Studi: Sampah Plastik Bisa Diubah Jadi Bahan Bakar Pengganti Bensin

Oleh: Febriansyah - 7 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Minyak yang berasal dari plastik memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan baku campuran bensin atau bahan baku untuk bahan kimia lainnya
tirto.id - Organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan lebih dari 8 juta ton plastik mengalir ke lautan setiap tahunnya. Hal itu menjadi pencemaran terhadap lingkungan yang sangat buruk.

Salah satu inovasi terbaru sebagai solusi mengurangi keberadaan plastik ini adalah dengan mengubah limbah polyolefin ini menjadi bahan bakar yang bersih dan menjadi beberapa benda lainnya.

Solusi ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Linda Wang dan rekan-rekannya yang menemukan bahwa plastik atau sampah polypropylene (PP) mampu diubah menjadi bahan bakar melalui konvensi kimia yang menghasilkan energi-positif dan berpotensi memiliki efisiensi energi yang lebih tinggi dan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah daripada pembakaran dan daur ulang mekanis.

Penelitian yang dipublikasikan di ACS Sustainable Chemistry and Engineering ini menemukan, minyak yang berasal dari PP memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan baku campuran bensin atau bahan baku untuk bahan kimia lainnya.

"Strategi kami adalah menciptakan inovasi baru mendaur ulang dengan mengubah limbah poliolefin menjadi beragam produk berharga, termasuk polimer, naphtha (campuran hidrokarbon), atau bahan bakar bersih. Teknologi konversi kami memiliki potensi untuk meningkatkan keuntungan industri daur ulang dan mengecilkan stok limbah plastik dunia," kata Wang, penulis penelitian dari Davidson School of Chemical Engineering di Purdue University.


Wang, Kai Jin, seorang mahasiswa pascasarjana, dan Wan-Ting (Grace) Chen, seorang peneliti postdoctoral di Purdue, adalah penemu teknologi, yang dapat mengubah lebih dari 90 persen limbah poliolefin menjadi banyak produk yang berbeda, termasuk polimer murni, nafta, bahan bakar, atau monomer.

Tim ini berkolaborasi dengan Gozdem Kilaz dan Petr Vozka, di Laboratorium Bahan Bakar Energi Terbarukan dari School of Engineering Technology, untuk mengoptimalkan proses konversi untuk menghasilkan bahan bakar bensin atau solar berkualitas.

Proses konversi menggabungkan ekstraksi selektif dan pencairan hidrotermal.

Setelah plastik diubah menjadi nafta, dapat digunakan sebagai bahan baku untuk bahan kimia lain atau selanjutnya dipisahkan menjadi pelarut khusus atau produk lainnya. Bahan bakar bersih yang berasal dari limbah poliolefin yang dihasilkan setiap tahun dapat memenuhi 4 persen dari permintaan tahunan untuk bahan bakar bensin atau solar.

Wang terinspirasi untuk menciptakan teknologi ini setelah membaca tentang polusi limbah plastik di lautan, air tanah, dan lingkungan.

Dari semua plastik yang diproduksi selama 65 tahun terakhir (8,3 miliar ton), sekitar 12 persen telah dibakar dan hanya 9 persen yang telah didaur ulang. Sisanya 79 persen telah pergi ke tempat pembuangan sampah atau lautan.


World Economic Forum memperkirakan bahwa pada tahun 2050 lautan akan menampung lebih banyak sampah plastik daripada ikan jika limbah terus dibuang ke laut.

Wang mengatakan teknologi itu dapat mengubah hingga 90 persen dari plastik poliolefin.

"Pembuangan limbah plastik, apakah didaur ulang atau dibuang, tidak berarti itu menyelasikan masalah. Plastik ini terdegradasi secara perlahan dan melepaskan mikroplastik dan bahan kimia beracun ke dalam tanah dan air. Ini adalah bencana, karena begitu polutan ini berada di lautan, mereka tidak mungkin untuk terurai sepenuhnya," kata Wang seperti dilansir Purdue University.

Wang mengatakan dia berharap teknologinya akan merangsang industri daur ulang untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang meningkat pesat.

Dia dan timnya mencari investor atau mitra untuk membantu mendemonstrasikan teknologi ini pada skala komersial. Teknologi Wang telah dipatenkan melalui Kantor Komersialisasi Teknologi Yayasan Purdue Research Foundation.

Baca juga artikel terkait SAMPAH PLASTIK atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Febriansyah
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight