tirto.id - Polusi mobil menjadi salah satu sumber pencemaran udara, terutama di daerah perkotaan. Berdasarkan mesinnya, kita mengenal adanya mobil bensin dan mobil diesel. Di antara keduanya, mobil manakah yang menghasilkan polusi lebih besar?
Polusi mobil mengacu pada pencemaran udara yang dihasilkan dari emisi gas buang kendaraan bermotor, baik yang menggunakan mesin bensin maupun diesel. Polutan yang dihasilkan bisa berupa bermacam-macam gas, termasuk CO2, dan partikel halus seperti jelaga.
Pencemaran udara akibat polusi mobil ini tentu bukan masalah yang sepele karena bisa berdampak negatif pada lingkungan maupun kesehatan manusia secara keseluruhan.
Meski jadi sumber polusi, penggunaan mobil memang tak bisa dihindari, terutama di zaman modern seperti sekarang. Salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh masyarakat adalah memilih kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
Dari sinilah muncul perdebatan antara mobil bensin dan diesel. Banyak yang membandingkan kedua jenis mobil ini untuk mencari tahu jenis kendaraan manakah yang lebih ramah lingkungan dan menghasilkan polusi lebih rendah.
Mobil Mesin Diesel vs Mobil Bensin, Mana yang Menyebabkan Lebih Banyak Polusi?

Banyak yang beranggapan bahwa mobil diesel sudah pasti lebih berpolusi dibanding mobil bensin. Padahal, menentukan secara absolut mana yang “lebih berpolusi” antara kedua jenis mobil ini bukanlah hal yang sederhana.
Setiap jenis mesin memiliki karakteristik emisi polutan yang berbeda, tergantung pada jenis polutan yang diukur, teknologi kontrol emisi yang dipasang, standar emisi yang diberlakukan, hingga cara kendaraan tersebut digunakan sehari-hari.
Dalam kenyataannya, baik mesin diesel maupun bensin memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing dalam hal emisi.
Efisiensi Bahan Bakar dan Emisi Karbon (CO2)
Salah satu polusi mobil yang sering disorot adalah karbon dioksida (CO2), gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Dalam konteks ini, efisiensi bahan bakar menjadi faktor kunci karena semakin efisien mesin, semakin sedikit CO2 yang dilepaskan.Mengutip dari laman Toyota Astra, mesin diesel bekerja dengan memanfaatkan suhu tinggi dari kompresi udara dalam silinder untuk menyalakan bahan bakar. Proses inilah yang membuat mesin diesel lebih efisien dibandingkan mesin bensin.
Hal ini juga memungkinkan mobil diesel dapat menempuh jarak yang lebih jauh daripada mobil bensin dengan jumlah bahan bakar yang sama. Efisiensi ini juga membuat mesin diesel mengeluarkan lebih sedikit CO2.
Hal ini dibuktikan dengan studi pada jurnal Real World CO2 and NOx Emissions from 149 Euro 5 and 6 Diesel, Gasoline and Hybrid Passenger Cars. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mobil bensin mengeluarkan emisi CO2 13-66 % lebih tinggi daripada mobil diesel.
Emisi Gas Karbon Monoksida (CO)
Karbon monoksida (CO) termasuk dalam emisi gas buang kendaraan. CO merupakan gas bersifat racun yang dihasilkan dari proses pembakaran tidak sempurna pada mesin kendaraan. CO berpotensi mengganggu kesehatan, bahkan menyebabkan kematian jika konsentrasinya terlalu tinggi.Mobil diesel diketahui menghasilkan emisi CO lebih sedikit dibandingkan mobil bensin. Jurnal bertajuk Analisis Kandungan Karbon Monoksida (CO) pada Mesin Diesel dan Bensin menunjukkan bahwa kadar CO pada emisi gas buang mesin diesel lebih rendah daripada mesin bensin.

Nitrogen Oksida (NOx)
Polusi mobil berikutnya yang patut diperhitungkan adalah NOx. Mesin diesel memang lebih unggul dalam hal emisi CO2 yang lebih sedikit, tapi salah satu kelemahan terbesar mesin diesel adalah produksi nitrogen oksida (NOx) yang lebih tinggi dibandingkan mesin bensin.Menurut situs The Open University, pembentukan NOx ini terjadi karena suhu pembakaran diesel yang sangat tinggi. Suhu pembakaran yang melebihi 1500°C dapat memicu oksidasi nitrogen menjadi nitrogen oksida.
Hal ini juga dibuktikan dalam jurnal Real World CO2 and NOx Emissions from 149 Euro 5 and 6 Diesel, Gasoline and Hybrid Passenger Cars. Studi ini menunjukkan bahwa emisi NOx dari mobil diesel rata-rata sekitar 11 kali lebih tinggi dibandingkan mobil bensin.
Emisi NOx, termasuk NO dan NO2, memiliki dampak negatif tersendiri bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Gas ini berkontribusi pada hujan asam yang merusak lingkungan serta bisa menyebabkan gangguan pernapasan.
Akan tetapi, saat ini ada teknologi tambahan seperti Selective Catalytic Reduction (SCR) yang disematkan pada mesin diesel dan bisa mengurangi jumlah emisi NOx.
Dalam jurnal Evaluation of Real-World Gaseous Emissions Performance of Selective Catalytic Reduction and Diesel Particulate Filter Bus Retrofits, diketahui bahwa teknologi SCR bisa mengurangi NOx hingga 70%.
Materi Partikulat (PM)
Polusi mobil juga termasuk partikulat atau particulate matter (PM) yang memiliki ukuran sangat kecil/halus. Secara tradisional, mesin diesel menghasilkan lebih banyak partikulat yang sangat kecil, termasuk jelaga hitam, yang berbahaya bagi kesehatan jika terhirup.Menurut situs Union of Concerned Scientists, di Amerika Serikat, kendaraan bermesin diesel merupakan sumber polusi utama yang menyumbang lebih dari 70% materi partikulat halus (PM2,5).
WHO juga telah mengklasifikasikan emisi diesel (PM2,5 dan NOx) bersifat karsinogenik bagi manusia, bahkan paparan jangka pendek maupun kadar rendah tetap menimbulkan risiko kesehatan, mulai dari iritasi saluran pernapasan, penyakit kardiovaskular, hingga menyebabkan kematian dini.
Namun, mesin diesel modern sudah banyak yang dilengkapi dengan teknologi emisi seperti Diesel Particulate Filter (DPF). Mesin diesel seperti ini justru dilaporkan menghasilkan emisi partikulat jauh lebih rendah dibandingkan mesin bensin.
Hal ini dibuktikan dalam jurnal Gasoline Cars Produce More Carbonaceous Particulate Matter than Modern Filter-Equipped Diesel Cars. Penelitian ini menyimpulkan mobil bensin modern menghasilkan emisi materi partikulat karbon (carbonaceous PM) lebih tinggi dibanding mobil diesel modern dengan DPF.
Hal ini juga membuktikan bahwa teknologi DPF pada mesin diesel modern telah secara drastis mengurangi emisi partikulatnya hingga ke tingkat yang sangat rendah.
Tak hanya itu, studi ini juga menemukan fakta bahwa mobil bensin modern menghasilkan pembentukan secondary organic aerosol (SOA) yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mobil diesel dengan DPF, terutama pada suhu rendah.
SOA sendiri termasuk polusi mobil yang bukan emisi langsung dari kendaraan, tapi partikel halus yang terbentuk di udara melalui reaksi kimia senyawa organik (termasuk senyawa dari emisi kendaraan). SOA juga masuk kategori PM2,5 yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Faktor Lain yang Memengaruhi Emisi
Menentukan mobil mana yang paling berpolusi di antara mesin bensin dan diesel semakin sulit karena emisi tidak hanya ditentukan oleh jenis mesin dan teknologi yang diusungnya, tapi juga dari faktor penggunaan hingga kondisi kendaraan.1. Umur Kendaraan dan Jarak Tempuh
Salah satu faktor yang tak boleh diabaikan adalah umur kendaraan dan jarak tempuhnya. Hal ini diteliti dalam jurnal Studi Pengaruh Jarak Tempuh dan Umur Mesin Kendaraan Bermotor Roda Empat terhadap Konsentrasi Emisi Karbon Monoksida (CO) dan Nitrogen Oksida (NOx).Studi ini menunjukkan bahwa semakin tua usia mesin dan semakin jauh jarak tempuh kendaraan, maka konsentrasi emisi karbon monoksida (CO) akan meningkat secara drastis. Ini disebabkan adanya keausan mesin yang menyebabkan efisiensi pembakaran menurun.
Sementara itu, penelitian ini justru menemukan bahwa konsentrasi NOx cenderung menurun seiring bertambahnya jarak tempuh dan umur mesin.
2. Perilaku Mengemudi
Cara berkendaraan ternyata juga berpengaruh pada emisi gas buang kendaraan. Hal ini dibuktikan dalam jurnal Independent Driving Pattern Factors and Their Influence on Fuel-Use and Exhaust Emission Factors.Studi ini menunjukkan bahwa pola mengemudi memiliki pengaruh signifikan terhadap konsumsi bahan bakar dan emisi kendaraan. Pola manuver berat seperti percepatan dan deselerasi yang tajam, atau pemilihan gigi yang tidak efisien, meningkatkan konsumsi bahan bakar dan keluaran emisi.
Itulah perbandingan polusi mobil antara mesin bensin dan diesel. Kesimpulannya, setiap jenis mesin memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing dalam hal emisi sehingga tak bisa ditentukan secara mutlak tentang jenis mobil mana yang paling menghasilkan polusi.
Temukan berbagai tips, rekomendasi, info spesifikasi, hingga berita terkini seputar dunia otomotif melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id

































