Menuju konten utama

Prabowo Soroti Peringkat Baca Indonesia versi PISA Masih Rendah

Kata Prabowo, pemerintah harus menerima hasil PISA sebagai peringatan untuk melakukan pembenahan meningkatkan kemampuan membaca masyarakat Indonesia.

Prabowo Soroti Peringkat Baca Indonesia versi PISA Masih Rendah
Presiden Prabowo Subianto mencoba menu MBG ketika meninjau pelaksanaan program prioritas tersebut di SMPN 111 Jakarta, Selasa (2/6/2026). ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Prabowo Subianto menyoroti rendahnya skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Melalui survei tersebut terungkap bahwa skor PISA Indonesia pada 2022 dalam kemampuan membaca masyarakat Indonesia hanya sebesar 359, turun dari peringkat 371 di 2018.

Menurutnya, Indonesia hanya sedikit berada di atas Filipina dan masih berada di bawah Thailand, Malaysia, Vietnam, serta rata-rata negara anggota OECD, Jepang, hingga Singapura.

"Kita termasuk tidak terlalu bagus. Jadi, low score PISA membaca, skor kita tadi kalau Anda lihat di situ hanya sedikit di atas Filipina. Kita masih di bawah Tailan, Malaysia, di bawah Belanda, di bawah Vietnam, di bawah rerata OECD, di bawah Jepang, di bawah Singapura," kata Prabowo saat memberikan taklimat kepada 150 periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2026).

Meski demikian, Prabowo menilai perbandingan dengan Singapura perlu dilihat secara proporsional. Sebab, tantangan Indonesia jauh lebih besar dibandingkan Singapura.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan hampir 287 juta penduduk dan sekitar 388 ribu sekolah yang tersebar hingga wilayah terluar. Sebaliknya, Singapura hanya negara dengan satu dataran saja dan dengan penduduk berjumlah sekitar 5 juta orang.

"Jadi, Singapura kalau berhasil it's okay, cuma lima juta (penduduk). Menteri pendidikan kalau mengecek (sekolah-sekolah) mungkin dua jam selesai, terjangkau dari kantornya. Kesulitan kita sangat besar," kata dia.

Kendati demikian, Prabowo menegaskan kondisi tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk tertinggal. Sebaliknya, pemerintah harus menerima hasil PISA sebagai peringatan untuk melakukan pembenahan.

"Ini tidak boleh alasan kita bahwa kita tidak perlu kejar ketertinggalan. Ini realitas yang saya sampaikan. Ini orang lihat kita, ya kita boleh kita terima. Tapi jangan terlalu takut," tegas Prabowo.

Baca juga artikel terkait PERINGKAT MEMBACA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Bayu Septianto