Menuju konten utama

Gabriel Martinelli dan Mereka yang Didepak Arteta dari Arsenal

Gabriel Martinelli meninggalkan Arsenal untuk bergabung dengan Al Hilal. Pelatih Mikel Arteta menjadi sosok penting dalam kepindahannya ke Liga Arab Saudi.

Gabriel Martinelli dan Mereka yang Didepak Arteta dari Arsenal
Gabriel Martinelli saat menyapa para penggemar Arsenal. (Instagram/@gabriel.martinelli)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gabriel Martinelli resmi dijual Arsenal ke Al Hilal, salah satu klub kaya raya dari Liga Arab Saudi. Transfer Martinelli dengan harga 60 juta poundsterling bahkan menjadi rekor penjualan termahal dalam sejarah Arsenal.

Martinelli yang kini berusia 25 tahun merupakan salah satu pemain yang sudah lama membela Arsenal. Dia didatangkan dari Ituano Futebol Clube, klub dari Kota Sao Paulo yang kala itu bermain di divisi keempat Liga Brasil.

Selama berseragam Arsenal, Gabriel Martinelli telah memainkan 278 pertandingan di semua kompetisi dengan torehan 62 gol dan 36 assists. Dia pun menjadi bagian penting Arsenal meraih trofi Premier League 2025/2026 setelah 22 tahun, Piala FA 2019/2020, dan FA Community Shield 2020 serta 2023.

Sayang, kebersamaan Gabriel Martinelli dengan Arsenal harus berakhir di musim panas 2026. Hubungan yang tidak bagus dengan pelatih Mikel Arteta menjadi sebab utama. Martinelli tidak dimasukkan ke skuad Arsenal 2026/2027 sebelum dijual ke Al Hilal.

Panas Dingin Relasi Arteta dan Martinelli

Gabriel Teodore Martinelli Silva bergabung dengan Arsenal pada musim panas 2019, tepatnya di tanggal 2 Juli 2019. Dia didatangkan pada masa pelatih Unai Emery, yang kemudian dipecat oleh manajemen Arsenal dan digantikan Mikel Arteta di tengah musim.

Walau sempat merasakan dipimpin Unai Emery, kemudian Freddie Ljungberg yang menjadi caretaker, nyaris seluruh karier Martinelli di Arsenal berada di bawah asuhan Mikel Arteta. Namun, tidak selamanya hubungan mereka berjalan baik, ada kalanya Mikel Arteta memberikan kritik tajam terhadap permainan winger kelahiran Brasil tersebut.

Salah satu kritikan paling pedas yang dilontarkan Mikel Arteta kepada Gabriel Martinelli, terjadi pada 11 Februari 2022. Dalam laga yang berakhir dengan skor 0-1 untuk kemenangan Arsenal atas Wolves, Martinelli menerima 2 kartu kuning, yang berujung kartu merah. Mikel Arteta pun terang-terangan menyebut pelanggaran Martinelli sebagai tindakan bodoh.

Mikel Arteta

Manajer Arsenal Mikel Arteta (kedua kanan) melakukan selebrasi bersama para pemain usai menang atas Manchester United dalam laga lanjutan Liga Inggris di Stadion Emirates, London, Inggris, Rabu (1/1/2020). (ANTARA/REUTERS/John Sibley)

Mulanya, Martinelli coba menghalangi pemain lawan yang melakukan lemparan ke dalam dan mendorongnya hingga jatuh. Walau ada pelanggaran, wasit Michael Oliver tetap melanjutkan pertandingan karena bola didapatkan pemain Wolves. Martinelli kemudian mengejar bola dan melakukan pelanggaran lagi.

Michael Oliver kemudian menghentikan pertandingan, kemudian memberikan Gabriel Martinelli 2 kartu kuning dalam satu kesempatan. Satu kartu kuning karena mendorong pemain lawan yang melakukan lemparan ke dalam, satu lagi untuk tekel yang dia lakukan. Martinelli mendapat kartu merah, yang membuat Arsenal tertekan di sisa 20 menit pertandingan.

"Kami membuat segalanya menjadi lebih sulit dengan 10 pemain, tapi kami bisa meraih hasil positif. Kami memang butuh kemenangan dan berhasil mendapatkannya. Tapi, kami sangat menderita di 20 menit terakhir. Saya belum pernah melihat sesuatu seperti itu [kartu merah yang diterima Martinelli]," kata Mikel Arteta setelah pertandingan.

Sebagai bentuk hukuman, Mikel Arteta memarkir Gabriel Martinelli di bangku cadangan dalam beberapa laga di sisa musim 2021/2022. Hasilnya, di musim 2022/2023, Martinelli tampil lebih baik dan menjadi salah satu pemain kunci Arsenal. Dia tampil dalam 36 pertndingan di Liga Inggris, mencetak 15 gol dan 7 assists. Jumlah gol itu sama dengan Martin Ødegaard 15 gol dan 7 assists serta Bukayo Saka 15 gol dan 12 assists. Arsenal pun berhasil finis sebagai runner-up di bawah Manchester City yang menjadi juara.

Secara keseluruhan Gabriel Martinelli bermain 46 kali di semua kompetisi pada musim 2022/2023, dengan total 3.440 menit (rata-rata 74,7 menit per laga). Kemudian menjadi 44 laga di musim 2023/2024, dan 51 kali bertanding di musim 2024/2025.

Musim lalu, saat Arsenal berhasil menjuarai Liga Inggris pertama kalinya setelah 22 tahun, serta lolos final Liga Champion, Gabriel Martinelli bermain sebanyak 53 kali. Dia pun berkontribusi dengan mencetak 11 gol dan 7 assists. Kendati begitu, menit bermainnya mulai berkurang yakni 2.384 menit alias 44,9 menit per laga.

Mikel Arteta dan Gabriel Martinelli

Manajer Arsenal asal Spanyol, Mikel Arteta (kedua dari kanan), berjalan meninggalkan lapangan bersama bek Arsenal asal Brasil, Gabriel Magalhaes (tengah), dan gelandang Arsenal asal Brasil, Gabriel Martinelli (kanan), usai pertandingan Liga Premier Inggris antara Arsenal dan Aston Villa di Stadion Emirates, London, pada 31 Agustus 2022. (Photo by Adrian DENNIS / AFP)

Kehadiran pemain baru macam Eze, dan Noni Madueke menjadi faktor Gabriel Martinelli mulai terpinggirkan. Apalagi, saat itu Arsenal masih memiliki Leandro Trossard, yang musim ini juga dilego ke Besiktas.

Di awal musim lalu, Mikel Arteta sempat mengatakan betapa pentingnya peran Martinelli bagi tim. Saat kompetisi memasuki bulan Oktober 2025 saja, Martinelli punya catatan 4 gol dan 1 assist dari 12 pertandingan. Salah satunya bahkan dicetak ke gawang Manchester City di menit 90+3. Tanpa gol itu, bisa saja Arsenal masih belum mengakhiri puasa gelar Premier League mereka.

"Saya rasa Gabi pemain yang super penting dan ia akan tetap sangat, sangat, sangat penting. Dia juga dibutuhkan di area permainan yang lain, terutama di garis depan, untuk memulai permainan dan mengakhirinya," tutur Arteta kala memuji Gabriel Martinelli.

Namun, seperti pepatah masyarakat Inggris "Promises are like pie crusts, they are made to be broken." pujian Arteta, sebatas isapan jempol. Walaupun masih sering dimainkan, tetapi Gabriel Martinelli lebih akrab dengan bangku cadangan, dan masuk sebagai pemain pengganti.

Situasi itu pun membuat hubungan Martinelli dan Arteta kembali renggang. Setelah kembali dari masa liburan Piala Dunia 2026, Martinelli bergabung dengan Arsenal di pramusim. Dia pun sempat bermain 3 kali, termasuk menjadi starter melawan Como.

Arsenal yang dikabarkan tertarik mendatangkan Vinicius Junior dari Real Madrid, kemudian memasukkan Gabriel Martinelli ke dalam daftar jual. Walau sempat menolak tawaran dari beberapa klub, tidak dibawa ke pertandingan melawan Coventry City dan Aston Villa membuat Gabriel Martinelli kecewa. Menjelang akhir bursa transfer, dia akhirnya menerima tawaran dari Al Hilal untuk bermain di Liga Arab Saudi.

Walau kepindahan pemain adalah hal lumrah di dunia sepak bola, tetapi cara Arsenal, terutama Arteta memperlakukan Martinelli, mendapat banyak kritik. Salah satunya datang dari legenda mereka sendiri, Ian Wright. Dalam acara televisi yang tayang di Sky Sport yang dikutip BBC, Ian Wright menyebut Arsenal mestinya bisa memperlakukan pemainnya dengan lebih baik.

"Cara Martinelli diperlakukan saat ini membuat saya tidak nyaman. Tidak dilibatkan dalam skuad, tidak diajak bicara, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Apa yang ia lakukan selama ini seharusnya membuat dia bisa lebih dihormati," kata Ian Wright.

Sebagai bentuk kekecewaannya kepada Mikel Arteta, Gabriel Martinelli membuat unggahan perpisahan di akun Instagram @gabriel.martinelli. Dia mengucapkan rasa terimakasih kepada seluruh rekan timnya di Arsenal, fans, chef, kit staff, doktor, fisioterapis, dan lainnya, tanpa menyebut nama pelatih maupun Mikel Arteta.

Mereka yang Disingkirkan Arteta dari Arsenal

Gabriel Martinelli bukan nama pertama yang dibuang oleh Mikel Arteta meski memiliki kontribusi bagus. Sebelumnya, nama-nama pemain top macam Mesut Ozil dan Pierre-Emerick Aubameyang yang jadi ikon klub, menjadi korban tangan besi Arteta.

Mesut Ozil misalnya adalah pemain penting di lini tengah Arsenal. Datang di era Arsene Wenger pada 2013, gelandang Timnas Jerman itu memberikan kontribusi 44 gol dan 77 assists dari 254 pertandingan. Ozil membantu Arsenal meraih 3 gelar juara Piala FA dan 1 Community Shield. Tapi, semua itu tidak ada nilainya bagi Arteta.

Sejak Mikel Arteta melatih Arsenal di bulan Desember 2019, Mesut Ozil hanya bermain 12 kali di semua kompetisi dengan catatan 1 gol dan 1 assist. Selain gaya bermain yang kurang cocok, sikap politik Ozil di luar lapangan ditengarai jadi faktor dirinya disingkirkan. Pasalnya, Ozil cukup vokal dalam menyuarakan nasib Muslim Uyghur di Cina yang cukup kontras dengan kebijakan negara-negara di Eropa.

Mesut Ozil

Gelandang Arsenal asal Jerman, Mesut Ozil (kiri), memainkan bola dalam pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris antara Chelsea dan Arsenal di Stamford Bridge, London, pada 21 Januari 2020. (Photo by Ben STANSALL / AFP)

"Mereka selama dua tahun mencoba menghancurkan saya, membuat saya tidak senang, mendorong agenda yang diharapkan membuat suporter memusuhi saya, dan menciptakan gambaran yang tidak benar. Mungkin itu semua mempengaruhi peluang saya bermain, saya tidak tahu," tutur Mesut Ozil setelah meninggalkan Arsenal.

Bukan hanya Mesut Ozil, pemain-pemain lainnya seperti Pierre-Emerick Aubameyang, Alexandre Lacazette dan David Luiz yang jadi pemain kunci di era sebelumnya turut disingkirkan. Polanya pun serupa, pemain-pemain yang semula dicintai fans perlahan dibuat tidak nyaman, melakukan kesalahan dan memberikan komentar pedas, sampai akhirnya dijual.

Tidak hanya pemain top, pemain lain yang tidak selaras dengan visi Mikel Arteta juga didepak. Sebut saja Matteo Guendouzi, Nicolas Pepe, Nuno Tavares, Emile Smith Rowe, Ainsley Maitland-Niles, Folarin Balogun, Eddie Nketiah dan Emiliano Martinez juga terdepak di era Arteta. Padahal, kontribusi mereka cukup penting bagi tim.

Emiliano Martinez bahkan berkembang pesat usai meninggalkan Arsenal. Ia tumbuh menjadi salah satu kiper terbaik dunia bersama Aston Villa, dan musim ini pindah ke Chelsea. Martinez pun menjadi andalan Argentina saat meraih gelar Piala Dunia 2022, final Piala Dunia 2026, memenangi Finalissima 2023, dan 2 gelar Copa America 2021 dan 2024.

Tumpasnya Warisan Era Lama di Tangan Arteta

Kepergian Gabriel Martinelli membuat pemain yang datang sebelum Mikel Arteta melatih Arsenal punah. Saat ini, tinggal Bukayo Saka dan William Saliba, pemain yang sudah ada di tim sebelum kedatangan Arteta.

Sebagai catatan, William Saliba direkrut Arsenal pada musim panas 2019, tetapi baru bergabung di tahun 2022. Dia dibeli dari Saint Etienne pada 2019, kemudian dipinjamkan setahun di klub tersebut. Saliba kemudian terus dipinjamkan ke Nice, dan Marseille, sampai akhirnya didaftarkan sebagai pemain Arsenal mulai musim 2022/2023.

Saliba lantas berkembang menjadi bek tangguh Arsenal. Duetnya dengan Gabriel Magalhães menjadi kunci Arsenal juara Liga Inggris 2025-26. Secara statistik, Saliba mencatatkan 184 pertandingan dengan 8 gol dan 3 assists selama 3 musim berseragam Arsenal. Musim ini, dia urung bermain karena masih dalam pemulihan cedera yang dia alami di Piala Dunia 2026 saat membela Prancis.

Sementara itu, Bukayo Saka menjelma salah satu pemain bintang Arsenal yang diidolakan para fans. Di masa Unai Emery, Bukayo Saka merupakan full bek kiri, yang oleh Arteta disulap menjadi winger kanan. Hasilnya, Saka menjelma pemain penting The Gunners dan sudah mencetak 80 gol dan 75 assists dari 295 pertandingan.

Berbeda dengan rekan-rekannya yang didepak dari Arsenal, Bukayo Saka mendapat kontrak jangka panjang. Jika tidak ada insiden luar biasa, Saka setidaknya bakal berada di Stadion Emirates sampai tahun 2030.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA atau tulisan lainnya dari Wan Faizal

tirto.id - Sepakbola
Kontributor: Wan Faizal
Penulis: Wan Faizal
Editor: Permadi Suntama