Menuju konten utama

Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Konflik AS-Iran Jadi Pemicu

Harga minyak dunia naik lagi hari ini. Konflik AS-Iran dan gangguan pasokan Timur Tengah jadi pemicu utama melonjaknya harga Brent serta WTI.

Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Konflik AS-Iran Jadi Pemicu
Kapal Pertamina di Selat Hormuz, dari rilis PT Pertamina Patra Niaga Subholding Downstream. (FOTO/dok. Pertamina)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak naik untuk sesi kedua berturut-turut pada Selasa (29/9/2026). Kenaikan itu terjadi lantaran kekhawatiran yang masih berlangsung terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat konflik AS-Iran lebih besar dibandingkan tanda-tanda pemulihan ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut.

Harga minyak mentah berjangka Brent naik 63 sen, atau 0,6 persen, menjadi 105,91 dolar Amerika Serikat (AS) per barel pada pukul 00.02 GMT.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$93,32 per barel, naik 72 sen, atau 0,8 persen.

"Gambaran yang lebih jelas mulai muncul terkait peningkatan volume ekspor minyak yang keluar dari kawasan Teluk, tetapi sebagian besar peningkatan tersebut masih bergantung pada solusi seperti transfer dari kapal ke kapal. Metode tersebut kurang efisien dan lebih mahal dibandingkan operasi normal, sehingga harga minyak mentah tetap tinggi," kata Kepala Analis KCM Trade Tim Waterer, dikutip dari Reuters, Selasa.

Lalu, ekspor minyak mentah dari produsen-produsen utama Timur Tengah meningkat menjadi 12,8 juta barel per hari pada September 2026 atau tertinggi sejak Februari 2026, berdasar angka awal dari penyedia data Kpler pada Senin.

Kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan pengiriman dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Babak Baru Negosiasi Damai dan Blokade Selat Hormuz

Pejabat AS dan Iran secara terpisah berbicara dengan para mediator dalam upaya baru untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tujuh bulan, kata pejabat dari kedua negara.

Pembicaraan lanjutan diperkirakan akan berfokus pada versi revisi dari proposal tujuh hari yang diajukan Iran pekan lalu di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation/UN).

"Istilah harapan akan kesepakatan itu bisa dibilang menjadi faktor utama yang mencegah Brent bergerak secara berkelanjutan di atas US$110 dalam jangka pendek," kata Waterer.

"Ada kekuatan yang saling berlawanan, dan para pedagang berupaya memisahkan sinyal dari kebisingan," tambahnya.

Perang yang dimulai pada akhir Februari 2026 dengan serangan AS-Israel terhadap Iran telah memusatkan perhatian pada Selat Hormuz selaku jalur pelayaran penting bagi pasokan minyak dan gas. Gangguan di jalur tersebut telah mengguncang pasar energi.

Sementara itu, AS sedang mempertimbangkan pelonggaran regulasi untuk memungkinkan penjualan diesel bertanda merah secara lebih luas guna membantu menurunkan harga.

Langkah tersebut dapat memungkinkan sebagian pembeli menghindari pajak bahan bakar federal, kata sejumlah orang yang mengetahui pembahasan tersebut kepada Reuters.

Proposal itu muncul setelah pembahasan selama beberapa hari sebagai alternatif utama dari larangan ekspor diesel.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah