tirto.id - Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 6,8 pada 28 Juli 2026 lalu menambah daftar panjang rangkaian lindu yang mengguncang Jepang. Kenapa gempa, bahkan tsunami, sering melanda negeri sakura? Ada fakta-fakta ilmiahnya.
Dilansir Aljazeera, gempa bumi yang terjadi beberapa waktu lalu berpusat di Prefektur Kumamoto, Pulau Kyushu, dan mengakibatkan sejumlah kerusakan. Peringatan tsunami sempat dikeluarkan segera setelah gempa bumi, tapi tak lama kemudian peringatan tersebut dicabut.
Beberapa jam kemudian, gempa susulan dengan kekuatan magnitudo 4,1 melanda pada 29 Juli 2026 dini hari waktu setempat di wilayah yang sama. Situs Japan Meteorogical Agency mencatat cukup banyak aktivitas seismik di sekitar titik pusat gempa meskipun tidak dengan kekuatan tinggi.
Sebelumnya, gempa dengan guncangan M7,7 terjadi pada 20 April 2026 pukul 16.53 waktu setempat di lepas pantai Sanriku dan memicu peringatan tsunami. Tsunami sempat menerjang di sepanjang pesisir Hokkaido hingga Tohuku.
Ketinggian gelombang tsunami tercatat mencapai 79 cm di titik pengamatan Pelabuhan Kuji, Prefektur Iwate. Gelombang tsunami setinggi 39 cm terpantau di titik pengamatan Urakawa, Hokkaido.

Menurut Earthquake Research Committee, lebih dari 230 bangunan rusak, jalur kereta cepat Shinkansen sempat dihentikan, dan setidaknya 10 orang dilaporkan terluka. Getaran pun dirasakan di Prefektur Akita dan utara Prefektur Miyagi.
Jepang memang kerap dilanda gempa bumi yang terkadang diikuti gelombang tsunami. Data Nippon.commenyebutkan, dalam 10 tahun terakhir saja, Jepang diguncang oleh lebih dari 30 gempa bumi besar yang signifikan dengan skala intensitas Shindo 6-Lemah hingga 7 (tingkat tertinggi dalam sistem penilaian seismik Jepang).
Secara keseluruhan, jika dihitung menggunakan standar seismologi (magnitudo 4 ke atas dalam radius 300 km), lebih dari 10.500 getaran gempa yang terdeteksi selama satu dekade terakhir kendati hanya sebagian kecil yang dikategorikan destruktif atau "sangat signifikan".
Kenapa Gempa Bumi Sering Terjadi di Jepang?
Otoritas Jepang punya catatan probabilitas terjadinya gempa bumi dalam 30 tahun ke depan (per 1 Januari 2019) yang dikategorikan menjadi 3 peringkat atau level. Melansir laman Voyapon (2026), sekitar 3.800 gempa bumi dengan magnitudo 3,0–3,9 terjadi setiap tahun dan sekitar 900 gempa bumi dengan magnitudo 4,0–4,9.
Ada alasan kuat kenapa Jepang sering dilanda gempa bumi, yang beberapa kali juga memicu tsunami. Secara geografis, Jepang berada tepat di atas titik pertemuan (zona konvergensi) empat lempeng tektonik utama bumi, yakni Lempeng Pasifik, Lempeng Filipina, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Amerika Utara.
Lempeng-lempeng ini terus bergerak aktif. Saat Lempeng Pasifik dan Lempeng Filipina menyusup ke bawah Lempeng Eurasia dan Lempeng Amerika Utara (proses subduksi), terjadi gesekan dan penumpukan energi raksasa. Ketika tekanan tidak mampu ditahan, energi tersebut lepas seketika dan memicu gempa besar.

Tak hanya itu, Kepulauan Jepang juga terletak di sepanjang Cincin Api atau Ring of Fire, yaitu jalur tapal kuda di Samudra Pasifik. Ini ibarat rumah bagi 75% gunung berapi aktif di dunia dan 90% aktivitas gempa bumi di Bumi. Jalur ini dipenuhi oleh palung laut yang dalam, patahan (fault), dan sabuk vulkanik yang sangat aktif. Di Jepang, setidaknya ada sekitar 265 gunung berapi yang diklasifikasikan berpotensi aktif.
Faktor penyebab lainnya adalah keberadaan palung laut dalam sepanjang 800 meter di bagian barat laut Pasifik, dengan kedalaman 8.140 meter. Gempa bumi dan tsunami Tohoku pada Maret 2011 silam diyakini turut disebabkan oleh adanya aktivitas gunung berapi aktif secara seismik dengan ketinggian 50 meter yang ditemukan 5.000 meter di dalam palung.
Alasan Gempa di Jepang Sering Picu Tsunami
Tsunami merupakan serangkaian gelombang yang dihasilkan dari perpindahan besar dan tiba-tiba dari dasar laut. Melansir laman NOAA, sekitar 80% dari semua tsunami diketahui dipicu oleh gempa bumi.
Peristiwa seismik tersebut menggerakkan permukaan Bumi, menggeser air di atasnya dan menghasilkan gelombang yang dengan cepat menyebar ke segala arah di lautan dan perairan.
Namun, tentunya tidak semua gempa bumi menimbulkan tsunami. Namun, mengingat banyaknya intensitas gempa bumi di Jepang, tak heran jika ada beberapa kejadian yang memicu tsunami.
Terlebih, dikutip dari Blue Japan, Jepang adalah negara kepulauan dan tidak ada titik mana pun yang berjarak lebih dari 150 kilometer dari laut.
Ada beberapa faktor utama alasan di Jepang sering terjadi tsunami usai gempa, antara lain sebagai berikut:
1. Pergeseran Vertikal di Dasar Laut (Patahan Naik)
Riset oleh Hiroo Kanamori bertajuk "Mechanism of tsunami earthquakes" yang dimuat di jurnal Physics of the Earth and Planetary Interiors (1972), menyebutkan, jika gempa bumi menyebabkan perubahan bentuk dasar laut secara vertikal, baik naik ataupun turun, tsunami berpotensi ikut terjadi. Bagi Jepang yang dikelilingi oleh lempeng-lempeng utama bumi yang aktif.
Ketika Lempeng Pasifik menyusup ke bawah lempeng benua Jepang, ujung lempeng atas akan melenting ke atas secara mendadak saat energinya lepas. Pergerakan vertikal ke atas ini ibarat piston raksasa yang mendorong jutaan ton kolom air laut di atasnya sehingga menimbulkan gelombang tsunami.
2. Pusat Gempa Berada di Laut dan Dangkal
Agar tsunami dapat terbentuk, gempa harus memenuhi tiga kriteria utama. Pertama, lokasi pusat gempa atau episentrum harus berada di dalam atau di bawah dasar laut. Kedua, gempa yang terjadi harus gempa dangkal, biasanya kurang dari 60 kilometer di bawah dasar laut, agar energinya cukup kuat untuk merobek dasar laut.
Kriteria ketiga, gempa harus berkekuatan besar, umumnya bermagnitudo 7,0 atau lebih. Palung laut dalam yang banyak terdapat di wilayah perairan Jepang menjadi kawasan bertemunya gempa-gempa dangkal dengan daya rusak yang tinggi atau megathrust.

3. Longsor Bawah Laut akibat Guncangan
Guncangan gempa yang dahsyat terkadang memicu kelongsoran masih di dalam laut. Perpindahan material tanah dan batuan dalam jumlah besar di dasar laut ini membuat volume air di sekitarnya berpindah sehingga memicu gelombang tsunami seketika.
4. Garis Pantai Jepang yang Berbentuk Teluk
Bentuk geografis pantai di pesisir-pesisir Jepang yang berwujud teluk-teluk sempit (seperti huruf V) juga menjadi faktor pemicu tsunami meskipun bukan penyebab utama.
Ketika gelombang memasuki teluk yang semakin menyempit dan dangkal, energinya terkompresi dan membuat tinggi tsunami melonjak berkali-kali lipat saat menghantam daratan.
Kesiapan Jepang Hadapi Gempa & Tsunami
Seringnya terjadi gempa bumi maupun tsunami dari masa ke masa membuat pemerintah dan rakyat Jepang belajar bagaimana menjalani kehidupan di tengah situasi tersebut. Alhasil, Jepang kini punya sistem manajemen bencana yang paling maju di dunia dengan memadukan teknologi, infrastrukturm dan edukasi budaya ke masyarakat.
Berikut ini beberapa pilar utama Jepang untuk menghadapi gempa bumi dan tsunami:
1. Sistem Peringatan Dini Teknologi Tinggi
Dikutip dari Centre for Public Impact (2017), Jepang memiliki Sistem J-Alert (Zenkoku Shunji Keiho Shisutemu) yang diperkenalkan pada 2007. Ini merupakan jaringan peringatan darurat nasional berbasis satelit yang menyiarkan instruksi evakuasi secara cepat melalui pengeras suara kota, siaran televisi, radio, dan pesan daring massal ke seluruh ponsel warga.
Ada pula laman khusus untuk mencatat informasi gempa bumi, yakni Japan Meteorological Agency. Di laman tersebut, terdapat beragam informasi mulai dari ramalan cuaca, peringatan/imbauan tsunami, peta risiko real-time banjir/tanah longsor/hutan lebat, informasi gempa bumi, hingga peringatan gunung berapi.
Jepang juga punya sistem peringatan dini gempa bumi atau Earthquake Early Warning (EEW) yang digagas oleh Japan Meteorological Agency (Badan Meterologi Jepang). Ratusan seismometer digunakan untuk mendeteksi gelombang seismik pertama. EEW secara otomatis akan mengirimkan peringatan beberapa detik hingga menit sebelum guncangan utama datang.
Terdapat pula sistem DONET dan S-net. Menggunakan jaringan kabel serat optik bawah laut yang dilengkapi sensor tekanan air di sepanjang Palung Jepang, sistem ini mendeteksi deformasi tsunami secara langsung dari laut dalam untuk memicu alarm tsunami dalam waktu kurang dari 3 menit.
Jepang juga memiliki nomor sistem pesan bencana: 171. Ini adalah layanan telepon yang digunakan khusus selama bencana. Selain itu, layanan ini juga merekam dan memutar pesan ulang dari papan pesan darurat bencana.
2. Infrastruktur dan Konstruksi Tahan Bencana
Dikutip dari laman Voyapon, sebagian besar bangunan modern Jepang memiliki konstruksi tahan gempa dengan pilar-pilar berlapis bantalan yang tertanam di pondasi beton yang kokoh. Ini akan meminimalisir potensi cedera atau kecelakaan. Pemerintah Jepang mewajibkan pembangunan gedung tinggi menggunakan teknologi peredam gempa.
Jepang juga membangun tembok laut (seawalls) dan gerbang tsunami. Dinding pelindung beton raksasa didirikan di sepanjang pesisir pantai rawan serta pintu air otomatis yang menutup sendiri saat mendeteksi guncangan gempa untuk menahan laju gelombang laut.
Ada juga kanal pembuangan air bawah tanah yang berfungsi mengalirkan limpahan air banjir atau tsunami kembali ke sungai besar menggunakan pompa turbin pesawat.
3. Kesiapan Sistem Transportasi dan Utilitas
Ada beberapa hal yang dilakukan pemerintah Jepang terkait hal ini. Salah satunya adalah penerapan sistem pengereman otomatis untuk Kereta cepat Shinkansen hingga berhenti total beberapa detik sebelum guncangan gempa terasa di jalur rel untuk mencegah kecelakaan fatal.
Selain itu, jaringan gas rumah tangga di Jepang langsung memutus aliran secara otomatis saat mendeteksi getaran skala besar untuk mencegah risiko kebakaran massal usai gempa.

4. Budaya Evakuasi dan Kesiapan Masyarakat
Setiap tanggal 1 September (Hari Pencegahan Bencana), seluruh sekolah, kantor pemerintah, dan perusahaan swasta di Jepang mengadakan latihan evakuasi serentak.
Di area pesisir, terdapat rambu evakuasi tsunami yang sangat jelas ke arah dataran tinggi atau ke menara evakuasi tinggi (Tsunami Evacuation Towers) yang dibangun khusus.
Mayoritas keluarga di Jepang memiliki tas siaga bencana di rumah mereka yang berisi makanan instan, air minum, obat-obatan, baterai, dan senter yang cukup untuk bertahan hidup minimal 3 hari.
5. Komite Penelitian Gempa Bumi
Paling mendasar, Jepang memiliki Komite Penelitian Gempa Bumi (Earthquake Research Committee) yang bertugas mengevaluasi gempa bumi yang telah terjadi hingga mencatat potensi gempa bumi yang akan terjadi.
Komite ini memiliki catatan analisis aktivitas seismik beberapa periode di wilayah rawan gempa, area target untuk evaluasi jangka panjang dan gempa bumi, hingga probabilitas terjadinya gempa bumi dalam 30 tahun ke depan.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id
































