tirto.id - Ada dua foto yang perlu Anda lihat. Keduanya memotret lokasi yang sama: Pulau Yos Sudarso di Papua. Keduanya diambil dari luar angkasa oleh satelit Landsat milik NASA. Namun, ada jeda nyaris seperempat abad antara dua foto tersebut. Yang pertama dari tahun 2000, yang kedua dari tahun 2023.
Foto tahun 2000 dipenuhi warna ungu gelap dan bercak-bercak kusam, menandakan lahan yang terdegradasi oleh aktivitas manusia. Sementara foto tahun 2023 terlihat sangat berbeda. Warna merah menyala mendominasi hampir seluruh bingkai. Dalam citra satelit inframerah seperti ini, warna merah adalah kabar baik, tanda bahwa ada formasi vegetasi yang hidup, sehat, dan lebat.
Dari dua foto tersebut, bisa kita ambil satu kesimpulan. Hutan di kawasan tersebut telah tumbuh kembali dalam kurun sekitar dua dasawarsa terakhir.
Ini tentu saja bukan keajaiban. Ini adalah hasil dari kombinasi kebijakan yang mulai membaik, kesadaran publik yang tumbuh setelah serangkaian bencana, serta kemampuan alam untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Science pada 4 Juni 2026 mengonfirmasi apa yang ditunjukkan foto-foto satelit tadi. Para peneliti menggunakan data Landsat selama empat dekade, dari 1984 hingga 2023, untuk memetakan kondisi hutan mangrove (bakau) di seluruh dunia. Dan hasilnya adalah sebuah kabar gembira karena, sejak 2010, mangrove yang tumbuh sudah lebih banyak daripada yang hilang.
Namun, sebelum kita bicara lebih jauh soal itu, penting untuk memahami betapa krusialnya mangrove bagi kehidupan, bukan cuma manusia, tetapi juga kehidupan di planet ini secara keseluruhan.
Bencana Melahirkan Kesadaran
Mangrove adalah pohon yang tumbuh di zona perbatasan antara darat dan laut. Akarnya mencuat dari lumpur seperti jari-jari yang membentuk labirin tempat di mana ribuan spesies ikan, kepiting, dan biota laut lainnya berlindung. Lebih dari 1.500 spesies tumbuhan dan hewan bergantung pada ekosistem ini untuk bertahan hidup. Mangrove adalah satu-satunya pohon yang mampu tumbuh subur di air asin, sekaligus menyaring sedimen dan nutrien sebelum air laut mencapai ekosistem lain seperti terumbu karang dan padang lamun.
Yang lebih luar biasa lagi adalah kemampuannya menyimpan karbon. Mangrove bisa menyerap karbon dioksida hingga lima kali lebih banyak dibandingkan hutan daratan. Karbon itu tersimpan bukan hanya di batang dan daunnya, tetapi juga jauh di dalam lapisan tanah lembap di bawahnya. Maka, ketika mangrove ditebang, simpanan karbon itu terlepas sekaligus ke atmosfer sehingga menyebabkan efek rumah kaca.
Akar-akarnya yang kusut juga berfungsi sebagai tembok alami. Ketika gelombang besar datang akibat badai, angin kencang, bahkan tsunami, hutan bakau yang sehat bisa meredam energi gelombang secara signifikan. Penelitian menunjukkan mangrove mampu mengurangi ketinggian gelombang tsunami antara 5 hingga 35 persen. Bagi jutaan orang yang tinggal di garis pantai, itu bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati.
Sayangnya, selama puluhan tahun, hutan mangrove diperlakukan seperti sesuatu yang tidak penting. Manusia membangun banyak hal di kawasan tersebut, mulai dari tambak udang dan ikan, permukiman, kawasan industri, bahkan infrastruktur seperti pelabuhan, jalan raya, dan bandara.
Dari tahun 1980 hingga 2010, lebih dari 12.000 kilometer persegi mangrove hilang di Asia, Afrika, dan Amerika. Ini setara dengan luas negara Jamaika. Di beberapa wilayah seperti Delta Irrawaddy di Myanmar, lebih dari 80 persen hutan mangrove bahkan sudah lenyap sejak era 1970-an.
Lalu datanglah serangkaian bencana yang mengubah cara orang melihat hutan-hutan ini.

Tsunami Samudra Hindia tahun 2004 meluluhlantakkan pesisir di 14 negara dan menewaskan lebih dari 200.000 orang. Dari situ, peneliti kemudian mencatat bahwa wilayah-wilayah yang masih memiliki hutan mangrove yang sehat mengalami kerusakan jauh lebih ringan dibandingkan wilayah yang hutannya sudah habis dirambah.
Di Indonesia, pemandangan itu mengubah cara pandang banyak orang. "Beberapa pulau yang tertutup mangrove tetap terlindungi dengan baik setelah tsunami, dan itu meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya melindungi mangrove," kata Dr. Zhen Zhang dari Tulane University, penulis utama dari studi yang dimuat di Science tadi, kepada BBC. Hal serupa terjadi di Myanmar setelah Siklon Nargis menghantam pada 2008.
Kesadaran yang tumbuh itu dikombinasikan dengan kebijakan perlindungan yang semakin kuat, mulai membuahkan hasil. Namun, faktor alam pun tak bisa disepelekan begitu saja.
Para ilmuwan menyebut proses ini volunteer recruitment, atau rekrutmen sukarela. Mangrove berkembang biak melalui propagul, yaitu benih yang sudah berkecambah sejak masih menempel di pohon induknya. Ketika propagul ini jatuh ke air, ia mengapung dan bergerak mengikuti arus hingga menemukan substrat yang cocok (biasanya lumpur dangkal di tepi pantai), lalu menancapkan dirinya dan mulai tumbuh.
Studi yang dipublikasikan NASA menunjukkan bahwa sekitar 82 persen dari mangrove yang tumbuh kembali antara 2010 dan 2020 adalah hasil ekspansi alami, bukan program restorasi aktif. Angka ini penting, karena ia menunjukkan bahwa langkah paling efektif sering kali bukan menanam lebih banyak pohon, melainkan berhenti menebangnya. Total mangrove yang hilang sejak era 1980-an kini telah menyusut menjadi sekitar 849 kilometer persegi, turun drastis dari angka lebih dari 12.000 kilometer persegi pada periode sebelumnya.
Selain kembali meluas, hutan yang ada juga semakin sehat. Sejak 1980-an, proporsi mangrove dengan kanopi tertutup rapat, yang merupakan tipe paling kaya karbon dan paling padat, telah tumbuh hampir 20 persen. Artinya bukan hanya luasnya yang bertambah, tetapi kualitasnya juga membaik.
Kerja Belum Selesai
Indonesia menjadi bagian penting dari cerita ini karena memiliki sekitar 23 persen dari total luas mangrove dunia, alias yang terbesar. Namun, kepemilikan terbesar bukan berarti kondisi terbaik. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2017 menunjukkan bahwa dari total 3,49 juta hektare mangrove Indonesia, lebih dari separuhnya, atau sekitar 1,82 juta hektare, berada dalam kondisi rusak.
Untuk mengatasi ini, pemerintah membentuk Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dengan target rehabilitasi 600.000 hektare mangrove di sembilan provinsi hingga 2024. Mandatnya tidak dibebankan hanya pada satu lembaga, melainkan didistribusikan ke berbagai kementerian, pemerintah daerah, LSM, dan komunitas lokal, seperti yang dilaporkan Kompas.
Di Jayapura, Papua, upaya itu terasa nyata di tingkat akar rumput. Mangrove di pesisir Kota Jayapura, khususnya di kawasan Teluk Yos Sudarso (berbeda dengan Pulau Yos Sudarso), kini hanya tersisa di kawasan Youtefa dengan luas tutupan sekitar 200 hektare, jauh menyusut dari sekitar 500 hektare pada tahun 1967.
Sejak Mei 2024, komunitas warga di Kampung Kayo Batu, didampingi oleh Yayasan Yappenda, mulai menanam kembali ribuan bibit mangrove di bibir pantai. Mereka juga memasang pagar bambu sepanjang ratusan meter untuk mencegah sampah rumah tangga yang mengapung masuk ke area penanaman. Inovasi sederhana ini ternyata menjadi kunci keberhasilan upaya konservasi yang sebelumnya selalu gagal karena masalah yang sama.
Di panggung internasional, Indonesia juga semakin lantang menyuarakan posisinya. Pada Mei 2026, dalam rangkaian Sidang ke-21 Forum Kehutanan PBB di New York, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan peran strategis Indonesia lewat inisiatif World Mangrove Center, sebuah pusat unggulan yang dirancang untuk memfasilitasi pertukaran pengetahuan, riset, dan pendanaan internasional bagi restorasi mangrove global.
Tapi di balik semua kabar baik ini, ada peringatan yang tidak boleh diabaikan.
Pertama, masih dari Indonesia. Target 600 ribu hektare yang dicanangkan pada 2021 itu belum sepenuhnya terwujud, bahkan bisa dibilang masih jauh dari harapan. Per Februari 2024, menurut laporan Betahita, program itu baru memenuhi 21 persen target keseluruhan. Belum lagi, Indonesia menghadapi ancaman berupa polusi plastik, tumpahan minyak, serta alih fungsi lahan .
Kemudian, Afrika Barat dan Tengah masih menjadi titik panas kerusakan mangrove. Di Delta Niger, Nigeria, polusi minyak bumi telah merusak ekosistem secara masif, dengan jalur pipa yang membelah hutan mangrove membentuk garis-garis lurus yang terlihat jelas dari citra satelit. Badai tropis yang semakin intens akibat perubahan iklim juga bisa menghapus kemajuan bertahun-tahun dalam sekejap. Program Lingkungan PBB bahkan memperkirakan perubahan iklim berpotensi memusnahkan 10 hingga 15 persen mangrove global pada tahun 2100.
Artinya, pemulihan yang selama ini terjadi memang nyata adanya. Namun, bukan berarti pekerjaan berhenti begitu saja. Alam memang bisa menyembuhkan dirinya sendiri, tetapi itu takkan ada artinya apabila manusia terus melakukan tindakan destruktif. Dengan demikian, bola ada di tangan kita sebagai manusia. Rusak tidaknya hutan mangrove, yang berarti hidup atau mati bagi banyak orang sekaligus spesies, adalah soal pilihan.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id
































