Liga Italia Serie A 2020/2021

Parma Degradasi: Sejarah Jaya di Liga Italia, Jatuh, & Kebangkitan

Oleh: Muhammad Fadli Nasrudin Alkof - 5 Mei 2021
Dibaca Normal 3 menit
Parma yang punya sejarah kejayaan dipastikan degradasi dari Serie 2020/2021 ke Serie B musim depan.
tirto.id - Parma sejatinya tengah merintis sejarah kebangkitan di Liga Italia setelah sempat jatuh bahkan hancur beberapa tahun lalu. Namun, kekalahan 1-0 dari Torino di pekan 34 Serie A 2020/2021 membuat klub yang pernah jaya ini dipastikan degradasi ke Serie B musim depan.

Di Liga Italia Serie A musim ini, skuad asuhan Roberto D'Aversa hanya mengumpulkan 20 poin dari 34 laga. Parma baru merasakan 3 kali kemenangan, 11 kali bermain imbang, dan sudah mengalami 20 kali kekalahan.

Gervinho dan kawan-kawan saat ini menempati posisi 19 dari 20 tim peserta Liga Italia Serie A. Perolehan poin Parma sudah tidak mungkin lagi mengejar Cagliari, tim yang berada di zona aman.

Sempat ditukangi Fabio Liverani pada awal musim sebelum memanggil kembali D'Aversa pada Januari 2021 lalu, Parma tidak sanggup memperbaiki performanya.

Hal itu menggenapkan catatan buruk Gialloblu, terlempar ke Serie B untuk keempat kalinya sejak tim ini didirikan pada 16 Desember 1913 silam.


Sejarah Kejayaan Parma

Parma pernah merasakan masa kejayaan pada akhir era 80'an akhir hingga memasuki awal 2000-an. Kala itu, klub yang bermarkas di Stadion Ennio Tardini ini amat disegani di Italia, bahkan mengukir rangkaian prestasi di level Eropa.

Total sebanyak 10 gelar diraih Parma selama rentang waktu tersebut, termasuk 1 trofi Piala Super Eropa, 1 gelar Piala Winners UEFA, 2 kali juara Piala UEFA, 3 trofi Piala Italia, dan 1 Piala Super Italia.

Sepanjang dekade 1990-an hingga awal dasawarsa 2000-an, Parma termasuk dalam jajaran elite Italia berjuluk The Magnificent Seven alias Il Sette Magnifico, bersama Juventus, Inter Milan, AC Milan, AS Roma, Lazio, dan Fiorentina.

Kala itu, Serie A memang menjadi kompetisi paling gemerlap di Eropa dengan hadirnya seabrek bintang di Liga Italia.

Parma sendiri pernah diperkuat nama-nama top macam Enrico Chiesa, Gianfranco Zola, Hristo Stoichkov, Tomas Brolin, Fabio Cannavaro, Gianluigi Buffon, Lilian Thuram, Hernan Crespo, Faustino Asprilla, Juan Sebastian Veron, Dino Baggio, Matias Almeyda, hingga era Hidetoshi Nakata, Adrian Mutu, atau Adriano.

Seiring terkuaknya skandal Calciopoli yang mengguncang persepakbolaan Italia dan berpuncak pada 2006, kejayaan sejumlah klub anggota The Magnificent Seven mulai memudar.

Sebelumnya, musim 2004/2005, beberapa anggota The Magnificent Seven mengalami turbulensi performa. Empat dari 7 tim elite Italia itu gagal menempatkan diri di 7 besar klasemen.

AS Roma, misalnya, hanya mampu finis di peringkat ke-8. Lazio terdampar di posisi 10. Sedangkan Fiorentina dan Parma nyaris terlempar ke Serie B meskipun akhirnya masih bisa selamat.


Skandal Bangkrutnya Parmalat

Saat kondisi keuangan klub sedang tidak baik, performa skuad yang bermain di lapangan tentu juga bakal terdampak. Hal itulah yang dialami oleh Parma pada awal 2003 dan akhirnya memuncak pada 2004.

Ketika merintis lalu menikmati masa-masa emasnya dari pertengahan hingga menjelang pengujung era 1980-an, Parma dimiliki oleh Parmalat, perusahaan susu, makanan, dan minuman milik Calisto Tanzi yang berdiri sejak 1961.

Menyongsong milenium baru, nilai perusahaan melesat tinggi. Laporan BBC menyebutkan, pada April 2002 saham Parmalat mencapai rekor 3,7 miliar euro.

Di masa-masa yang seharusnya menjadi puncak kejayaan itu, Parmalat justru mulai rusak dari dalam. Dikutip dari Financial Express, Calisto Tanzi menggelapkan uang perusahaan dengan nilai sekitar 800 juta euro.

Akhirnya, tahun 2003, Parmalat benar-benar tamat dengan meninggalkan utang sebesar 14 miliar euro. Menurut laporan BBC, ini merupakan kebangkrutan terbesar di Eropa. Tanzi sendiri kemudian dijebloskan ke penjara dengan dakwaan penipuan.

Keruntuhan Parmalat pada akhirnya berdampak terhadap Parma kendati sebenarnya Gialloblu masih mampu bertahan, misalnya dengan menempati peringkat 6 di klasemen akhir Serie A 2005/2006.


Badai Kedua yang Menghancurkan

Asa kebangkitan muncul ketika pada 2006 pengusaha Tommaso Ghirardi mengambil-alih kepemilikan Parma. Namun, utang yang menumpuk membuat Gialloblu tidak kuat lagi menahan gejolak krisis dan terpaksa menjual sejumlah pemain bintangnya.

Parma pada musim 2007/2008 bahkan terdegradasi ke Serie B kendati langsung bisa kembali promosi ke Serie A di musim 2008/2009.

Upaya Parma bertahan dari krisis berlangsung cukup lama, sekira 7 tahun. Sejak 2008/2009, Gialloblu masih bisa menempatkan diri di papan tengah Serie A.

Di tengah usaha untuk berdiri tegak, Parma justru diterpa badai kedua, lagi-lagi persoalan utang. Musim 2014/2015 menjadi musim yang memilukan bagi Gialloblu sebelum klub ini dinyatakan pailit.

Krisis kedua ini membuat manajemen Parma menjual sejumlah trofi demi bisa bertahan. Seperti dilaporkan oleh The Guardian, utang yang mendera Parma kala itu mencapai 200 juta euro.

Sebanyak 8 dari 10 trofi yang pernah diraih Gialloblu dilelang demi menambal keuangan, namun itu belumlah cukup. Parma diputuskan bangkrut dan turun jauh ke kasta paling rendah di kompetisi Liga Italia, yakni Serie D.

Parma bahkan diharuskan berganti nama dan logo klub, menjadi Parma Calcio 1913 sejak tahun 2015.


Kebangkitan yang Tersendat

Sejak musim 2015/2016, Parma Calcio 1913 memulai dari nol lagi, merangkak dari Serie D. Perjuangan Parma ternyata berjalan cukup mulus. Hanya dalam kurun waktu 3 tahun. tim besutan D'Aversa mampu kembali ke habitat aslinya, yakni Serie A.

Musim 2018/2019 menjadi awal bulan madu Parma di Serie A. Meskipun hanya finis di urutan 14 klasemen akhir, namun Parma yang kala itu menggaet sejumlah eks pemain top macam Bruno Alves, Gervinho, atau Juraj Kucka, tampil sebagai kuda hitam yang patut diperhitungkan.

Parma bahkan mampu memberikan perlawanan ketat terhadap klub-klub yang jauh lebih mapan dan sesama bekas anggota The Magnificent Seven, seperti menahan imbang AC Milan, serta mengalahkan Fiorentina dan Inter Milan.

Performa Parma semakin membaik di musim berikutnya. Sempat mengintip zona Eropa, klub yang juga berjuluk Il Ducali ini akhirnya memungkasi musim 2019/2020 di peringkat 11.

Optimisme kian membumbung setelah Parma diakusisi oleh pengusaha asal Amerika Serikat, Kyle Krause, pada September 2020 lalu. Sebelumnya, klub ini bahkan sempat diisukan bakal dimiliki oleh taipan asal Qatar kendati gagal terwujud.

Namun, di sisi lain, tifosi Gialloblu juga dibikin harap-harap cemas dengan ditunjuknya Fabio Liverani sebagai pelatih untuk menggeser posisi Roberto D'Aversa. Pasalnya, Liverani di musim sebelumnya gagal menyelamatkan Lecce dari degradasi.

Yang ditakutkan perlahan terjadi. Di bawah komando Liverani, Parma tampil payah. Manajemen klub akhirnya mendepak mantan gelandang Lazio dan Timnas Italia itu serta memanggil kembali D'Aversa pada awal Januari 2021.

Sayangnya, upaya penyelamatan terlambat. Penampilan Gervinho dan kolega tidak membaik. Puncaknya adalah kekalahan 1-0 dari Torino pada Senin (4/5/2021) lalu yang memastikan Parma harus turun ke Serie B musim depan.


Baca juga artikel terkait LIGA ITALIA SERIE A 2020-2021 atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fadli Nasrudin Alkof
(tirto.id - Olahraga)

Kontributor: Muhammad Fadli Nasrudin Alkof
Penulis: Muhammad Fadli Nasrudin Alkof
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight