Menuju konten utama

Kontroversi Javier Tebas: Presiden La Liga vs Everybody

Javier Tebas kembali membuat kontroversi berupa komentar kepada Real Madrid. Ini bukan kontroversi pertama Tebas sejak jadi Presiden La Liga pada 2013.

Kontroversi Javier Tebas: Presiden La Liga vs Everybody
Presiden liga sepak bola Spanyol 'La Liga', Javier Tebas, berbicara saat berpartisipasi dalam forum "Pembelaan Ekosistem Sepak Bola Eropa" yang diselenggarakan oleh surat kabar La Vanguardia pada 16 Maret 2023 di Barcelona. (Photo by Pau BARRENA / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden LaLiga, Javier Tebas memiliki reputasi pembuat kontroversi dalam iklim sepak bola Spanyol. Tidak sedikit ucapan, keputusan, atau tindakan pria yang kini berusia 64 tahun itu menjadi awal mula perselisihan antara dirinya dengan pihak lain.

Pria bernama lengkap Xavier Tebas Medrano sudah menjabat Presiden La Liga sejak 2013. Sejak itu pula, Tebas kerap menuai kontroversi baik dengan klub-klub di Spanyol, maupun entitas lebih besar macam UEFA, bahkan FIFA. Terbaru, ia berselisih dengan salah satu klub paling berpengaruh di Spanyol, Real Madrid.

Musababnya adalah pertandingan Derby Madrid antara Atletico Madrid vs Real Madrid di Stadion Metropolitano, Minggu 20 September 2026. Setelah pertandingan selesai, pihak Real Madrid tidak puas dengan kepemimpinan wasit Miguel Ángel Ortiz Arias.

Sebelum pertikaian dengan Real Madrid, Tebas sudah lebih dulu bersitegang dengan Barcelona, PSG, Manchester City hingga FIFA.

Polemik Terbaru Tebas: Presiden LaLiga vs Real Madrid

Javier Tebas kembali membuat keributan, kali ini dengan Real Madrid, salah satu tim terbesar di Spanyol. Semua bermula dari pertandingan Atletico Madrid vs Real Madrid di pekan 7 La Liga 2026-2027 yang berakhir 2-1 untuk kemenangan Atletico Madrid.

Real Madrid yang merasa dirugikan menganggapan kekalahan tersebut bisa dihindari jika wasit memimpin dengan adil. Poin kekecewaan Real Madrid datang dari tiga momen.

Pertama saat pertandingan memasuki menit 35 yang diwarnai duel antara Cristian Romero dan Jude Bellingham. Dalam duel tersebut, pul sepatu Romero menghantam paha Bellingham.

Pihak Real Madrid mengklaim, pelanggaran seperti itu akan diganjar kartu merah oleh wasit karena bisa membahyakan lawan. Namun Romero lolos dari sanksi berat dan hanya mendapatkan kartu kuning.

Situasi kedua terjadi sembilan menit kemudian antara Lee Kang-in dengan Federico Valverde. Kejadiannya pun mirip dengan insiden Romero vs Bellingham, pul sepatu Kang-in menghantam ankle kiri Valverde secara telak. Alih-alih memberi kartu, Arias yang memimpin pertandingan hanya memberi teguran kepada Lee Kang-in.

Bukan hanya wasit tengah Miguel Ángel Ortiz Arias yang mengabaikan pelanggaran tersebut, wasit VAR juga tidak melakukan intervensi. 2 kejadian tersebut membuat pelatih Real Madrid, Jose Mourinho mencak-mencak di pinggir lapangan.

Kemarahan Real Madrid kian memuncak saat Dean Huijsen mendapat kartu merah di menit 50. Huijsen yang Giuliano Simeone di kotak penalti diberi kartu kuning oleh wasit, dan Atletico Madrid dihadiahi penalti. Namun, wasit VAR, Trujillo Suárez kemudian melakukan intervensi dengan merekomendasikan kartu merah untuk Huijsen. Rekomendasi itu pun diterima oleh Arias.

Jose Mourinho

Pelatih Real Madrid asal Portugal, Jose Mourinho, tampak sedang menyaksikan pertandingan sepak bola hari pertama putaran pertama Liga Champions UEFA antara Real Madrid dan Inter Milan di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, pada 8 September 2026. (Photo by Thomas COEX / AFP)

Dalam konferensi pers setelah pertandingan, Jose Mourinho membawa 2 foto yang menegaskan 2 insiden di lapangan. Foto tersebut merujuk pada pelanggaran yang dilakukan Cristian Romero kepada Jude Bellingham, dan Lee Kang-in kepada Federico Valverde.

"Kita bisa melewatkan konferensi pers karena inti dari pertandingan ada di sini [sambil menunjukkan dua foto]. Itu adalah dua kartu merah yang sangat jelas. Kesulitan yang kami alami adalah bermain 11 lawan 10, kami hanya bisa membayangkan bagaimana jadinya jika bermain 50 menit dalam situasi 11 lawan 9," kata Jose Mourinho.

"Para pemain telah memberikan segalanya dan bermain sangat berkelas di babak pertama. Setelah itu, pihak yang merasa senang, selain fans Atletico, adalah mereka yang menunjuk wasit," tambah Mourinho.

Kecurigaan Jose Mourinho terhadap wasit bukan tanpa sebab. Pasalnya, La Liga sudah menunjuk Miguel Ángel Ortiz Arias, sebagai wasit utama Atletico Madrid vs Real Madrid sepekan sebelum pertandingan. Padahal, dalam situasi normal wasit baru diketahui 24 jam sebelum kick off.

"Ini semua memang sangat aneh. Pertama adalah, seminggu sebelumnya sudah diketahui siapa wasitnya. Saya diberitahu bahwa seharusnya nama wasit baru diumumkan 24 jam sebelum laga."

"Kemudian, wasit itu bahkan bukan wasit internasional, tapi bukan berarti ia wasit jelek. Pria malang itu datang ke pertandingan dan tidak mampu mengatasi tekanan. Kemudian ada Tuan Trujillo di ruang VAR, yang tidak memanggil wasit utama di kartu merah pertama, tapi diam saat kejadian kedua yang lebih jelas dari yang pertama."

Alih-alih memberikan tanggapan yang dapat meredakan situasi, Javier Tebas selaku Presiden La Liga justru memberi tanggapan yang membuat situasi makin panas. Menurutnya, pernyataan Real Madrid dan Jose Mourinho adalah tindakan yang tidak pantas.

Javier Tebas malah memberi saran agar Real Madrid lebih fokus menjalani kompetisi yang baru awal. Menurutnya, tuduhan pertandingan telah diatur merupakan tindakan untuk menutup kekurangan tim Real Madrid.

"Mereka muncul lagi, para tukang omong dan rezim televisi, membuat narasi lama: konspirasi permanen. Jika bukan karena Negreira, berarti wasit. Jika bukan karena wasit, berarti soal wasit internasional. Semua klub dapat dipimpin oleh wasit internasional dan wasit noninternasional. Tidak ada yang bisa meminta dipimpin wasit tertentu," kata Tebas di akun media sosial X, @Tebasjavier.

"Mengklaim bahwa wasit diarahkan untuk tidak berpihak kepada Real Madrid itu tidak masuk akal. Narasi itu dibuat untuk menutupi kekurangan mereka yang terlihat di awal musim. Lebih nyaman untuk menunjuk adanya konspirasi daripada menjelaskan apa yang terjadi di lapangan."

"Ini masih September dan mereka menuduh liga sudah diatur. Tidak ada orang waras yang percaya alasan usang itu lagi."

Javier Tebas

Presiden liga sepak bola Spanyol 'La Liga', Javier Tebas, berbicara saat berpartisipasi dalam forum 'Pembelaan Ekosistem Sepak Bola Eropa' yang diselenggarakan oleh surat kabar La Vanguardia pada 16 Maret 2023 di Barcelona. (Photo by Pau BARRENA / AFP)

Komentar Javier Tebas yang justru mengolok-olok Real Madrid dibalas lebih pedas oleh Real Madrid. Bukan, Jose Mourinho atau Presiden klub Florentino Perez, tetapi langsung melalui pernyataan di website resmi klub.

"Klub kami merasa tidak bisa menerima bahwa presiden La Liga menggunakan posisi kelembagaannya untuk meremehkan dan menyerang Real Madrid seperti yang ia lakukan dalam setiap pernyataan publik. Sangat mengkhawatirkan ketika orang yang bertanggung jawab mewakili dan melindungi kepentingan semua klub La Liga tetap terobsesi dengan Real Madrid, berulang kali menjadikan klub kami sebagai target serangan publiknya," tulis pernyataan resmi Real Madrid.

"Mengingat perilaku yang tidak pantas dan berkepanjangan ini, kami yakin bahwa sepak bola profesional di Spanyol sangat butuh seorang pemimpin yang mampu mengelola dan mengembangkan potensinya sambil tetap menjunjung tinggi prinsip netralitas. Dibutuhkan seseorang yang memahami hakikat perannya, karena presiden LaLiga bukanlah pemilik kompetisi, melainkan seorang manajer yang melayani klub-klub yang tergabung di dalamnya dan mempercayakan pengelolaan kompetisi kepada mereka."

Tebas kemudian membalas pernyataan tersebut dengan kalimat yang tidak kalah menohok, "Saya sangat setuju dengan satu kalimat: presiden La Liga bukan pemilik kompetisi. Begitu juga dengan presiden Real Madrid."

Ketika Tebas Menebas Barcelona

Real Madrid bukan klub La Liga pertama yang melontarkan ide menggulingkan Javier Tebas. Rival abadi mereka, Barcelona sudah meminta Tebas mundur pada 2023 setelah skandal Negreira mencuat.

Mulanya Jose Maria Enriquez Negreira yang menjabat wakil presiden Komite Wasit Spanyol (CTA) periode 2001-2018 yang terjerat skandal korupsi. Barcelona kemudian dituduh membayar Negreira sebesar 8,4 juta Euro selama Negreira menjabat. Walau bersalah, Barcelona menuduh Tebas menggunakan bukti palsu untuk menyudutkan klub.

"Mengingat informasi di La Vanguardia yang menghubungkan Presiden La Liga, Javier Tebas, dengan pemberian bukti palsu kepada jaksa penuntut umum untuk menjerat klub kami, Barcelona ingin menyampaikan kemarahan, kekecewaan, dan rasa tidak puas yang mendalam," tulis pernyataan resmi Barcelona.

"Karena alasan itu, kami meminta presiden La Liga untuk segera muncul di depan publik dan memberikan penjelasan, di luar cuitan yang dikirim pada dini hari oleh Tuan Tebas, yang tidak berisi substansi dan bernada mengancam. Barcelona tidak pernah membayar wasit."

Tebas juga pernah membuat marah Barcelona terkait transfer Nico Williams dari Athletic Bilbao. Barcelona menganggap Tebas enggan membantu memberikan bantuan terkait kelonggaran batasan gaji sehingga Williams saat itu urung bergabung dengan Barcelona

Tebas Melawan Semesta Sepak Bola

Tidak hanya berulah di negara sendiri, Javier Tebas juga memiliki rekam jejak membuat konflik dengan klub-klub Eropa, UEFA hingga FIFA. Saat FIFA berencana mejual Piala Dunia ke pihak swasta meski akhirnya batal, Tebas langsung berada di barisan pihak yang menentang.

Setelah Infantino dan FIFA membatalkan wacana tersebut, Tebas dan negara-negara anggota UEFA tidak tinggal diam, mereka menuntut Infantino mundur. Perseturuan itu pun bertahan hingga hari ini.

Bahkan, Tebas juga ikut campur dalam kebijakan liga lain seperti Premier League Inggris dan Ligue 1 Prancis. Dia mengancam bakal melaporkan klub-klub Premier League karena memicu inflasi harga pemain saat ini. Terutama Manchester City yang didukung dana tidak terbatas dari Abu Dhabi.

Hal yang sama dilakukan Tebas kepada PSG yang dianggap melanggar Financial Fair Play (FFP). Hal itu terjadi pada tahun 2022 ketika PSG mempertahankan Kylian Mbappe dengan cara yang dianggap tidak fair.

Baca juga artikel terkait LALIGA atau tulisan lainnya dari Wan Faizal

tirto.id - Sepakbola
Kontributor: Wan Faizal
Penulis: Wan Faizal
Editor: Permadi Suntama