tirto.id - Kylian Mbappe berlari mengejar bola yang dipungut oleh Unai Simon. Sang penyerang tidak mengerem atau mengubah arah larinya meski kiper Spanyol tersebut sepenuhnya sudah mengamankan bola. Alhasil, tabrakan tak terhindarkan. Unai Simon terjatuh kesakitan, dan Mbappe yang wajahnya datar, mendapatkan kartu kuning oleh wasit Ivan Barton.
Kejadian pada menit 86 itu adalah salah satu peristiwa paling menonjol yang dilakukan Kylian Mbappe di semifinal Piala Dunia 2026 pada Rabu (15/7/2026). Ia yang biasanya tajam, mencetak 8 gol dari 6 laga sebelumnya di Piala Dunia edisi ini, hanya diberi rapor 6,2 oleh WhoScored.
Mbappe cuma mengirim 3 tembakan, tanpa ada satu pun yang tepat sasaran: 2 off target, 1 diblok. Ia hanya menyentuh bola 37 kali dengan 17 umpan.
Rapor Mbappe di laga kontra Spanyol (6,2) jauh dibandingkan rata-rata ratingnya di Piala Dunia 2026 yang mencapai 8,04. Jika dibandingkan saat Prancis mengalahkan Swedia 3-0, perbedaannya kontras. Kala itu, sang penyerang mencetak brace (2 gol), melakukan 55 sentuhan, 42 umpan, dan 5 tembakan.
Prancis dihancurkan Spanyol pada 14 Juli 2026 waktu Eropa, tepat pada peringatan Hari Bastille, momen sakral ketika rakyat Prancis merayakan penyerbuan Penjara Bastille penanda awal revolusi Prancis dan runtuhnya kekuasaan absolut monarki pada 1789.
Namun, di atas lapangan hijau Stadion Dallas semalam, yang terjadi pada Les Bleus justru bertolak belakang dengan sejarah 237 tahun silam. Bukan Prancis yang meruntuhkan benteng Spanyol yang hanya kebobolan sekali dalam 6 laga terdahulu.
Sebaliknya, armada Spanyol yang datang bak pasukan revolusioner, meruntuhkan kekuasaan sang kapten Prancis yang belakangan kerap disindir secara satire sebagai "Dictator Mbappe".
Meme Dictator Mbappe dan Kisah Tragis Prancis di Depan Benteng Spanyol
Meme "Dictator Mbappe" atau Mbappe Sang Diktator membanjiri media sosial setiap kali kapten Timnas Prancis itu tampil di lapangan. Julukan tersebut kembali viral setelah Les Bleus tersingkir di semifinal Piala Dunia 2026 usai kalah 2-0 dari Spanyol.
Meski terdengar serius, julukan Dictator Mbappe sama sekali tidak ada hubungannya dengan politik praktis. Meme itu lahir sebagai satire terhadap gaya bermain, gestur, dan citra Mbappe di mata sebagian penggemar sepak bola.
Dengan performa Mbappe yang jauh dari level terbaiknya saat Prancis ditikam Spanyol, viralnya meme tersebut seolah mendapatkan pembenaran.
Statistik pertandingan menunjukkan Spanyol bukan cuma mampu meredam ancaman sang kapten Prancis, tetapi juga seluruh peluru Les Bleus. Mbappe bahkan baru bisa menembak pada menit 67. Rapornya yang 6,2 adalah salah satu yang terburuk di lini depan Prancis.
Secara kolektif, Les Bleus tampil di bawah standar. Setelah mencetak 16 gol dalam enam laga sebelumnya, Prancis hanya menghasilkan expected goals (xG) sebesar 0,31 saat menghadapi Spanyol. Dari 10 tembakan sepanjang pertandingan, cuma tiga yang mengarah ke gawang Unai Simon.
Setelah penampilan gemilang tanpa sekali pun punya rapor di bawah 7,4 dalam 6 laga, kini Mbappe mencapai titik terendah. Penampilan antiklimaks itu memicu gelombang baru meme "Dictator Mbappe" di media sosial. Meme tersebut lebih banyak dipakai sebagai sindiran atas kegagalan sang kapten membawa Prancis melaju ke final Piala Dunia 2026. Bahkan, meski Mbappe mengakui kekalahan timnya usai laga.
"Kami sering dalam kondisi 3 lawan 2 di lini tengah, dan mengalami itu lawan Spanyol adalah hal berat. Fabian (Ruiz) dan Rodri punya banyak waktu untuk mengendalikan permainan. Ada kurang komunikasi soal menekan. Seharusnya, kami melakukan man to man dan memaksa mereka berlari," papar Mbappe dikutip ESPN.
Kenapa Mbappe Disebut Diktator?
Meme "Dictator Mbappe" mulai populer pada Maret 2024. Saat itu Mbappe mengirim somasi kepada pemengaruh asal Marseille, Mohammed Henni, yang juga punya usaha kebab.
Dalam deskripsi salah satu menu kebab miliknya, Henni memakai nama Mbappe. Ia menambah kalimat candaan, menyebut roti kebab tersebut "bulat seperti kepala Mbappe".
Tim kuasa hukum Mbappe lalu meminta nama dan deskripsi itu dihapus. Langkah ini justru memicu reaksi di media sosial. Banyak warganet menilai tindakan tersebut berlebihan, lalu lahirlah berbagai meme yang mencitrakan Mbappe sebagai sosok pemimpin otoriter antikritik dan tak bisa menerima candaan.
Sejak itu, meme "Dictator Mbappe" terus berkembang. Gambar hasil akal imitasi (AI) sampai lagu parodi bermunculan di media sosial. Konten kreator sepak bola SurNevis bahkan merilis lagu Kylian Mbappe Dictador Anthem yang kemudian jadi latar musik berbagai video meme Mbappe.
Popularitas meme ini kembali melonjak seiring tingkah sang penyerang menjelang dan sepanjang Piala Dunia 2026. Salah satunya adalah ketika Prancis melawan Kolombia. Saat itu, Mbappe yang datang dari bangku cadangan, meminta Rayan Cherki untuk mengambilkan ban kapten yang masih melingkar di lengan N'Golo Kante, pemain paling senior di Timnas Prancis.
Hampir tiap Mbappe tampil, muncul unggahan "Dictator Mbappe", baik saat ia mencetak gol maupun ketika menampilkan gestur tertentu di lapangan. Meme ini juga kembali ramai setelah Prancis didepak Spanyol.
Tragedi Prancis Gagal ke Final pada Bastille Day
Kekalahan dari Spanyol terasa kian menyakitkan karena terjadi tepat pada Bastille Day, hari nasional Prancis yang diperingati setiap 14 Juli untuk mengenang penyerbuan Penjara Bastille pada 1789, penanda awal Revolusi Prancis.
Bastille Day menjadi salah satu momen terpenting dalam kalender nasional Prancis. Setiap tahun, masyarakat merayakannya melalui parade militer di Champs-Elysees, atraksi udara, konser, festival rakyat, sampai pesta kembang api.
Bagi bangsa Prancis, peristiwa pada 14 Juli 1789 adalah simbol perlawanan rakyat jelata Paris yang sudah muak dengan kelaparan dan ketimpangan sosial. Mereka nekat mengangkat senjata mengepung Benteng Bastille. Kastel batu abad pertengahan itu diserbu karena ia adalah simbol utama dari tirani, keangkuhan, dan kekuasaan absolut monarki yang tak tersentuh hukum.
Keberhasilan rakyat meruntuhkan tembok benteng tersebut menjadi pemantik Revolusi yang melahirkan semboyan abadi Prancis, yaitu liberté (kebebasan), egalité (kesetaraan), fraternité (persaudaraan).
Pada peringatan tahun ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron memimpin parade militer terakhirnya sebagai kepala negara. Sekitar 30 pemimpin dunia menghadiri upacara tersebut, sementara Ukraina hadir sebagai tamu kehormatan sekaligus simbol solidaritas negara-negara Eropa terhadap Kyiv.
Di tengah rangkaian perayaan, perhatian publik Prancis juga tertuju ke Arlington, Texas, Amerika Serikat, lokasi semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis vs Spanyol.
Menurut Associated Press, laga tersebut menjadi salah satu agenda paling dinanti warga Prancis pada Hari Bastille. Fan zone di berbagai kota mulai dipenuhi suporter beberapa jam sebelum kick-off, sementara banyak kafe dan bar memasang bendera triwarna untuk menyambut pertandingan.
Penyelenggara Tour de France bahkan menyesuaikan jadwal etape pada 14 Juli agar garis finis tidak berbenturan baik dengan parade Bastille Day maupun semifinal Piala Dunia.
Sebelum laga Prancis vs Spanyol dimulai, stadion mengheningkan cipta selama satu menit untuk mengenang 10 tahun tragedi serangan Nice yang terjadi pada Bastille Day 2016. Penghormatan ini dilakukan atas permintaan Presiden Emmanuel Macron.
"Terima kasih kepada Presiden FIFA atas tanggapannya terhadap permintaan Prancis dan seluruh rakyat Prancis yang bersatu," cuit Macron via X.
Namun, harapan publik Prancis menutup Hari Bastille dengan kemenangan tidak terwujud. Spanyol tampil lebih dominan sepanjang laga. Mikel Oyarzabal membuka keunggulan melalui penalti sebelum Pedro Porro memastikan kemenangan 2-0 pada babak kedua.
14 Juli 2026 tidak hanya akan diingat rakyat Prancis sebagai malam perayaan 237 tahun kebebasan negeri mereka. Tetapi juga sebagai hari ketika Timnas Prancis, dengan taburan bintang dan kemampuan individual menawan, justru kandas di tangan kolektivitas Spanyol.
Timnas Prancis yang diidam-idamkan lolos ke final Piala Dunia ketiga kalinya secara beruntun, bahkan disebut komputer super Opta sebagai yang paling berpeluang juara di antara 4 semifinalis, runtuh pada malam ketika mereka mengira bakal mampu mempertahankan dinasti generasi emas Les Bleus.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id

































