tirto.id - Beredar video di media sosial Facebook mengklaim, mencium kucing dapat menyebabkan telur parasit berpindah dari bulu ke mulut, berkembang menjadi larva, masuk ke otak, lalu mengubah perilaku manusia.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook “Gidion Lisupadang” (arsip) pada Selasa, (24/2/2026). Dalam unggahan tersebut memperlihatkan ilustrasi pernapasan manusia saat mencium kucing dan menghirup bulunya kemudian parasit dapat masuk ke tubuh hingga mencapai otak manusia.
Narator dalam cuplikan video menjelaskan enam tahap infeksi level satu hingga level 6, dimulai dari perpindahan telur parasit ke bibir hingga menetas di dalam lambung. Selanjutnya, parasit tersebut disebut menyerang sistem imun dan membangun sarang di otak guna memanipulasi zat kimia.
“Seberapa sering kamu cium kucing sampai otakmu perlahan dibajak parasit? Level 1 kamu gemas mencium hidung kucingmu. Ribuan telur parasit pindah dari bulu halusnya ke bibirmu. Level 2 Kamu menelan ludah. Telur itu masuk lambung. Mereka menetas jadi larva ganas. Level 3 sistem imunmu menyerang. Mereka membajak sel darah putihmu. Level 4 mereka sampai di kepala, menembus sawar darah otak dan bersarang di dalam ruang kendalimu. Level 5 mereka membangun sarang. Bersembunyi di amigdala dan memanipulasi zat kimia otakmu. Level 6 Perilakumu berubah. Kamu jadi mudah marah, nekat, dan refleksmu melambat. Hati-hati.” Begitu narasi disebutkan dalam cuplikan video.
Pengunggah juga menambahkan keterangan dan memberikan peringatan keras kepada masyarakat agar tidak mencium kucing karena dapat menyebabkan berbagai macam penyakit.
“PERINGATAN KERAS : BAHAYA MENCIUM BINATANG Termasuk KUCING.
🛑 PERINGATAN KERAS: Cintai Hewanmu, Jaga Dirimu!
Menyayangi binatang tidak harus dilakukan dengan cara mencium mulut atau area wajah mereka.
Meskipun hewan peliharaanmu terlihat bersih dan sehat, mereka adalah inang alami bagi berbagai mikroorganisme yang bisa berakibat fatal bagi manusia.
Sayangi nyawamu lebih dari rasa gemasmu. Berhenti mencium hewan peliharaan sekarang juga!
🦠 Dampak dan Penyakit yang Mengintai
Mencium hewan peliharaan, terutama kucing dan anjing, dapat memindahkan bakteri, virus, dan parasit secara langsung ke sistem tubuhmu. Berikut adalah beberapa ancaman nyata:
Toksoplasmosis (Toxoplasma gondii): Seperti yang digambarkan di video, parasit ini bisa masuk ke tubuh dan dalam kasus ekstrem mencapai otak. Pada wanita hamil, ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan keguguran atau cacat janin.
Cat Scratch Disease (Bartonellosis): Disebabkan oleh bakteri Bartonella henselae. Bakteri ini ada pada air liur kucing dan bisa berpindah melalui jilatan pada luka atau selaput lendir (mulut/mata), menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening dan demam tinggi.
Infeksi Bakteri Mulut: Mulut hewan mengandung bakteri seperti Pasteurella, Salmonella, dan Campylobacter yang dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan parah hingga infeksi kulit.
Parasit Cacing: Telur cacing (seperti cacing gelang atau cacing pita) sering menempel pada bulu di sekitar wajah hewan setelah mereka menjilati tubuh mereka sendiri. Jika tertelan, ini akan berkembang biak di ususmu.
Ringworm (Jamur): Penyakit kulit yang sangat menular dan menyebabkan ruam merah gatal berbentuk cincin yang sulit disembuhkan.
💡 Cara Menyayangi yang Aman
Kamu tetap bisa jadi pet parent yang luar biasa tanpa harus mengabaikan protokol kesehatan:
Gunakan Elusan, Bukan Ciuman: Tunjukkan kasih sayang dengan mengelus punggung atau memberikan treats.
Cuci Tangan: Selalu cuci tangan dengan sabun setelah bermain dengan hewan.
Vaksin dan Obat Cacing: Pastikan jadwal vaksinasi dan pemberian obat cacing hewanmu selalu tepat waktu.
Jaga Kebersihan Kandang: Jangan biarkan kotoran menumpuk, karena itulah sumber utama parasit.
Ingat: Hewan peliharaanmu tidak akan merasa kurang disayangi hanya karena kamu tidak menciumnya, tapi tubuhmu akan sangat berterima kasih karena terhindar dari penyakit.”
Sampai artikel ini ditulis pada Kamis (24/9/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 359 penayangan. Unggahan serupa juga ditemukan pada akun Facebook "Angkara Messi."
Lantas, benarkah mencium kucing menyebabkan parasit masuk hingga ke otak dan dapat merubah perilaku manusia menjadi mudah marah, nekat, dan refleksi melambat?
Penelusuran Fakta
Untuk membuktikan kebenaran klaim, Tim riset Tirto memverifikasinya dengan mewawancarai seorang epidemiolog asal Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman.
Berdasarkan penjelasan Dicky, klaim dalam video dinilai keliru dan menyesatkan. Video mencampurkan fakta mengenai risiko zoonosis dari kucing dengan mekanisme penularan yang tidak sesuai dengan bukti ilmiah.
“Klaim video itu keliru ya, itu ada campuran fakta zoonosis yang benar tapi mekanismenya yang direka-reka dibumbui bahkan secara dramastis. Nah bagian yang benarnya tapi diputarbalikkan adalah bahwa memang kucing itu bisa jadi inang beberapa patogen zoonosis. Toxoplasmosis misalnya itu menular lewat jalur fekal oral, bukan lewat mencium bulu kucing.” Demikian keterangan Dicky kepada Tirto, Kamis (24/09/2026).
Kucing memang dapat menjadi inang sejumlah patogen zoonosis, seperti Toxoplasma gondii, Toxocara, Bartonella, dan Pasteurella, tetapi toksoplasmosis tidak menular secara otomatis melalui mencium bulu kucing.
Penularan Toxoplasma gondii terutama terjadi ketika seseorang tidak sengaja menelan ookista infeksius dari lingkungan yang terkontaminasi kotoran kucing, makanan atau air tercemar, maupun melalui konsumsi daging mentah atau kurang matang. Selain itu, ookista yang dikeluarkan bersama feses kucing membutuhkan waktu sekitar 1–5 hari di lingkungan sebelum menjadi infeksius.
Sementara itu, meskipun Toxoplasma gondii dapat membentuk kista pada jaringan, termasuk otak, pada infeksi kronis, klaim bahwa parasit tersebut menyebabkan perubahan perilaku seperti mudah marah, nekat, atau perubahan kepribadian secara drastis tidak merupakan gejala klinis yang diakui untuk toksoplasmosis maupun toksokariasis.
Karena itu, risiko zoonosis dari kucing memang nyata, tetapi mekanisme penularan yang digambarkan dalam video, termasuk klaim parasit berpindah dari bulu ke bibir lalu menetas dan mempengaruhi otak, tidak didukung bukti ilmiah.
Kemudian, Tirto melakukan penelusuran terhadap penelitian yang pernah dilakukan terkait bahaya mencium kucing. Hasil penelusuran mengarah pada laman vetwest, yang menjelaskan bahwa mencium kucing memang berisiko mendatangkan penyakit, namun tidak ditemukan pernyataan yang membenarkan bahwa parasit akan masuk ke otak dan mengubah perilaku manusia.
Menurut vetwest, kucing memang bisa membawa beberapa penyakit yang dapat menular ke manusia (zoonosis), tetapi bukan berarti setiap orang yang menyentuh atau mencium kucing pasti akan tertular.
- Bakteri seperti Pasteurella, Staphylococcus, E. coli, dan Salmonella dapat ditemukan pada hewan dan dalam kondisi tertentu bisa menginfeksi manusia. Penularannya bergantung pada jenis bakterinya dan cara seseorang terpapar.
- Kurap (ringworm) adalah infeksi jamur yang bisa berpindah dari kucing ke manusia, terutama melalui kontak dengan kulit atau bulu yang terinfeksi.
- Demam cakaran kucing (Bartonella) disebabkan oleh bakteri Bartonella dan dapat menular, terutama berkaitan dengan cakaran atau paparan yang terkontaminasi.
- Toksoplasmosis adalah infeksi parasit Toxoplasmagondii. Salah satu jalur penularannya adalah kontak dengan kotoran kucing yang terinfeksi, misalnya saat membersihkan litter box tanpa menjaga kebersihan tangan.
Toksoplasmosis memang merupakan zoonosis, tetapi mekanisme penularannya tidak otomatis berarti mencium kucing menyebabkan parasit masuk ke otak dan perilaku berubah.
Dalam laman Centers for Disease Control and Prevention dijelaskan bahwa toksoplasmosis memang nyata dan dapat menyerang jaringan otak, tetapi tidak ada dasar yang cukup untuk menyatakan bahwa mencium kucing merupakan jalur penularan yang menyebabkan parasit masuk ke otak lalu mengubah perilaku manusia. Jalur penularan yang dijelaskan CDC terutama berkaitan dengan tertelannya parasit dari makanan, air, tanah, atau kotoran kucing yang terkontaminasi.
Toxoplasma dapat berada di jaringan otak setelah infeksi, tetapi klaim bahwa mencium kucing menyebabkan proses tersebut dan kemudian mengubah perilaku manusia tidak terbukti.
Menurut CDC, manusia dapat terinfeksi Toxoplasma ketika secara tidak sengaja menelan parasit dari kotoran kucing yang mengandung Toxoplasma, misalnya setelah membersihkan kotak pasir dan tidak mencuci tangan. Penularan juga dapat terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan, tanah, atau air yang telah terkontaminasi parasit tersebut.
WHO menjelaskan bahwa Toxoplasma gondii terutama dapat ditularkan melalui jalur fekal-oral, yakni ketika seseorang menelan makanan atau air yang terkontaminasi ookista parasit. WHO juga menyebut infeksi dapat terjadi melalui konsumsi daging mentah atau kurang matang yang mengandung kista jaringan Toxoplasma.
Dengan demikian, sumber CDC dan WHO menunjukkan bahwa keberadaan kucing memang berkaitan dengan salah satu jalur penularan toksoplasmosis, tetapi sumber tersebut tidak menjelaskan bahwa mencium bulu atau wajah kucing menyebabkan telur atau parasit berpindah langsung ke bibir manusia seperti yang digambarkan dalam video.
Video tersebut juga menggunakan narasi mengenai telur parasit yang menetas menjadi larva dan kemudian menyebar ke berbagai bagian tubuh. Dalam kasus yang jarang terjadi, larva Toxocara memang dapat bermigrasi ke sistem saraf pusat dan menyebabkan peradangan pada sistem tersebut. CDC menyebut kondisi tersebut sebagai manifestasi yang jarang, sedangkan banyak infeksi Toxocara tidak menimbulkan gejala.
Narasi video juga menyebut parasit “membajak” sel darah putih dan memanipulasi zat kimia otak sehingga manusia menjadi mudah marah, nekat, dan mengalami perlambatan refleks. Faktanya, CDC menjelaskan bahwa gejala toksokariasis berkaitan dengan migrasi larva serta respons imun dan peradangan tubuh, dengan gejala yang dapat mencakup demam, batuk, mengi, sakit perut, dan pembesaran hati pada toksokariasis viseral.
Tidak dicantumkan efek mencium kucing dapat menyebabkan perubahan perilaku seperti mudah marah, menjadi nekat, atau refleks melambat sebagai gejala umum toksokariasis pada halaman gejala dan gambaran klinis penyakit tersebut. Klaim tersebut tidak berdasar dan tidak didukung oleh fakta ilmiah.
CDC juga mengingatkan bahwa hewan peliharaan dapat membawa berbagai kuman, termasuk parasit, meskipun hewan tersebut terlihat sehat. Karena itu, kebersihan tangan setelah menangani hewan atau kotorannya tetap menjadi salah satu langkah pencegahan penyakit yang dianjurkan.
Dengan demikian, video tersebut mencampurkan fakta yang benar mengenai keberadaan parasit yang berkaitan dengan kucing, dengan mekanisme penularan. Namun, dampak kesehatan yang dituliskan tidak sesuai dan tidak didukung oleh sumber yang benar.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa mencium kucing menyebabkan parasit masuk ke otak dan mengubah perilaku manusia adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Kucing memang dapat berperan dalam penularan sejumlah parasit, tetapi penularan Toxoplasma dan Toxocara kepada manusia berkaitan dengan tertelannya parasit atau telur dari kotoran hewan, makanan, air, tanah, atau lingkungan yang terkontaminasi, bukan dengan mencium kucing.
Sampai saat ini, tidak ditemukan dasar dari sumber-sumber kredibel yang membenarkan klaim tersebut.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id


































