tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengepung sejumlah wilayah di Sumatra Selatan seiring memasuki puncak musim kemarau. Dalam empat hari terakhir, puluhan hektare lahan hangus terbakar hingga mengancam kelancaran jalur Tol Trans Sumatra serta sejumlah objek vital nasional.
Pada Kamis (2/7/2026), karhutla melanda Kecamatan Pedamaran, Ogan Komering Ilir. Api baru padam setelah tiga hari pemadaman oleh tim gabungan dan menghanguskan sedikitnya enam hektare lahan.
Pada Sabtu (4/7/2026), karhutla juga terjadi di Desa Rambutan, Indralaya Utara, Ogan Ilir. Di lokasi terdapat lima hektare semak belukar dan sawit terbakar.
Di hari yang sama, karhutla juga terjadi di Sukarami, Pemulutan Barat, Ogan Ilir. Luasan lahan yang terdampak belum dihitung.
Pada hari itu juga, kebakaran lahan terjadi di Desa Gumai, Gelumbang, Muara Enim. Tim harus berjibaku memadamkan api selama dua hari.
Pada Minggu (5/7/2026), karhutla kembali terjadi di Sukarami, Pemulutan Barat, Ogan Ilir. Beberapa jam kemudian, tiga hektare lahan semak belukar di Desa Ulak Petangisan, Pemulutan Barat, Ogan Ilir, terbakar yang menyebabkan asap pekat.
Sementara hari ini, Senin (6/7/2026), Manggala Agni Daops Sumatera XVI-Banyuasin tengah melakukan pemadaman kebakaran di Desa Ibul I, Pemulutan, Ogan Ilir. Belum dilaporkan luasan areal yang terbakar karena operasi pemadaman masih berlangsung.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengungkap titik karhutla sudah menyebar di beberapa daerah di Sumsel. Pihaknya tetap bersiaga karena potensi kebakaran masih tinggi dalam sepekan ke depan.
"Mayoritas lahan yang terbakar berada di lahan gambut tipis dengan vegetasi semak belukar," ungkap Ferdian Krisnanto, Senin (6/7/2026).
Perkiraan sementara, sudah ada puluhan hektare lahan yang terbakar selama empat hari terakhir. Penyebabnya ada dugaan unsur kesengajaan berupa pembersihan lahan dan lainnya.
Menurut Ferdian, Ogan Ilir menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus, terutama di sekitar Tol Trans Sumatra dan jalan lintas. Kebakaran di kawasan tersebut dinilai berpotensi mengganggu arus lalu lintas akibat asap.
"Fokus kita menyebar di beberapa wilayah yang dianggap rawan seperti Ogan Ilir yang berpotensi mengganggu objek vital nasional seperti jalur minyak hingga jalur kereta api," kata Ferdian.
Ferdian menambahkan, tim bersiaga penuh karena BMKG telah memberikan proyeksi tingkat bahaya kebakaran masih tinggi dalam beberapa hari ke depan seiring terjadi hari tanpa hujan.
Kawasan gambut di Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin juga menjadi fokus pengawasan. Sebab, kebakaran di lahan gambut membutuhkan penanganan lebih lama dan sumber daya yang besar karena api dapat terus membara di bawah permukaan tanah.
"Kami imbau masyarakat tidak membuka kebun dengan cara membakar karena bisa merambat. Jika sudah terjadi, sulit dipadamkan," pungkasnya.
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































