Apa Itu Gempa, Penyebab, Jenis dan Apakah Gempa Bisa Diprediksi?

Oleh: Nur Hidayah Perwitasari - 14 Desember 2020
Dibaca Normal 3 menit
Gempa bumi adalah getaran atau getar-getar yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba.
tirto.id - Gempa dan gunung meletus menjadi dua bencana yang tak asing dengan Indonesia. Merujuk data World Earthquake Lives, sejak Januari hingga Agustus 2018, Indonesia sudah dilanda empat gempa bumi besar berskala lebih dari 6,5 skala Magnitudo Momen (Mm).

Indonesia adalah negara dengan frekuensi gempa bumi terbanyak di dunia karena berada di zona seismik yang sangat aktif. Namun, luasnya wilayah Indonesia membuat tak semua gempa berdampak langsung atau bisa dirasakan di daratan.

Melansir laman BMKG, antara Senin (7/12/2020) hingga Senin (14/12/2020) sudah terjadi 18 kali gempa yang masuk kategori gempa dirasakan di beberapa wilayah Indonesia, seperti Yogyakarta, Brebes, Ambon, Padang, hingga Biak.

Gempa yang masuk kategori dirasakan ini memiliki skala magnitudo beragam antara 2,8 hingga 5,4.

Skala Magnitudo Momen sendiri dinilai lebih bisa diandalkan untuk menghitung energi lengkap gempa dibanding Skala Richter (SR). Momen Magnitudo adalah skala yang paling umum di mana gempa bumi terjadi untuk seluruh dunia.

Melansir laman Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (BPBD-NTB) gempa bumi adalah getaran atau getar-getar yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik.

Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Frekuensi suatu wilayah, mengacu pada jenis dan ukuran gempa bumi yang dialami selama periode waktu. Gempa bumi diukur dengan menggunakan alat Seismometer.

Gempa juga bisa dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan pada penyebabnya, di antaranya,

Jenis gempa bumi berdasarkan penyebab


Gempa bumi tektonik

Gempa tektonik ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa jenis ini banyak menimbulkan kerusakan atau bencana alam.

Bahkan, getaran gempa yang kuat mampu menjalar keseluruh bagian bumi. Gempa tektonik disebabkan oleh pelepasan tenaga yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik seperti layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba.

Gempa bumi tumbukan

Gempa jenis ini diakibatkan oleh tumbukan meteor atau asteroid yang jatuh ke bumi, jenis gempa ini sangat jarang terjadi

Gempa bumi runtuhan

Gempa jenis ini biasanya terjadi pada daerah kapur ataupun pada daerah pertambangan, gempa ini jarang terjadi dan bersifat lokal.

Gempa bumi buatan

Gempa bumi buatan adalah gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas dari manusia, seperti peledakan dinamit, nuklir atau palu yang dipukulkan ke permukaan bumi.

Gempa bumi vulkanik (gunung api)

Gempa vulkanik terjadi akibat adanya aktivitas magma, yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin tinggi maka akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan terjadinya gempa bumi. Gempa bumi tersebut hanya terasa di sekitar gunung api tersebut.

Jenis gempa bumi berdasarkan kedalaman


Gempa bumi dalam

Gempa bumi dalam adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada lebih dari 300 kilometer di bawah permukaan bumi (di dalam kerak bumi). Gempa bumi dalam pada umumnya tidak terlalu berbahaya.

Gempa bumi menengah

Gempa bumi menengah adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada antara 60 kilometer sampai 300 kilometer di bawah permukaan bumi. Gempa bumi menengah pada umumnya menimbulkan kerusakan ringan dan getarannya lebih terasa.

Gempa bumi dangkal

Gempa bumi dangkal adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada kurang dari 60 kilometer dari permukaan bumi. Gempa bumi ini biasanya menimbulkan kerusakan yang besar.

Jenis gempa bumi berdasarkan gelombang/getaran gempa


Gelombang Primer

Gelombang primer (gelombang lungituudinal) adalah gelombang atau getaran yang merambat di tubuh bumi dengan kecepatan antara 7–14 km/detik. Getaran ini berasal dari hiposentrum.

Gelombang Sekunder

Gelombang sekunder (gelombang transversal) adalah gelombang atau getaran yang merambat, seperti gelombang primer dengan kecepatan yang sudah berkurang, yakni 4–7 km/detik. Gelombang sekunder tidak dapat merambat melalui lapisan cair.

Bisa kah memprediksi gempa?


Gempa tak seperti badai yang bisa diprediksi lengkap beserta posisinya. Menurut United States Geological Survey (USGS) ada tiga faktor yang perlu diperhatikan sebelum merilis prediksi gempa, yakni tanggal dan waktu, lokasi, dan besarannya. Namun, kenyataannya tiga hal ini masih sulit dibaca menjelang gempa bumi.

Prediksi biasanya didasarkan pada rentetan gempa bumi kecil yang dianggap sebagai pembuka tirai gempa bumi susulan yang lebih besar. Menurut USGS, metode prediksi seperti itu pernah diterapkan di Cina beberapa dekade lalu. Namun sayangnya, gempa bumi besar justru datang tanpa didahului rentetan gempa kecil.

Dilansir dari Forbes, getaran gempa baik kecil maupun besar menunjukkan pola-pola tertentu, mulai dari getaran pertama, momentum dan intensitas yang menguat hingga mencapai puncak pergerakan, lalu berangsur mereda.

Namun, tidak ada cara untuk meramalkan kapan puncak magnitudo maksimum gempa bakal tercapai. Sangat sulit memahami bagaimana perilaku bebatuan bermil-mil di bawah tanah yang didorong oleh peningkatan suhu bisa memancing pergerakan permukaan tanah.

Beberapa upaya untuk memprediksi gempa memang pernah dilakukan. Mengamati perilaku ganjil pada hewan pernah dicoba, namun hasilnya tak akurat. Menghitung fluktuasi gas radon untuk memprediksi kemunculan gempa juga sudah dicoba dan bermasalah. Metode ini dicetuskan oleh sekelompok peneliti yang dipimpin Georges Charpak, seorang fisikawan peraih Nobel.

Peningkatan konsentrasi gas radon di tanah dan air tanah dianggap bisa menjadi tanda peringatan gempa bumi. Gas radon, yang terbentuk lewat peluruhan radioaktif, diyakini dilepaskan dari rongga dan retakan ketika kerak bumi mulai menegang menjelang gempa.

Beberapa waktu lalu, tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan saat ini masih terus mengembangkan sistem peringatan dini yang mampu mendeteksi dan memberikan peringatan gempa dengan magnitudo 4 hingga 7.

Ketua tim riset Laboratorium Sistem Sensor dan Telekontrol Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, Profesor Sunarno saat dihubungi melalui sambungan telepon mengatakan, alat yang dikembangkan tersebut mampu mendeteksi gempa dua hari hingga dua minggu sebelum kejadian.

"Alat ini bisa memberikan informasi kalau ada indikasi gempa di Aceh hingga NTT, kalau gempanya besar alat akan mulai memberikan peringatan hingga dua minggu sebelum kejadian," kata Sunarno.

Sistem yang dikembangan Sunarno ini terdiri dari alat EWS yang tersusun dari sejumlah komponen seperti detektor perubahan level air tanah dan gas radon, pengkondisi sinyal, kontroler, penyimpan data, sumber daya listrik. Lalu, memanfaatkan teknologi internet of thing (IoT) di dalamnya.

Dilansir dari laman resmi UGM, pada 2018 lalu ia dan tim telah melakukan penelitian untuk mengamati konsentrasi gas radon dan level air tanah sebelum terjadinya gempa. Pengamatan yang telah dilakukan kemudian dikembangkan sehingga dirumuskan dalam suatu algoritma prediksi sistem peringatan dini gempa bumi.

Sementara itu, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan bahwa BMKG sudah lama menguji prekursor atau memprediksi gempa dengan metode anomali gas radon dan anomali muka air tanah.

"BMKG sudah lama mengoperasikan metode ini tidak hanya anomali gas radon dan anomali air tanah tetapi juga memasang sensor magnet bumi di berbagai daerah di Indonesia," kata Daryono saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Menurutnya metode prekursor dengan menggunakan anomali gas radon dan muka air tanah itu telah diterapkan BMKG untuk sumber gempa sesar aktif, stasiun prekursornyapun dekat dengan (sumber) gempa tersebut.

Sehingga metode ini tidak efektif jika digunakan untuk memprediksi gempa yang lokasinya jauh dengan stasiun prekursor. Sebab ada batasan jarak di dalam mengoperasikan prekursor jika sumur yang digunakan untuk mengamati berada di Jogja.


Baca juga artikel terkait GEMPA atau tulisan menarik lainnya Nur Hidayah Perwitasari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Agung DH
DarkLight