Menuju konten utama

Kasus ISPA di Palembang Imbas Asap Karhutla Capai 500-an/Hari

Bahkan, Dinkes Palembang pernah mencatat adanya 655 kasus ISPA dalam sehari.

Kasus ISPA di Palembang Imbas Asap Karhutla Capai 500-an/Hari
Foto udara kawasan Jakabaring yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (27/6/2026). Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera menyatakan luas kebakaran lahan yang masih menyala di Sumatera Selatan mencapai sekitar 400 hektare yang tersebar di delapan Kabupaten/Kota di Sumsel, sedangkan kabut asap menutupi kota Palembang terindikasi berasal dari kebakaran lahan yang terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kabupaten Ogan Ilir (OI). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dinas Kesehatan Palembang menyebutkan terjadi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak awal September 2026. Kejadian ini merupakan dampak cuaca buruk akibat asap karhutla di Sumatra Selatan.

Angka rata-rata kasus baru yang tercatat secara harian di kisaran 500-an kasus. Bahkan, pernah tercatat adanya 655 kasus dalam sehari.

"Benar, penderita ISPA di Palembang terus bertambah dari hari ke hari. Sampai ada 655 kasus per hari," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Palembang, Fenty Aprina, Senin (7/9/2026).

Menurut Fenty, penambahan kasus itu dicatat berdasarkan kunjungan pasien ke puskesmas. Pasien datang berobat dengan keluhan gangguan pernapasan, mulai dari demam, batuk, pilek, sesak napas, dan sakit tenggorokan.

Penderita ISPA yang tercatat itu pun belum termasuk data pasien yang menjalani rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit akibat ISPA. Berdasarkan laporan, pada periode 1-5 September 2026, terdapat 115 kasus ISPA yang ditangani RS Umum Pusat Mohammad Hoesin (RSMH) dan 100 kasus ditangani RS Siloam Sriwijaya.

"Kami terus update perkembangan kasus ISPA dan menjadi fokus penanganan," kata Fenty.

Fenty menjelaskan, penderita ISPA terbanyak berasal dari kelompok usia 15-59 tahun dengan 274 kasus. Sementara itu, anak usia 0-4 tahun terdapat 124 kasus, usia 5-9 tahun sebanyak 94 kasus, usia 10-14 tahun 77 tahun, dan lansia 84 kasus.

"Kami lihat usia produktif menjadi pasien ISPA terbanyak. Ini disinyalir karena lebih sering beraktivitas di luar ruangan," kata Fenty.

Fenty juga menjelaskan total penderita ISPA di Palembang sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 115.020 kasus. Angka ini tercatat sebagai kasua ISPA terbanyak dalam empat tahun terakhir.

"Kami lihat cenderung lebih tinggi dari tahun-tahun sebelummya," kata Fenty.

Kepala Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengungkapkan, kualitas udara di Palembang sudah memasuki kategori sangat tidak sehat. Pada Minggu (6/9/2026) dini hari, konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Stasiun Talang Betutu mencapai 618,6 mikrogram per meter kubik dan Stasiun Musi II mencatat 375,1 mikrogram per meter kubik.

Lonjakan polusi ini disebabkan kabut asap yang menyelimuti wilayah Palembang pada 5-6 September 2026. Data riwayat PM2.5 menunjukkan kualitas udara mulai memburuk dan mencapai puncaknya pada pukul 00.00-04.00 WIB.

"Arah angin dominan bertiup dari tenggara menuju barat laut. Jalur pergerakan massa udara melintasi Palembang sehingga asap terbawa dari lokasi karhutla," kata Wandayantolis.

Kualitas udara di Palembang mulai membaik dan turun ke katogeri sedang terjadi hari ini sejak pukul 09.00 WIB. Sementara konsentrasi partikulat PM2.5 Talang Betutu pada hari ini pukul 12.00 WIB berada pada 57,6 mikrogram per meter kubik.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Reporter: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Fadrik Aziz Firdausi