Menuju konten utama

Terumbu Karang Laut Indonesia Memang Perkasa, tapi Ada Batasnya

Gelombang panas dalam beberapa tahun terakhir terpantau lebih berat dan bisa berdampak terhadap ketahanan terumbu karang.

Terumbu Karang Laut Indonesia Memang Perkasa, tapi Ada Batasnya
Terumbu karang.foto/shutterstock
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nusantara dianugerahi kekayaan alam yang melimpah, termasuk keanekaragaman hayati laut yang bahkan terbesar di bumi. Salah satunya adalah terumbu karang. Secara alami, terumbu karang Indonesia terbilang perkasa dalam menahan gelombang panas.

Terumbu karang adalah habitat dan tempat bernaung ribuan spesies biota laut. Terumbu karang juga mampu menahan energi gelombang laut untuk mencegah erosi dan abrasi garis pantai. Di sektor ekonomi, terumbu karang menjadi menopang kehidupan jutaan nelayan tradisional sekaligus sebagai potensi wisata.

Namun, terumbu karang Indonesia mulai terancam oleh akibat ulah manusia maupun anomali siklus semesta. Meskipun punya ketangguhan level tinggi, ketahanan terumbu karang di laut Nusantara ada batasnya, terutama akibat perubahan iklim yang cukup ekstrem.

Terumbu karang sebenarnya dapat bertahan di peningkatan suhu yang berada di kategori rendah hingga sedang. Namun, perubahan iklim dapat memengaruhi secara signifikan suhu air laut dan berdampak pada habitat terumbu karang.

Salah satunya masalah yang kerap muncul yaitu pemutihan karang (coral bleaching). Jika tidak dilakukan penanganan tepat, maka terumbu karang dapat rusak dan memengaruhi ekosistem lainnya. Maka dari itu, berbagai upaya perlu dilakukan demi menjaga kelestarian terumbu karang dan keseimbangan kehidupan.

Indonesia Jantung Segitiga Karang Dunia

Terumbu karang merupakan kumpulan ekosistem yang terdiri dari spesies laut yang beragam dan berinteraksi satu sama lain. Karang termasuk kelas hewan kolonial yang berkerabat dengan hidroid, ubur-ubur, dan anemon laut. Di dasar terumbu karang, terdapat karang keras yang terdiri dari ratusan ribu polip hidup individu.

Keberadaan terumbu karang menyediakan habitat bagi berbagai macam kehidupan laut, termasuk berbagai spons, tiram, kerang, kepiting, bintang laut, landak laut, dan banyak spesies ikan. Secara ekologis, terumbu karang terhubung dengan komunitas lamun, mangrove, dan dataran lumpur di sekitarnya.

Melansir laman United Nations Environment Programme, terumbu karang sangat dihargai di planet ini karena berfungsi sebagai pusat aktivitas bagi kehidupan laut. Setidaknya 25 persen spesies laut dapat hidup dengan keberadaan terumbu karang.

Terumbu karang tempat bernaung ribuan biota laut.

Ilustrasi terumbu karang. FOTO/Istockphoto

Riset Mitchell B. Lyons dan tim, dalam jurnal New Global Area Estimates for Coral Reefs from High-Resolution Mapping yang dimuat di Sciencedirect.com (2024) memaparkan bahwa terumbu karang dangkal secara global berjumlah 348.361 km2 dan habitat karang 80.213 km2.

Indonesia adalah pusat Segitiga Karang Dunia (Coral Triangle) yang menyumbang antara 10% hingga 16% dari total luas terumbu karang secara global. Kawasan ini mencakup area seluas 6 juta km2 yang melintasi 6 negara anggota Coral Triangle Initiative (CTI), yaitu Indonesia sebagai jantung utama, kemudian Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon.

Memiliki zona terumbu karang terbesar dan paling beragam di dunia, Indonesia menjadi pusat keanekaragaman hayati terumbu karang global, dengan lebih dari 590 spesies karang keras (71% dari total global). Terumbu karang Indonesia adalah habitat dan tempat bernaung ribuan spesies biota laut, termasuk hingga 2.200 jenis ikan.

Kuatnya Terumbu Karang Indonesia

Terumbu karang menjadi rumah bagi lebih dari 4.000 spesies ikan, karang, dan kehidupan laut lainnya. Meski jumlahnya hanya mencakup 1% dari lautan dunia, terumbu karang menyediakan habitat bagi setidaknya 25% kehidupan laut dunia.

Ekosistem ini juga salah satu pendukung sumber nutrisi dan pendapatan penting bagi masyarakat pesisir di seluruh dunia. Di banyak negara, terumbu karang menjadi destinasi wisata yang menjanjikan untuk roda perekonomian. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memperkirakan nilai komersial perikanan AS dari terumbu karang lebih dari $100 juta per tahun.

Bagi negara yang berada batas bibir pantai, terumbu karang menjadi pelindung dengan mengurangi dampak gelombang. Sebagian besar pasir di pantai dekat terumbu karang terbuat dari kerangka karang yang telah hancur.

Secara alamiah, terumbu karang dapat menahan gangguan dari peningkatan suhu air laut. Sama seperti sistem kekebalan tubuh yang sehat membantu seseorang pulih dari penyakit, terumbu karang yang tangguh dapat pulih dari kerusakan dan terus mendukung kehidupan laut dan komunitas pesisir.

Terumbu Karang

Terumbu karang. Getty Images/iStockphoto

Mengutip laman Coral Reef Aliance,keanekaragaman genetik di terumbu karang dapat mendorong adaptasi karang kaut untuk menahan panas. Ketika terumbu karang memiliki keanekaragaman genetik dengan banyak spesies karang yang berbeda, peluang bertahan hidup pada suhu tinggi pun meningkat. Spesies ini akan mewariskan gen untuk menghasilkan generasi baru karang yang beradaptasi dengan perairan yang lebih hangat.

Dalam hal ini, arus memiliki peran penting dalam membawa larva karang atau karang muda pada sistem terumbu karang. Proses tersebut akan menciptakan koneksi genetik antar terumbu karang. Seiring waktu, aliran gen ini membantu terumbu karang lain di area yang lebih luas untuk bertahan hidup di suhu yang lebih tinggi.

Terumbu karang di laut Indonesia terbilang kuat. Riset Tries Blandine Razak dan tim bertajuk "Two Decades of Coral Monitoring Reveal Thermal Stress Thresholds on Indonesian Reefs" dalam jurnal Biological Conservation Vol 318 (2026), menunjukkan bahwa tutupan karang di Indonesia periode 2004-2023 tetap stabil di tengah suhu laut yang terus meningkat, terutama di Indonesia bagian timur.

Pemantauan tersebut dilakukan di 394 lokasi terumbu permanen dalam 32 wilayah. Dari 32 wilayah penelitian tersebut, 26 lokasi di antaranya menunjukkan tutupan karang kurang lebih stabil. Dua lokasi malah membaik, dan hanya empat lokasi yang cenderung memburuk.

Kestabilan ini terpantau bertahan meski suhu permukaan laut meningkat signifikan di seluruh lokasi penelitian antara 1985 hingga 2023, dengan pemanasan lebih tinggi terjadi di Indonesia bagian timur. Meski begitu, tekanan panas yang terlalu tinggi dapat mengancam keberadaan terumbu karang.

Ketahanan Terumbu Karang Ada Batasnya

Penelitian Tries Blandine Razak dan tim juga memaparkan bahwa terumbu karang dapat stabil menghadapi gelombang panas pada periode 2010-2016. Pada periode tersebut, suhu permukaan laut telah meningkat 0,12–0,28 °C per dekade, dengan pemanasan yang nyata di Indonesia bagian timur. Meskipun cenderung stabil, terumbu karang mengalami pemutihan dan beberapa karang hilang kendati masih mampu pulih.

Namun, gelombang panas yang terjadi beberapa tahun terakhir terpantau lebih berat dan tentunya bakal berdampak terhadap ketahanan terumbu karang. Bahayanya, tren negatif ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan.

Laporan NOAA berjudul "Current Global Bleaching: Status Update & Data Submission" (diperbarui 2 Juni 2026) menjelaskan, sekitar 84,4% terumbu karang dunia antara Januari 2023 hingga September 2025 mengalami pemutihan akibat kenaikan suhu permukaan laut. Jumlah tersebut didokumentasikan dari 83 wilayah. Ini merupakan peristiwa pemutihan karang global ke-4 dan menjadi rekor terbesar.

Pemutihan terumbu karang juga terjadi di Indonesia, khususnya di Selat Dampier, Raja Ampat. Salah satu penyebabnya adalah fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO). El-Nino ini menjadi pendorong utama pemutihan karang massal yang mengancam ekosistem terumbu karang secara global.

Secara umum, tutupan karang akan tetap stabil jika gelombang panas laut berada di kategori rendah hingga sedang. Namun, jika gelombang panas melwati ambang kritis hingga 12 degree-heating weeks (DHW), maka tutupan karang mengalami penurunan yang signifikan.

Hasil penelitian ini menemukan bahwa kehilangan karang telah di depan mata jika suhu berada di atas 12 DHW. Itu artinya, terumbu karang di Indonesia hanya mampu bertahan di tingkat panas sedang hingga titik tertentu saja. Meski secara struktur tampak masih tampak tertutup karang hidup, tidak menjamin terumbu karang tetap sehat.

Kerusakan terumbu karang di Raja Ampat.

Kerusakan terumbu karang di perairan Raja Ampat, Papua Barat. ANTARA FOTO/HO/Pemda Kabupaten Raja Ampat/OM/kye/17

Agar Terumbu Karang Indonesia Tetap Terjaga

Salah satu faktor yang merusak ekosistem terumbu karang yaitu perubahan iklim. Perubahan iklim memicu dua masalah utama pada laut, yakni kenaikan suhu air laut yang memicu pemutihan karang, serta pengasaman laut (ocean acidification).

Peningkatan emisi karbon dioksida di atmosfer secara langsung meningkatkan kadar CO2 yang terserap oleh air laut. Karbon dioksida yang masuk ke air laut bereaksi membentuk asam karbonat.

Selain perubahan iklim, mengutip laman United States Environmental Protection Agency, sedimentasi dari pembangunan pesisir, limpasan air hujan perkotaan, kehutanan, dan pertanian juga dapat menjadi faktor stres utama bagi keberadaan dan pemulihan spesies karang dan habitatnya.

Sedimen yang mengendap di terumbu karang dapat menutupi karang dan mengganggu kemampuan mereka untuk makan, tumbuh, dan bereproduksi.

Berikutnya, zat beracun seperti logam, bahan kimia organik, dan pestisida yang ditemukan dalam limbah industri dapat memengaruhi reproduksi, pertumbuhan, dan proses fisiologis karang.

Tak hanya itu, sampah seperti kantong plastik, botol, dan alat tangkap ikan yang masuk ke laut juga dapat tersangkut di karang dan menghalangi sinar matahari yang dibutuhkan untuk fotosintesis. Sampah ini dapat menjerat dan membunuh organisme terumbu karang serta merusak karang.

Jumlah sampah cemari laut Indonesia

Sampah laut dapat memicu kerusakan ekosistem pesisir seperti terumbu karang, mangrove, serta menurunnya populasi ikan. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/nym.

Penangkapan ikan berlebihan juga dapat mengubah struktur jaring makanan dan menyebabkan efek berantai. Salah satunya mengurangi jumlah ikan pemakan alga yang menjaga karang tetap bersih dari pertumbuhan alga yang berlebihan.

Agar terumbu karang tetap terjaga, dibutuhkan upaya-upaya dan kebijakan demi pelestariannya. Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) tengah menjalankan program konservasi dan restorasi terumbu karang bernama Koralestari.

Dalam agendanya, Koralestari berfokus pada tiga lokasi prioritas di Indonesia yang mencakup sekitar 4 juta hektare Kawasan Konservasi Perairan dan sekitar 50.000 hektare kawasan terumbu karang. Program ini terdiri dari dua skema penting yaitu pengembangan model pendanaan berkelanjutan untuk kawasan lindung laut guna memastikan kelangsungan jangka panjangnya.

Skema lainnya yaitu investasi ekonomi biru berupa dukungan finansial bagi bisnis yang berdampak positif terhadap terumbu karang. Cara ini dilakukan untuk mengurangi ancaman terhadap ekosistem vital.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan menggandeng sejumlah pihak melakukan rehabilitasi ekosistem terumbu karang di Sub Zona Rehabilitasi Kawasan Konservasi Nasional Pulau Pieh, Sumatera Barat. Data pemantauan rehabilitasi rutin menunjukkan tingkat kelangsungan hidup terumbu karang hasil transplantasi mencapai 97%.

TRANSPLANTASI TERUMBU KARANG

Seorang nelayan melakukan transplantasi terumbu karang di Pantai Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur. Kegiatan transplantasi tersebut dilakukan guna memperbaiki sekaligus menanam kembali terumbu karang yang rusak. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/kye/17.

Terumbu karang Indonesia masih punya harapan untuk pulih dan bertahan. Meskipun begitu, upaya penyelamatan ekosistem laut tidak bisa hanya menggantungkan harapan pada pemerintah maupun lembaga konservasi semata. Dibutuhkan komitmen global dalam menekan emisi karbon serta kesadaran kolektif masyarakat pesisir dan wisatawan untuk menjaga kelestarian laut.

Pada akhirnya, menjaga terumbu karang bukan sekadar urusan menyelamatkan keanekaragaman hayati di bawah laut. Lebih dari itu, langkah ini merupakan investasi jangka panjang demi menjamin ketahanan pangan pesisir, benteng alami dari ancaman abrasi, serta keberlanjutan ekonomi biru bagi generasi Indonesia yang akan datang.

Baca juga artikel terkait TERUMBU KARANG atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Iswara N Raditya