Menuju konten utama

Karhutla di Sumatra Berpotensi Meningkat Sepekan ke Depan

Karhutla di Sumatera diperkirakan meningkat dalam sepekan ke depan. Kemenhut menyebut musim kemarau, lahan kering, dan ulah manusia jadi pemicu.

Karhutla di Sumatra Berpotensi Meningkat Sepekan ke Depan
Tim pemadam melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Ogan Ilir, Sumsel, Jumat (10/7/2026). FOTO/Manggala Agni
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra berpotensi makin tinggi sepekan ke depan. Sementara sumber air di lokasi rawan mulai menipis.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumsel Kementerian Kehutanan Ferdian Krisnanto mengungkapkan, terpantau tiga provinsi di Sumatra yang mulai terjadi karhutla, yakni Sumsel, Riau, dan Aceh. Ratusan hektare lahan sudah habis terbakar selama sebulan terakhir.

"Beberapa kejadian [karhutla] di Sumatra [Sumsel, Riau, Aceh] hampir berbarengan semua," ungkap Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra Kemenhut Ferdian Krisnanto, Sabtu (11/7/2026).

Ferdian menyebut karhutla di Sumatra bakal terus terjadi seiring memasuki puncak musim kemarau. Lahan makin kering ditambah aktivitas masyarakat yang memicu terjadinya kebakaran.

"Potensi kebakaran semakin tinggi seminggu ke depan," kata Ferdian.

Dalam proses pemadaman, kata dia, tim Manggala Agni mulai mengalami kendala, berupa menipisnya sumber air karena kanal mulai kering, seperti terjadi di Aceh Selatan. Di wilayah ini terjadi 25 hektare lahan terbakar.

Untuk mengantisipasinya, tim harus membangun embung menggunakan alat berat agar mendapatkan air. Sumber air lain terbilang cukup jauh dari titik kebakaran.

Selain air, tim juga kesulitan menjangkau lokasi karhutla karena cukup jauh dari pemukiman. Tim harus melewati waktu tempuh paling cepat satu jam dengan berbagai cara.

Kendala lain, harga bahan bakar minyak (BBM) untuk pompa dan kendaraan semakin di atas normal. Dengan demikian biaya yang harus dikeluarkan sangat besar dalam operasi pemadaman.

"Tim harus berusaha memaksimalkan kondisi yang ada guna memadamkan api," kata Ferdian.

Terkait penyebab karhutla, Ferdian menyebut dominan akibat faktor manusia, baik sengaja maupun tidak.

Pembakaran untuk membuka kebun atau membakar sampah kerap kali menjadi pemicu karhutla menjadi luas.

Karhutla juga kadang terjadi akibat keteledoran masyarakat membuang puntung rokok sembarangan, terutama di lahan kering. Angin kencang menambah terjadinya potensi api makin membesar.

"Faktor manusia menjadi yang paling berpengaruh, kondisi alamnya hanya faktor pendorong menjadi luas atau menjadi berbahaya sekali ketika ada pemicu," kata Ferdian.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Dipna Videlia Putsanra