Menuju konten utama
TirtoEco

Indonesia di Jalur Migrasi Hiu Paus Dunia

Dalam migrasinya, hiu paus Indonesia menjelajah hingga ke 13 negara, termasuk Indonesia Lalu, mengapa wilayah Nusantara jadi salah satu tujuan mereka?

Indonesia di Jalur Migrasi Hiu Paus Dunia
Hiu Paus. FOTO/iSTockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hiu Paus

Hiu Paus. FOTO/iSTockphoto
Pagi itu di Kwatisore, fajar baru saja menyapu Kawasan Nasional Teluk Cenderawasih, membuka hari baru di atas perairan Papua Tengah. Sejuknya udara pagi membawa aroma asin laut, sementara nelayan menarik jaring yang semalaman terendam di bawah lampu sorot, berharap penuh pada tangkapan ikan puri dan teri.

Namun saat jaring ditarik, air di bawah bagan bergemuruh. Dari kedalaman muncul bayangan raksasa biru kelabu bertotol putih, menyerupai gugusan bintang. Panjang tubuhnya sekitar 4-7 meter.

Itu adalah hiu paus (Rhincodon typus). Nelayan setempat menyebutnya hiniotanibre atau ikan hantu. Ada pula yang menamainya gurano bintang karena corak punggungnya mirip langit malam.

“Empat hantu Kwatisore sudah menunggu di bagan sejak pagi,” ujar pemandu lokal, Yance Henawi, kepada wartawan Tempo.

Meski berukuran belasan meter, ia bukan tipe pemangsa buas. Spesies tersebut hanya memakan plankton, telur ikan, dan ikan-ikan kecil. Nelayan kerap menabur segenggam teri untuk berinteraksi. Beberapa spesies bahkan dikenali lewat corak unik. Salah satunya hiu paus bernama Djati, yang keberadaannya telah dicatat pada 2012, dan kini berukuran sekitar 6 meter.

Bagi masyarakat pesisir Papua, hiu paus bisa ditemui hampir sepanjang tahun di Kwatisore. Itu berbeda dari lokasi lain di dunia yang biasanya hanya musiman. Kawasan tersebut menjadi daya tarik wisatawan dalam dan luar negeri. Mereka cukup mengunjungi bagan nelayan setempat, membeli ikan puri sebagai umpan, dan menunggu kemunculan hiu paus.

Menurut laporan Kompas, aktivitas wisata tersebut berkembang secara alamiah sejak 2010 tanpa pelatihan formal dari pemerintah. Pengunjung membayar sekitar 400 ribu hingga 500 ribu rupiah per jam atau 3 juta rupiah untuk seharian. Penjaga bagan mendapat penghasilan sampingan dari situ.

Temuan pelacakan satelit membuktikan bahwa hiu paus ternyata berkemampuan menjelajah sangat baik. Tanpa tanda, ia bisa menghilang ke samudra dalam, mengikuti arus kuat, lalu muncul ribuan kilometer jauhnya.

Indonesia sebagai Persimpangan Samudra Dunia

Letak kepulauan Nusantara yang membentang di khatulistiwa menjadi jembatan sekaligus saringan raksasa penghubung Pasifik dan Hindia, yang dikenal sebagai Arus Lintas Indonesia (ARLINDO).

Arus itu terjadi karena perbedaan tinggi muka laut antara Pasifik barat dan Samudra Hindia, yang dibentuk oleh sistem angin pasat dan sirkulasi samudra tropis, mendorong massa air mengalir melewati kepulauan Indonesia. Jutaan meter kubik air mengalir deras lalu menembus selat-selat sempit Indonesia. Jalurnya melalui Selat Makassar, Laut Banda, Selat Lombok, Ombai, hingga Timor, sebelum tumpah ke Samudra Hindia.

Kemudian, arusnya menciptakan turbulensi besar, menghantam kontur dasar laut yang curam dengan banyak ambang (sill), cekungan, dan selat sempit. Pencampuran vertikal tersebut memperkaya lapisan atas laut dengan nutrien.

Merujuk catatan F. G. Utama dkk. (2017), di beberapa wilayah Indonesia, seperti Selat Makassar, terutama saat musim tertentu, proses itu diperkuat oleh fenomena air laut yang lebih dingin dan kaya nutrisi, bergerak dari lapisan dalam laut, lalu naik ke permukaan (upwelling) yang dipicu angin muson.

Paparan matahari tropis yang berpadu dengan limpahan nutrien memacu pertumbuhan fitoplankton, fondasi utama jaring-jaring makanan laut. Kelimpahan organisme mikroskopis itu kemudian menopang hidup zooplankton, larva udang, telur ikan, hingga ikan pelagis kecil seperti teri. Bagi hiu paus, kondisi tersebut menjadi sumber pakan yang kaya energi, sebelum kembali melanjutkan migrasi ke perairan lain yang produktivitasnya lebih rendah.

Guru Besar Oseanografi Universitas Diponegoro, Anindya Wirasatriya, menegaskan bahwa arus tersebut mengarahkan rute hiu paus, sementara teluk-teluk subur menjadi lokasi pemberhentian.

Topografi dasar laut dan dinamika arus menjadikan beberapa teluk Indonesia istimewa. Teluk Cenderawasih terlindung dari dari hantaman Samudera Pasifik berkat adanya Pulau Biak dan Yapen, sementara Teluk Saleh di Nusa Tenggara Barat dijaga Pulau Moyo.

Dengan memanfaatkan jaringan arus laut sebagai “jalan tol” alami, hiu paus berpindah dari satu habitat produktif ke habitat lainnya dalam perjalanan lintas samudra.

Hiu Paus sebagai Penghubung Asia-Pasifik

Bukti terkuat tentang sifat pengembara hiu paus tertuang dalam riset terbitan jurnal Frontiers in Marine Science. Riset tersebut merupakan kolaborasi lintas lembaga selama satu dekade, antara lain Konservasi Indonesia, Elasmobranch Institute Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, dan Conservation International.

Para peneliti tersebut menganalisis puluhan ribu titik lokasi dari 70 hiu paus yang ditandai di empat pusat agregasi Indonesia, yakni Teluk Cenderawasih di Papua Tengah, Kaimana di Papua Barat, Teluk Saleh di Nusa Tenggara Barat, dan Teluk Tomini di Gorontalo.

Berdasarkan pengamatan mereka, hiu paus, yang tampak menetap di teluk, ternyata melakukan migrasi lintas negara. Peta pelacakan menunjukkan pergerakannya melewati sedikitnya 13 negara dan teritori Asia-Pasifik.

Spesies tersebut terdeteksi di berbagai wilayah, mulai dari Christmas Island, Timor-Leste, Australia utara, Filipina, Papua Nugini, Palau, Federasi Mikronesia, Nauru, Kepulauan Solomon, Guam, Kepulauan Gilbert, hingga Kepulauan Marshall. Sebagian bahkan bahkan memasuki kawasan laut lepas di luar yurisdiksi negara mana pun.

Meski wilayah jelajahnya sangat luas, pola migrasinya tidak seragam. Pergerakan hiu paus sangat bervariasi, dipengaruhi jenis kelamin, usia, tahap reproduksi, dan musim. Penelitian tersebut menunjukkan, hiu paus memanfaatkan habitat dengan fungsi ekologis berbeda, mulai dari lokasi agregasi, koridor migrasi, hingga habitat musiman.

Pejantan muda (large juvenile males), misalnya, lebih sering memanfaatkan perairan dangkal Indonesia sebagai habitat agregasi dan lokasi mencari mangsa, sebelum melakukan perjalanan ke wilayah lain.

Menurut para peneliti, Teluk Saleh dan Teluk Cenderawasih teridentifikasi sebagai habitat kunci, menyediakan habitat yang relatif stabil dengan ketersediaan pakan cukup tinggi sepanjang tahun.

Setelah mencari makan di perairan Indonesia, beberapa hiu paus meninggalkan teluk dan bermigrasi ke selatan menuju Samudra Hindia serta perairan Australia utara. Mereka bergerak soliter, menjelajahi palung dalam, memanfaatkan wilayah laut lepas yang produktivitasnya dipengaruhi arus laut dan dinamika oseanografi.

Pola itu berbeda tajam dari kelompok betina, yang jarang terlihat di permukaan pesisir. Catatan langka terjadi pada Maret 2018. Seekor betina berukuran 6,2 meter—diberi nama Susi, sebagai penghormatan untuk Menteri Kelautan dan Perikanan kala itu—berhasil dipasangi pelacak satelit di Kaimana.

Data menunjukkan, betina dewasa lebih sering menyelam ekstrem ke lapisan laut dalam di Pasifik selatan dan Laut Banda, yang diduga berkaitan dengan dinamika arus dan perubahan suhu laut. Mereka jarang berlama-lama di sekitar bagan nelayan dan lebih banyak memanfaatkan habitat oseanik dibanding kawasan pesisir.

Perbedaan jelajah antara pejantan muda, pejantan dewasa, dan betina, mencerminkan strategi biologis untuk mengurangi persaingan makanan sekaligus hasil evolusi yang menyesuaikan kebutuhan nutrisi dan reproduksi.

Satu individu hiu paus dapat menghubungkan fungsi vital ratusan ekosistem laut di belasan negara Asia-Pasifik dalam satu siklus hidup. Laut Banda, Laut Flores, Samudra Pasifik, dan Samudra Hindia, merupakan satu jaringan kehidupan yang dijalin oleh pergerakan hiu paus.

Implikasi dari penelitian tersebut dibutuhkan tindakan serius. Fakta bahwa hiu paus rutin melintasi banyak yurisdiksi berarti perlindungan sektoral akan gagal. Tidak ada negara, termasuk Indonesia, yang mampu menjamin kelestarian spesies ini sendirian. Begitu mereka keluar dari teluk, ancaman industri global menanti, misal tabrakan dengan kapal kargo, jeratan jaring perikanan komersial, hingga pencemaran lingkungan.

Apalagi, hiu paus telah berstatus Terancam Punah (Endangered) dalam Daftar Merah IUCN. Selama sekitar 75 tahun terakhir, populasinya diperkirakan menyusut lebih dari 50 persen secara global, bahkan mencapai sekitar 63 persen di kawasan Indo-Pasifik.

Teknologi Mengubah Cara Kita Memahami Laut

Selama puluhan tahun, kehidupan hiu paus di lautan lepas masih jadi teka-teki. Ilmuwan hanya mengandalkan pengamatan langsung, foto identifikasi, atau laporan nelayan, yang tentu saja tak berkelanjutan. Begitu hiu paus menyelam dan menghilang dari permukaan, jejak perjalanannya nyaris tak dapat diikuti.

Hingga akhirnya tiba waktu ketika perkembangan telemetri satelit mengubah cara ilmuwan memahami spesies tersebut. Sejak 2015, para peneliti di Indonesia memasang perangkat fin-mounted satellite tag model SPLASH pada sirip punggung hiu paus.

Penanda tersebut akan mengirimkan lokasi melalui sistem satelit Argos setiap kali antenanya muncul di atas permukaan laut. Selama perangkat masih terpasang, setiap kemunculan hiu paus di permukaan akan menghasilkan koordinat baru yang memperlihatkan arah perjalanannya.

Data lokasi itu dipadukan dengan model pergerakan sehingga lintasan hiu paus dapat direkonstruksi secara lebih akurat. Dari rangkaian koordinat tersebut, peneliti mampu membedakan fase ketika hiu paus bergerak cepat untuk bermigrasi dengan saat-saat mereka memperlambat pergerakan dan (diduga) sedang mencari makanan. Pelacakan jangka panjang itulah yang akhirnya mengungkap hubungan antara teluk-teluk Indonesia, laut lepas, dan berbagai habitat penting hiu paus di kawasan Indo-Pasifik.

Sebelum itu, pemasangan teknologi SPLASH oleh para peneliti sangat berisiko. Mereka harus mendekati hiu paus dengan perahu atau kapal kecil, lalu menyelam sejajar di tengah ombak liar. Perangkat yang sudah dirancang aerodinamis (agar tak mengganggu gerakannya) dipasang pada tulang rawan keras di sirip punggung dengan menggunakan penjepit atau baut khusus.

Namun, teknologi secanggih apa pun kerap berhadapan dengan rahasia alam di dalam samudera. Data terbaru dari Teluk Cenderawasih menunjukkan dominasi populasi jantan muda, sementara lokasi pasti habitat betina dewasa masih menjadi teka-teki. Di mana tepatnya betina dewasa berkumpul, melahirkan, dan menjalani siklus reproduksi? Hingga kini, lokasi itu tetap tersembunyi di kedalaman Pasifik, hanya sesekali terungkap lewat kasus langka seperti kemunculan hiu paus betina Susi di Kaimana.

Setiap kali seekor hiu paus muncul di bawah bagan Kwatisore, nelayan mungkin hanya melihat ikan terbesar di dunia yang sedang mencari makan. Namun sinyal satelit menunjukkan kenyataan yang jauh lebih besar. Individu yang sama dapat menjadi penghubung antara Teluk Cenderawasih, Laut Banda, Samudra Hindia, hingga Pasifik barat. Di balik kemunculannya yang tenang di teluk Indonesia, tersimpan salah satu perjalanan migrasi paling panjang di lautan tropis.

Baca juga artikel terkait PENEMUAN ILMIAH atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin