Pintu Gelap, Jalur Penyelundupan Satwa Endemik

Reporter: Muhammad Jaya - Rabu, 5 Oktober 2022 08:55 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Satwa endemik Maluku mengalir di pasar gelap Internasional. Estafet terabas objek wisata, pelabuhan sepi dan kapal eksklusif.
tirto.id - Sepanjang garis Pantai Wainuru, terhampar pasir putih. Lautnya, berwarna biru toska. Di tepian–berjejer pohon rimbun setinggi 15-20 meter, tak beraturan. Negeri Liang, Pulau Ambon, tempat rekreasi itu terletak, bisa melihat dengan jelas indahnya gugusan Pulau Seram. Malam hari, kerap kali dijadikan jalur transit penyelundupan burung paruh bengkok.”Saya menjemput burung di Pantai Wainuru,” ungkap Ahmad Rahmat Lampung, 35 tahun.

Pertengahan Juni 2022, jurnalis Tirto menemui pria berbadan gempal itu di Kantor Direktorat Reserses Kriminal Khusus Polda Maluku. Pandagannya tak fokus, hanya sesekali berkontak mata saat diminta mengulang cerita, ihwal ia ditangkap, Rabu (13/5) malam.

2 karung 25 Kg, terisi 5 Kakatua Maluku dan 2 Nuri Kepala Hitam–diambil Rahmat dari juru mudi speedboat. Seorang diri, ia menunggang kuda besi membawa burung ke Pelabuhan Tonasa, Gudang Arang Ambon. Maluku Tengah dan Abio, negeri pengunungan di Seram Bagian Barat, burung tersebut berasal.

Ternyata, Polisi Kehutanan BKSDA Maluku dan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Maluku, sudah mencium aktivitasnya.

Burung tak sempat dinaikkan ke Kapal Semen Tonasa Line 16, tujuan Makassar, ia disergap. Ini pengiriman kedua kali, pertamanya mulus. Walau begitu, Rahmat bersikukuh hanya sebagai kurir.

Melalui Leo Sastra–kenalan jual-beli kandang, Rahmat mengaku diperintah menjemput burung. Kemudian dititip kepada Paranto Samara, anak buah kapal. Setelah kapal tiba Makassar, Sulawesi Selatan, burung diambil Andi Fadil.”Selama ini berkomunikasi via handphone, belum pernah bertemu Leo maupun Fadil sekalipun,” ujarnya.

Peta BKSDA Maluku tentang peredaran illegal tumbuhan dan satwa liar sepanjang 2018-2022, sebagaimana nukilan Tirto, Makassar, tercatat jalur transit penyelundupan. Kemudian Manado, Tomohon, Surabaya, Jakarta dan Batam. Negara tujuannya, Filipina, Singapura.

Perdagangan burung yang marak; jenis Kakatua putih, Nuri Bayan dan Nuri Kalung Ungu. Maluku, provinsi dengan gugusan pulau ini “surga” bagi satwa spesies tersebut. Populasinya, tersebar di Tanimbar, Aru, Buru dan Seram.

Juli-Agustus 2022, Tirto menelusuri jalur penyeludupan Pulau Seram. Burung paruh bengkok, ramai diangkut ke Pulau Ambon melewati Lestetu, sebuah pelabuhan speedboat di Kabupaten Seram Bagian Barat.

Sesekali bergeser menuju pesisir pantai Dusun Wailei-Negeri Latu dan Negeri Kamarian bila mengetahui ada patroli petugas.

Di Pulau Ambon, speedboat berulang kali berpindah tempat pendaratan. Dari Wainuru, bisa ke tepi pantai Negeri Waai dekat pembangkit listrik, Tulehu, Tengah Tengah dan Tial, Kecamatan Salahutu. Bahkan melebar hingga pesisir pantai Kecamatan Leihitu.

Meity Pattipawaej, Kepala SKW II Masohi-BKSDA Maluku, pernah terima bocoran pengangkutan burung di Wailei-Lestetu. Kala itu, diujung telepon suara pengepul burung.

Meity menyatakan, informasi tidak gratis barter dengan duit.”Saya transfer Rp 1 juta, pakai uang pribadi,” ujarnya, Kamis (11/8).”Setelah dicek, speedboat berwarna seperti disampaikan lagi mengangkut burung, langsung kita sita.”

Meski begitu, diakui Meity kabanyakan informasi modus mengecoh lokasi pengangkutan. Setelah turun ke lokasi tersisah hanya kandang. Padahal Burung telah dibawa pergi sebagaimana pengalamannya, di Seram Bagian Timur, kabupaten di ujung Pulau Seram.

Modus kekinian, mini bus dan sopir bertukar 4-7 kali saat angkut burung pemburu maupun diselundupkan. Dari 4 kecamatan bagian Utara, Maluku Tengah, menuju Seram Bagian Barat, mobil berputar menempuh Negeri Horale menembus Kecamatan Taniwel.

Sebaliknya dari tiga kecamatan di Selatan, Maluku Tengah, minibus estafet pada titik tertentu. Praktek lancung ini, sering kali dilakukan ketika memasuki Kota Masohi. Praktek lancung serupa juga dilakukan pembeli di Pulau Ambon.

Untuk alur jual-beli, pembeli ke pengupul, lalu diorder kepada pemburu. Tapi ada juga pembeli langsung temui penangkap.

Mantan pengepul menyatakan, Husein Said, pengepul burung memanfaatkan Pelabuhan Lestetu untuk selundupkan burung ke Pulau Ambon, malam hari. Selain Husein, lanjut dia, ada mantan tentara dan seorang pengepul, warga Negeri Tumalehu termasuk pengepul lain.

Ditemui Tirto di kediamannya, Negeri Tumalehu, Seram Bagian Barat, Sabtu (7/8), Husein membantah tuduhan itu. Ia menegaskan, bisnis utama digeluti jual-beli ikan nelayan bukan burung dilindungi.”Kalau ikan memang saya pasarkan ke Ambon,” tegasnya.

Jalur alternatif lain, minibus menaiki feri di Pelabuhan Penyebrangan Waipirit tujuan Hunimua, Negeri Liang, Pulau Ambon. Jadwal yang dikejar Pukul 05.30 dan Pukul 18.30 WIT.

“Dua waktu itu, minim pengawasan petugas,” ujar mantan pengepul itu menceritakan pengalamannya, 7 tahun silam. Ia mewanti-wanti pengiriman burung hingga kini masih berlangsung.

Ia mengaku, menyembunyikan kicauan burung dengan memperkeras musik dalam mobil. Harapannya, agar tidak dicurigai dan dilaporkan penumpag ke petugas.

Belakangan, petugas BKSDA Maluku berkali-kali ungkap burung yang dititip di bus, truck dan mini bus yang melewati 2 pelabuhan feri tersebut. Namun, jumlahnya tak banyak. Modus pengiriman; diisi dalam sangkar, karung, pipa paralon, kardus, bambu, termos dan botol minuman.

Pantai Lestetu
Pantai Lestetu. foto/Muhammad Jaya


***

Berjarak 40 meter, terlihat dua kapal nelayan tertambat. Di atas pelabuhan, sepi dari aktivitas bongkar muat, tak seperti pelabuhan pada umumnya. Meski berlokasi di jantung ibu kota Maluku Tengah, Pelabuhan Ina Marina, bak pelabuhan “mati”.

Awal Mei 2022, petugas SKW II Masohi-BKSDA Maluku, menyita 16 burung endemik Maluku di geladak Kapal Motor Arta Mulia, saat menyinggahi pelabuhan tersebut.”Ketika kita cek, ternyata informasinya betul ada burung,” ujar Seto, Koordinator Fungsional Polisi Kehutanan BKSDA Maluku, Kamis, (11/8). Burung itu milik beberapa anak buah kapal, di antaranya 1 Kakatua Maluku, 12 Nuri Maluku dan 3 Perkici Pelangi.

Sebelumnya, kapal itu dari Bula, Seram Bagian Timur–distribusi bahan pokok dan bangunan. Rute selanjutnya, Surabaya, Jawa Timur.

Anak buah kapal barang, yang rute akhirnya Makassar-Surabaya biasanya membeli burung langsung dari pemburu. Tiap menyinggahi pelabuhan “sepi”, seperti, Kobi Sadar, Maluku Tengah dan pelabuhan lain di Pulau Seram.

Akhir Juli 2022, Tirto mengunjungi Pelabuhan Kobi Sadar. Kapal barang berwarna biru tua mencolok menguasai separuh badan pelabuhan. Pada Buritan kapal tertulis Tirta Mulia II. Berjarak sepelamparan batu, dari pintu utama pelabuhan suasana tampak sunyi.

Saat itu, jarum tepat pukul 11.30 WIT, tak terlihat satupun batang hidung petugas. Suasana serupa ditemui pada Pelabuhan Hatu, Piru, Seram Bagian Barat.”Jadi memang ada pelabuhan sunyi jauh dari pengawasan petugas,” ungkap Seto.

Walau begitu, Seto menegaskan kerap mengungkap pengiriman burung di kapal barang.

Tahun ini berdasarkan data penanganan, ia mengklaim, sudah 60 persen burung diselamatkan setara 2 ribu ekor burung. Sedangkan 40 persen, berhasil keluar Maluku.

Kapal barang tujuan Surabaya juga dimanfaatkan mengirim burung paruh bengkok. Anak buah kapal, perantaranya. Terbongkar, setelah tiga Warga Seram Bagian Timur ditangkap dalam mini bus membawa 11 ekor Kakatua Maluku.

Iptu Irwan, Kasat Reskrim Polres Bagian Barat mengatakan burung itu hendak dibawa ke Pelabuhan Hatu, Piru. Tapi duluan terjaring. ”Burung langsung disita dan diserahkan ke BKSDA,” ujarnya kepada Tirto, Selasa (9/8).

***

Saat menyinggahi Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, petugas BKSDA Maluku sering menemukan burung paruh bengkok dari kapal milik PT Pelni. Burung dijumpai dalam toilet dan tempat tidur termasuk kawasan pelabuhan.

Berdasarkan data rekapitulasi kasus BKSDA Maluku 2021-2022, terdapat 127 kasus. 10 kasus sitaan dalam Kapal Motor Tidar, Pangrango, Cirimai, Dobonsolo dan Ngapulu.

Sumber Tirto di Pelabuhan Yos Sudarso, mengatakan sering membantu pembeli burung asal Makassar. 2017-2019, Ia menyuplai Informasi, kala petugas lengah berjaga di pintu utama menuju pelabuhan.

Burung yang hendak dibawa, diisi dalam pipa paralon dilapisi tas belanjaan.”Dinaikan saat kapal sudah stom 2 kali,” ungkap sumber ini. Pengakuan pembeli, kata sumber Tirto, burung dipasok ke Batam.

Di atas kapal, puluhan ekor Kakatua ditaruh di dek 8, tempat yang disebut-sebut bebas razia petugas.

Melalui informasi dari sumber tersebut, Tirto bertemu sopir minibus yang sering membawa pembeli mengambil burung di Pulau Seram. Ia menyatakan, tidak tahu-menahu burung akan di bawa ke Batam.

”Setelah tiba di Ambon, saya langsung di antar ke rumah,” ujarnya. Motif sel-sel terputus, cara pembeli menghapus jejak mereka. Yang kini dipakai dalam perdagangan burung paruh bengkok di Maluku. Meski dalam satu mata rantai selundupan barung bengkok, tapi tidak seling kenal.

Selain di kapal penumpang, Meity Pattipaej, Kepala SKW II Masohi-BKSDA Maluku mengatakan, pernah menyita 10 ekor burung bengkok di kapal tanker di Teluk Ambon. Ketika itu, operasi gabungan bersama Bakamla Zona Timur, 29 Juni 2021.

Burung terdiri dari 1 Nuri Kepala Hitam, 3 Nuri Maluku, 3 Kakatua Koki dan 3 Kakatua Maluku.” Menurut anak buah kapal, bukan di jual, tapi dipelihara menghibur mereka,” tandasnya.

Tak hanya kapal penumpang dan kapal eksklusif seperti tanker. Dari penyamaran Tirto sebagai calon pembeli burung mendapat informasi tak biasa dari seorang oknum tentara. Ia diduga pembeli sekaligus penampung burung parung bengkok di Ambon.

Via aplikasi pengiriman pesan–WatsApp, Sabtu (20/9), Sigid Priananda, tentara pangkat kopral itu menanyakan burung yang hendak dibeli darinya dikirim melalui kapal apa. Ia lalu menulis KRI Teluk Bintuni dan Banjarmasin. Isyarat biasa mengirim burung di dua kapal itu.

Meski begitu, Sigid membantah ketika dikonfirmasi jurnalis jaring.id–media kolaborasi Investigasi Perdagangan Satwa bersama Tirto, Selasa (20/9).

”Itu Fitnah,” tegasnya.“Informasi yang didapat itu menjerumuskan saya pada tindakan, yang tidak pernah saya lakukan.”

Kadispen Lantamal IX Ambon, Kapten Laut Masrukin irit bicara terkait pengiriman satwa di dua kapal milik TNI-AL.”Bukan kewenangan kita menyampaikan,” tegasnya. Ia meminta, membocorkan nama oknum tentara yang ikut terlibat jual-beli burung supaya ditelusuri.

Artikel ini merupakan kolaborasi antara Tirto.id, Jaring.id, Mongabay Indonesia, Mayung.id dan BandungBergerak.id dalam program Bela Satwa Project, diinisiasi Garda Animalia serta Auriga Nusantara.

Baca juga artikel terkait PERDAGANGAN SATWA DILINDUNGI atau tulisan menarik lainnya Muhammad Jaya
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Muhammad Jaya
Penulis: Muhammad Jaya
Editor: Adi Renaldi

Artikel Lanjutan
DarkLight