Menuju konten utama
Edusains

Ketika Sains Mulai Berpihak pada Pengalaman Paranormal

Riset menunjukkan pengalaman paranormal tak selalu berdampak buruk. Cara memaknai pengalaman dan kondisi psikologis justru lebih menentukan hasil akhirnya.

Ketika Sains Mulai Berpihak pada Pengalaman Paranormal
Ilustrasi Hantu. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dalam satu atau dua tahun terakhir, di Indonesia muncul sebuah "seruan" di berbagai medium untuk meninggalkan apa yang disebut sebagai logika mistika. Istilah ini dicetuskan oleh Tan Malaka, tokoh yang punya jasa besar mengonsepkan Indonesia sebagai sebuah republik. Tujuannya jelas, agar rakyat Indonesia sadar bahwa masalah-masalah yang menjerat mereka sejatinya tidak berada di ranah spiritual, melainkan masalah yang konkret dan bisa diselesaikan dengan cara yang konkret pula, alih-alih lewat jalur mistis.

Namun, tak jarang, istilah logika mistika dipersempit oleh mereka yang rajin menyerukannya di media sosial. Ketika ada yang bercerita mengenai pengalaman paranormal, atau yang tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa, mereka dituduh melanggengkan logika mistika. Padahal, logika mistika tidak sesempit itu. Berdoa tanpa berusaha pun sebenarnya masuk dalam kategori berlogika mistika, karena berdoa semata berarti mengharapkan intervensi ilahiah untuk hal-hal yang semestinya bisa diupayakan secara nyata.

Selain itu, penyempitan makna logika mistika juga, secara saintifik, justru kontraproduktif. Sebab, di banyak negara, penelitian tentang fenomena-fenomena yang disebut "hal mistis" justru banyak dilakukan. Penyebabnya, tak lain, karena memang ada banyak orang yang melaporkan pernah mengalami peristiwa semacam itu. Riset YouGov pada 2025, misalnya, menyebutkan bahwa 60 persen orang Amerika Serikat (AS) pernah setidaknya mengalami satu peristiwa paranormal.

Banyaknya pengalaman tersebut membuat peristiwa paranormal tak bisa serta-merta ditepikan dari dunia sains, terlepas dari valid tidaknya apa yang mereka alami dan ceritakan, serta apa yang menjadi penyebab sesungguhnya, apakah kondisi kejiwaan dan fisiologi tertentu atau memang karena ada "faktor lain".

Secara definitif, para ilmuwan sejauh ini sepakat bahwa yang namanya hantu atau makhluk halus itu tidak ada. Akan tetapi, itu tidak menghalangi mereka untuk terus melakukan penelitian lanjutan, khususnya soal impak yang dirasakan oleh mereka yang mengaku pernah mengalami peristiwa paranormal.

Pengalaman dan Pemaknaan

Salah satu studi paling baru dan paling komprehensif soal ini datang dari tim peneliti di Institute D'Or for Research and Education di Sao Paulo, Brasil. Dipimpin oleh Ronald Fischer, tim ini menyurvei lebih dari 5.000 orang dewasa Brasil dan menanyakan pengalaman yang mereka sebut sebagai "non-ordinary experiences", atau pengalaman yang tidak lazim.

Fokus dari studi ini adalah bagaimana cara orang-orang yang pernah mengalami pengalaman paranormal memaknai pengalamannya tersebut. Selama ini, banyak penelitian yang sudah lebih dulu menaruh asumsi di dalam pertanyaannya sendiri. Skala spiritualitas misalnya akan bertanya "apakah Anda merasakan kehadiran Tuhan", sementara skala klinis akan menyebut pengalaman serupa sebagai "kehadiran sesuatu yang jahat" atau tanda gangguan jiwa.

Fischer dan timnya berusaha memisahkan dua hal itu. Mereka memakai instrumen bernama Inventory of Non-Ordinary Experiences (INOE), yang berisi 38 jenis pengalaman berbeda, mulai dari rasa syukur atau kagum yang meluap-luap, mendengar suara atau melihat sosok, merasakan kehadiran orang yang sudah meninggal, sampai pengalaman keluar dari tubuh sendiri. Instrumen ini pertama kali dikembangkan dan divalidasi oleh Ann Taves dan koleganya di Amerika Serikat dan India pada 2023.

Setiap responden hanya ditanya soal satu pengalaman spesifik yang paling menonjol dalam hidup mereka. Setelah itu, barulah mereka ditanya soal konteksnya, mulai dari kapan itu terjadi, di mana, sedang sendirian atau tidak, sampai bagaimana perasaan mereka saat itu dan bertahun-tahun setelahnya. Pendekatan ini sengaja dirancang agar peneliti bisa memisahkan pengalaman itu sendiri dari label yang biasanya langsung ditempelkan orang, entah itu spiritual atau klinis.

Hasilnya cukup mengejutkan bagi mereka yang membayangkan pengalaman semacam ini selalu terjadi ketika seseorang dalam kondisi linglung atau tidak baik-baik saja. Sekitar 57 persen responden mengaku dalam keadaan sadar dan terjaga penuh saat pengalaman itu terjadi, jauh lebih tinggi dibanding kondisi lain seperti bermimpi atau baru bangun tidur. Kemudian, hanya sekitar 3 persen yang mengaku sedang di bawah pengaruh zat tertentu, kurang lebih sama dengan yang mengaku sedang sakit fisik atau mental.

Ilustrasi Hantu

Ilustrasi Hantu. foto/Istockphoto

Sebagian besar pengalaman itu juga berlangsung singkat. Sekitar 63 persen responden mengatakan pengalaman mereka cuma berlangsung beberapa menit, dan lebih dari seperempatnya bahkan menyebut peristiwa tersebut seperti lewat begitu saja. Kebanyakan orang juga baru mengalaminya saat dewasa, bukan semasa kecil, dan umumnya hanya terjadi dua sampai tiga kali seumur hidup, alias bukan sesuatu yang selalu terjadi.

Efek jangka pendeknya tidak bisa dibilang bagus. Sekitar 20 persen responden mengaku mengalami reaksi negatif seketika saat pengalaman itu terjadi, dan sekitar 26 persen mengatakan pengalaman itu membawa semacam penderitaan atau ketidaknyamanan.

Namun, ketika ditanya soal dampak jangka panjang, gambarannya berubah. Sekitar 51 persen responden menilai pengalaman itu pada akhirnya membawa efek positif dalam hidup mereka. Hanya sekitar 15 persen yang menyebut efeknya negatif dalam jangka panjang. Sementara sisanya menganggap pengalaman itu netral atau tidak berdampak signifikan. Dengan kata lain, sesuatu yang awalnya terasa mengganggu atau menakutkan, bagi banyak orang, justru berubah jadi sesuatu yang mereka syukuri belakangan.

Selanjutnya, soal pemaknaan. Sekitar sepertiga responden mengatakan mereka tidak percaya ada "seseorang" atau "kekuatan tertentu" yang menyebabkan pengalaman itu terjadi. Ini merupakan jawaban paling umum di antara semua pilihan yang tersedia. Ketika ditanya kenapa hal itu terjadi pada mereka secara spesifik, jawaban terbanyak adalah "kebetulan semata", disusul oleh anggapan bahwa itu adalah semacam tanda atau pesan.

Sekitar 48 persen responden menyebut pengalaman mereka bersifat spiritual atau religius, 31 persen mengatakan tidak, dan sisanya mengaku tidak yakin. Angka yang nyaris berimbang ini menunjukkan bahwa bahkan di negara seagamis Brasil, dengan tradisi Katolik, Injili, Spiritis, dan kepercayaan Afro-Brasil yang kental, tidak semua orang otomatis membingkai pengalaman tak lazim mereka dalam kerangka agama atau spiritual.

Pola jawaban ini ternyata cenderung serupa di semua 38 jenis pengalaman yang disurvei, entah itu deja vu, mendengar suara, atau merasakan kehadiran sosok tak kasat mata. Para peneliti menyebut ini sebagai bukti bahwa orang cenderung memakai perangkat penjelasan yang sama, apa pun bentuk pengalamannya. Budaya, alih-alih pengalaman itu sendiri, diperkirakan sebagai faktor paling menentukan dalam hal pemaknaan.

Menimbang Pengalaman Paranormal

Tentu, satu studi saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa pengalaman paranormal punya dampak positif bagi kesehatan jiwa seseorang. Sebab, ini erat kaitannya dengan bagaimana pertanyaan disusun. Studi lanjutan dari tim yang sama, yang terbit di jurnal Communications Psychology pada Mei 2026, menemukan bahwa jika pertanyaan soal pengalaman tak lazim ini disandingkan dengan skrining kesehatan jiwa terlebih dahulu, orang jadi lebih enggan mengakui pernah mengalaminya.

Fenomena ini disebut sebagai paradoks prevalensi. Sederhananya, jawaban seseorang ketika ditanya pernah mengalami sesuatu atau tidak bukan cuma tergantung pada apakah mereka pernah mengalaminya, melainkan juga soal apakah mereka merasa nyaman mengakui bahwa hal itu pernah terjadi, dan apakah pertanyaan yang diajukan terasa netral atau malah terkesan menghakimi. Studi yang sama juga menemukan bahwa pilihan jawaban yang menyatakan frekuensi, misalnya "pernah sekali" sampai "lebih dari sepuluh kali", cenderung menghasilkan angka prevalensi yang jauh lebih tinggi dibanding sekadar "ya" atau "tidak".

Artinya, ketika sebuah studi bicara soal berapa persen orang pernah mengalami sesuatu yang tak lazim, angka itu perlu dibaca dengan hati-hati, termasuk angka 51 persen soal dampak positif jangka panjang tadi. Bukan berarti angka itu salah, tapi cara bertanya, konteks penelitian, dan bagaimana pertanyaan itu dibingkai, semuanya ikut membentuk hasil akhirnya.

Cara pandang yang menekankan aspek positif dari pengalaman paranormal semacam ini sebenarnya cukup baru. Selama beberapa dekade sebelumnya, pengalaman semacam ini lebih sering dikaitkan dengan gangguan jiwa atau trauma masa lalu. Salah satu studi rujukan utama di bidang ini adalah penelitian Colin Ross dan Shaun Joshi yang terbit di Journal of Nervous and Mental Disease pada 1992.

Ross dan Joshi mewawancarai 502 warga Winnipeg, Kanada, dan menemukan bahwa pengalaman paranormal atau ekstrasensori cukup umum terjadi di populasi umum, bukan cuma pada pasien gangguan jiwa. Namun, mereka juga menemukan bahwa orang dengan riwayat kekerasan fisik atau seksual semasa kecil melaporkan pengalaman paranormal jauh lebih banyak; rata-rata 2,3 pengalaman dibanding 1,2 pengalaman pada mereka yang tidak punya riwayat trauma serupa. Dari situ, keduanya mengusulkan bahwa pengalaman paranormal bisa jadi merupakan bentuk disosiasi, semacam mekanisme pertahanan jiwa yang muncul akibat trauma.

Penjelasan berbasis neurologi juga turut mencuat di arus utama, terutama lewat kerja Michael Persinger, seorang psikiater neuro yang meneliti kaitan antara lobus temporal otak dengan pengalaman paranormal selama beberapa dekade. Persinger menemukan bahwa orang dengan aktivitas lobus temporal yang lebih sensitif cenderung melaporkan lebih banyak pengalaman semacam ini, dan bahkan berhasil memicu "sensasi kehadiran" pada partisipan penelitiannya lewat medan magnet lemah yang diaplikasikan ke bagian kanan otak.

Ilustrasi Kesurupan

Ilustrasi Kesurupan. FOTO/iStockphoto

Dua pendekatan itu, baik yang berbasis trauma maupun berbasis neurologi, sama-sama memperlakukan pengalaman paranormal sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan, seolah pengalaman semacam ini adalah penyimpangan. Cara pandang ini pelan-pelan mulai bergeser dalam dua dekade terakhir, terutama berkat penelitian dari kelompok peneliti di Manchester Metropolitan University dan Liverpool John Moores University di Inggris, yang dipimpin oleh Neil Dagnall, Andrew Denovan, dan Kenneth Drinkwater.

Salah satu studi mereka yang terbit di jurnal Frontiers in Psychology pada Juni 2026 memakai metode analisis jaringan untuk melihat bagaimana keyakinan pada hal-hal paranormal berhubungan dengan kesejahteraan psikologis pada 1.430 orang dewasa di Inggris. Hasilnya, keyakinan paranormal ternyata berada di posisi pinggiran dalam jaringan kesejahteraan psikologis seseorang, bukan komponen inti. Namun, meski lemah, posisi itu tetap berhubungan positif dengan optimisme dalam hidup.

Dagnall dan koleganya menyimpulkan bahwa keyakinan paranormal berfungsi sebagai semacam kerangka interpretatif yang membantu orang menghadapi ketidakpastian hidup, lewat jalur optimisme dan harapan akan masa depan. Ini berbeda jauh dari anggapan lama bahwa keyakinan semacam ini otomatis menandakan pikiran yang bermasalah.

Meski begitu, penelitian yang sama juga tidak serta merta menyimpulkan bahwa keyakinan paranormal selalu tanpa risiko. Studi lain dari kelompok peneliti yang sama menemukan bahwa dampak keyakinan paranormal terhadap kesejahteraan seseorang sangat bergantung pada faktor lain yang menyertainya.

Mereka membagi 1.736 responden ke dalam tiga kelompok berdasarkan tingkat keyakinan paranormal dan gejala psikopatologi. Kelompok dengan keyakinan paranormal sedang tapi disertai gejala psikopatologi tinggi ternyata melaporkan stres yang lebih besar dan kepuasan hidup yang lebih rendah dibanding dua kelompok lainnya, meski tingkat keyakinan paranormal di ketiga kelompok itu sebenarnya tidak jauh berbeda. Artinya, bukan keyakinan paranormalnya yang jadi biang keladi, melainkan faktor psikologis lain yang menyertainya. Ketika faktor semacam itu tidak ada, keyakinan paranormal tampaknya memang tidak membawa dampak buruk yang berarti.

Riset dari kelompok yang sama juga menemukan bahwa tidak semua jenis keyakinan paranormal punya level yang setara. Dalam studi yang terbit di PLOS One pada November 2024, Drinkwater, Denovan, dan Dagnall memisahkan keyakinan paranormal menjadi dua kategori menggunakan Revised Paranormal Belief Scale. Kategori pertama disebut Traditional Paranormal Belief, yang mencakup keyakinan pada hal-hal seperti setan dan sihir, sementara kategori kedua disebut New Age Philosophy, yang mencakup keyakinan pada kemampuan psikis dan komunikasi dengan roh.

Dari 3.084 responden yang disurvei, kelompok dengan skor Traditional Paranormal Belief lebih tinggi ternyata cenderung melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi sekaligus kemampuan mengatasi masalah yang lebih rendah. Sebaliknya, skor New Age Philosophy sama sekali tidak berhubungan dengan kedua hal itu. Tim peneliti menduga ini terjadi karena Traditional Paranormal Belief lebih terkait dengan rasa cemas terhadap kekuatan eksternal yang tidak bisa dikendalikan, sementara New Age Philosophy lebih berorientasi pada kontrol personal.

Ada juga pertanyaan soal apakah keyakinan paranormal berhubungan dengan fungsi kognitif seseorang. Charlotte Dean dan koleganya di University of Hertfordshire meninjau 71 studi dengan total lebih dari 20 ribu partisipan soal ini. Mereka menemukan bahwa keyakinan paranormal memang cukup konsisten berhubungan dengan gaya berpikir yang lebih intuitif dan bias konfirmasi yang lebih tinggi, serta kemampuan yang lebih lemah dalam menilai probabilitas acak.

Namun, Dean dan timnya sengaja menghindari istilah "defisit kognitif" untuk menggambarkan temuan ini. Mereka justru mengusulkan bahwa perbedaan performa kognitif ini kemungkinan besar bersumber dari satu faktor yang sama, yaitu fungsi eksekutif otak dan kecerdasan cair, alih-alih tanda adanya kerusakan atau kekurangan permanen pada orang yang percaya hal-hal paranormal. Istilah "defisit" menyiratkan sesuatu yang hilang secara permanen, sementara belum ada bukti kuat bahwa performa kognitif orang-orang ini memang selalu lebih rendah di segala situasi dan sepanjang waktu.

Jika semua studi ini digabungkan, terlihat sebuah pola bahwa pengalaman paranormal itu sendiri cenderung netral. Apakah pengalaman itu pada akhirnya terasa baik atau buruk bagi seseorang, tampaknya lebih ditentukan oleh bagaimana dia memaknainya, budaya seperti apa yang membentuk kerangka pemaknaan itu, dan apakah ada kondisi psikologis lain yang menyertainya.

Fischer dan timnya sendiri, dalam studi utama yang jadi pijakan artikel ini, menekankan poin serupa. Bukan jenis pengalamannya yang paling menentukan dampak jangka panjang seseorang, melainkan proses pemaknaan yang dilakukan setelahnya. Seseorang yang mendengar suara tanpa sumber jelas bisa jadi memaknainya sebagai pesan dari leluhur, gangguan jiwa yang perlu ditangani, atau sekadar kebetulan yang tidak berarti apa-apa. Pilihan pemaknaan itulah yang tampaknya paling menentukan apakah pengalaman itu pada akhirnya jadi beban atau justru jadi sesuatu yang membuat hidup terasa lebih bermakna.

Ini sekaligus menjadi bukti bahwa seruan meninggalkan logika mistika perlu ditarik ulang batasnya. Menolak menyandarkan penyelesaian masalah konkret pada jalan spiritual semata jelas penting, sebagaimana yang dimaksud Tan Malaka. Namun, menghakimi orang yang bercerita soal pengalaman tak lazimnya sebagai orang yang "belum move on dari logika mistika" adalah hal yang sama sekali berbeda. Riset-riset ini memang tidak lantas membenarkan eksistensi "makhluk gaib", tetapi dari sana kita bisa melihat bahwa pengalaman itu nyata adanya meski pemaknaan serta impaknya bisa begitu berwarna.

Baca juga artikel terkait MISTIS atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi