Menuju konten utama

Polemik Hasrat FIFA Jual Saham Piala Dunia yang Akhirnya Batal

Presiden FIFA, Gianni Infantino, akhirnya membatalkan rencana penjualan saham Piala Dunia setelah gagasan itu menuai kontroversi.

Polemik Hasrat FIFA Jual Saham Piala Dunia yang Akhirnya Batal
Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan keterangan menjelang pembukaan Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Rabu (10/6/2026). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden FIFA, Gianni Infantino, akhirnya membatalkan rencana penjualan saham Piala Dunia. Sebelumnya, wacana tersebut menuai kontroversi dan penolakan, termasuk dari UEFA dan CONCACAF serta didukung oleh AFC. UEFA bahkan mengancam akan memboikot Piala Dunia jika proyek tersebut tetap dijalankan.

"Setelah mendengarkan dengan cermat semua pandangan, jelas sudah bahwa proyek ini memunculkan perpecahan yang -terlepas dari tingkat dukungannya- tidak lagi sejalan dengan tujuan yang ditentukan sedari mula. Maka dari itu, usulan ini tidak akan dilanjutkan," kata Infantino melalui rilis FIFA pada Sabtu (31/7/2026) waktu setempat dikutip dari ESPN.

Induk sepak bola dunia itu memang sempat menuai protes keras lantaran berencana membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE). Anak perusahaan FIFA ini bakal mengelola aset komersial berbagai ajang FIFA, termasuk Piala Dunia. Melalui FFE, FIFA berencana menghimpun dana dengan menjual saham minoritas ke investor swasta.

Awal Gagasan Jual Saham Piala Dunia Bermula

Sebelum final Piala Dunia 2026 di New York, Amerika Serikat, tepatnya pada 19 Juli 2026, Infantino menyampaikan bahwa kesuksesan Piala Dunia 2026 sudah membuka peluang baru bagi FIFA. Ia memprediksi pendapatan FIFA pada siklus 2023-2026 melampaui 15 miliar dollar AS.

Menurut Infantino, FIFA harus "melirik potensi komersial" yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan. "Saya bisa mengatakan bahwa Piala Dunia FIFA kali ini, khususnya di sini, sudah membuka banyak pintu, banyak peluang, banyak kemungkinan," ucapnya kepada perwakilan asosiasi anggota FIFA.

Infantino saat itu juga mengatakan bahwa peningkatan pendapatan sudah menjadi kebutuhan, sebab sebagian besar negara anggota FIFA belum punya cukup sumber daya untuk membangun sepak bola secara masing-masing secara mandiri.

"Kami ingin menghasilkan lebih banyak pendapatan, dan kami harus menghasilkan lebih banyak pendapatan, karena di sebagian besar dunia, di 80 persen dunia, jika kita tidak berinvestasi, jika kita tidak percaya... tidak akan ada orang lain yang percaya," beber Infantino.

Donald Trump dan Gianni Infantino

Presiden AS Donald Trump dan istri serta Presiden FIFA Gianni Infantino berbincang setelah hasil pengundian Piala Dunia Sepak Bola FIFA 2026 pada 5 Desember 2025. (Foto oleh Dan Mullan / POOL / AFP)

Beberapa hari berselang, FIFA menerjemahkan gagasan itu ke dalam proposal FIFA Forward Enterprise. Dalam sebuah pengumuman resmi yang dirilis pada 28 Juli 2026, disebutkan bahwa FFE bakal berdiri sebagai anak perusahaan FIFA dengan valuasi awal sekitar 20 miliar dolar AS.

Selain itu, FIFA juga mencanangkan target penggalangan modal sampai 4,2 miliar dolar AS melalui penjualan saham minoritas kepada investor jangka panjang.

Namun FIFA mengklaim investor tidak punya kendali atas tata kelola sepak bola. FIFA yang akan tetap memegang mayoritas saham sekaligus mempertahankan kewenangan eksklusif atas regulasi, kalender laga internasional, penyelenggaraan kompetisi, serta seluruh keputusan terkait sepak bola.

Dana hasil investasi itu akan menjadi fondasi FIFA Fast Forward Programme (FFFP), skema baru yang melengkapi program FIFA Forward.

Jika disetujui, setiap dari 211 asosiasi anggota FIFA bisa memperoleh tambahan pendanaan sampai 20 juta dolar AS untuk proyek-proyek strategis, seperti pembangunan stadion, pusat latihan, infrastruktur sepak bola, dan pembinaan usia muda, sampai pengembangan sepak bola putri.

Pada saat yang sama, alokasi reguler FIFA Forward juga bakal dikerek dari 8 juta dolar AS menjadi 20 juta dolar AS untuk periode 2027-2030, lalu naik menjadi 22 juta dolar AS pada periode 2031-2034, dan 24 juta dolar AS pada 2035-2038.

Insentif tersebut jadi salah satu daya tarik utama proposal FIFA. Infantino meminta anggota FIFA merespons proposal FIFA Forward Enterprise sebelum 19 September 2026.

Jika proposal FFE ditolak, asosiasi anggota cuma akan menerima kenaikan pendanaan sesuai anggaran FIFA Forward dengan total sekitar 2,7 miliar dollar AS, tak lebih dari 20 miliar dolar AS sebagaimana dijanjikan FIFA via skema baru FFFP.

Bagi FIFA, model itu merupakan kelanjutan dari strategi yang sudah dijalankan selama satu dekade terakhir. Dalam FIFA Executive Football Summits di Miami pada 15 Juni 2026, Infantino mengingatkan bahwa bantuan pembangunan untuk setiap asosiasi anggota sudah meningkat dari sekitar 1 juta dollar AS dalam empat tahun menjadi sekitar 8 juta dollar AS melalui FIFA Forward 3.0.

Infantino juga mengaitkan peningkatan dana tersebut dengan ekspansi berbagai kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia yang kini diikuti 48 negara, serta peluncuran turnamen baru seperti FIFA Series, FIFA Arab Cup, dan FIFA ASEAN Cup.

Di atas kertas, FIFA tampaknya menawarkan pertukaran sederhana: membuka akses terhadap modal swasta agar dana pembangunan sepak bola meningkat signifikan, sembari mempertahankan kendali penuh atas aspek olahraga. Namun, justru formula ini yang lantas memicu pertanyaan di berbagai konfederasi.

UEFA Menolak Keras & Ancam Boikot Piala Dunia

Jika FIFA melihat FFE sebagai instrumen pendanaan baru, respons dari sejumlah konfederasi justru menguak persoalan mendasar seputar tata kelola. Penolakan paling keras datang dari UEFA.

Beberapa jam sebelum FIFA merilis pengumuman resmi pada 28 Juli 2026, konfederasi sepak bola Eropa itu lebih dulu mengeluarkan pernyataan terkait laporan The Times yang juga lebih dulu merilis laporan seputar FIFA Forward Enterprise.

"Ini melanggar batasan yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh badan pengatur sepak bola. UEFA menanggapi isu ini dengan sangat serius," tulis UEFA di laman resmi mereka.

"Jiwa dan tata kelola sepak bola bukan aset untuk diperdagangkan – terutama tanpa transparansi sama sekali mengenai siapa yang diuntungkan secara finansial. Tak satu pun dari kita pemilik sepak bola. Sepak bola bukan dagangan FIFA," imbuh UEFA.

Sky News pada 28 Juli 2026 mewartakan penolakan dari UEFA berpotensi berkembang jadi konflik. Sempat terdengar info bahwa negara-negara Eropa berencana menggelar rapat darurat untuk membahas langkah bersama menghadapi proposal FFE, dan tidak menutup kemungkinan UEFA bakal memboikot Piala Dunia.

"UEFA dan 55 asosiasi anggotanya bersatu. Kami dengan suara bulat dan tanpa ragu menolak proposal FIFA untuk mengalihkan kepemilikan Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya kepada investor swasta," tegas UEFA.

Secara keseluruhan, posisi UEFA tidak bisa diabaikan. Eropa rumah bagi sebagian besar liga, klub, sponsor, dan tim nasional paling berpengaruh dalam ekosistem sepak bola dunia. Karena itu, keberatan UEFA sekaligus membuka babak baru tarik-ulur pengaruh antara federasi global dan konfederasi kontinental.

Timnas Spanyol Juara Piala Dunia 2026

Spanyol juara Piala Dunia 2026 ANTARA FOTO/Michael Teguh Adiputra Siahaan/app/nym.

Di sisi lain, sebelum diumumkan FIFA kepada publik, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) mengaku sama sekali tidak tahu soal proposal itu. FIFA juga tidak membahas strategi ini dalam pertemuan dengan asosiasi anggota di New York jelang final Piala Dunia 2026.

Cara proposal FIFA Forward Enterprise muncul ke publik disebut semakin memperburuk hubungan FIFA dengan UEFA, yang dalam beberapa tahun terakhir memang sudah beberapa kali berselisih dengan Infantino, mulai dari wacana Piala Dunia dua tahunan sampai berbagai kebijakan selama Piala Dunia 2026.

Sikap Konfederasi Lainnya Terkait Proposal FIFA

Meskipun tidak sekeras UEFA, beberapa konfederasi juga menyatakan kebingungannya terhadap rencana FIFA menjual saham Piala Dunia lantaran sosialisasi yang dianggap kurang.

Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF), misalnya, melalui pernyataan resminya pada 29 Juli 2026, mengaku baru tahu keberadaan program tersebut melalui pemberitaan media, kemudian disusul siaran pers FIFA.

"CONCACAF hanya mengetahui masalah ini melalui laporan media dan, selanjutnya, melalui rilis media. Kami sangat prihatin dengan minimnya proses," tulis CONCACAF.

Sikap hampir sama disampaikan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Dalam pernyataan resmi pada 29 Juli 2026, AFC mengaku tidak pernah diajak urun rembug mengenai proposal itu, sehingga menyayangkan info soal FIFA Forward Enterprise lebih dulu menjadi konsumsi publik.

AFC menegaskan bahwa mereka tidak menolak inovasi pengembangan sepak bola global. Namun, setiap perubahan yang berpotensi mengubah masa depan komersial dan finansial sepak bola, menurut AFC, mesti dibangun di atas prinsip tata kelola, transparansi, dan konsultasi yang baik.

Karena itu, AFC meminta FIFA memberi informasi memadai dan cukup waktu agar konfederasi serta asosiasi anggota FIFA bisa menilai implikasi hukum, komersial, strategis, dan tata kelola dari proposal tersebut, sebelum nantinya keputusan final diambil.

Berbeda dengan UEFA, CONCACAF, dan AFC yang secara terbuka menyampaikan kritik, Konfederasi Sepak Bola Afrika atau CAF menyatakan baru menerima dokumen resmi FIFA pada 29 Juli 2026 sebagai bagian dari proses konsultasi.

Sikap serupa diambil Konfederasi Sepak Bola Oseania (OFC). Dalam pernyataan resminya pada 30 Juli 2026, OFC menyebut proposal FIFA bakal dibahas dalam rapat Komite Eksekutif.

Proyek Infantino Guncang Internal FIFA

Pembatalan rencana FIFA menjual saham Piala Dunia disampaikan beberapa saat setelah penasihat senior FIFA, Carlos Cordeior, mengundurkan diri dari jabatannya. Cordeior mundur karena tidak sepakat dengan keinginan Infantino yang ingin menjual saham Piala Dunia.

"Mohon izin untuk saya jelaskan. Saya tidak terlibat dalam proposal itu dan saya dengan tegas menolak. Itu adalah kesepakatan buruk bagi para anggota FIFA, keputusan buruk buat sepak bola, serta masa depan permainan ini," tandas Cordeiro dikutip dari Reuters.

Rencana jual saham Piala Dunia memang menimbulkan pertentangan di internal FIFA sendiri. Kepala Operasi FIFA, Kevin Lamour, juga melayangkan protes keras kepada Infantino. Lamour bahkan menyebut ide itu adalah proyek satu orang saja.

"Ini adalah proyek satu orang. Proyek ini bukan hanya tidak boleh dilanjutkan... tetapi kini waktunya para pemimpin politik sepak bola untuk bertanya kepada diri mereka sendiri dan membuat keputusan yang tepat," tukas Lamour sebagaimana dilaporkan AP News.

Fifa

fifa. foto/shutterstock

Lantaran berbagai reaksi inilah kemudian Infantino memutuskan untuk membatalkan rencana penjualan saham Piala Dunia, setidaknya untuk saat ini. Presiden FIFA berjanji akan mencoba memperbaiki situasi setelah kegaduhan yang sempat terjadi.

"Selanjutnya, saya berniat untuk kembali mempertemukan semua pihak yang berkepentingan dalam beberapa hari dan pekan mendatang, dengan semangat kepentingan bersama dalam olahraga kami, serta dengan tujuan untuk terus mengembangkan sepakbola di mana-mana, terutama di negara-negara yang paling membutuhkan dukungan kami," ucap Infantino.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Olahraga
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Iswara N Raditya