Menuju konten utama

Melacak Asal Usul Java United Klub Bola yang Sering Ganti Nama

Sebelum ganti nama menjadi Java United, Malut United pernah bernama Putra Jombang, Putra Delta dan berganti homebase ke beberapa kota.

Melacak Asal Usul Java United Klub Bola yang Sering Ganti Nama
Logo Klub Java United FC. (Foto: dok. Java United FC)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Java United kembali menbuat riuh sepak bola Tanah Air. Bukan karena gebrakan mengobral tiket demi menarik penonton seperti melawan Garudayaksa FC, melainkan sikap tidak terpuji dari Direktur Teknik mereka, Achmad Resal Octavian.

Dalam pertandingan kontra Persija Jakarta yang digelar di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Resal kedapatan berteriak "Kamu di sini pendatang," ke arah bench Persija. Kalimat tersebut diduga ditujukan kepada pelatih Persija Jakarta, Shin Tae-yong, saat terjadi ketegangan antara kedua tim di lapangan.

Kejadian tersebut kemudian beredar luas di media sosial, dan mengundang reaksi dari warganet. Mayoritas komentar membela Shin Tae-yong yang pernah menangani Timnas Indonesia.

Sementara itu, reaksi kepada Resal dan Java United bernada negatif. Apalagi, Java United merupakan klub yang baru pindah homebase ke Semarang, setelah 3 tahun bernama Malut United.

Dari Putra Jombang sampai Java United

Perubahan nama klub dan homebase Java United dari Malut United, bukan yang pertama mereka lakukan. Jamaknya industri sepak bola di Indonesia, mengakuisisi klu lain, mengganti nama klub, atau memindahkan markas sebuah klub sudah menjadi hal biasa. Terlebih, ketika instansi pemerintah maupun swasta ikut masuk dalam membeli klub sepak bola.

Java United memiliki cerita yang relatif sama. Bila ditelusuri lebih jauh, klub yang berdiri pada tahun 2016 sebagai Putra Jombang, sudah berganti nama sebanyak 4 kali. Jumlah yang sama mereka lakukan memindahkan homebase dari Jombang, Sidoarjo, Ternate, dan kini Semarang.

Putra Jombang didirikan pada tahun 2016 dengan tujuan memberikan tempat bagi para pemain muda lokal bertalenta menyalurkan bakat mereka. Kala itu, Jombang sebetulnya sudah memiliki klub PSID Jombang yang sudah berdiri sejak 1953.

Logo klub Putra Jombang

Logo klub Putra Jombang. FOTO/ Dok. Putra delta sidoarjo

Layaknya klub yang baru terbentuk, Putra Jombang kemudian berkompetisi di Liga 3 Jawa Timur pada musim 2016. Kala itu, strata liga di Indonesia terbagi menjadi 3, dengan klub-klub amatir dan semi profesional berkompetisi di Liga 3 Regional untuk memperebutkan tiket ke putaran nasional.

Di musim debutnya, Putra Jombang masih kesulitan bersaing di Jawa Timur sehingga gagal menembus putaran nasional. Alih-alih memperbaiki tim, manajemen Putra Jombang kemudian memindahkan homebase dan berganti nama menjadi Putra Delta Sidoarjo.

Pergantian nama terbukti manjur. Di musim pertamanya sebagai Putra Delta Sidoarjo, mereka langsung menembus putaran nasional Liga 3 2021/2022. Bahkan, Putra Delta Sidoarjo sukses melaju hingga final, tetapi kalah dari Karo United via adu penalti.

Kendati kalah, Putra Delta Sidoarjo sukses promosi ke Liga 2 2022/2023. Kala itu, Putra Delta Sidoarjo promosi ke Liga 2 bersama Karo United, Mataram Utama, PSDS Deli Serdang, Persikab Bandung, Deltras FC, Gresik United, dan Persipa Pati.

Semusim di Liga 2, prestasi Putra Delta Sidoarjo tidak ke mana-mana. Di akhir musim kepemilikan klub kemudian dilego ke David Glenn, pengusaha asal Ambon, yang memiliki perusahaan PT. Mineral Trobos Group. Putra Delta pun diakuisisi, berganti nama menjadi Malut United dan pindah homebase ke Ternate, Maluku Utara.

Malut United imbang melawan Arema Fc

Pesepak bola Malut United Tyronne Gustavo Del Pino Ramos melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Arema Fc pada pertandingan BRI Super League di Stadion Gelora Kie Raha Ternate, Maluku Utara, Sabtu (29/11/2025). ANTARA FOTO/Andri Saputra/bar

Perubahan nama klub diiringi perombakan besar-besaran di tim. Imran Nahumarury yang memiliki ikatan dengan Maluku, dipilih sebagai pelatih. Begitu pula pemain-pemain Maluku yang tersebar di penjuru Indonesia dipanggil pulang membela tanah kelahiran.

Salah satu nama yang didatangkan Malut United adalah Rifal Lastori, pemain yang dianggap jimat untuk tim-tim Liga 2. Pasalnya, setiap tim yang diperkuat Rifal hampir selalu promosi ke Liga 1 atau Super League. Mulai dari PSIS Semarang (2017), PSS Sleman (2018), dan RANS Cilegon (2021).

Dampaknya pun langsung instan. Malut United langsung prmosi ke Liga 1 2024/2025. Walau tidak menjuarai Liga 2, bahkan gagal ke final, mereka lolos sebagai tim peringkat 3 setelah menumbangkan Persiraja Banda Aceh di perebutan pperingkat 3.

Pada musim Liga 1 2024-25 yang kemudian berubah menjadi Super League, Malut United belum bisa menggelar laga kandang di Ternate. Musababnya, Stadion Gelora Kie Raha, yang menjadi homebase mereka masih dalam tahap renovasi, sehingga tim memainkan sebagian besar laga kandang di Stadion Madya GBK, Jakarta, juga Stadion Sultan Agung, Bantul.

Walau bermain sebagai klub musafir, Malut United menunjukkan performa yang gemilang. Di musim pertamanya berkompetisi di divisi tertinggi sepak bola Indonesia, Malut United sukses menembus posisi 3 klasemen akhir. Mereka pun tetap konsisten di papan atas pada Super League 2025/2026 dengan finis di peringkat 6.

Namun, cerita sukses Malut United di sepak bola Indonesia lekas berakhir di musim 2026/2027. Manajemen klub memutuskan pindah homebase dari Ternate ke Semarang, dan mengubah nama klub dari Malut United, menjadi Java United. Sejarah Malut United dengan Kota Ternate pun tuntas dalam tempo yang singkat.

"Keputusan perubahan nama dan markas tim telah melalui pertimbangan matang dari manajemen dengan tujuan membangun klub yang semakin profesional dan berkelanjutan," kata Sofyan Lestaluhu selaku presiden klub.

David Glenn

David Glenn. FOTO/Istimewa

Alasan Malut United Ganti Nama Menjadi Java United

Keputusan manajemen mengganti nama klub dan memindah homebase mengejutkan penggemar sepak bola di Indonesia. Padahal, di Ternate, Malut United disambut baik oleh penggemar sepak bola di sana, serta mendapat dukungan penuh di setiap Malut United menjalani laga kandang di Stadion Gelora Kie Raha.

Apalagi, klub yang kemudian menjadi Java United memindahkan homebase ke Semarang, Jawa Tengah, kota yang sudah identik dengan PSIS Semarang. Walau PSIS bermain di Liga 2, tetapi barisan suporter mereka seperti Panser Biru dan Snex, tetap setia.

Kesetiaan pecinta sepak bola di Semarang terhadap PSIS pun tergambar dalam pertandingan kandang pertama Java United menjamu Garudayaksa FC. Dalam laga yang digelar di Stadion Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah, panitia penyelenggara mengobral tiket pertandingan Rp15.000. Harga tersebut jauh di bawah tiket kandang PSIS Semarang di Liga 2 2026/2027 yang paling murah yakni Rp75.000.

Walau sudah mengobral tiket, tidak banyak penonton yang datang ke Stadion Jatidiri. Dalam laporan Panpel pertandingan, jumlah penonton yang hadir di laga Java United vs Garudayaksa FC kurang dari 5.000 orang.

Manajemen Java United sendiri berdalih perubahan nama dan homebase klub didasarkan pada sejarah klub. Mereka ingin mengembalikan identitas klub yang berasal dari Pulau Jawa.

Pemilihan Kota Semarang, sebagai homebase baru juga bukan keputusan mendadak. Mereka sudah pernah menggunakan Stadion Jatidiri untuk menggelar laga kandang saat masih bernama Malut United di Liga Super 2025/2026. Tepatnya, saat menjamu PSBS Biak.

Pihak manajemen pun tetap berkomitmen mengembangkan sepak bola di Indonesia Timur, meski sudah pindah ke Jawa Tengah. Program pengembangan pemain usia muda di Ternate, tetap berjalan.

"Guna menampung banyak peserta akademi, training ground di Ternate yang dibangun untuk tim senior Malut United dipergunakan untuk anak-anak Indonesia agar dapat berbicara di pentas internasional. Lalu tim senior diputuskan pindah ke Semarang dan berganti nama menjadi Java United dan ikut membantu membangun kekuatan sepak bola di Jawa Tengah," ucap Weshley Hutagalung selaku Wakil Presiden klub.

SOFT LAUNCHING BHAYANGKARA FC

Pesepak bola Bhayangkara FC Evan Dimas Darmono (kiri), Indra Kahfi (tengah) dan M. Fatchu Rachman (kanan) menunjukkan kostum baru di sela-sela 'Soft Launching' di Mapolda Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (8/9). Bhayangkara Surabaya United resmi berganti nama menjadi Bhayangkara FC karena berlandaskan mayoritas saham Surabaya United dimiliki oleh Mabes Polri melalui Primer Koperasi Polri (Primkoppol). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww/16.

Jejak Klub Pendatang di Kota Gila Bola

Java United bukan klub pertama yang datang ke sebuah kota yang sudah memiliki klub. Bhayangkara FC, RANS Nusantara, Dewa United, Bali United hingga Borneo FC merupakan klub baru yang datang ke sebuah kota yang memiliki klub.

Dari klub-klub baru yang datang ke kota penggila bola, ada yang berhasil, tetapi tidak jarang pula berakhir tanpa dukungan. Bhayangkara FC misalnya gagal total di Surabaya, yang sudah punya Persebaya. Bahkan, Bonek, sebutan untuk suporter Persebaya kala itu lebih memilih mendukung Persebaya yang mati suri alih-alih Bhayangkara FC yang bertabur bintang.

Bhayangkara FC sebelumnya bernama Persikubar Kutai Barat dan kemudian pindah ke Surabaya dengan memakai nama Persebaya DU sejak tahun 2011. Mereka berharap bisa mendapatkan dukungan Bonek yang saat itu tidak dapat mendukung Persebaya Surabaya. Alih-alih mendapat dukungan, Persebaya DU tidak dilirik sama sekali oleh Bonek.

Nama Persebaya DU yang tersemat pun tidak bisa menarik perhatian warga Surabaya. Klub kemudian berganti nama menjadi Bhayangkara Surabaya United. Setelah beberapa musim, mereka menyerah di Kota Surabaya, dan pindah ke Jakarta untuk berkandang ke Stadion PTIK.

Di Jakarta tim yang berganti nama menjadi Bhayangkara FC juga gagal menarik masyarakat Jakarta untuk mencintai mereka. Tim pun didukung oleh calon polisi yang sedang menjalani pendidikan di PTIK.

Guna mendapat basis penggemar yang lebih besar, Bhayangkara FC kemudian hijrah ke Bandar Lampung dan menjadi kebanggaan warga Lampung. Mereka pun bertahan di Lampung hingga sekarang.

Selain Bhayangkara FC yang gagal di Kota Surabaya, ada juga RANS Nusantara, yang kerap pindah kandang. Sejak mengakuisisi Cilegon United tahun 2012, RANS Nusantara lantas berpindah-pindah markas hampir di setiap musimnya. Mulai dari Cilegon, Jakarta, Bogor, Sleman, Bantul, dan Pasuruan sempat menjadi homebase RANS Nusantara.

Kini di musim 2026-27, RANS Nusantara bermarkas di Stadion Kanjuruhan, Malang, dan berbagi kandang dengan Arema. Walau begitu, dukungan masyarakat urung diberikan kepada klub milik Raffi Ahmad tersebut.

Walau banyak klub pendatang yang tidak mendapat dukungan masyarakat di kota baru, ada pula cerita klub yang berhasil. Di antaranya Borneo FC, dan Bali United.

Pada musim 2014, pengusaha asal Samarinda, Nabil Husein membeli klub Madura, Perseba Bangkalan dan memindahkan homebase ke Samarinda. Klub lantas berganti nama menjadi Pusamania Borneo FC, kemudian menjadi Borneo FC saja.

Kala itu, Kota Samarinda sudah memiliki klub Persisam Putra Samarinda yang bermain di divisi teratas. Walau begitu, Borneo FC justru lebih dicintai penggemar dan membuat Persisam Putra Samarinda terpinggirkan. Pada akhirnya, Borneo FC berhasil menjadi ikon kebanggaan warga Samarinda hingga sekarang.

Sebagai efek domino dari kehadiran Borneo FC di Samarinda, Persisam Putra Samarinda kemudian dijual kepada Pieter Tanuri. Di tangan pemilik baru, Persisam lantas dibawa ke Bali dan berubah menjadi Bali United.

Bali United pun menjadi contoh klub pendatang paling sukses di sepak bola Indonesia. Mereka sukses menggusur eksistensi klub-klub lokal seperti Persegi Gianyar, Putra Dewata dan lainnya.

Bukan hanya sukses menggaet penggemar sepak bola lokal, Bali United juga mampu berprestasi di Liga Indonesia. Tim berjuluk Serdadu Tridatu menjadi juara Liga 1 pada musim 2019 dan 2021-22.

Baca juga artikel terkait SUPER LEAGUE atau tulisan lainnya dari Wan Faizal

tirto.id - Sepakbola
Kontributor: Wan Faizal
Penulis: Wan Faizal
Editor: Permadi Suntama