tirto.id - Gianni Infantino dipastikan kembali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden FIFA 2027 meski menghadapi penolakan dari sejumlah federasi dan konfederasi sepak bola dunia. Jika terpilih lagi, Infantino bakal memimpin FIFA hingga 2031. Tokoh kelahiran Swiss ini pertama kali menjadi Presiden FIFA pada 2016, lalu terpilih jadi orang nomor satu badan sepak bola dunia itu pada 2019 dan 2023.
Pencalonan Infantino kali ini berlangsung di tengah kontroversi. FIFA Forward Enterprise (FFE), rencana membuka investasi swasta pada kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, panen penolakan dari sejumlah konfederasi. Rencana itu akhirnya kandas penghujung Juli lalu.
UEFA menuduh kepemimpinan Infantino dipenuhi masalah serius terkait tata kelola. Badan penaung sepak bola Benua Biru itu bahkan sempat mengancam boikot kompetisi FIFA. CONCACAF dan AFC juga sempat menentang rencana FFE tersebut.
Di sisi lain, Infantino masih menggenggam dukungan solid, terutama dari negara-negara di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Perbedaan haluan di antara asosiasi anggota FIFA bikin peta dukungan jelang pemilihan presiden FIFA pada 18 Maret 2027 ini tampak terbelah. Situasi mutakhir seperti apa yang tengah berlangsung?
Mereka yang Masih Mendukung Rezim Infantino Berlanjut
Sejumlah federasi tetap mendukung Infantino meski rencana FFE dibatalkan. Dukungan paling kuat datang dari Afrika. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) kompak mendukung Infantino.
"CAF mengadakan pertemuan ... di Vancouver, Kanada, jelang Kongres FIFA ke-76, dan asosiasi anggota CAF secara bulat sepakat untuk mendukung Gianni Infantino agar terpilih kembali sebagai Presiden FIFA untuk periode 2027-2031," demikian pernyataan CAF via laman resmi.

CONMEBOL juga tetap menjadi salah satu jangkar utama kekuatan Infantino. Konfederasi sepak bola Amerika Selatan ini sebelumnya pernah mengusung Infantino untuk masa jabatan ketiga dan tetap bergeming sebagai sekutu politiknya.
Beberapa federasi yang sudah menyatakan dukungan kepada Infantino antara lain sebagai berikut.
- Argentina
- Meksiko
- Qatar
- Arab Saudi
- Indonesia
- Kamerun
- Paraguay
- Grenada
- Saint Kitts and Nevis
- Sri Lanka
- Kuwait
- Lebanon
- Filipina
- Mongolia
- Bhutan
- Maroko
- Mesir
- Mauritania
- Niger
- Sudan
- Republik Demokratik Kongo
- Nigeria
- Komoro
- Malawi
- Uganda
- Gambia
- Djibouti
Erick menyebut FIFA sebagai mitra strategis yang hadir dalam pengembangan sepak bola Indonesia. Ia juga menilai visi Infantino mendorong pembangunan sepak bola agar tidak hanya berpusat pada satu kawasan.
Kamerun juga jadi pendukung penting Infantino, melalui presiden asosiasinya, Samuel Eto'o.
"Infantino sudah membantu benua kita. Dia sudah membantu federasi-federasi kita berkembang jauh lebih cepat, dan kita harus mengakui hal itu. Kita harus mendukung dia atas semua yang sudah dia capai sejauh ini," ujar eks ujung tombak Barcelona dan Inter Milan itu, dikutip dari Al Jazeera.

Dukungan terhadap Infantino terlihat pula di negara-negara Afrika lain. RD Kongo, misal, menyatakan federasinya sudah mendapat manfaat besar dari program FIFA, termasuk investasi untuk pembangunan dan infrastruktur.
Sejumlah anggota federasi Afrika juga menilai bantuan FIFA penting bagi perkembangan sepak bola domestik. Faktor pendanaan jadi salah satu alasan sejumlah negara berkembang tetap berada di belakang Infantino.
Di kawasan Arab, Qatar termasuk pendukung awal Infantino. Qatar jadi federasi pertama yang secara terbuka memberi dukungan kepada Infantino selepas kontroversi FFE mencuat. Lebanon, Kuwait, Maroko, Mesir, Mauritania, dan Sudan juga menyatakan dukungan.
Arab Saudi akhirnya menyatakan dukungan pada Agustus 2026. Negara tersebut punya posisi strategis karena menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034.
Mereka yang Menolak Infantino Lebih Lama Berkuasa
Di kubu seberang, gelombang perlawanan paling sengit justru datang dari Eropa. UEFA menentang gagasan FFE, dengan argumen FIFA alpa melakukan dialog yang memadai bersama konfederasi maupun federasi anggotanya.
UEFA, CONCACAF, dan AFC, masing-masing sempat merilis pernyataan bersama yang menyoroti kepemimpinan FIFA. Ketiga konfederasi itu secara akumulatif mewakili 136 asosiasi anggota.
Sejumlah federasi yang menolak atau menarik dukungan terhadap Infantino antara lain sebagai berikut.
- Wales
- Inggris
- Skotlandia
- Irlandia
- Italia
- Finlandia
- Serbia
- Swedia
- Kroasia
- Albania
- Yunani
- Selandia Baru
- Jerman
- Denmark
- Norwegia
- Belanda
- Rumania
- Irlandia Utara
- Yordania
- Kanada
- Guyana
Inggris dan Skotlandia kemudian mengambil sikap serupa. Federasi sepak bola Skotlandia menyatakan tidak akan memilih Infantino dalam pemilihan 2027.

Italia menjadi salah satu negara Eropa terbaru yang menarik dukungan. Federasi sepak bola Italia menyatakan keputusan itu sejalan dengan posisi UEFA dan terkait tata kelola serta pengembangan kompetisi internasional.
Norwegia tak ketinggalan. Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia, Lise Klaveness, menyatakan organisasinya sudah tidak percaya terhadap Infantino, menyerukan agar ia mundur.
Sementara itu, Jerman dan Denmark mengambil posisi berbeda. Kedua negara itu tidak pernah memberi surat dukungan kepada pencalonan Infantino sejak awal, sehingga tidak perlu menarik dukungan.
Penolakan juga muncul di luar Eropa. Presiden Federasi Sepak Bola Yordania, Pangeran Ali bin Hussein, menyatakan tidak akan mendukung maupun memilih Infantino. Kanada juga menyerukan agar Infantino dicopot.
Di kawasan Amerika Utara dan Karibia, CONCACAF secara terbuka menentang Infantino. Sikap ini muncul sesudah konfederasi merasa tidak diajak konsultasi yang memadai terkait rencana FFE.
AFC mengambil posisi serupa. Konfederasi sepak bola Asia tersebut menolak proposal FFE dan meminta FIFA melakukan peninjauan terhadap tata kelolanya.

Hanya saja, tidak semua anggota UEFA, CONCACAF, dan AFC sejalan dengan sikap konfederasinya. Meksiko, misal, mendukung Infantino meski CONCACAF menentangnya. Grenada serta Saint Kitts and Nevis juga mendukung Infantino.
Gelombang penolakan terhadap Infantino berlanjut dalam pertemuan Komite Hukum FIFA pada 9 September 2026. Sebagaimana dilaporkan Al Jazeera, Presiden Asosiasi Sepak Bola Denmark (DBU), Jesper Møller, secara terbuka mengkritik FIFA.
Ia menlai badan sepak bola dunia tersebut sengaja membelokkan dan menolak menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial terkait aspek hukum serta transparansi balik rencana FIFA Forward Enterprise (FFE).
"Pertemuan (Komite Hukum FIFA) tersebut mengonfirmasi bahwa FIFA tidak dapat memulihkan kredibilitasnya di bawah kepemimpinan saat ini. Sudah waktunya terjadi pergantian presiden di FIFA," papar Moller.
Penolakan dari asosiasi sepak bola kawasan UEFA pun kian masif setelah Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) dan Asosiasi Sepak Bola Austria (ÖFB) turut merilis pernyataan resmi untuk menarik dukungan mereka.
Mereka yang Dijagokan Menggantikan Infantino
Infantino sejauh ini masih jadi satu-satunya figur yang secara resmi mendeklarasikan pencalonan dalam bursa pemilihan presiden FIFA 2027. Batas akhir pendaftaran bakal calon masih terbuka hingga 18 November 2026. Walau belum ada penantang resmi, sejumlah nama mulai dikaitkan dengan bursa pengganti Infantino.
Victor Montagliani jadi nama paling kuat. Presiden CONCACAF sekaligus Wakil Presiden FIFA tersebut disebut oleh BBC, The Independent, AFP, dan Forbes sebagai salah satu kandidat penantang paling potensial.
Montagliani sebelumnya dikenal sebagai sekutu Infantino. Namun, sikapnya berubah usai muncul kontroversi FFE. Posisi Montagliani sebagai pemimpin CONCACAF juga membuatnya berpotensi jadi figur yang bisa menyatukan federasi-federasi yang menentang Infantino.
Di samping Montagliani, nama lain yang disebut ada Sheikh Salman bin Ibrahim, Presiden AFC asal Bahrain. BBC menilai kemunculannya sebagai kandidat bisa mengubah peta suara di Asia karena sejumlah federasi Asia masih mendukung Infantino.

Lise Klaveness, Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia, juga jadi salah satu figur di garis depan penentangan terhadap Infantino. Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi bahwa Klaveness akan maju sebagai kandidat.
Nasser Al-Khelaifi, pemilik PSG sekaligus salah satu tokoh penting sepak bola Qatar, dan Arsene Wenger, juga sempat dikaitkan sebagai figur potensial pengganti Infantino. Hanya saja, keduanya belum menyatakan diri sebagai kandidat resmi.
Sementara itu, Aleksander Ceferin, Presiden UEFA, sempat muncul sebagai salah satu nama yang dianggap mampu menantang Infantino. Namun, kali ini ia sudah menyatakan tidak akan maju dalam pemilihan tersebut.
Maka, persaingan menuju pemilihan Presiden FIFA 2027 masih terbuka lebar. Infantino sudah pasti kembali mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA, tapi belum punya lawan resmi. Federasi yang mendukung maupun menolak Infantino masih bisa berubah sikap sebelum batas akhir pencalonan pada November 2026.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id































