Menuju konten utama

Mirisnya Parma & Fiorentina: Dulu Diperhitungkan, Kini Semenjana

Parma dan Fiorentina pernah menjadi tim papan atas Serie A, bahkan menjadi juara Eropa. Namun, kini keduanya berubah jadi tim semenjana.

Mirisnya Parma & Fiorentina: Dulu Diperhitungkan, Kini Semenjana
Para pemain Parma merayakan kemenangan bersama trofi mereka setelah mengalahkan Olympique de Marseille dengan skor 3-0 pada 12 Mei 1999 di Stadion Luzhniki, Moskow, dalam laga final Piala UEFA ke-28 antara Olympique de Marseille dan Parma AC. (GAMBAR ELEKTRONIK) (Foto oleh BORIS HORVAT / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Parma dan Fiorentina dikenal sebagai tim dengan nama besar di sepak bola Italia. Sederet prestasi mereka raih baik di liga lokal maupun kompetisi antarklub Eropa. Fiorentina melakukannya di era 1950-an dan Parma di era 1990-an.

Namun, cerita kesuksesan keduanya seolah dongeng yang tidak benar-benar nyata hari ini. Parma dan Fiorentina perlahan terpuruk, pernah terlilit masalah finansial yang mencekik, hingga mereka dipaksa terlahir kembali dan bertarung di tengah kondisi yang tidak maksimal layaknya masa lampau.

Saat ini, Parma dan Fiorentina bahkan tidak lagi diperhitungkan sebagai tim papan atas Serie A. Keduanya menjadi tim semenjana, sekadar pelengkap liga yang tidak menggambarkan Parma dan Fiorentina pernah berjaya.

Masa Keemasan, Masuk The Magnificent Seven

Masa keemasan Parma dan Fiorentina terjadi sebelum millenium baru. Fiorentina mendapatkan masa kejayaan lebih dulu dan berlangsung cukup panjang. Sedangkan Parma, tidak begitu sensasional namun melahirkan banyak talenta hebat.

Fiorentina, klub asal Florence yang berdiri tahun 1926, menggapai masa emasnya bahkan sejak tahun 1950-an. Dua gelar scudetto atau juara Liga Italia diperoleh Fiorentina di musim 1955-56 dan 1968-69.

Selain itu Fiorentina juga tercatat 5 kali menjadi runner-up Liga Italia. Masing-masing pada musim 1956-57, 1957-58, 1958-59, 1959-60, dan 1981-82. Artinya sejak tahun 1955 hingga 1960, Fiorentina selalu menjadi penantang serius dalam perburuan gelar juara.

Klub berjuluk La Viola itu juga 6 kali menjuarai Coppa Italia pada musim 1939-40, 1960-61, 1965-66, 1974-75, 1995-96, dan 2000-01. Satu gelar domestik lain mereka raih berupa trofi Piala Super Italia 1996.

Fiorentina juara Piala Winners 1960-61

Fiorentina juara Piala Winners 1960-61. FOTO/it.wikipedia.org

Kemudian di level antarklub Eropa, Fiorentina pada masa lampau beberapa kali masuk final. Mereka pernah juara Piala Winners 1960-61 serta menjadi runner-up Liga Champions 1956-57, runner-up Piala Winners 1961-62, dan runner-up Piala UEFA 1989-90.

Pada era tersebut, Fiorentina sangat bergantung kepada sosok striker Kurt Hamrin. Striker asal Swedia itu membela Fiorentina pada tahun 1958-1967 dengan statistik 203 gol dan 4 assists dari 358 pertandingan. Pemain lain yang diandalkan Fiorentina dalam era itu adalah Giuseppe Brizi (389 laga), Enzo Robotti (273 laga), Sergio Castelletti (262 laga), dan Alberto Orzan (246 laga).

Sementara itu, era gemerlap Parma terjadi pada medio tahun 1990-an. Memang tidak ada gelar juara Serie A yang mereka raih, namun trofi Coppa Italia 1991-92, 1998-99, dan 2001-02 serta juara Piala Super Italia 1999 berhasil mereka menangi. Tim berjuluk I Gialloblu itu juga menjadi runner-up Coppa Italia 1994-95 dan 2000-01. Untuk Serie A, mereka menjadi runner-up musim 1996-97.

Di level Eropa, Parma dua kali juara Piala UEFA atau kini bernama Europa League pada musim 1994-95 dan 1998-99. Parma juga juara Piala Winners 1992-93 dan juara Piala Super Eropa 1993.

Kegemilangan Parma tidak lepas dari kualitas individu para pemainnya. Kala itu Parma mengandalkan Gianfranco Zola, Faustino Asprilla, Dino Baggio, Fernando Couto, Roberto Néstor Sensini, Fabio Cannavaro, Gianluigi Buffon, Hernán Crespo, Lilian Thuram, dan Antonio Benarrivo. Sungguh, deretan pemain yang sangat hebat pada masa tersebut.

Prestasi Fiorentina di era 1990-an memang tidak begitu gemilang. Tapi saat itu mereka menjadi kekuatan yang diperhitungkan berbekal pemain seperti Gabriel Batistuta, Rui Costa, Edmundo, Francesco Toldo, Moreno Torricelli, Jörg Heinrich, Giulio Falcone, dan Domenico Morfeo.

Parma dan Fiorentina pun kala itu juga masuk dalam Il Sette Magnifico (The Magnificent Seven) era 1990-an, sebutan bagi 7 tim penguasa sepak bola Italia. Selain Parma dan Fiorentina, kala itu juga ada Juventus, AC Milan, Inter Milan, AS Roma, dan Lazio.

Perusahaan Parmalat

(DOKUMEN) -- Foto arsip yang diambil pada 10 Januari 2004 memperlihatkan pabrik utama raksasa makanan Italia, Parmalat, di Collecchio, dekat Parma. Grup makanan Italia yang bangkrut, Parmalat, telah mengajukan gugatan ganti rugi terhadap mantan auditornya, Deloitte dan Grant Thornton, terkait peristiwa yang menyebabkan keruntuhannya pada akhir tahun lalu; demikian pernyataan grup tersebut pada 18 Agustus 2004. FOTO AFP PAOLO COCCO (Foto oleh PAOLO COCCO / AFP)

Masalah Finansial dan Kebangkrutan

Kesuksesan Parma tidak lepas dari Parmalat, perusahaan multinasional Italia yang bergerak di bidang susu, produk olahan susu, dan makanan yang membeli klub tahun 1991. Kucuran dana segar turut berperan dalam gemilangnya Parma kala itu.

Sayang, Parmalat lantas bangkrut tahun 2004 dan dilaporkan memiliki hutang hingga USD20 miliar. Situasi itu berimbas pada alokasi dana pada Parma dan membuat klub perlahan menuju masa suram.

Pada tahun 2007, secercah harapan hadir saat klub dibeli Thomaso Ghirardi yang kemudian mendirikan Eventi Sportivi sebagai perusahaan holding dengan saham 100 persen di klub. Jumlah saham Ghirardi lantas menurun menjadi 75 persen tahun 2009. Dua tahun kemudian Ghirardi perlahan menjual sisa sahamnya.

Tahun 2014 Ghirardi menjual 66,55 persen sahamnya ke Rezart Taci dalam naungan Dastraso Holding Ltd hanya seharga 1 euro. Saat itu klub juga memiliki hutang mencekik senilai USD200 juta.

Parma pada akhirnya dinyatakan bangkrut tahun 2015 dengan memiliki kewajiban sebanyak 218 juta euro. Jumlah itu termasuk adanya tunggakan gaji senilai 63 juta euro. Hasilnya, Parma harus rela turun level hingga Serie D.

Koin 1 EURO

Koin 1 EURO. FOTO/iStockphoto

Fiorentina juga mengalami masalah keuangan pelik di awal tahun 2000-an. Dari tim yang awalnya bisa mengalahkan Arsenal dan Manchester United di Liga Champions, Fiorentina perlahan bergerak menuju kehancuran.

Tahun 2001, hutang Fiorentina mencapai USD50 juta. Presiden Vittorio Cecchi Gori saat itu berusaha keras memulihkan kondisi keuangan, namun pada akhirnya Fiorentina terdegradasi dari Serie A pada musim 2001-02 dan dinyatakan bangkrut pada 27 September 2002.

Kabar bagusnya adalah Parma dan Fiorentina lantas bangkit. Parma terlahir kembali pada tahun 2015 dengan nama Parma Calcio 1913 di bawah kepemilikan Nuovo Inizio SrL dengan modal saham senilai 250.000 euro. Nuovo Inizio sendiri dimiliki oleh beberapa pendukung Parma seperti Guido Barilla, Paolo Pizzarotti, Mauro Del Rio, Giampaolo Dallara, dan perwakilan Parmalat.

Fiorentina sendiri juga terlahir kembali tahun 2002 dari Serie C2, tanpa tim, tanpa jersey, tanpa bola, tanpa sponsor, dan tanpa pendapatan. Namun mereka memiliki antusiasme dan rasa semangat di bawah kendali pengusaha Diego Della Valle.

Kembali ke Serie A, tapi Akrab Zona Merah

Keterpurukan itu tidak dibiarkan begitu saja oleh Parma dan Fiorentina. Perlahan, dua tim legendaris Italia itu bisa bangkit dan kembali ke Serie A.

Parma yang bermain di Serie D musim 2015-16 bahkan bisa promosi 3 kali secara beruntun. Mereka naik ke Lega Pro musim 2016-17, promosi ke Serie B musim 2017-18, dan promosi ke Serie A musim 2018-19. Sempat degradasi lagi ke Serie B musim 2021-22, Parma lantas naik lagi ke Serie A musim 2024-25 dan bertahan hingga saat ini.

Sama halnya dengan Fiorentina yang promosi secara beruntun. Dipimpin kapten Angelo Di Livio, satu-satunya pemain yang tidak meninggalkan Fiorentina saat dipaksa degradasi ke Serie C pada 2002, Fiorentina perlahan naik ke Serie B musim 2003-04 dan Serie A musim 2004-05. Sejak saat itu, Fiorentina tidak pernah terdegradasi lagi.

Walau Fiorentina sempat kembali ke papan atas Serie A di era pelatih Cesare Prandelli, catatan itu hanya terjadi semusim alias one season wonder. Fiorentina juga sempat tampil di Conference League saat UEFA menggagas turnamen ke-3 di Eropa, sukses melaju ke final 2 kali, tetapi selalu gagal juara.

Walai prestasinya tidak lagi mentereng, nasib Fiorentina setidaknya lebih baik dibanding Parma. Sejak promosi lagi ke Serie A musim 2024-25, Il Gialoblu tidak pernah berada di 10 besar klasemen akhir Serie A. Parma bahkan finis di posisi 16 musim 2024-25 dengan 36 poin, hanya unggul 5 poin dari Empoli di posisi 18 atau zona degradasi.

Hasil sedikit lebih bagus diraih Parma pada musim 2025-26 saat finis di posisi 13 dengan 45 poin. Sedangkan dari 2 pekan pertama musim 2026-27, Parma berada di posisi 17 dengan hasil selalu kalah dari Cagliari 0-1 dan Juventus 0-2.

Soal hasil di liga, tidak ada prestasi besar yang diraih Fiorentina sejak promosi ke Serie A musim 2004-05. Prestasi terbaik mereka hanya 5 kali mengakhiri musim di peringkat 4, masing-masing pada musim 2007-08, 2008-09, 2012-13, 2013-14, dan 2014-15.

Musim 2025-26 lalu Fiorentina bahkan nyaris degradasi karena finis di peringkat 15 dengan 42 poin. Hasil buruk itu tidak lepas dari kegagalan Fiorentina meraih kemenangan di 15 pekan awal Serie A dengan catatan 6 imbang dan 9 kekalahan.

Stefano Pioli sebagai pelatih saat itu dipecat pada 4 November atau hanya memimpin tim di 10 pekan awal. Paolo Vanoli, pelatih Jay Idzes saat membawa Venezia promosi ke Serie A musim 2024-25, lantas datang dan butuh 6 laga untuk membawa Fiorentina meraih kemenangan pertama. Tepatnya di pekan 16 melawan Udinese dengan skor 5-1.

Pengalaman pahit itu ditakutkan terulang lagi di musim 2026-27. Sebab dari 2 pekan awal Fiorentina dihajar AS Roma 0-4 dan tim promosi Frosinone 0-3. Untuk sementara, Fiorentina harus puas menghuni posisi juru kunci klasemen Serie A 2026-27.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA atau tulisan lainnya dari Wan Faizal

tirto.id - Sepakbola
Kontributor: Wan Faizal
Penulis: Wan Faizal
Editor: Permadi Suntama