tirto.id - Laga Israel vs Irlandia dalam ajang UEFA Nations League (UNL) B 2026/2027 memicu gelombang protes keras di Irlandia bahkan sebelum laga dimulai.
Jelang partai pada Senin (28/9/2026) pukul 02.00 WIB di Stadion Nagyerdei, Debrecen, Hungaria, publik Irlandia mendesak Federasi Sepak Bola Irlandia (FAI) melakukan boikot atas aksi genosida Israel di Palestina. Namun, FAI pada akhirnya memilih tetap tanding demi menghindari sanksi UEFA.
Laga tersebut akan jadi pertemuan pertama dari dua duel Irlandia kontra Israel di Grup B3 UEFA Nations League. Setelah jumpa di Hungaria, pertemuan kedua digelar di TSC Arena, Backa Topola, Serbia, pada Minggu (4/10) waktu Eropa. Tidak hanya berlangsung di luar kandang Irlandia dan Israel, kedua partai tersebut juga tanpa penonton.
Keputusan tersebut tidak menyetop tensi. Sebagian pihak di Irlandia mendesak agar FAI menolak berlaga, sementara FAI tetap memilih memenuhi jadwal karena konsekuensi akan regulasi UEFA.
Perang Kata-kata Jelang Israel vs Irlandia & Tuntutan Boikot
Tensi meningkat jelang laga Irlandia vs Israel usai pelatih Timnas Irlandia Heimir Hallgrimsson berkomentar saat mengumumkan skuad untuk UEFA Nations League.
"Kami tidak bermain dengan pelaku genosida, kami melawan pelaku genosida," ujar Hallgrimsson, dikutip dari RTE.

Pernyataan itu merujuk pada situasi di Gaza. Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB pada September 2025 menyimpulkan bahwa Israel melakukan genosida di Gaza. Israel menolak kesimpulan itu.
Federasi Sepak Bola Israel (IFA) kemudian merespons keras pernyataan Hallgrimsson. "Sayang kami belum menemukan obat kebodohan, ketidaktahuan, dan kemunafikan yang ditunjukkan oleh pelatih tim @IrelandFootball," tulis FAI via X.
Komentar tersebut memperlebar ketegangan sebelum kedua tim bentrok. Laporan The Irish Time menyebut pemain dari kedua kubu berpotensi tidak melakukan tradisi bertukar jersey selepas laga.
Irlandia selama ini memang dikenal sebagai salah satu negara Eropa paling vokal mengkritik aksi Israel di Gaza. Dukungan terhadap Palestina juga memiliki akar sejarah panjang dalam politik Irlandia. Pada 1980, Irlandia jadi negara Eropa pertama yang menyerukan pengakuan terhadap negara Palestina.
Namun, keterlibatan sepak bola Irlandia dalam isu ini paling dekat bisa ditelusuri lebih spesifik menuju September 2025. Pada 18 September tahun itu, klub lokal Irlandia Bohemian FC, bersama FairSquare, dan Irish Sport for Palestine, mengirim permohonan ke UEFA agar Israel disanksi dari kompetisi UEFA. Aliansi itu menyebut dua alasan.
Pertama, mereka menyoal klub-klub Israel di pemukiman Tepi Barat, Palestina, tetap bermain dalam kompetisi sepak bola Israel. Menurut aliansi tersebut, kondisi itu bertentangan dengan aturan FIFA mengenai laga klub di wilayah asosiasi anggota lain (Palestina) tanpa persetujuan asosiasi terkait.
Kedua, mereka menuduh IFA gagal menerapkan dan menegakkan kebijakan antirasisme secara efektif. Mereka merujuk pada dugaan nyanyian bernuansa rasis serta hasutan terhadap warga Palestina oleh para suporter Israel.

Permintaan itu lalu masuk ke FAI. Dalam Extraordinary General Meeting (EGM) pada 8 November 2025, anggota General Assembly FAI menyetujui mosi untuk menginstruksikan dewan federasi mengajukan permintaan formal kepada Komite Eksekutif UEFA, agar Israel segera disanksi.
Laporan The Guardian menyebut, hasil voting menunjukkan 74 anggota mendukung, tujuh menolak, dan dua abstain. FAI selanjutnya mengajukan mosi tersebut kepada UEFA dan terus berkonsultasi dengan pejabat UEFA selama hampir dua tahun.
Namun, beberapa bulan kemudian, ketika drawing Nations League 2026-2027 digelar pada Februari 2026, hasilnya Irlandia dan Israel justru berada di grup yang sama, bersama Austria dan Kosovo.
Persoalan yang sebelumnya masih di ranah kampanye berubah jadi massalah yang harus dihadapi langsung oleh Timnas Irlandia. The Green Army kini mesti tanding melawan Israel, asosiasi yang mereka minta untuk disanksi, demi menghindari sanksi UEFA.
Ancaman Sanksi UEFA di Balik Alasan FAI Tetap Bertanding
Dalam pernyataan di laman resmi Juni 2026, FAI menjelaskan sejumlah konsekuensi jika menolak bertanding. Berdasar regulasi UEFA, tim yang menolak berlaga bisa dinyatakan kalah dan dikenai tindakan disipliner, termasuk kemungkinan diskualifikasi.
FAI juga menyebut bahwa menolak bertanding bisa memengaruhi posisi Irlandia di ajang UEFA Nations League. Konsekuensinya mencakup pengurangan enam poin, risiko degradasi ke League C, serta dampak terhadap peringkat UEFA dan FIFA. Menurut FAI, hal itu juga melemahkan peluang Irlandia di jalur kualifikasi Euro 2028.
Dampaknya tak berhenti pada tim senior. FAI menyebut hukuman itu bisa mengurangi kemampuan organisasi mendukung klub, liga, pembinaan pemain, program pendidikan, dan timnas kelompok umur. Adapun FAI juga menakar risiko kerugian finansial akibat menolak bertanding bisa mencapai lebih dari 5,5 juta euro.

Namun, FAI menegaskan UEFA tidak secara langsung mengancam mereka dengan sanksi. Kepala Eksekutif FAI David Courell menyebut keputusan tetap bertanding dibuat setelah menimbang aturan UEFA serta kepentingan jangka panjang sepak bola Irlandia.
Laporan Reuters menyebut FAI sudah meminta agar UEFA tidak mempertemukan Irlandia dan Israel di drawing berikutnya, tetapi permintaan itu ditolak UEFA dengan alasan Irlandia dan Israel "tidak pernah berada konflik langsung".
Laga 'Pengasingan' dan Sepak Bola yang Tak Bisa lepas dari Politik
Dua laga Israel vs Irlandia di UEFA Natios League resmi bakal digeber di tempat netral. Laga Israel sebagai tuan rumah dipindah ke Debrecen, sementara laga kandang Irlandia dipindah ke Backa Topola.
FAI menyebut pemindahan venue dari Aviva Stadium dilakukan karena "tantangan operasional" berpotensi mengganggu penyelenggaraan laga di Dublin. Keputusan itu diambil usai berkonsultasi dengan berbagai pihak serta mendapat dukungan UEFA.
Di Irlandia, keputusan tersebut tetap memicu kritik. Merujuk The Independent, ada kampanye "Stop the Game" yang menyerukan agar laga ini diboikot. Sejumlah kelompok sepak bola juga mendesak FAI mengambil langkah lebih jauh terhadap Israel.
Bagi FAI, persoalannya tidak sesederhana memainkan atau membatalkan satu laga. Organisasi itu sebelumnya sudah menyatakan dukungan terhadap hak rakyat dan atlet Palestina, tetapi pada saat yang sama harus menjalankan kewajiban sebagai anggota UEFA.

Situasi tersebut juga memengaruhi laga. Merujuk The Jerusalem Post, media Irlandia RTE tetap bakal menyiarkan laga karena kewajiban kontrak, tapi tanpa program studio, analis, maupun iklan dan sponsor tambahan. Laga di Serbia pun digelar tanpa penonton.
Kapten Irlandia Dara O'Shea mengatakan bukan pemain yang menentukan apakah laga harus tetap dimainkan. Menurut dia, keputusan itu ada pada FAI, pemerintah, dan UEFA. "Kami adalah pemain Irlandia dan saat dipanggil, kami datang untuk mewakili negara kami," ujarnya kepada The Irish Time.
Meski demikian, O'Shea mengatakan para pemain tetap akan berbincang soal situasi tersebut secara terbuka. Mereka dijadwalkan berdiskusi selepas duel melawan Kosovo pada Jumat (25/9), termasuk mengenai kans aksi kolektif saat berjumpa Israel nanti.
Irlandia sendiri mengawali rangkaian UEFA Nations League 2026-2027 melawan Kosovo pada Jumat (25/9) dini hari di Pristina. Dalam partai tersebut, The Boys in Green takluk 1-0 lewat gol Vedad Muriqi ('83). Sementara itu, Israel memulai kampanye dengan kekalahan 3-1 lawan Austria di Linz. Kini, Irlandia sementara ada di peringkat 3 Grup 3 Liga B, dan Israel duduk di posisi juru kunci.
Alhasil, laga di Debrecen pada Senin (28/9) juga jadi arena bagi Irlandia dan Israel untuk saling mengalahkan di lapangan. Kehilangan poin lagi berarti mendekatkan diri ke playoff degradasi Liga C.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id


































