Menuju konten utama

Airlangga: RI Sudah Jalankan 25 Perjanjian Dagang per 2026

Selain mengoptimalkan perjanjian perdagangan, pemerintah akan dorong peningkatan daya saing investasi dan ekspor melalui deregulasi serta bottlenecking.

Airlangga: RI Sudah Jalankan 25 Perjanjian Dagang per 2026
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers terkait pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (5/8/2026). ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian dagang hingga 2026. Lima di antaranya mulai diterapkan dalam periode satu tahun terakhir.

"Kemudian juga terhadap akses perdagangan Indonesia dalam satu tahun terakhir ini sudah 25 perjanjian dagang diimplementasikan. Lima diantaranya baru dalam satu tahun terakhir," katanya dalam Konferensi Pers Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2027, di Kantor Pusat DJP Kementerian Keuangan, Jakarta Selatan, Jumat (14/8/2026).

Menurut Airlangga, optimalisasi perjanjian internasional menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mendorong mesin pertumbuhan ekonomi berbasis transformasi pada 2027. Sebab, kerja sama-kerja sama bilateral tersebut dinilai akan meningkatkan daya saing investasi dan ekspor Indonesia.

Selain mengoptimalkan perjanjian perdagangan, pemerintah akan mendorong peningkatan daya saing investasi dan ekspor melalui deregulasi serta penyelesaian berbagai hambatan atau bottlenecking.

Strategi tersebut juga akan ditopang dengan pembentukan pusat finansial internasional Indonesia atau PFI.

"Kemudian arah kebijakan ini ditopang oleh empat prasyarat utama yaitu iklim investasi yang atraktif, kemudian kepastian regulasi, stabilitas makro dan APBN yang prudent dan sustainable" ujar Airlangga.

Sementara itu, sampai saat ini di sisi eksternal, kondisi ekonomi Indonesia masih ditopang bantalan eksternal yang relatif aman. Cadangan devisa tercatat sebesar 145,3 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara dengan 5,5 bulan impor.

Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif pada Januari-Juni 2026 masih mencatat surplus yang mencapai 3,58 persen.

Dari sisi domestik, sejumlah indikator juga menunjukkan perbaikan. Indeks keyakinan konsumen tercatat 116,8, sementara PMI manufaktur kembali masuk zona ekspansif di level 50,2.

Kinerja sektor otomotif juga tumbuh 33,3 persen secara tahunan. Khusus kendaraan listrik dan hybrid, pertumbuhannya bahkan mencapai lebih dari 40 persen.

Airlangga mengatakan pemerintah akan terus menjaga momentum pertumbuhan melalui kombinasi kebijakan fiskal, moneter, stabilitas, serta investasi.

"Kemudian pemerintah terus mendorong untuk menjaga daya beli dengan stimulasi yang dikeluarkan," pungkas Airlangga.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana