratan zona degradasi.
Anomali Tottenham Hotspur
Tottenham Hotspur menunjukkan performa anomali pada awal musim 2026/2027. Meski sudah merekrut sejumlah pemain dengan nilai fantastis, Spurs justru masih terjebak dalam jerat hasil buruk dalam 7 pertandingan di semua kompetisi.
Tottenham sempat kesulitan mencetak gol dalam 4 laga awal Premier League 2026/2027, yakni berujung 2 kekalahan dari Brentford (3-0) dan Newcastle (0-2), lalu bermain imbang tanpa gol kontra Nottingham dan Everton.
Selepas itu Tottenham kembali menelan kekalahan dari Aston Villa pada pekan ke-5 EPL 2026/2027. The Lilywhites sempat tertinggal 3 gol lebih dulu dari The Villains, sebelum memangkas skor menjadi 2-3 pada akhir laga.

Sementara di ajang Carabao Cup, Spurs sanggup mengalahkan Charlton Athletic 5-1 saat babak 64 besar. Akan tetapi langkah The Lilywhites terhenti di babak 32 besar, karena kalah dari Liverpool dengan skor 3-1.
Performa Tottenham di atas lapangan sangat kontras dengan rekrutan fantastis yang dilakukan klub pada awal musim ini. Spurs sudah menggelontorkan dana sebesar 407 juta poundsterling atau sekitar 9,04 triliun rupiah untuk pembelian pemain.
Sandro Tonali menjadi pembelian paling mahal seharga 100 juta poundsterling atau 2,22 triliun rupiah. Lalu ada Savinho dan Mateus Fernandes, masing-masing seharga 85 juta poundsterling atau 1,89 triliun rupiah.
Jan Paul van Hecke juga didatangkan dengan harga 52 juta poundsterling atau sekitar 1,15 triliun rupiah. Spurs mendapatkan Andy Robertson, Marcos Senesi, Martin Dubravka, dan Cole Ramsey secara gratis.
Tottenham meminjam Omar Marmoush dari Manchester City untuk memperkuat lini serang tim. Di sisi lain, Spurs juga merekrut beberapa pemain yang dianggap relatif gagal di klub asal mereka, seperti Mikhaylo Mudryk dan Tosin Adarabioyo dari Chelsea.
Sampai saat ini, beberapa rekrutan anyar Spurs nyatanya belum mampu memberikan dampak positif bagi tim. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah Spurs melakukan rekrutan yang salah, atau justru taktik De Zerbi yang gagal diterapkan oleh para pemain baru tersebut.
Menerka Nasib de Zerbi
Hasil negatif Tottenham pada awal musim ini jelas berdampak kepada nasib Roberto De Zerbi di kursi kepelatihan. De Zerbi sempat mengungkapkan kekecewaannya usai kekalahan dari Aston Villa pada akhir pekan lalu.
"Hari ini saya sangat kecewa, sedih, dan frustasi dengan performa tim, karena kami tidak boleh kalah dengan cara seperti ini Kami tidak boleh kehilangan keseimbangan, hanya karena tertinggal di babak pertama.” ungkap Roberto De Zerbi, dikutip dari laman resmi Tottenham.
Menurut laporan Goal.com, De Zerbi mengutarakan kritik terhadap konsistensi pemainnya saat berlaga di lapangan. Juru taktik asal Italia itu juga mempertanyakan ketahanan mental para pemain, untuk menjaga performa kompetitif sepanjang 90 menit.
"Sulit untuk menjelaskannya karena dalam karier saya selama 14 tahun sebagai pelatih, saya tidak pernah melihat satu tim seperti kami yang begitu rapuh dan tidak konsisten” ujar Roberto De Zerbi di laman Goal.com.
Roberto De Zerbi juga menyebut minimnya kepemimpinan di lapangan, menjadi alasan utama di balik kegagalan terstruktur mereka ketika bertanding. De Zerbi juga menyinggung kurangnya komunikasi antar pemain membuat laga berjalan lebih sulit.

"Mungkin komunikasi antarpemain (yang menjadi masalah), maka para pemimpin harus lebih kuat. Kami membutuhkan pemimpin untuk mendorong dan memimpin tim. Kami harus menemukan solusinya.” imbuh Roberto De Zerbi.
Sampai saat ini belum ada rumor dari pihak manajemen klub yang mengarah mendepak Roberto De Zerbi dari kursi pelatih. Selain itu De Zerbi juga memiliki kontrak panjang di Tottenham dengan durasi 5 tahun.
Namun demikian manajemen klub justru terbelit konflik internal terkait pemain sejak musim lalu. Misalnya, Christian Romero yang tidak ingin memperpanjang kontrak dengan Spurs, ia bahkan memilih absen di laga terakhir melawan Everton.
Kemudian ada Richarlison yang ingin hengkang pada bursa transfer awal musim ini, tapi ditolak oleh manajemen klub. Akhirnya Richarlison dicoret dari skuad Tottenham di semua kompetisi, karena gagal mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua pihak.
Deretan persoalan tersebut menambah berat krisis yang dialami Tottenham pada awal musim ini. Kini tantangan dan beban kembali tertuju kepada pelatih Roberto De Zerbi, mampukah ia memperbaiki performa tim untuk meraih momentum kebangkitan.
Penulis: Ahmad Zidan Nahari
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id


































