Menuju konten utama

Perginya Todd Boehly dan Pertaruhan Masa Depan Chelsea

Todd Boehly resmi pergi sehingga Chelsea jadi milik Clearlake. Mengapa Boehly hengkang, apa saja kontroversi transfer, dan bagaimana masa depan The Blues?

Perginya Todd Boehly dan Pertaruhan Masa Depan Chelsea
Conor Gallagher dari Chelsea, kedua kanan, merayakan bersama rekan satu timnya setelah mencetak gol pembuka timnya selama pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris antara Chelsea dan Manchester United di Stamford Bridge di London, Kamis, 4 April 2024. (AP Photo/Kin Cheung)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Konsorsium Clearlake Capital resmi memegang kendali penuh atas manajemen Chelsea FC selepas pengusaha asal Amerika Serikat, Todd Boehly, dan rekannya, Mark Walter, menjual seluruh porsi saham mereka. Transaksi tersebut diumumkan pada Kamis (17/9/2026) pagi waktu Indonesia.

"Chelsea FC hari ini mengumumkan bahwa afiliasi dari Clearlake Capital Group akan mengakuisisi kepemilikan saham," demikian pernyataan The Blues di laman resmi klub.

Keputusan tersebut sekaligus mengakhiri masa jabatan Boehly sebagai chairman Chelsea, juga menutup konflik internalnya dengan salah satu pendiri Clearlake Capital, Behdad Eghbali, yang sudah berlangsung hampir dua tahun.

Sebagai gambaran, sebelum transaksi monumental ini terjadi, struktur kepemilikan Chelsea dikuasai Clearlake dengan porsi 61,5 persen saham. Di sisi lain, kubu Boehly, Walter, dan Wyss masing-masing mengantongi sekitar 12,8 persen saham.

Seiring hengkangnya Boehly dan Walter, Clearlake menjelma jadi penguasa tunggal, didampingi Wyss sebagai mitra minoritas. Reuters melaporkan nilai transaksi untuk mencaplok saham Chelsea milik Boehly dan Walter berada di angka 950 juta poundsterling (sekitar Rp19 triliun).

Alasan Todd Boehly Tinggalkan Chelsea

Keputusan Boehly angkat kaki dari Chelsea tak lepas dari hubungannya dengan Clearlake dan Eghbali yang terus memburuk. Benih perselisihan sudah terendus publik sejak 2024, saat masing-masing kubu berbeda pandangan soal cara mengelola klub, termasuk kebijakan transfer, dan pembagian kewenangan saat mengambil keputusan krusial.

Todd Boehly

Todd Boehly. Wikimedia/Eric van den Brulle

The Guardian sempat mengulas perebutan pengaruh di balik layar, salah satunya menyangkut keterlibatan Eghbali dalam urusan teknis dan transfer. Kubu Boehly disebut ingin mendapat peran lebih besar untuk struktur pengelola olahraga yang dipimpin Direktur Olahraga Laurence Stewart dan Paul Winstanley. Keterlibatan langsung pemilik klub dalam urusan merekrut pemain ini turut memicu friksi.

Masalah lain dipicu perbedaan visi proyek stadion, antara merenovasi dan memperluas kapasitas Stamford Bridge atau membangun stadion baru di kawasan Earl's Court. Pada Maret 2025, Boehly sempat mengatakan kepada Bloomberg bahwa keputusan terkait proyek stadion ini berpotensi jadi faktor penentu masa depan kemitraannya dengan Clearlake.

Kontroversi Rezim Todd Boehly di Chelsea

Salah satu kontroversi sepanjang era kepemimpinan Todd Boehly yakni sifat hiper-agresif Chelsea di bursa transfer. Menurut laporan tahunan UEFA bertajuk European Club Finance and Investment Landscape, pada akhir tahun finansial 2024, skuad Chelsea tercatat sebagai yang termahal sepanjang sejarah dari segi biaya transfer.

ESPN melaporkan, saat itu The Blues total sudah mendatangkan 41 pemain dalam enam jendela transfer sejak diambil alih Boehly dan Clearlake pada musim panas 2022. Total nilai transfer gabungan mencapai 1,656 miliar euro, melampaui skuad Manchester United musim 2023 yang bernilai 1,422 miliar euro.

Dalam periode lima tahun dari Juli 2019 hingga Juni 2024, pengeluaran Chelsea untuk transfer pemain mencapai hampir 2 miliar euro, jauh melampaui klub Eropa lain seperti Manchester City (1,175 miliar euro), Arsenal (1,145 miliar euro), Barcelona (733 juta euro), dan Liverpool (657 juta euro).

Chelsea FC

Dario Essugo dari Chelsea (kiri) merayakan gol bersama rekan setimnya, Reggie Walsh (tengah) dan Dastan Satpayev (kanan), dalam pertandingan Sydney Super Cup antara Chelsea FC dan Western Sydney Wanderers di Stadium Australia, Sydney, pada 28 Juli 2026. Saeed Khan / AFP

Strategi belanja itu terlihat dari sejumlah pembelian mahal. Moises Caicedo digaet dengan dana 115 juta poundsterling. Ada pula Enzo Fernández yang dibeli sekitar 107 juta poundsterling. Belum lagi Mykhailo Mudryk sekitar 88-89 juta poundsterling, Wesley Fofana 70-75 juta poundsterling, serta Marc Cucurella sekitar 60 juta poundsterling.

Era Boehly juga membawa tren kontrak jangka panjang. Sebagai contoh, Enzo Fernandez dan Mudryk. Keduanya sempat diganjar kontrak hingga 2031, sementara pemain lain mendapat ikatan enam sampai delapan tahun.

Taktik ini memanfaatkan amortisasi biaya transfer yang dibagi sepanjang masa kontrak, sehingga beban belanja tersebar di laporan keuangan selama beberapa tahun. Alhasil, Chelsea mencatat beban amortisasi lebih besar dibanding klub Premier League lainnya.

Namun, tak semua investasi berbuah manis. Contohnya, Raheem Sterling. Ia diboyong dari Manchester City seharga sekitar 47,5 juta poundsterling pada 2022. Sang winger tersingkir dari rencana utama pelatih. Ia bahkan sempat dipinjamkan. Kasus lain, Kalidou Koulibaly. Ia ditebus sekitar 33 juta poundsterling dari Napoli, hanya bertahan satu musim lalu pindah ke Al-Hilal.

Bahkan, Enzo Fernandez, salah satu simbol kebijakan kontrak panjang tersebut, akhirnya dilepas ke Manchester City pada awal September 2026 seharga 125 juta poundsterling, hanya tiga setengah tahun setelah kedatangannya, jauh sebelum kontraknya berakhir pada 2031.

Di sisi lain, meski diterpa kritik, era Boehly tidak sepenuhnya hampa prestasi. Chelsea memboyong UEFA Conference League 2025. The Blues juga menyabet gelar Piala Dunia antarKlub, mengalahkan juara UCL, Paris Saint-Germain 3-0 di final. Hanya, klub London Barat itu memang belum meraih gelar Premier League atau Liga Champions di bawah rezim Boehly.

Masa Depan Chelsea Usai Todd Boehly Pergi

Kini Clearlake punya ruang lebih lega untuk menentukan arah Chelsea tanpa harus berhadapan dengan friksi internal atau persetujuan pemegang saham minoritas. Indikasi perubahan strategi transfer sudah terlihat sebelum Boehly resmi pergi. Chelsea perlahan mulai memasukkan pemain berpengalaman ke skuad yang selama beberapa musim didominasi pemain muda.

Pada musim panas 2026, Chelsea mendatangkan Jordan Henderson, gelandang Inggris berusia 36 tahun, dengan kontrak jangka pendek usai meninggalkan Brentford. Ada pula Danny Welbeck (35 tahun) dari Brighton. Belum lagi kedatangan Emi Martinez (34 tahun) untuk menjaga gawang klub London Biru.

Langkah ini mencolok, mengingat Chelsea sebelumnya jarang merekrut pemain di atas 26-27 tahun.

Pemain Chelsea Cole Palmer

Gelandang Chelsea Cole Palmer merayakan keberhasilannya mencetak gol ke gawang Newcastle pada pekan kesembilan Liga Inggris di Stadion Stamford Bridge, London, Minggu (27/10/2024). (HO-Chelsea/chelseafc.com)

Di sisi lain, perburuan talenta muda tetap jalan beriringan. Chelsea menyegel jasa Valentin Barco (Strasbourg), Geovany Quenda (Sporting Lisbon), Morgan Rogers (Aston Villa), Dastan Satpayev (Kazakhstan) dan beberapa nama potensial lainnya.

Dalam pengumuman di laman resmi klub, Chelsea menegaskan, "Tidak akan ada perubahan pada operasional sehari-hari, kepemimpinan, atau strategi di Klub."

Clearlake juga menyatakan fokusnya untuk lanjut investasi pada sektor infrastruktur klub, performa olahraga, dan pengembangan pemain, demi mewujudkan sukses jangka panjang bagi Chelsea dan pendukungnya.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Horizon
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fitra Firdaus