19 Maret 2018

Krisis Spesies dan Matinya Pejantan Terakhir Badak Putih Utara

Ilustrasi Mozaik Sudan Badak Putih Jantan Terakhir di Dunia. tirto.id/Nauval
Oleh: Aditya Widya Putri - 19 Maret 2020
Dibaca Normal 4 menit
Badak putih utara bisa lolos dari kerasnya seleksi alam dan evolusi, tapi menyerah kepada kekejaman manusia.
“Aku suka makan rumput dan santai di lumpur. Tinggiku 6 kaki (1,8 meter) dengan berat 5000lbs (2,3 ton).”

Foto Sudan sedang memamah rumput menyempurnakan profilnya sebagai “The Most Eligible Bachelor in The World” di aplikasi kencan Tinder. Bukan untuk cari jodoh seperti pria-pria lain, iklan Sudan dibuat sebagai kampanye menyelamatkan badak putih utara (Ceratotherium simum cottoni) dari kepunahan.

“Ini serius, aku satu-satunya jantan yang tersisa di bumi. Bukan mau blak-blakan, tapi nasib spesiesku bergantung padaku.”

Pada April 2017 balai konservasi OI Pejeta di Kenya sengaja mendaftarkan Sudan di Tinder untuk mengumpulkan donasi. Pengguna Tinder diarahkan ke laman donasi ketika menggeser profil Sudan ke kanan dan “match”. Usaha ini berhasil mengumpulkan dana lebih dari Rp120 miliar; tapi sayang, umur Sudan tidaklah panjang.

Kesehatan si besar Sudan perlahan menurun. Pada 19 Maret 2018, tepat hari ini dua tahun lalu, pejantan terakhir spesies badak putih utara asli Afrika ini terpaksa dieutanasia. Tim dokter hewan dari balai konservasi OI Pejeta mengatakan bahwa Sudan mengalami berbagai komplikasi penyakit.

Ia hanya bisa berbaring selama dua minggu dari akhir Februari hingga awal Maret 2018 karena luka pada kaki kanan belakang. Fungsi otot dan tulang juga menurun, membuat Sudan lumpuh dari pinggang ke bawah. Kondisi ini membikin usaha pembiakan alami badak putih utara gagal karena Sudan tak lagi sanggup menunggangi betinanya.

Sudan tutup usia di umur 45 tahun—sangat tua dalam perhitungan umur badak. Jika Sudan adalah manusia, umurnya saat itu sudah mencapai sekitar 90 tahun. Kematian Sudan membuat pejantan badak putih utara resmi punah. Kini, spesies tersebut hanya tersisa dua ekor betina, yakni Najin dan Fatu.


Kisah Cinta Sudan yang Malang

Empat bulan sebelum kematiannya, seorang ahli Biologi bernama Daniel Schneider membagikan rekam gambar Sudan yang sudah hilang gairah. Dengan wajah murung, ia berbaring di tanah, tangannya seakan-akan menopang kepala, seolah-olah capek menjalani kehidupan.

“Ingin tahu seperti apa kepunahan? Ini pejantan terakhir badak putih utara. Terakhir, tidak ada lagi,” begitu tulis Schneider dalam cuitannya di akun @BiologistDan pada 7 November 2017.

Sedari kecil hidup Sudan sudah tercerabut dari habitat aslinya. Hari-harinya diisi dengan perjalanan panjang berpindah kebun binatang. Kisah Sudan dimulai ketika pejantan ini lahir pada 1973 di Sudan Selatan. Laman Ol Pejeta mengisahkan pada 1975 Sudan kecil yang baru berumur dua tahun ditangkap pemburu di Shambe, Sudan.

Kedua pemburu itu bernama Richard Chipperfield dan Ann Olivecrona. Mereka bekerja untuk sirkus hewan Chipperfield di Inggris. Selain melakukan esploitasi hewan untuk sirkus keliling, Chipperfield juga memperdagangkan hewan liar ke kebun binatang dan taman safari. Mereka merupakan pemasok terbesar di dunia saat itu.

Di tahun yang sama, Sudan bersama satu pejantan lain bernama Saut, dan empat betina, yakni Nola, Nuri, Nadi, dan Nesari dikirim ke Kebun Binatang Dvůr Králové di Republik Ceko. Dua tahun kemudian seekor betina lain asal Uganda bernama Nasima dikirim dari Taman Safari Knowsley bergabung dengan kawanan ini.

Nasima adalah cinta pertama Sudan. Ketika umurnya tengah remaja (10 tahun), kira-kira setara dua dasawarsa usia manusia, Sudan memperoleh keturunan pertama dari Nasima, bernama Nabire. Tapi Nabire mati mendahului Sudan pada Juli 2015 di Kebun Binatang Dvr Králové.

Enam tahun setelah kelahiran Nabire, keturunan kedua Sudan-Nasima lahir pada 1989. Namanya Najin, satu dari dua betina badak putih utara yang tersisa saat ini. Badak terakhir yang lahir secara alami dari pembuahan Sudan-Nasima mati karena prematur.

Dari Najin dan Saut—pejantan selain Sundan yang dipindah ke Kebun Binatang Dvůr Králové pada 1975—seekor betina bernama Fatu lahir pada 2000. Najin dan Fatu adalah duo betina terakhir badak putih utara di dunia. Sejak akhir 2009 mereka memulai kehidupan baru di Konservasi Ol Pejeta bersama dua pejantan Sudan dan Suni.

Sudan Tinggal Legenda

Sejak kelahiran Fatu hingga sembilan tahun kemudian tak ada lagi perkembangbiakan dari kawanan badak putih utara di Kebun Binatang Dvůr Králové. Di saat bersamaan badak putih utara resmi dinyatakan punah di alam liar (2009).

Didorong dari fakta ini, Sudan dan kelompoknya dipindah ke Konservasi Ol Pejeta dalam program “Last Chance To Survive”. Para ilmuwan berharap usaha pembiakan di habitat asli kawanan badak ini akan berhasil. Tapi nyatanya usaha kawin alami ini gagal. Bahkan di tahun 2014, Suni dan Angalifu, pejantan di kebun binatang San Diego, mati.

Sudan akhirnya pejantan terakhir badak putih utara. Ketika keberlangsungan spesies bergantung padanya, Sudan malah kehilangan semangat hidup di pengujung usia. Meski perawat dan tim dokter banyak memberi perhatian, si besar ini tampak kesepian.

Semangatnya sempat muncul ketika di tahun 2015, seekor anak badak putih selatan bernama Ringo menemani Sudan di konservasi. Hari-hari Sudan dan Ringo digambarkan para penjaga seperti hubungan mesra orang tua-anak. Tapi Ringo mati di awal 2016, meninggalkan Sudan sekali lagi tanpa teman.

Usaha pembiakan alami kian sulit ketika tim dokter menemukan bahwa jumlah sperma Sudan sangat rendah. Sementara itu Najin dan Fatu sudah cukup tua, rahimnya bermasalah, dan secara genetis terlalu dekat dengan Sudan. Jika dirunut dari garis keluarga, Najin adalah anak, sementara Fatu cucunya.

“Ini (badak putih utara) makhluk yang lolos dalam evolusi. Mereka berada di situasi begini (punah) karena kita (manusia),” sesal Thomas Hildebrandt, salah satu peneliti dan pemimpin proyek reproduksi spesies ini, seperti dikutip New York Times.

Badak putih utara merupakan subspesies badak putih selatan (Ceratotherium simum). Dibanding saudaranya, spesies badak putih utara punya telinga lebih berbulu dan ukuran tubuh lebih kecil, bahkan struktur giginya pun berbeda. Tapi populasinya jauh lebih sedikit dari badak putih selatan yang berjumlah 18 ribu ekor.

Di kisah yang telah lalu, di kisaran dekade 60-an, padang rumput Afrika Timur dan Afrika Tengah pernah dijelajahi dua ribu ekor badak putih utara. Tapi untuk memusnahkan populasi mereka, manusia hanya butuh waktu setengah abad.

Selain perburuan, populasi badak putih utara turun drastis akibat perang brutal di habitat alami mereka di Sudan, Chad, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, dan Uganda bagian utara. Kematian Sudan dua tahun lalu menjadikannya legenda perjuangan badak putih utara yang lolos dari kerasnya seleksi alam dan evolusi, tapi tidak dari jerat serakah manusia.




Usaha Menghidupkan Keturunan Sudan

Sebelum kematiannya ditentukan pada 19 Maret 2018, para peneliti sempat mengambil sel sperma Sudan dan membekukannya bersama dengan spesimen empat penjantan lain. Mereka berharap sel-sel sperma beku milik Sudan dan kawan-kawannya bisa menyelamatkan spesies badak putih utara suatu hari nanti.

Para konservasionis semula berencana mengekstrak telur Najin dan Fatu dan membuahinya secara in vitro. Tapi lagi-lagi kondisi Najin dan Fatu yang sudah tua tak memungkinkan keduanya melalui proses yang lazim kita sebut dengan bayi tabung.

Pembuahan in vitro umumnya dilakukan pada manusia dan ternak. Selama bertahun-tahun prosedur ini diujikan ke badak dan tidak berbuah hasil, sampai pada 2019 seekor betina badak putih selatan bernama Victoria melahirkan keturunan jantan dari proses bayi tabung, di Taman Safari San Diego Zoo.

Penanaman embrio Victoria, dikabarkan CNN, berasal dari telur dan sperma spesies yang sama. Keberhasilan bayi tabung pada badak putih selatan kembali membuka peluang keberlangsungan badak putih utara. Masalahnya kini para peneliti tengah berusaha mentransplantasi embrio badak putih utara ke rahim ibu pengganti badak putih selatan.

Jika cara tersebut tak berhasil, maka skenario terburuknya sperma milik pejantan badak putih utara digunakan untuk membuahi badak putih selatan. Cara itu setidaknya bisa menyelamatkan beberapa keragaman genetik subspesies badak putih utara.

“Kita akan menjalani proses yang panjang, tapi ini adalah pencapaian studi dan analisis ilmiah luar biasa,” kata Oliver Ryder, direktur genetika konservasi di di Taman Safari San Diego Zoo.

Konservasionis optimis usaha-usaha mereka akan memiliki peluang lebih besar pada sepuluh hingga dua puluh tahun mendatang. Di saat itu, perkembangan ilmu dan teknologi akan membantu mereka meneruskan keragaman genetik badak putih utara.

Sekarang mereka berkejaran dengan waktu menghadapi masalah lain, yakni kepunahan spesies terakhir badak putih utara: Najin dan Fatu. Semoga saja ketika saatnya tiba, kemajuan ilmu dan teknologi in vitro belum terlambat menyelamatkan badak putih utara dari kepunahan.

Baca juga artikel terkait SPESIES PUNAH atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight