Menuju konten utama

Mampukah Gabriel Jesus Lanjutkan Tradisi Mesin Gol Barcelona?

Mampukah Gabriel Jesus lanjutkan tradisi mesin gol Barcelona, setelah Blaugrana kehilangan Robert Lewandowski?

Mampukah Gabriel Jesus Lanjutkan Tradisi Mesin Gol Barcelona?
Penyerang asal Brasil yang membela Barcelona, ​​Gabriel Jesus (nomor punggung 9), merayakan gol kelima timnya dalam pertandingan sepak bola putaran pertama Liga Champions UEFA antara FC Barcelona dan Feyenoord di Stadion Camp Nou, Barcelona, ​​pada 9 September 2026. (Foto oleh Josep LAGO / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gabriel Jesus yang baru masuk sebagai pemain pengganti dalam laga Barcelona vs Feyenoord pada menit 83, mampu mencetak gol di partai matchday pertama Liga Champions 2026/27 itu. Gol yang diukir Kamis (10/9/2026) jadi gol debut Jesus untuk Blaugrana.

Mungkinkah sang penyerang asal Brasil ini melanjutkan tradisi mesin gol Barca ketika klub tersebut musim panas ini melepaskan dua pemain nomor 9 mereka, Robert Lewandowski dan Ferran Torres?

Detik-detik akhir bursa transfer musim panas 2026 diwarnai manuver Barcelona. Blaugrana merekrut Gabriel Jesus dari Arsenal dengan ikatan kontrak jangka panjang sampai 30 Juni 2029. Tidak ada angka transfer pasti, tapi diperkirakan Barca harus menghabiskan minimal Rp173,82 miliar versi Transfermarkt.

Mendatangkan Jesus dilakukan manajemen kubu Camp Nou demi mencari solusi instan di lini depan menyusul kepergian sang bomber utama, Robert Lewandowski. Ditambah, Ferran Torres pun pergi ke PSG. Di balik kepindahan kedua pemain nomor 9 tersebut, tersimpan cerita lika-liku perburuan penyerang oleh Barca.

Barcelona Robert Lewandowski

Pemain Barcelona Robert Lewandowski merayakan setelah mencetak gol pembuka timnya selama pertandingan sepak bola La Liga Spanyol antara FC Barcelona dan Valladolid CF di stadion Camp Nou di Barcelona, ​​Spanyol, Minggu, 28 Agustus 2022. (AP Photo/Joan Monfort)

Barcelona sejatinya membidik penyerang Atletico Madrid Julian Alvarez sebagai buruan nomor satu. Sial bagi El Barca, pintu negosiasi ditutup rapat-rapat oleh pihak Metropolitano. Target lantas digeser kepada Lautaro Martinez. Ketertarikan Barcelona pada penyerang Inter Milan itu dikonfirmasi langsung oleh sang pemain setelah jendela transfer resmi dikunci.

Namun, ketika salah satu dari dua target utama tadi gagal diboyong ke Camp Nou, radar Barca akhirnya mengarah ke Gabriel Jesus. Waktu kedatangan yang mepet dengan tenggat penutupan bursa transfer sontak membuat pembelian eks Arsenal itu rentan dicap sebagai aksi panic buying.

Mampukah Gabriel Jesus merawat dan melanjutkan tradisi mesin gol Barcelona? Ataukah dia bakal masuk dalam daftar penyerang flop Barcelona? Bagaimana pula kans persaingan dengan pemain lain seperti Raphinha dan Lamine Yamal?

Jejak Tajam Mesin Gol Barcelona: Dari R9, Messi, hingga Lewandowski

Menjadi ujung tombak Barcelona bukan pekerjaan sembarangan. Status sebagai penyerang utama di Camp Nou menuntut ekspektasi langit. Tiga dekade terakhir sejarah klub ini selalu disesaki deretan juru gedor haus gol yang jadi momok di panggung sepak bola Eropa.

Tradisi mesin gol Blaugrana ini dibuka secara menggila oleh Ronaldo Luis Nazario de Lima. Sejak merapat pada musim 1996/1997, bomber asal Brasil yang akrab disapa Il Fenomeno itu cuma butuh waktu semusim untuk menorehkan 47 gol dari 49 penampilan resmi di semua ajang.

Selepas era R9, tongkat estafet lini depan beralih ke kaki Patrick Kluivert. Penyerang asal Belanda itu mengabdi pada kurun 1998 sampai 2004 dengan koleksi 122 gol dari 257 pertandingan. Perannya langsung diganti oleh Samuel Eto'o, juru gedor asal Kamerun yang membukukan 130 gol sekaligus menjadi aktor krusial di balik deretan trofi mayor klub Catalan itu.

Atleti vs Barcelona

Atleti vs Barcelona (Dec. 2019) 1. foto/Rilis BCW Indonesia

Puncak sejarah lini serang Barcelona kemudian ditulis dengan tinta emas oleh Lionel Messi. La Pulga yang mengabdi di tim utama Barcelona sejak 2004 hingga 2021 memporak-porandakan buku rekor lewat torehan fantastis 672 gol dari 778 laga resmi. Sebagai catatan, Messi tidak berposisi sebagai penyerang murni. Namun, taktik Pep Guardiola menempatkannya sebagai false nine jadi kunci betapa produktifnya La Pulga.

Belum cukup dengan magis Messi, lini depan Barcelona diwarnai kehadiran Luis Suarez yang datang pada 2014. Kehadirannya melahirkan trisula maut MSN bersama Messi dan Neymar. Penyerang asal Uruguay itu total mengemas 198 gol di kompetisi resmi bersama Blaugrana.

Kendati era berganti, standar tinggi di lini serang El Barca tidak lantas turun. Robert Lewandowski datang menggendong reputasi elite dan sukses menyarangkan 119 gol hanya dalam 191 penampilan sebelum masa baktinya tuntas pada 2026.

Alih-alih Bisa Diandalkan, Ternyata Malah Jadi Beban

Kendati sarat akan sejarah penyerang legendaris haus gol, lembaran arsip Blaugrana ternyata juga menyimpan sederet kisah kelam di bursa transfer. Fakta di atas lapangan membuktikan nama besar dan banderol harga selangit sama sekali bukan garansi instan bagi seorang pemain untuk langsung bersinar di Camp Nou.

Zlatan Ibrahimovic menjadi salah satu contohnya. Sejak diboyong pada bursa transfer 2009 dengan ekspektasi tinggi, penyerang asal Swedia itu hanya mampu bertahan satu musim dan mengemas 22 gol dari 46 laga. Statistiknya jomplang jika disandingkan dengan efektivitas kilat Ronaldo Nazario di masa lalu. Konflik taktis dengan sang pelatih, Pep Guardiola, turut mempercepat kepulangannya ke Liga Italia.

Daftar pembelian lini depan yang gagal memenuhi ekspektasi kemudian berlanjut pada nama-nama seperti Paco Alcacer yang hanya mengemas 15 gol dari 50 pertandingan, sampai "Lord" Martin Braithwaite yang gagal unjuk taring karena hanya mengemas 10 gol dari 58 laga resmi bersama Barca.

Antoine Griezmann

Barcelona Antoine Griezmann berjalan di lapangan selama pertandingan sepak bola La Liga Spanyol antara Barcelona dan Real Madrid di stadion Camp Nou di Barcelona, ​​Spanyol, Rabu, 18 Desember 2019. Bernat Armangue/AP

Bahkan, pengeluaran finansial masif klub untuk mendatangkan para pemain ofensif bertaraf dunia macam Ousmane Dembele (40 gol dari 185 laga), Philippe Coutinho (26 gol dari 106 laga), sampai Antoine Griezmann (35 gol dari 102 laga) akhirnya hanya berujung kekecewaan massal penggemar.

Realitas pahit di masa lalu ini jelas jadi alarm tersendiri. Gabriel Jesus memang datang dengan CV mentereng berbekal pengalaman panjang berseragam Manchester City dan Arsenal, tetapi sang penyerang juga mengantongi tren kurva produktivitas gol yang cenderung menurun dalam beberapa musim terakhir.

Gabriel Jesus Memang Layak atau Justru Bakal Terdepak?

Secara kualitas teknis, Gabriel Jesus sama sekali bukan pemain sembarangan. Ia dikenal sebagai penyerang dinamis beretos kerja tinggi serta piawai membuka ruang lewat permainan kombinasi. Fleksibilitasnya untuk diplot sebagai penyerang tengah maupun digeser ke sektor sayap menjadi nilai plus tersendiri di mata pelatih Hansi Flick.

Kendati begitu, angka-angka di atas lapangan tak bisa berbohong. Tiga musim berseragam Meriam London, Gabriel Jesus hanya mengemas 32 gol dari 123 penampilan di semua kompetisi. Hantaman cedera lutut sempat merusak ritme permainannya.

Kepindahan ke La Liga bersama Barca ini praktis bisa jadi panggung pertobatan sekaligus momen krusial bagi Gabriel Jesus untuk menghidupkan kembali ketajamannya yang sempat meredup.

Gabriel Jesus

Gabriel Jesus. foto/Dok. Man City

Namun, pertanyaannya kemudian mengerucut pada peta persaingan internal. Apakah Gabriel Jesus akan langsung jadi pilihan utama, atau justru harus bersaing ketat dengan lini depan Barca lainnya? Jawabannya tentu tidak mudah, terutama jika melihat status Raphinha yang sekarang menjelma jadi salah satu pemain terpenting sekaligus nyawa permainan Barcelona di bawah asuhan Hansi Flick.

Transformasi winger asal Brasil itu terbilang berkah. Sejak kedatangan Flick pada 2024, Raphinha mencatat statistik elok berupa 90 kontribusi gol (60 gol dan 30 assist) dari 93 pertandingan di semua ajang. Memasuki musim 2026/2027, ia langsung memimpin daftar top skor sementara La Liga berkat torehan lima gol dari tiga laga awal, termasuk aksi dwigolnya dalam kemenangan telak 5-2 atas Rayo Vallecano pada 1 September 2026 lalu.

Di sisi lain, lini serang Barcelona juga punya Lamine Yamal yang tengah menjelma jadi fenomena di usianya yang masih muda. Belum lagi kehadiran amunisi anyar berdarah kompetitif macam Karim Adeyemi dan Anthony Gordon, yang secara kolektif memberi variasi serangan bagi Blaugrana.

Arsenal Gabriel Jesus

Pemain Arsenal Gabriel Jesus merayakan gol kelima Arsenal bersama dengan rekannya, Gabriel Martinelli pada pertandingan pra musim Arsenal melawan Sevilla di Stadion Emirates, London, Inggris, Sabtu (30/07/2022). (ANTARA FOTO/REUTERS/Paul Childs/foc/RST)

Lantas, bagaimana proyeksi persaingan antara Gabriel Jesus dan Raphinha? Secara posisi dasar, keduanya memiliki area operasional yang bisa saling melengkapi alih-alih saling mematikan secara langsung. Raphinha merupakan penguasa mutlak di sektor sayap kiri maupun kanan dengan insting menusuk yang mematikan, sementara Jesus adalah tipikal penyerang tengah yang senang turun menjemput bola dan membuka ruang.

Hanya saja, jika Gabriel Jesus gagal menemukan ketajamannya dan mengulang tren produktivitas menurun seperti di akhir masa baktinya bersama Arsenal, ia berpotensi tersisih oleh kedalaman skuad Barcelona.

Beban gol di Barcelona musim ini memang tak sepenuhnya di pundak Gabriel Jesus. Kehadiran Raphinha, Lamine Yamal, Adeyemi, dan Gordon membuat Hansi Flick bisa lebih fleksibel. Jesus tidak mungkin langsung dipaksa jadi juru selamat tunggal, tetapi dia harus membuktikan kapasitasnya di kawah candradimuka Camp Nou.

Standar Barcelona tidak menolerir pemain yang sekadar tampil "lumayan". Musim baru 2026/2027 bakal jadi ujian penghakiman bagi sang nomor 9 baru Barcelona.

Baca juga artikel terkait SC BOLD atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Olahraga
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fitra Firdaus