tirto.id - Momen debat Lionel Messi vs Jude Bellingham di semifinal Piala Dunia 2026 pada Kamis (16/7) viral. Apa yang sebenarnya mereka pertengkarkan? Benarkah teori jangan pernah membuat La Pulga marah dalam sebuah pertandingan?
Video Messi vs Bellingham ramai dibicarakan netizen seiring dengan tersingkirnya Inggris di semifinal Piala Dunia 2026. The Three Lions yang sempat memimpin berkat gol Anthony Gordon, terpaksa gagal ke final setelah remontada La Albiceleste lewat gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.
Lionel Messi memang tidak mencetak gol di Mercedes-Benz Stadium. Namun, perannya sangat vital. Ia terpilih sebagai Man of the Match (MotM) laga Argentina kontra Inggris tersebut. Pasalnya, 2 gol tim tango berasal dari assist La Pulga. WhoScored bahkan mengganjar Messi dengan rapor 9,1.
Keberhasilan Argentina lolos ke final Piala Dunia 2026 bersama Lionel Messi yang sudah 39 tahun adalah prestasi luar biasa. Apalagi, dalam rentang 6 edisi World Cup, La Pulga tercatat 3 kali jadi kunci La Albiceleste tampil di laga puncak.
Percobaan pertama, Argentina kalah 1-0 dari Jerman di edisi 2014. Namun, dalam misi kedua, La Albiceleste mampu mengalahkan Prancis 4-2 lewat drama adu penalti di Qatar. Kini, dalam final ketiga di era Messi, Argentina akan bersua Spanyol, sang juara EURO 2024.
Di luar kesuksesan Argentina lolos dari hadangan Inggris di semifinal Piala Dunia 2026, ada sebuah momen yang viral beredar di media sosial. Momen tersebut terjadi pada awal laga, ketika Lionel Messi terlibat percakapan panas dengan Jude Bellingham.
Sang nomor 10 Argentina tampak tidak terima dengan ucapan Bellingham, lantas menampakkan wajah tak sedap sembari mengangguk-angguk. Oleh sebagian netizen, momen Bellingham "memprovokasi Messi" itu diklaim sebagai awal kehancuran Inggris. Pasalnya, pada akhirnya, Messi tampil luar biasa dan mencetak 2 assist. Sebaliknya, Bellingham hanya mendapatkan rapor 6,5 versi WhoScored.
Apa yang sebenarnya terjadi antara Messi dan Bellingham?
Messi vs Bellingham yang Viral Sedang Debat Apa?
Dikutip dari USA Today, Jude Bellingham mengisahkan momen tersebut dari sudut pandangnya. Bagi sang gelandang Real Madrid, sebenarnya tidak ada yang istimewa dari debat tersebut.
"(Kami) sebenarnya sedang membahas soal pelanggaran, tapi itu bukan sesuatu yang buruk. Saya yakin setiap orang akan menginterpretasikan sendiri-sendiri dan membuatnya seakan hal besar. Tapi, sebenarnya itu hal biasa," kata Bellingham.
"Saya pikir ada sebuah pelanggaran sebelumnya (yang dilakukan pemain Argentina terhadap Inggris). Dia (Messi) lantas berkata, 'Lalu bagaimana dengan (pelanggaran yang) sebelumnya terhadapku?' Saya bilang, 'Kamu kan cukup kuat buat menahannya (pelanggaran itu),' Anda tahu maksud saya?" tambah sang gelandang.
Terlepas dari sudut pandang Jude Bellingham terkait debatnya dengan Lionel Messi, beberapa pelatih atau pemain yang pernah berhadapan dengan La Pulga pada era keemasannya, punya tips atau pengalaman penting. Sebagian berpendapat, jangan pernah membuat Messi marah. Jika La Pulga sudah tersulut, ia akan menjadi sosok yang sama sekali berbeda.
"Aturan" Jangan Buat Messi Marah versi Marcelo & van Gaal
Teori mengenai bahayanya memprovokasi Lionel Messi bukanlah isapan jempol belaka. Di level klub, reputasi La Pulga yang semakin mengerikan saat suasana hatinya memburuk sudah diakui oleh banyak pihak. Salah satunya adalah mantan bek Real Madrid, Marcelo. Baginya memicu amarah Messi sama saja dengan melakukan "bunuh diri" taktis.
Marcelo berkali-kali jumpa Lionel Messi di El Clasico ketika La Pulga masih memperkuat Barcelona. Menurut sang bek kiri, Real Madrid memiliki kesepakatan tidak tertulis saat menghadapi Messi. Lebih baik para penggawa Los Blancos tidak memancing amarah La Pulga daripada terkena getahnya.
"Messi tidak bicara dalam pertandingan, dan saya mencoba untuk tidak bicara (memprovokasi) dia karena dia pendiam. Kami selalu berkata, lebih baik biarkan dia seperti itu, karena jika kami memutuskan untuk mengganggu dia, kami akan memprovokasi Messi, lalu dia akan marah. Jika dia sudah marah, dia akan semakin sulit untuk ditangani," kata Marcelo kepada Charla Podcast dikutip Goal.
Salah satu contoh paling ikonik dari teori Marcelo ini terjadi pada El Clasico April 2017 di Santiago Bernabeu. Setelah wajah Messi berdarah akibat sikutan Marcelo di awal laga, La Pulga bermain sangat apik. Ia mengobrak-abrik pertahanan Madrid, mencetak gol kemenangan 3-2 pada menit-menit akhir. Bahkan, Messi melakukan selebrasi legendaris dengan melepas baju lalu memamerkannya ke hadapan pendukung Madrid.
Contoh lain adalah saat Argentina menghadapi Belanda di perempat final Piala Dunia 2022. Menjelang laga, pelatih Oranje, Louis Van Gaal, melontarkan psywar dalam konferensi pers sebelum pertandingan. Van Gaal secara terbuka meremehkan peran La Pulga dengan mengatakan, "Messi adalah pemain yang paling berbahaya, ia bisa menciptakan banyak peluang dan mencetak gol sendiri. Namun, ketika Argentina kehilangan bola, ia tidak banyak terlibat dalam permainan. Di sinilah letak kesempatan kami."
Komentar tersebut ternyata menjadi kesalahan fatal bagi Belanda. Alih-alih tertekan oleh ucapan Van Gaal, Messi justru masuk ke lapangan dengan motivasi yang menyala. Ia mengirim assist jenius untuk gol Nahuel Molina.
La Pulga juga merayakan gol penaltinya ke gawang Belanda dengan selebrasi ikonik. Messi berlari tepat ke depan bangku cadangan Belanda, berdiri tegak, dan menaruh kedua telapak tangannya di belakang telinga. Selebrasi ini mengingatkan orang pada Juan Roman Riquelme, gelandang Argentina yang saat di Barcelona ditepikan oleh Van Gaal.
Puncak dari kemarahan Messi bahkan berlanjut hingga laga usai. Saat melakukan sesi wawancara langsung dengan televisi, Messi yang masih tersulut emosi melihat penyerang Belanda, Wout Weghorst, yang sedang memperhatikannya di lorong stadion. Tanpa basa-basi, Messi melabraknya dengan kalimat yang kini menjadi sejarah, "Que miras, bobo? Anda pa alla, bobo!".
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id
































