Menuju konten utama
Horizon

Transformasi Taktik Arteta di Arsenal Berbuah Juara EPL 2026

Sejak menakhodai Arsenal pada 2019, Arteta membuat permainan tim berubah dari atraktif menuju pragmatis. Hasilnya: juara EPL lagi setelah menanti 22 tahun.

Transformasi Taktik Arteta di Arsenal Berbuah Juara EPL 2026
Mikel Arteta, Pelatih Arsenal membawa bola Arsenal. instagram/mikelarteta Sudah Diverifikasi •
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Orang-orang turun ke jalanan di kawasan London Utara, Inggris, pada Selasa malam 19 Mei 2026, waktu setempat. Mereka adalah Gooners, julukan bagi penggemar klub sepak bola Arsenal, yang akhirnya bisa menumpahkan selebrasi selepas menunggu selama 22 tahun.

Membawa atribut kombinasi warna merah-putih lengkap dengan simbol meriam, Gooners bernyanyi sepanjang jalan, mereka menyalakan kembang api. Perayaan seperti ini juga berlangsung meriah di lingkungan sekitar Stadion Emirates markas Arsenal.

Kepastian Arsenal alias The Gunners menjuarai kompetisi tertinggi Liga Inggris 2025/2026 atau English Premier League (EPL) diperoleh selepas tim rival perebutan gelar, Manchester City, gagal memetik kemenangan di markas Bournemouth.

Hasil Bournemouth vs Manchester City pada pekan ke-37 berakhir sama kuat 1-1. Secara matematis berbekal keunggulan 4 angka, Arsenal (82 poin) sudah tidak mungkin dikejar Man City (78 poin), meski masih ada 1 laga tersisa di musim ini.

Kesuksesan Arsenal di Liga Inggris 2025/2026 tak lepas dari peran sang pelatih, Mikel Arteta, yang selama 7 musim terakhir pantang menyerah untuk memperjuangkan trofi EPL ke London Utara.

Juru taktik asal Spanyol tersebut membuktikan janjinya di depan para Gooners di Stadion Emirates pada akhir musim 2024/2025, selepas 3 edisi beruntun Arsenal hanya jadi runner-up Liga Inggris.

"Kita harus mulai menciptakan sejarah sendiri di sini. Ada hal lebih yang akan datang. Kita harus melakukannya bersama. Ini tidak mudah, tapi para pemain ini, saya katakan kepada kalian, mereka punya rasa lapar, kualitas, talenta, dan kita akan mewujudkannya," tegas Arteta.

Disambut Keraguan dan Bayang Era Keemasan 2004

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Emirates Stadium sebagai juru taktik pada Desember 2019, Mikel Arteta masih berstatus sebagai pelatih muda minim pengalaman.

Arteta ditunjuk pada tengah musim 2019/2020 untuk menggantikan tim kepelatihan Unai Emery serta caretaker Freddie Ljungberg.

Kritik di media sosial sempat disuarakan oleh Willy Aubameyang, seorang kerabat dari kapten Arsenal saat itu, Pierre Emerick Aubameyang, yang menganggap manajemen The Gunners kurang serius saat menunjuk Ljungberg dan Arteta untuk menangani tim.

"Ljungberg dan Arteta sama saja, tanpa pengalaman," jelas Willy, dikutip dari The Mirror.

Keraguan senada diungkapkan oleh Paul Merson, seorang pundit sepak bola yang juga salah satu legenda Arsenal pada era 1990-an.

"Ini perjudian besar, menempatkan seseorang yang belum pernah menjadi manajer untuk memimpin klub sebesar Arsenal," jelas Merson di Sky Sports.

Sementara The Guardian menilai keputusan manajemen Arsenal mendatangkan Arteta sebagai pertaruhan yang menarik.

Pasalnya, meski dinilai masih hijau, Arteta dianggap sudah punya bekal kemampuan. Ia pernah menimba ilmu sebagai asisten pelatih Pep Guardiola di Manchester City selama lebih dari 3 tahun.

Mikel Arteta juga punya kedekatan emosional terhadap klub, lantaran The Gunners adalah tim terakhir yang ia bela sebelum gantung sepatu pada akhir musim 2015/2016.

Singkat cerita, tak sempat menikmati libur Natal, Arteta langsung menyiapkan skuad untuk hadapi Boxing Day 26 Desember 2019. Hasilnya bisa ditebak, laga berakhir kurang meyakinkan. Arsenal hanya bermain imbang 1-1 di markas Bournemouth.

Akan tetapi matchday berikutnya, 1 Januari 2020, sinyal harapan datang saat Arteta mengantar Arsenal memenangi big match kontra Manchester United dengan skor 2-0 di Emirates Stadium.

Pada awal kedatangan Arteta di Arsenal, performa The Gunners memang tengah buruk. Mereka menempati posisi 11 di klasemen EPL. Dari 18 laga yang sudah dilalui, Arsenal hanya mendulang 5 kemenangan. The Gunners juga punya catatan defisit alias minus -3 gol, yakni mencetak 24 gol tapi kebobolan 27 kali.

Secara perlahan sampai akhir musim 2019/2020, Arteta berhasil memompa posisi Arsenal hingga finis peringkat 8. Ia dianggap bisa memperbaiki performa tim, tapi hasil akhir The Gunners musim tersebut tetap tercatat sebagai yang terburuk sejak era 1994/1995.

Tekanan di bahu Mikel Arteta kian berat. Karena faktanya Arsenal belum bisa merebut trofi Liga Inggris (EPL) sejak terakhir kali diraih musim 2003/2004 silam.

Era 2003/2004 juga bisa dibilang sebagai masa keemasan Arsenal. Ketika itu pelatih Arsene Wenger bersama deretan pemain kunci seperti Thierry Henry, Patrick Vieira, Dennis Bergkamp, dan Robert Pires, sukses mengunci trofi EPL dengan torehan tanpa kalah sepanjang musim.

Era itu Arsenal mendapat predikat The Invincible, yang secara harfiah berarti tak terkalahkan. Tapi ironisnya, selepas musim fenomenal 2003/2004 performa The Gunners berangsur merosot dan selalu gagal jadi yang terbaik di Liga Inggris.

Pukulan Telak 3 Kali Runner-up Beruntun

Mikel Arteta membawa Arsenal juara Liga Primer Inggris 2025/2026 tidak didapat dengan mudah. Ini adalah gambaran buah perjalanan panjang 7 musim kompetisi yang melelahkan.

Musim pertama masa kepelatihan, Mikel Arteta mengemban misi menyelamatkan Arsenal agar tidak tenggelam di klasemen EPL. Hasilnya mereka cukup konsisten menunjukkan progres.

Pada 2 musim awal kepelatihan, Arteta membawa Arsenal finis di peringkat 8 klasemen Liga Inggris. Peningkatan mulai terlihat pada 2021/2022, kali ini Arteta dan timnya finis di posisi 5. Arsenal bahkan nyaris merebut tiket lolos Liga Champions (UCL), lantaran hanya terpaut 2 poin dari peringkat 4, Tottenham Hotspur.

Progres signifikan Arsenal terjadi pada musim 2022/2023. Kali ini The Gunners tak lagi dipandang sebagai tim papan tengah yang sebatas mengincar tiket lolos UCL. Mereka sudah kembali masuk dalam jajaran papan atas yang turut berburu gelar juara.

Klub Arsenal

Pemain Arsenal Martin Zubimendi (kedua dari kanan) berselebrasi setelah berhasil mencetak gol ke gawang Nottingham Forest. X/Arsenal

Tapi malang tak bisa ditolak. Garis takdir Arsenal untuk meraih kembali trofi Liga Inggris ternyata tak semulus yang dibayangkan. Pasalnya dalam 3 musim beruntun (2023-2025), The Gunners selalu terhenti hanya menjadi runner-up di klasemen akhir.

Kompetisi musim 2022/2023 Arsenal di bawah Man City dengan selisih 5 poin. Musim 2023/2024 The Citizens kembali jadi batu sandungan, kali ini dengan selisih tipis 2 poin. Lalu musim 2024/2025 gantian Liverpool yang finis di atas Arsenal dengan selisih 10 angka.

Tak beranjak dari posisi runner-up dalam 3 musim beruntun jelas jadi pukulan telak bagi para pendukung Arsenal. Pada situasi ini pepatah bijak yang mengatakan bahwa di ujung kesabaran dan ketekunan akan hadir keberhasilan, agaknya bakal terdengar seperti omong kosong di telinga sebagian fans Arsenal.

Puncaknya, desakan untuk memecat Arteta muncul di berbagai media sosial jelang berakhirnya musim 2024/2025. Terutama selepas Arsenal tersingkir di semifinal UCL dan sudah dipastikan tanpa gelar.

"Tanpa trofi lagi saya sangat kecewa dengan klub. Maaf, tapi pecat Arteta. Cukup sudah," demikian ungkapan frustasi fans Arsenal yang dikutip oleh Goal.

"Arteta adalah masalahnya. Arsenal harus memecat dia segera. Ia jelas tak bisa mendapatkan trofi untuk Arsenal," timpal fans lainnya.

Meski desakan fans untuk mendepak Arteta bahkan sudah sampai di tribun penonton Emirates Stadium, manajemen klub masih memberikan napas kepada juru taktik asal Spanyol itu untuk mewujudkan mimpi mereka.

Metamorfosa Arteta: dari Atraktif menuju Pragmatis

Arteta membangun ulang Arsenal dari reruntuhan sisa skuad peninggalan periode kepelatihan sebelumnya. Buktinya, hingga akhir musim 2025/2026, hanya tersisa 1 pemain dari starting XI yang diturunkan Arteta ketika melakoni debut bersama Arsenal pada tengah musim 2019/2020.

Pemain itu adalah Bukayo Saka, bibit potensial yang lahir dari akademi Arsenal sendiri. Ketika itu Saka baru berusia 18 tahun, Arteta memilihnya untuk mengisi bek sayap di laga debut kepelatihan, yang berujung imbang 1-1 kontra Bournemouth.

Pada dua tahun awal kepemimpinannya, Arteta fokus memperbaiki lini belakang. Ia kerap menggunakan skema 4-2-3-1 untuk menutupi kelemahan sektor pertahanan.

Awal musim 2020/2021, Arteta mendatangkan Gabriel dari Lille untuk menutup lubang di belakang. Martin Odegaard juga mendarat dari Real Madrid dengan skema pinjaman untuk memperkuat lini tengah.

Setahun berselang, Odegaard direkrut secara permanen dari Real Madrid. Di sisi lain, eks kapten tim Aubameyang serta bek David Luis dilepas dengan status bebas transfer.

Tahun 2022 Mikel Arteta mulai menerapkan prinsip sepak bola menyerang serta dominasi ball possession. Skema permainan The Gunners mulai berubah menjadi lebih ofensif 4-3-3.

Para pemain baru bertipe menyerang kian memudahkan skema yang diinginkan Arteta. Gabriel Jesus direkrut dari Man City, Leandro Trossard didatangkan dari Brighton, Kai Havertz ditarik dari Chelsea, lalu Declan Rice datang dari West Ham. Di bawah mistar, Arteta menggaet David Raya dari Brentford.

Para pemain inilah yang kemudian menjadi kunci permainan Arsenal pada era kebangkitan di bawah kendali Arteta.

Akhir musim 2022/2023 kinerja lini serang Arsenal meningkat drastis. Mereka sanggup melesakkan total 88 gol di EPL, jauh meningkat hingga lebih dari 25 gol dari musim sebelumnya. Ketika itu produktivitas Arsenal hanya kalah dari tim juara Man City (94 gol), dan unggul jauh dari tim peringkat 3, Man United (58 gol).

Musim berikutnya skema atraktif dan menyerang masih menjadi ciri permainan Arsenal. Musim 2023/2024 lini depan Arsenal melesakkan total 91 gol di EPL, dan hanya kebobolan 29 kali. Dari sisi produktivitas, Arsenal masih tertinggal dari Man City (96 gol), tapi lini belakang The Gunners lebih baik karena City kebobolan 34 kali.

Namun, bermain ofensif dengan dominasi penguasaan bola nyatanya tak kunjung berbuah trofi bagi Arsenal. Mereka justru kerap terpeleset lalu kehabisan bensin jelang akhir musim.

Corak permainan Arsenal mulai bergeser pada musim 2024/2025. Agresivitas The Gunners menurun. Tim asuhan Arteta mencetak 69 gol dalam 1 musim EPL. Kemudian lini pertahanan hanya kebobolan 34 kali, mereka menjadi yang paling solid dari semua tim peserta liga.

Musim 2025/2026 menjadi puncak metamorfosa strategi permainan yang diterapkan oleh Mikel Arteta. Kali ini Arsenal memilih bermain lebih pragmatis.

Dari sisi produktivitas, Arsenal (69 gol) tetap tak mampu menandingi Man City (76 gol). Bedanya, cerita musim ini berujung manis, mereka sukses menyegel gelar juara dengan keunggulan 4 poin atas The Citizens.

Kunci keberhasilan Arsenal di EPL 2025/2026 terletak pada efektivitas serangan, ditambah soliditas lini belakang yang dikawal duo William Saliba dan Gabriel Magalhaes.

Sejumlah statistik unik yang dirangkum oleh All Football usai Arsenal resmi merebut gelar juara Liga Inggris 2025/2026, memperlihatkan bagaimana strategi permainan yang diterapkan Arteta musim ini, telah menjadi faktor krusial terhadap kesuksesan mereka.

Musim ini jumlah kebobolan Arsenal adalah 7 gol lebih sedikit ketimbang Man City. Akan tetapi selisih itu bakal terlihat makin signifikan jika membandingkan expected goals against atau statistik potensi kebobolan dari lawan.

Arsenal mampu membatasi lawan mereka hingga 0,5 expected goals dalam 18 laga, dari 37 pertandingan di EPL yang sudah dilalui. Bisa dibayangkan betapa frustasinya tim-tim lawan Arsenal, karena sepanjang laga hanya diberi peluang setengah gol.

Sebagai perbandingan, musim ini tingkat 0,5 expected goals against hanya sanggup dilakukan Man City sebanyak 2 pertandingan saja.

Di mata para pendukungnya, menonton laga Arsenal musim ini juga terasa lebih menegangkan. Mereka dipaksa sport jantung dari menit awal sampai akhir, karena 13 dari total 25 kemenangan di EPL diperoleh dengan selisih hanya 1 gol.

Kunci lain dari keberhasilan Arsenal di Liga Inggris musim ini adalah efektivitas bola mati alias set piece.

Untuk mengoptimalkan skema ini, Arteta bahkan sampai membajak pelatih set piece, Nicolas Jover, dari Manchester City. Arteta juga menambah satu pelatih set piece lainnya, Thomas Gronnemark, untuk membantu tugas Jover.

Hasilnya, hingga pekan ke-37 EPL musim ini Arsenal sudah berhasil membukukan 18 gol dari situasi sepak pojok. Jumlah tersebut tercatat sebagai rekor baru di era kompetisi Premier League Inggris.

Secara keseluruhan, Arsenal membukukan 24 gol dari semua situasi set piece (tanpa penalti) di EPL. Jumlah itu terhitung hampir 40 persen dari total gol Arsenal di Liga Inggris musim ini.

Baca juga artikel terkait MIKEL ARTETA atau tulisan lainnya dari Oryza Aditama

tirto.id - Horizon
Penulis: Oryza Aditama
Editor: Irfan Teguh Pribadi