Menuju konten utama

Community Shield Bukan Sekadar Laga Pembuka Premier League

Community Shield sebagai turnamen pembuka Premier League kerap dipandang remeh. Padahal, ada sejarah panjang dan cita-cita mulia sepak bola Inggris.

Community Shield Bukan Sekadar Laga Pembuka Premier League
Terlihat bek Chelsea, Paddy Mulligan (kiri) tengah menguasai bola sementara pemain Everton, Colin Harvey (kanan) mencoba melakukan tekel dalam pertandingan bersejarah antara Chelsea dan Everton di ajang FA Charity Shield pada 8 Agustus 1970 di Stamford Bridge. (PA Images via Reuters Connect)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Arsenal vs Manchester City akan bertanding dalam Community Shield 2026 pada Minggu (16/8/2026), pukul 21.00 WIB di Stadion Wembley, London, Inggris. Walau sering dianggap pramusim yang diglorifikasi, Community Shield memiliki sejarah panjang dalam sepak bola Inggris.

Community Shield mulanya pertandingan amal yang diselenggarakan sebelum kompetisi dimulai. Ajang ini bertujuan menggalang dana melalui sepak bola yang disalurkan ke berbagai yayasan di bidang kesehatan maupun sepak bola.

Seiring berjalannya waktu, namanya mengalami beberapa kali perubahan karena berbagai alasan. Format yang ditetapkan FA pun kerap berganti-ganti sampai di tahun 1974, Community Shield mempertemukan tim juara Liga Inggris vs juara Piala FA.

Sejarah Community Shield Bermula dari Laga Amal di London

Melansir laman resmi Arsenal, Community Shield digelar pertama kali pada 1904 dengan nama Sheriff of London Shield. Sumber lain menyebut ajang serupa sudah diselenggarakan oleh FA sejak tahun 1889.

Mulanya, klub yang bertanding adalah klub amatir terbaik di Inggris, melawan tim profesional yang menjuarai liga pada musim sebelumnya. Pertemuan 2 tim tersebut merupakan bentuk solidaritas dari insan sepak bola di Inggris.

Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), kemudian mengubah namanya menjadi Charity Shield pada 1908 dan bertahan hingga edisi 2002. Edisi pertama tahun 1908 berhasil dimenangi Manchester United usai mengalahkan Queens Park Rangers (QPR) melalui laga replay di Stadion Stamford Bridge.

Charity Shield 1908 menjadi satu-satunya edisi yang menggunakan laga replay. FA kemudian memberikan juara bersama di setiap ajang Community Shield jika laga berakhir imbang. Hal ini jamak terjadi di pertandingan olahraga masa lampau, sebelum lahirnya aturan adu penalti.

FA Community Shield - Arsenal vs Liverpool

Kapten Arsenal asal Prancis, Patrick Vieira (tengah), dihadang oleh Emile Heskey (kanan) dan Michael Owen (kiri) dari Liverpool dalam pertandingan FA Community Shield di Stadion Millennium, Cardiff, pada 11 Agustus 2002. Kedua tim bermain imbang 0-0 pada babak pertama. (Photo by ODD ANDERSEN / AFP)

Mulai edisi 1930 tim yang bertanding di Charity Shield juga mengalami perubahan yakni pemenang liga menghadapi juara Piala FA. Akan tetapi, FA beberapa kali mengubah peserta Charity Shield, bahkan terkesan acak dalam menentukan tim yang bertanding di ajang ini.

Baru di tahun 1974, Ted Croke yang menjabat Sekretaris FA, memiliki gagasan Charity Shield sebagai ajang pembuka liga layaknya Piala Super di negara lain. Croke juga memberikan masukan bahwa ajang ini mestinya digelar di Stadion Wembley, London.

Ide Ted Croke pun diterima oleh FA yang mulai menggelar pertandingan Community Shield 1974 di Stadion Wembeley hingga sekarang. Tim yang berpartisipasi adalah juara Piala FA musim terakhir, menghadapi juara Liga Inggris. Apabila 2 trofi tersebut diraih oleh tim yang sama, maka lawan yang dihadapi adalah runner-up liga.

Perubahan format yang dilakukan FA pun membuat Community Shield lebih bergengsi. Alih-alih bermain santai sebagai ajang amal, tim-tim yang bertanding lebih serius untuk memenangi piala karena menghadapi tim juara. Kendati begitu, mereka tidak sepenuhnya ngotot mengejar gelar juara, tetapi mematangkan skema permainan tim.

Sepak Bola yang Membawa Semangat Solidaritas

Community Shield digagas sebagai bentuk solidaritas insan sepak bola di Inggris. Mulanya, turnamen ini adalah pertemuan antara tim profesional dengan amatir yang menjadi bagian penting dalam sepak bola.

Tidak hanya di sepak bola, FA juga memberikan sebagian pendapatan dari pertandingan untuk kegiatan amal. Pada 2012, FA membentuk yayasan Wembley Stadium Foundation sebagai sarana untuk membantu komunitas lokal di area Stadion Wembley, London, Inggris.

Pendirian Wembley Stadium Foundation juga menjadi upaya FA, untuk meraih kembali kepercayaan publik mengenai agenda amal yang dibalut pertandingan sepak bola. Yayasan terus kemudian berkembang dan mulai tahun 2015 turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan amal di seluruh wilayah Inggris.

Stadion Wembley Inggris

Stadion Wembley di London, Inggris. FOTO/iStockphoto

Menurut laporan dari FA, Wembley Stadium Foundation telah memberikan bantuan uang lebih dari 5 juta pounds di seluruh Inggris. Salah satu program unggulan mereka adalah menyediakan ribuan perlengkapan olahraga gratis kepada tim-tim di akar rumput agar melahirkan bibit atlet terbaik di masa depan.

Wembley Stadium Foundation juga mendirikan Memory Cafe di area Stadion Wembley sebagai bagian kerja sama dengan Komunitas Alzheimer. Setiap hari Rabu, orang-orang yang menderita Alzheimer atau mereka yang peduli terhadap masalah tersebut berkumpul di Memory Cafe untuk mengadakan berbagai kegiatan.

Memory Cafe terbuka bagi siapa saja yang terkena demensia, sebuah gejala penurunan fungsi otak termasuk kehilangan daya ingat dan kemampuan berpikir. Pihak komunitas lantas menyediakan layanan yang disesuaikan dengan budaya yang cocok di sana.

Tahun 2026 ini Wembley Stadium Foundation juga membuat program Brent Giving, bekerja sama dengan Social Change Nest, Quintain, dan organisasi lain di Brent. Tujuannya adalah untuk menghimpun dana, lalu komunitas itu sendiri yang akan memilih program dan organisasi apa yang ingin dibantu.

Alex Ferguson & Arsene Wenger

Alex Ferguson & Arsene Wenger. FOTO/REUTERS

Apakah Community Shield Dianggap Trofi Mayor?

Walau gengsinya mulai naik setelah perubahan aturan FA pada 1974, Community Shield masih berada di posisi yang abu-abu. Ada yang menganggapnya sebagai piala yang wajib dimenangi, tetapi banyak pihak juga menganggapnya sebagai persiapan akhir di pramusim.

Sebagai turnamen yang mempertemukan juara liga dengan pemenang Piala FA, Community Shield memiliki gengsi setara Piala Super di Italia, Spanyol, Jerman dan negara-negara lainnya. Namun, sejarah awalnya sebagai laga amal yang tidak dipandang serius masih melekat sampai hari ini.

Pelatih legendaris Manchester United, Alex Ferguson misalnya tidak membantah jika Community Shield dianggap sebagai trofi prestisius. Sir Alex yang telah memenangi 10 trofi Community Shield bersama The Red Devils pun menganggap memenanginya sebagai kebanggaan.

Namun, jika gagal mendapatkannya Alex Ferguson mengaku tidak kecewa. Baginya, Community Shield lebih penting digunakan untuk meningkatkan kebugaran pemainnya, dan mengembalikan sentuhan terbaik sebelum kompetisi dimulai.

"Community Shield selalu menjadi pertandingan yang tidak pernah kami anggap pertarungan hidup dan mati. Kami menggunakannya sebagai barometer kebugaran pemain. Terkadang di masa lalu kami memainkan pemain yang belum bugar agar mereka mendapatkan menit bermain sebelum kompetisi dimulai," kata Alex Ferguson.

Satu-satunya hal yang membuat Community Shield benar-benar penting bagi Alex Ferguson adalah lawan yang dihadapi. Sebagai pelatih Manchester United, dia selalu ingin menang saat menghadapi Manchester City, Arsenal dan Liverpool terlepas dari titel pertandingan.

Pendapat berbeda diberikan Claudio Ranieri saat melatih Leicester City. Usai membuat kejutan menjuarai Liga Inggris 2015/2016, The Foxes berhak tampil di Community Shield menghadapi Manchester United. Ranieri pun menegaskan timnya ingin menang.

"Sejak kapan Community Shield merupakan laga uji coba? Tentu saja kami akan serius, begitu juga dengan Manchester United. Dua tim tentu ingin menang dan saya sangat antusias," kata Claudio Raniari seperti dilansir dari ESPN.

Pendapat senada juga disampaika Antonio Conte dan Jurgen Klopp. Keduanya bahkan menganggap Community Shield sebagai trofi yang penting. Apalagi, gelar juara di awal musim bisa memberikan dampak positif untuk tim.

Sampai hari ini, perdebatan mengenai gelar Community Shield sebagai trofi yang prestisius masih berlanjut. Di edisi 2026, Arsenal sebagai juara bertahan Liga Inggris bakal menghadapi Manchester City yang berstatus kampiun Piala FA.

Arsenal yang memiliki 17 gelar Community Shield tengah berupaya menambah koleksi pialanya. The Gunners yang terakhir kali tampil di ajang ini pada tahun 2023 merupakan tim dengan koleksi terbanyak ke-2 setelah Manchester United.

Di sisi lain, Manchester City juga menjadi salah satu tim paling sering tampil di Community Shield dalam beberapa tahun terakhir. Enzo Maresca yang menjadi pelatih anyar The Citizens pun bakal berupaya memulai petualangannya dengan trofi.

Baca juga artikel terkait COMMUNITY SHIELD atau tulisan lainnya dari Wan Faizal

tirto.id - Sepakbola
Kontributor: Wan Faizal
Penulis: Wan Faizal
Editor: Permadi Suntama