Menuju konten utama

BNPB Sebut Riau Jadi Wilayah Prioritas Penanganan Karhutla

BNPB mengaku, wilayah Riau merupakan wilayah prioritas dalam penanganan karhutla karena hampir setiap tahun mengalami kejadian serupa.

BNPB Sebut Riau Jadi Wilayah Prioritas Penanganan Karhutla
Petugas dari dinas pemadam keabakaran Kota Pekanbaru berusaha memadamkan kebakaran lahan gambut di Pekanbaru, Riau, Senin (21//7/2025). ANTARA FOTO/Rony Muharrman/bar

tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Provinsi Riau menjadi salah satu wilayah yang masih mengalami karhutla aktif hingga Kamis (24/7/2025).

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan, wilayah Riau merupakan wilayah prioritas dalam penanganan karhutla karena hampir setiap tahun mengalami kejadian serupa. Selama periode 2025, luas lahan terbakar di provinsi tersebut tercatat mencapai 1.144,90 hektar.

“Kepala BNPB telah memberikan arahan kepada pemerintah daerah dalam upaya optimalisasi penanganan karhutla di wilayah,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan tertulis, Jumat (25/7/2025).

Selain Riau, karhutla Sumatra Selatan juga terjadi di sejumlah kabupaten seperti Musi Rawas, Muara Enim, Ogan Ilir, dan Pali. Berdasarkan data BPBD Provinsi Sumsel, jumlah hotspot (titik panas) dari 1 Januari hingga 22 Juli 2025 mencapai 2.543 titik, dengan luas lahan terbakar sekitar 43,08 hektar. Api berhasil dipadamkan oleh petugas gabungan pada Rabu (23/7).

Di Sumatra Barat, kebakaran di Kabupaten Limapuluh Kota masih dalam proses pemadaman. Karhutla yang terjadi sejak 12 Juli itu berdampak pada 22 nagari di 10 kecamatan. Petugas menghadapi kendala berupa pasokan air terbatas, meski terus bersiaga agar api tidak menjalar ke pemukiman warga.

Selain Kabupaten Limapuluh Kota, karhutla melanda Kabupaten Padang Lawas sejak Minggu (20/7/2025), pukul 14.00 WIB dengan total luas lahan terbakar hingga Kamis (24/7/2025) mencapai 435 hektar. Titik api terjadi di 3 desa di 3 kecamatan, yaitu Desa Marenu, Kecamatan Aek Nabara, dan di Desa Parsombaan, Kecamatan Lubuk Barumun.

Masih di Sumatra Utara, karhutla di Kabupaten Simalungun juga sempat terjadi dan telah padam pada Kamis (24/7/2025), membakar lahan seluas 60 hektar. Di Kabupaten Labuhanbatu, titik api di Kecamatan Panai Hilir masih aktif, sementara di Panai Tengah sudah berhasil dipadamkan.

Dari Kalimantan, BNPB melaporkan sebanyak 17 titik panas terpantau di Kalimantan Barat pada Kamis (24/7), namun turun menjadi tiga titik pada sore harinya. Pemerintah Provinsi Kalbar dan Kabupaten Kubu Raya telah menetapkan status siaga darurat karhutla.

Di Kalimantan Tengah, kebakaran lahan terjadi di Kota Palangkaraya dan Kabupaten Kotawaringin Timur, dan berhasil dipadamkan pada hari yang sama. Total lahan terbakar di provinsi tersebut mencapai 201,03 hektar sepanjang 2025.

“Dilihat dari tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah, wilayah Aceh, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan pada tingkat mudah hingga sangat mudah terbakar,” tutur Abdul.

Abdul Muhari menegaskan pentingnya kolaborasi antarunsur pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi karhutla secara dini. Upaya pencegahan melalui pemantauan dan respons cepat dinilai sebagai cara paling efektif untuk menghindari meluasnya kebakaran lahan.

“Pada kejadian karhutla, pencegahan merupakan upaya yang lebih efektif. Pencegahan dapat dilakukan dengan patroli bersama yang melibatkan berbagai unsur, termasuk pelibatan masyarakat,” tutur Abdul.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Andrian Pratama Taher