tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) kian mengganas hingga menghanguskan sedikitnya 305,39 hektare lahan sepanjang Juni 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat terjadi lonjakan drastis hingga 108 kejadian kebakaran hanya dalam waktu satu bulan terakhir.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat dalam kurun waktu Januari-Juni 2026, terdapat 210 kasus karhutla. Dari jumlah itu, 108 kejadian di antaranya terjadi selama Juni 2026 dengan luasan lahan semakin banyak.
Karhutla terbanyak berada di Musi Banyuasin dengan 35 kejadian dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sebanyak 45 kasus. Dua kabupaten itu kini masuk dalam zona merah karhutla sehingga menjadi prioritas penanganan.
Karhutla juga terjadi di wilayah zona orange yang tersebar di Ogan Ilir sebanyak 27 kejadian, Muara Enim terdapat 24 kasus, Musi Rawas Utara dan Banyuasin masing-masing 16 kejadian. Semua daerah itu telah ditetapkan status siaga karhutla.
Sementara untuk zona kuning dengan rata-rata 1-15 kejadian per bulan berada di Ogan Komering Ulu dengan 12 kejadian, Musi Rawas 8 kasus, Pabumulih dan Ogan Komering Ilir masing-masing 6 kejadian, Ogan Komering Ulu Timur 3 kasus, dan Lubuklinggau 1 kejadian. Sejauh ini ada empat daerah yang belum ditemukan karhutla, yakni Pagaralam, Empat Lawang, Ogan Komering Ulu Selatan, dan Lahat.
Kabid Penanganan Kedaruratan BPBD Sumsel, Sudirman, menjelaskan peningkatan karhutla mulai terjadi Mei dan Juni 2026. Sepanjang Januari-April 2026 tercatat hanya 11 karhutla dan naik menjadi 210 kejadian hingga Juni 2026 yang menghanguskan 305,39 hektare lahan.
"Mei dan Juni karhutla mulai meningkat, tetapi banyak banyak selama Juni dengan 108 kejadian," ungkap Sudirman, pada Kamis (2/7/2026).
4 Helikopter Water Bombing Disiagakan
Sudirman menyebut daerah zona merah dan oranye menjadi perhatian karena risiko karhutla masih tinggi dan berpotensi semakin meluas jelang puncak musim kemarau Agustus 2026. Potensi karhutla dilihat juga dari semakin menyebarnya hotspot yang terdata dari Sipongi Kementerian Kehutanan.
"Karhutla yang terjadi pada lapisan atas permukaan tanah lahan, begitu mudah terbakar saat cuaca terik dan kering," kata Sudirman.
Dalam penanganan karhutla, Sumsel menyiagakan satu unit pesawat patroli jenis Cessna dan empat unit helikopter water bombing. Tim satgas darat maupun udara langsung menuju titik kebakaran jika terpantau dari satelit, patroli, maupun laporan masyarakat.
"Seiring memasuki puncak musim kemarau, kami imbau masyarakat dan perusahaan tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berpotensi menyebar dan menimbulkan kabut asap," pungkas Sudirman.
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































