Menuju konten utama

Akun NASA Soroti Kebakaran Hutan di Indonesia yang Meluas

NASA menyoroti karhutla Indonesia lewat citra satelit. Hotspot disebut bisa menurun karena tertutup kabut asap, sementara kondisi kering memperparah api.

Akun NASA Soroti Kebakaran Hutan di Indonesia yang Meluas
Citra satelit MODIS milik NASA di atas menunjukkan gumpalan asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta titik-titik api (titik merah) yang menyelimuti Pulau Kalimantan dan sebagian wilayah Malaysia. (Sumber: X/@NASAEarth)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Akun resmi NASA menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah meluas di Indonesia melalui citra satelit. Pantauan dari satelit NASA yang diambil pada 1 September menunjukkan banyak hotspot yang terdeteksi selama musim kebakaran, namun angkanya menurun karena tertutup oleh kabut asap.

NASA mengingatkan bahwa kebakaran di lahan gambut Indonesia memiliki karakteristik khusus karena dapat membara di bawah permukaan tanah, menghasilkan polusi dalam jumlah besar, dan sulit dipadamkan.

NASA menyebut sekitar 90 persen wilayah Indonesia menerima sedikit atau bahkan tidak mendapat hujan pada awal Agustus, sedangkan fenomena El Nino dan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) turut memperburuk kondisi kering.

Pandangan NASA soal Karhutla di Indonesia

Pada artikel di laman resminya pada 3 September 2026, NASA menjelaskan jika kondisi kebakaran di Indonesia pada 2026 ini terlihat dalam citra satelit MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) milik satelit Aqua NASA yang diambil pada 1 September 2026.

Pada peta di sebelah kanan, setiap titik merah menggambarkan satu "deteksi kebakaran." Deteksi kebakaran adalah piksel di mana sensor dan algoritma menentukan adanya anomali termal yang menunjukkan adanya kebakaran.

Namun, jumlah titik (hotspot) tersebut tidak secara otomatis menunjukkan jumlah kebakaran yang sebenarnya karena satu kebakaran dapat menghasilkan beberapa deteksi sekaligus.

Pemerintah Indonesia memanfaatkan pengamatan satelit NASA dan NOAA, terutama sensor MODIS dan VIIRS, untuk memantau titik api secara real time.

Salah satu sistem yang digunakan adalah SiPongi, platform pemantauan kebakaran milik Kementerian Kehutanan Indonesia. Pada 31 Agustus 2026, sistem tersebut mencatat sebanyak 946 hotspot.

Hanya saja, ketika kebakaran di lapangan menjadi semakin parah, jumlah titik api yang terdeteksi satelit justru dapat menurun dikarenakan tertutup oleh kabut asap.

"Peristiwa asap terburuk, secara paradoks, bisa menjadi yang paling sulit diamati dari luar angkasa dengan MODIS dan VIIRS," kata Mark Cochrane, seorang ahli ekologi di Pusat Ilmu Lingkungan Universitas Maryland.

Citra Sebaran Asap - Wilayah Indonesia

Citra Sebaran Asap - Wilayah Indonesia. FOTO/bmkg.go.id/

NASA juga menjelaskan jika kebakaran lahan gambut tropis merupakan salah satu jenis kebakaran yang paling sulit dikendalikan karena karakteristiknya berbeda dari kebakaran hutan biasa. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi dapat membara secara perlahan di bawah tanah melalui lapisan gambut yang mengering.

Indonesia menjadi salah satu wilayah yang sangat rentan terhadap kebakaran gambut karena negara ini memiliki sekitar 36 persen dari total lahan gambut tropis dunia. Kebakaran gambut telah berulang kali menjadi persoalan besar dalam tiga dekade terakhir, terutama ketika kondisi kekeringan ekstrem terjadi.

Musim kebakaran 2026 juga berlangsung di tengah kondisi iklim yang sangat kering. Pola El Nino, yang menurut NOAA telah muncul dan menguat pada Agustus, biasanya menyebabkan penurunan curah hujan yang signifikan di Indonesia. Kondisi tersebut diperburuk oleh fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) yang juga sedang berlangsung.

Tak hanya itu, data BMKG juga menunjukkan bahwa sekitar 90 persen wilayah Indonesia menerima sedikit atau bahkan tidak menerima hujan pada awal Agustus.

Peningkatan aktivitas kebakaran di Indonesia pada 2026 mulai menunjukkan pola yang mengingatkan pada musim kebakaran 2015, ketika karhutla Indonesia menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah sangat besar dan menimbulkan kabut asap yang mengganggu kehidupan jutaan orang.

"Indonesia baru memasuki sekitar tiga minggu musim kebakaran, tetapi kita melihat aktivitas kebakaran meningkat tajam, mirip dengan tahun 2015," kata Robert Field, seorang peneliti Universitas Columbia.

Setelah kebakaran berlangsung selama lebih dari tiga bulan pada 2015 lalu, emisi yang dihasilkan Indonesia pada tahun tersebut diperkirakan mencapai sekitar 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca, jumlah yang lebih besar daripada emisi Jepang selama satu tahun.

Namun pada 2026, hingga 2 September, kebakaran yang telah berlangsung sekitar satu bulan diperkirakan telah menghasilkan emisi sekitar 10 persen dari jumlah yang dihasilkan kebakaran 2015.

"Kebakaran permukaan kurang menjadi masalah, tetapi ketika api mencapai bawah tanah, api tidak akan berhenti. Api akan terus menyala sampai hujan turun pada bulan Oktober atau November," terang Field.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra