Mengenal Kvicha Kvaratskhelia, Si Maradona dari Georgia

Penulis: Yoga Cholandha, tirto.id - 16 Sep 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Debut Kvaratskhelia di Serie A langsung diwarnai oleh satu gol dan satu asis.
tirto.id - Tak sedikit dahi yang mengernyit tatkala berita kepindahan Lorenzo Insigne itu diumumkan. Musim 2021/22 belum juga usai tetapi masa depan kapten sang kapten Napoli telah diputuskan. Mulai musim panas 2022, Insigne takkan lagi berseragam Napoli. Dia bakal melanjutkan karier di Major League Soccer bersama Toronto FC.

Insigne memang sudah tak lagi muda. Juni lalu dia berulang tahun yang ke-31. Namun, pemain bertubuh mini ini bukannya sudah habis. Musim lalu dia masih bisa memeprsembahkan 13 gol dan 10 asis di Serie A dan Liga Champions. Dengan kata lain, Insigne masih lebih dari sanggup untuk bisa berkompetisi di kompetisi sepak bola level teratas.

Itulah yang membuat banyak orang keheranan dan, barangkali, sedikit menyayangkan kepindahan Insigne ke MLS. Tanpa mengurangi rasa hormat pada kompetisi yang diikuti klub-klub Amerika Serikat dan Kanada itu, level mereka masih jauh di bawah Serie A. Insigne setidaknya masih punya 2-3 tahun lagi sebelum "pantas" pindah ke MLS.

Namun, apa yang terjadi pada Insigne itu belakangan terlihat sebagai sebuah pola. Ada sebuah rencana besar yang dimiliki oleh Napoli dan ini makin terlihat jelas saat melihat nasib Dries Mertens serta Kalidou Koulibaly. Dua pemain yang sama-sama sudah memperkuat Napoli selama nyaris satu dasawarsa ini juga dilepas pada bursa transfer musim panas kemarin.

Kontrak Mertens tak diperpanjang dan pemain Belgia itu akhirnya berlabuh ke Galatasaray. Sedangkan, Koulibaly diizinkan untuk bergabung dengan Chelsea. Boleh dikatakan, Mertens, Koulibaly, dan Insigne adalah pemain-pemain yang mendefinisikan Napoli pada era 2010-an. Mereka semua laik dipandang sebagai legenda klub atas kontribusi serta kesetiaannya.

Hanya saja, Napoli kini memilih untuk menatap masa depan.

***

Diam-diam, Napoli sudah merencanakan suksesi. Di antara Mertens, Koulibaly, dan Insigne, nama terakhirlah yang paling susah dicari penggantinya. Bukan cuma karena kontribusi berupa gol dan asis, tetapi juga karena dia merupakan produk asli akademi klub. Insigne lahir dan besar di Naples, dan dia mendedikasikan sebagian besar tahun produktifnya sebagai pesepak bola untuk klub dari selatan Italia itu.

Namun, kepergian Insigne ternyata tidak berpengaruh besar pada situasi di lapangan hijau karena Napoli kini sudah memiliki pengganti. Namanya Kvicha Kvaratskhelia. Dia memang bukan putra daerah seperti Insigne, tetapi pemuda asal Georgia ini dalam waktu singkat sudah dibanding-bandingkan dengan legenda agung Napoli, Diego Armando Maradona.

Kepindahan Kvaratskhelia ke Napoli tak mengundang banyak pembicaraan karena, praktis, di luar orang-orang yang betul-betul memonitor kariernya, tak ada yang tahu siapa dirinya. Harga transfernya juga tergolong sangat murah untuk ukuran 2022. Hanya 10 juta euro. Klub yang diperkuatnya sebelum Napoli, Dinamo Batumi, juga sama sekali tidak familiar di kuping orang kebanyakan.

Maka, Kvaratskhelia pun bak terbang di bawah pantauan radar. Ya, sesekali memang ada prediksi yang muncul di internet bahwa pemain 21 tahun itu layak untuk dinantikan kiprahnya. Namun, secara umum, dia tidak menjadi bagian dari cerita besar transfer musim panas. Dia bukan Angel Di Maria, Paulo Dybala, Paul Pogba, atau Romelu Lukaku. Dia cuma Kvicha Kvaratskhelia, pemain dari liga antah berantah.

Terbang di bawah radar memberi keuntungan tersendiri bagi Kvaratskhelia. Tak ada tekanan besar yang dibebankan publik untuknya. Bahkan, di Napoli sendiri, pemain depan anyar yang menjadi buah bibir adalah Giacomo Raspadori. Kvaratskhelia juga awalnya cuma diperkirakan bakal jadi pelapis pemain-pemain dengan profil lebih besar seperti Hirving Lozano atau Matteo Politano.

Ternyata, prediksi itu patah. Sejak giornata pertama, Kvaratskhelia langsung jadi sosok nyaris tak tergantikan di lini depan Napoli, tepatnya di sayap kiri, tempat yang sampai musim lalu masih identik dengan Insigne. Dari tujuh laga kompetitif yang telah dilalui Napoli musim ini, baik di Serie A maupun Liga Champions, Kvaratskhelia baru dicadangkan sekali, itu pun karena pelatih Luciano Spalletti ingin mengistirahatkannya.

Debut Kvaratskhelia di Serie A langsung diwarnai oleh satu gol dan satu asis. Gol pertama itu dicetaknya lewat sundulan, memanfaatkan umpan silang Lozano dari sayap kanan. Sementara, asis pertama disodorkannya pada Piotr Zielinski dalam bentuk umpan terobosan. Napoli menang 5-2 atas tuan rumah Verona pada pertandingan tersebut.

Kvaratskhelia melanjutkan kiprah gemilang pada pekan berikutnya lewat dua gol ke gawang tim promosi Monza. Pertama, melalui sebuah tendangan lengkung indah dari luar kotak penalti. Kedua, lewat tembakan pelan tapi terukur usai mengelabui dua pemain belakang lawan. Rasa cinta publik Stadio Diego Armando Maradona kepada jebolan akademi Dinamo Tibilisi ini pun semakin besar.

Dalam dua laga berikutnya Kvaratskhelia tidak mencatatkan gol maupun asis, tetapi pada pertandingan besar melawan Lazio, awal September ini, lagi-lagi dia mencatatkan nama di papan skor. Lazio unggul cepat pada pertandingan itu sebelum Kim Min-jae, bek Korea Selatan yang direkrut untuk menggantikan Koulibaly, menyamakan kedudukan.

Pada babak kedua, Kvaratskhelia mencetak gol kemenangan Napoli. Berdiri bebas di dekat kotak penalti Lazio, putra eks pemain Timnas Azerbaijan, Badri Kvaratskhelia, tersebut merangsek masuk usai melihat umpan Frank Zambo Anguissa diarahkan kepada dirinya. Tanpa ba-bi-bu, pemain bertinggi 183 cm itu melesakkan bola ke gawang Lazio lewat sebuah tembakan keras.

Laga melawan Lazio tersebut berlangsung hanya beberapa hari sebelum Napoli menghadapi ujian mahaberat di ajang Liga Champions. Liverpool datang ke Naples pertengahan pekan lalu dan, meskipun tengah kesulitan di Premier League, mereka tetaplah tim berbahaya. Meski begitu, Napoli sama sekali tak gentar. Mereka sukses mempermalukan Liverpool dengan skor telak 4-1.

Infografik Reinkarnasi Maradona
Infografik Reinkarnasi Maradona. tirto.id/Quita


Kvaratskhelia, tentu saja, punya andil di situ. Dua pemain Liverpool sekaligus, Trent Alexander-Arnold dan Joe Gomez, berhasil dia kadali sebelum mengirimkan umpan mendatar kepada Giovanni Simeone. Kvaratskhelia tak cuma menggunakan teknik olah bola tetapi juga kecepatan serta kekuatan tubuh bagian atasnya untuk melakukan itu.

Terbaru, dalam pertandingan pekan ke-6 Serie A, Sabtu (10/9/2022), Kvaratskhelia memang tidak mencatatkan gol ataupun asis. Akan tetapi, aksi-aksinya tetap jadi perbincangan hangat di dunia maya, termasuk ketika dia mengolongi dua pemain Spezia sekaligus, Ethan Ampadu dan Emil Holm. Sayang, tembakannya sesudah itu masih bisa digagalkan kiper Dimitrios Nikolaou.

Semua yang sudah ditampilkan Kvaratskhelia selama satu bulan pertama berkostum Napoli menunjukkan betul siapa dirinya. Dia punya kecepatan dan kekuatan, teknik olah bola mumpuni, tembakan akurat, visi bermain jempolan, serta kepiawaian menemukan dan menciptakan ruang. Tidak heran jika dia dijuluki "Kvaradona" oleh para tifosi Napoli.

Kvaratskhelia sendiri mengaku menyukai julukan itu tetapi dengan rendah hati berkata bahwa dirinya takkan bisa sejajar dengan Maradona. "Mendekati Maradona saja aku tidak akan mungkin bisa tetapi aku siap memberikan segalanya untuk klub ini," ucap Kvaratskhelia, dikutip dari BBC.

Well, mungkin takkan pernah ada lagi pemain seperti Maradona. Namun, bagi Kvaratkshelia, performa luar biasa dalam pekan-pekan pertamanya di Italia itu sudah cukup untuk membuatnya jadi pemain terbaik bulan Agustus. Tentunya, jalan sang pemuda masih sangat panjang dan dengan kemampuan yang dia miliki, tak ada yang mustahil.

Kvicha Kvaratskhelia kini sudah berada di tempat yang pantas untuk dirinya. Dia tak lagi harus memikirkan peperangan seperti saat masih bermain di Rusia untuk Rubin Kazan. Yang perlu dilakukannya kini adalah terus bersenang-senang di atas lapangan hijau. Dengan kaki-kakinya yang ramping dan cepat, Kvaratskhelia bisa menaklukkan dunia.

Baca juga artikel terkait KVICHA KVARATSKHELIA atau tulisan menarik lainnya Yoga Cholandha
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight