tirto.id - Saat pandemi Covid-19 melanda dunia, banyak sektor yang mengalami pukulan telak, terutama pariwisata. Namun, justru saat itulah muncul pekerjaan yang nyaris tidak terbayangkan sebelumnya: pemandu tur virtual.
Covid-19 yang dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO sejak 11 Maret 2020, pada masa penyebarannya sempat membuat seisi dunia melakukan isolasi. Orang-orang tidak lagi bepergian dan menghabiskan waktu di rumah.
Data BPS menunjukkan bahwa pada 2017 hingga 2019, wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk ke Indonesia ada di kisaran 15,3 juta orang. Namun, pada 2020, wisman yang berkunjung hanya 4 juta orang saja, atau 25 persen dari jumlah tahun sebelumnya.
Uniknya, Covid-19 secara tidak langsung juga membuat sektor pariwisata mengubah taktik. Di tengah keterbatasan ruang dan gerak akibat pandemi, orang tetap memerlukan suasana plesiran untuk menemukan kesenangan. Pilihan paling realistis saat itu, dengan mempertimbangkan keamanan dan kesehatan, adalah dengan mengikuti virtual tour yang dipandu oleh pemandu tur virtual profesional.
Catatan penting lain, setelah pandemi, profesi pemandu tur virtual tidak berhenti. Sebaliknya, profesi tersebut semakin berkembang dengan hadirnya digital tourism yang mengedepankan pengembangan informasi dan teknologi. Alhasil, profesi ini semakin dilirik oleh berbagai perusahaan hingga instansi pemerintah dalam mendukung sektor pariwisata.
Pemandu tur virtual bertugas mendampingi peserta atau penonton dalam menelusuri destinasi wisata tertentu melalui platform media sosial atau aplikasi video conference. Dalam tur virtual ini, pramuwisata tetap dapat berinteraksi dengan klien mereka sembari memaparkan potensi wisata yang dituju.
" (Tur virtual) memberikan alternatif hiburan lain atau teaser untuk masyarakat agar tergerak berwisata kembali dengan tidak menghilangkan sensasi dan pengalaman ketika berwisata langsung mempromosikan wisata Indonesia dan menciptakan ekosistem digital di sektor kepariwisataan,” papar Muhammad Neil El Himam yang pada 2020 menjabat sebagai Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi, dikutip laman Komdigi.

Pemandu Tur Virtual Membawa Kita Pelesiran dari Balik Layar
Pemandu tur virtual dapat membawa seseorang berwisata lintas negara dan lintas waktu dengan bantuan teknologi. Itu artinya, pelaku profesi ini tidak perlu hadir di lokasi secara fisik. Ia dapat menjalankan tugasnya dari rumah. Di sisi lain, ada pula pemandu tur virtual yang melakukan siaran langsung di destinasi wisata yang dituju.
Meski begitu, karena pekerjaannya berkaitan erat dengan teknologi, pemandu tur virtual perlu memahami sejumlah fitur dan perangkat pendukung. Ini penting agar ia dapat menggambarkan objek wisata yang sedang ditunjukkannya kepada klien.
Dengan semakin canggihnya teknologi, pemandu tur virtual dapat memanfaatkan berbagai media interaktif. Salah satunya Google Earth yang memungkinkan pengguna menjelajahi berbagai lokasi melalui globe 3D interaktif, lengkap dengan citra satelit, foto udara, peta, dan model 3D.
Pemandu dapat menavigasi berbagai lokasi dari komputer, tablet, atau perangkat seluler. Citra historis dan panorama 360 derajat juga dapat dimanfaatkan untuk memperkaya pengalaman peserta tur.
Pemandu tur virtual juga dapat memanfaatkan teknologi Augmented Reality (AR) untuk menambah elemen virtual seperti visualisasi sejarah, animasi, atau informasi tambahan yang relevan. Agar tur virtual tampak nyata dan mengesankan, seorang pemandu tur virtual dapat pula memanfaatkan kamera panorama 360 derajat. Alhasil, wisatawan dapat menyaksikan lokasi favoritnya dari segala arah.
Agar semakin menarik, pemandu tur virtual juga dapat mengaplikasikan Virtual Reality (VR) agar pengguna atau wisatawan merasa benar-benar berada di destinasi tersebut. VR dalam operasionalnya dapat menciptakan simulasi digital tiga dimensi (3D).
Pemandu Tur Virtual Tetap Butuh Skill Mumpuni
Seorang pemandu tur virtual memerlukan keahlian yang mumpuni untuk mendukung profesinya. Pasalnya, ia tengah menjual jasa informasi kepada wisatawan dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Pemandu dan wisatawan mungkin saja tidak berada di lokasi sesungguhnya, tetapi sang pemandu mesti membuat klien merasakan pengalaman seolah-olah datang ke tempat itu secara nyata.
Secara umum, pemandu tur virtual perlu memiliki skill komunikasi, pengetahuan mendalam tentang lokasi virtual yang dituju, serta kemampuan mengoperasikan perangkat pendukung. Ini tidak terlepas dari demand klien mereka.
Peserta tur tentu perlu menyaksikan keindahan gambar 3D yang muncul di layar perangkat. Selain itu, mereka juga perlu mengetahui kilas balik hingga profil lokasi. Tantangan bagi pemandu tur virtual adalah menceritakan lokasi itu dengan gaya yang memikat.
Dengan public speaking dan kemampuan bercerita yang baik, pemandu tur virtual akan memuaskan penonton dan membuat klien memahami lokasi. Tak dapat dikesampingkan, agar virtual tour tidak membosankan, bahkan semakin seru, pemandu juga dapat berinteraksi dan mengajak keterlibatan penonton.
Ada banyak trik untuk memancing excitement penonton. Misalnya dengan merespons komentar yang ditulis penonton, memberikan permainan singkat, hingga adanya sesi tanya jawab secara interaktif. Dengan begitu, penonton akan merasa terlibat langsung dalam penjelajahan. Feedback dari penonton juga dapat menjadi evaluasi pemandu dalam mendampingi perjalanan.
Yang tak kalah penting, pemandu tur virtual mesti mengetahui profil lengkap destinasi yang dituju. Misalnya mengetahui sejarah, fakta unik, hingga mitos dan budaya yang hidup di lokasi tersebut. Melalui penguasaan ini, penonton akan mendapatkan insight yang berharga. Kepiawaian pemandu dalam memahami profil lengkap destinasi dapat menambah reputasi positif yang penting untuk perjalanan kariernya.
Selain keahlian tersebut, pemandu tur virtual juga dapat mengoperasikan alat-alat pendukung seperti laptop, mikrofon eksternal yang jernih, koneksi internet berkecepatan tinggi, dan kemahiran menggunakan platform seperti Zoom atau Google Meet.
Melalui mikrofon yang memadai, suara pemandu dapat didengar oleh penonton di tengah keramaian. Selain itu, pemandu juga perlu memastikan bahwa jaringan internet selama kegiatan berlangsung tetap stabil. Apabila jaringan internet bermasalah, hal ini dapat mengganggu jalannya virtual tour.
Berikutnya, pemandu tur virtual juga perlu memiliki keahlian dalam menggunakan aplikasi interaktif seperti Zoom atau Google Meet. Dengan begitu, pemandu dapat mengelola dengan baik forum yang tengah berjalan dan menyajikan konten yang kuat.

Mengintip Peluang Cuan Pemandu Tur Virtual
Meski populer saat masa pandemi Covid-19, bukan berarti pemandu tur virtual kini melenyap. Sebaliknya, profesi ini memiliki prospek kerja yang gemilang. Seiring waktu, beragam platform kini muncul untuk menawarkan layanan tur virtual dalam beragam bidang.
Lantas, berapa pundi-pundi uang yang bisa dikumpulkan dari profesi sebagai pemandu tur virtual? Salah satu contohnya adalah Dominic D’orazi. Ia yang dulunya berprofesi sebagai pemandu wisata profesional, sempat kelabakan saat Covid-19 menyerbu. Namun, tidak habis akal, D'Orazi bergabung dengan perusahaan Hop A Tour sebagai pemandu tur virtual melalui layanan live streaming tahun 2020. Dominic menggunakan peralatan dan perangkat lunak dari perusahaan untuk menyusuri kawasan pecinan di San Francisco.
Selama tur berlangsung, ia menjelaskan kepada para peserta tur tentang sejarah pecinan hingga kue keberuntungan yang terkenal di lokasi itu. Kala itu, peserta tur membayar tarif sekitar $14 atau sekitar Rp250 ribu untuk virtual tour yang berdurasi 1 jam.
Bagaimana dengan pemandu tur virtual di Indonesia? Platform wisata lokal seperti Atourin atau DigiTiket nyatanya merekrut pemandu tur virtual sebagai mitra. Skema yang digunakan umumnya melalui pendaftaran partner onboarding yang disediakan oleh masing-masing platform.
Secara khusus, Traveloka menyediakan platform digital bernama Traveloka Online Xperience untuk menyediakan tur virtual. Hal ini disampaikan oleh Christian Suwarna (Co-Founder Diri Care) yang kala itu menjabat sebagai CEO Traveloka Xperience.
“Kami bertindak sebagai platform yang diisi pramuwisata dengan demand dari konsumen dan kita buat platform agar kedua pihak saling bertemu. Jadi, para tour guide ini cukup memastikan kontennya kuat untuk menarik konsumen,” tutur Christian, dikutip dari laman Komdigi.go.id (24/8/2020).
Melansir laman resmi Traveloka, tarif tur virtual dikenai biaya yang beragam tergantung pada destinasi wisata yang dituju. Misalnya, tur virtual destinasi pariwisata berkelanjutan Indonesia dikenai tarif mulai dari Rp50.000.
Berikutnya, tur virtual melihat tempat-tempat menarik di Ljubljana dibanderol mulai dari Rp576.300. Ada pula tur virtual untuk berjalan-jalan di Istana Alhambra yang megah dikenai tarif mulai dari Rp774.541.
Pemandu tur virtual bukan sekadar pekerjaan yang lahir karena pandemi. Profesi ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat mengubah cara orang menikmati perjalanan.
Bagi mereka yang memiliki kemampuan bercerita, memahami destinasi, berkomunikasi dengan baik, dan menguasai teknologi digital, tur virtual dapat menjadi pekerjaan utama maupun sumber penghasilan tambahan.
Selama wisatawan masih mencari pengalaman baru, selalu ada ruang bagi pemandu tur virtual untuk membawa mereka bepergian, bahkan meski tanpa harus meninggalkan kursi di depan layar.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id
































