tirto.id - Sepanjang hidupnya yang singkat, Anna Katharina Ehmer tak mampu berbicara sepatah kata pun, apalagi bergerak dan berjalan sekehendak hatinya. Bahkan, ia terlihat tak pernah memedulikan lingkungan sekitarnya. Yang ia lakukan acap kali hanya menatap satu titik selama berjam-jam, lalu tiba-tiba hiperaktif sepanjang waktu berikutnya; melahap makanan yang disuapkan, kemudian mengotori badannya sendiri seketika; serta berteriak dengan suara tak dikenal, lalu tiba-tiba tertidur.
Käthe—begitu ia biasa dipanggil—merupakan pasien disabilitas mental paling parah yang pernah tinggal di Hephata, institusi psikiatri dan perawatan bagi penyandang disabilitas mental di Schwalmstadt, Jerman. Ia ditinggal sendirian di fasilitas medis tersebut sejak usia 6 tahun, tanpa orang tua, apalagi kerabat. Bapak-ibunya menetap di Kassel, yang jaraknya 50 kilometer dari tempatnya ditinggalkan.
Nestapanya tak hanya itu. Perempuan kelahiran 30 Mei 1895 tersebut juga menderita tuberkulosis tulang, dan karena lekas memburuk, kakinya terpaksa diamputasi. Sayangnya, meski kakinya sudah dipotong, penyakitnya tak mereda dan terus menggerogoti tulang di bagian tubuhnya yang lain. Belum lagi penyakit meningitis berat yang menyebabkan kerusakan parah pada otak Käthe.
Penyakit terakhir disebut itulah yang dipandang oleh dokter dan pendampingnya sebagai penyebab dirinya tak mampu mengenali lingkungan sekitar, apalagi menghafal dan memahaminya. Begitu juga soal kemampuannya berbicara yang nihil.
Selama 21 tahun tinggal di Hephata, "melewatkan" masa kanak-kanak dan remaja, tak ada tanda-tanda kondisinya membaik, termasuk soal penyakit tuberkulosis tulang dan meningitis parah yang dideritanya. Begitulah yang digambarkan oleh Friedrich Happich dan Dr. Wilhelm Wittneben yang bekerja di sana. Keduanya pun melakukan pendampingan dan tanggung jawab lain seperti biasa selama bertahun-tahun, termasuk memantau Käthe.
Suatu hari, suasana aneh menyelubungi Hephata. Kabar burung tak pelak bertebaran, terutama yang berkaitan dengan hal mistis. Walakin, misteri tetap tak tersingkap.
Pada 1 Maret 1922, seorang dokter berlari mendatangi Happich dan meminta tolong. Ia diminta segera pergi ke kamar Käthe sebab sang pasien tengah sekarat. Tak ada yang tahu sesuatu yang kemudian terjadi di depan mata mereka.
Sesampainya di ruangan, yang terlihat bukan Käthe yang napasnya tersengal, tubuhnya kejang, atau teriakan tak jelas, seperti halnya yang umum terlihat saat orang sekarat. Mereka menyaksikan hal di luar nalar.
Käthe, yang menurut laporan pantauan mereka bertahun-tahun tak pernah mengucapkan sepatah kata pun, tetiba menyanyikan lagu untuk dirinya sendiri. Dan itu bukan lagu biasanya, melainkan lagu kematian.
"Di manakah jiwa menemukan rumahnya, tempat kedamaiannya? Damai, damai, kedamaian surgawi!"
Begitu kira-kira syair yang ia nyanyikan, sebagaimana ditulis oleh Peter Ringger dalam laporannya, "Die Mystik im Irrsinn" (1958: 220). Käthe seolah memahami bahwa ajal sedang merenggut dan justru menyambutnya.
Setelah menyanyikan lagu tersebut selama sekira setengah jam, Käthe meninggal dengan tenang.
Para saksi mata, termasuk perawat dan dokter yang merawat Käthe, tak kuasa menahan air matanya saat menyaksikan keajaiban tersebut.
Jangankan fakta bahwa Käthe mengalunkan lagu itu pada momen tepat, mendengar syair tersebut dinyanyikan dengan jelas dan dapat dimengerti saja sudah mengejutkan mereka. Sebab, sebagaimana digambarkan di atas, bertahun-tahun lamanya perempuan itu tak mampu mengucapkan satu kata pun, juga tak pernah belajar.

Kejadian itu bukanlah satu-satunya yang dilaporkan Happich. Sebagaimana dihimpun oleh Ringger dalam tulisannya, Happich menceritakan studi kasus lain yang menimpa George, pemuda dengan gangguan mental parah yang sudah 14 tahun tinggal di Hephata.
Selama diasuh di fasilitas kesehatan mental itu, George tak tak pernah mampu berkomunikasi dengan lancar. Ia bahkan sukar mengenali para pengasuhnya.
Namun, suatu ketika menjelang ajal, para perawat sekonyong-konyong mendengar nyanyian lagu kematian, yang belakangan diketahui keluar dari mulut George.
Kali ini, pasien bertahan hidup cukup lama hingga keesokan harinya. Namun tak lebih dari itu. Pagi hari, George tiba-tiba mengatakan kalimat lengkap dan jelas untuk pertama kalinya, bahwa ia akan "pergi ke surga." Ia bahkan sempat menjabat tangan para pengasuhnya sebelum meninggal.
Jauh sebelumnya, Maximilian Perty pernah melaporkan kejadian serupa pada 1861. Lewat tulisannya, Die mystischen Erscheinungen der menschlichen Natur (1872), ia mengisahkan peristiwa yang dialami oleh pemuda bernama Beck dengan kemampuan intelektual sangat rendah. Dengan tendensi tak etis lagi merendahkan, Perty menggambarkan bahwa kemampuan si pemuda bahkan tidak melampaui kemampuan "dari seekor anjing atau monyet" (hlm. 60-61)
Dengan keterbatasan mental dan kognisi itu, orang sekitarnya tidak ada yang menyangka bahwa suatu hari Beck mampu melakukan sesuatu yang mustahil baginya. Di usia 32 tahun, pada 1764, ia tiba-tiba memperoleh kembali kesadarannya yang jernih. Tak cuma sehari, melainkan empat hari! Ia bahkan beberapa kali mengucapkan perkataan yang terang, layaknya orang tanpa gangguan kognisi, sebelum meninggal pada hari keempat.
Misteri Kesadaran yang Mampir Lantas Lesap
Laporan Perty itulah salah satu yang—baik secara langsung maupun tidak—mengilhami para ahli modern mengistilahkan kondisi unik tersebut sebagai terminal lucidity. Dalam tulisannya, Perty menggambarkan temuannya dengan frasa kam in den letzten vier Tagen zu klarem Bewußtsein, yang singkatnya berarti mencapai kesadaran yang jernih.
Walakin, selama berabad-abad, fenomena itu tak pernah terjelaskan di bidang medis secara pakem.
Michael Nahm dan Bruce Greyson, yang mencoba mengurai studi kasus tersebut lewat artikel Journal of Death and Dying (2014), juga tak menemukan penjelasan pasti. Yang ada hanya hipotesis.
Menurut mereka, muskil menilai secara pasti keabsahan laporan kematian Käthe. Masih ada celah kemungkinan bahwa Happich dan Wittneben menulis kisah itu untuk mendukung agenda dan pandangan pribadi. Apalagi, keduanya punya hubungan persahabatan cukup erat.
Sebagai misal, pada 1926, Happich kali pertama menulis kisah terminal lucidity menggunakan kasus-kasus yang, menurut klaimnya, ia saksikan sendiri. Temuan itu pula yang mendukung metode diagnostik dan terapi yang sedang ia kembangkan kala itu.
Happich dan Wittneben juga pernah menggunakan studi kasus Käthe sebagai senjata untuk menolak praktik eutanasia yang tengah menguar kuat di Jerman pada awal 1930-an. Apalagi, nama mereka sudah sohor dan kepakarannya dihormati pada dekade tersebut. Artinya, ada kemungkinan mereka "memang mengada-ngada kasus ini."
Katakanlah Happich dan Wittneben memang mengarang cerita. Dengan asumsi itu, berarti keduanya mesti menyiapkan selama bertahun-tahun sebelumnya, menyebarkan dari mulut ke mulut, dan mesti repot-repot memublikasikannya di jurnal ilmiah.
Lantaran tak ada bukti pasti, Nahm dan Greyson tak menampik adanya kemungkinan bahwa kejadian terminal lucidity yang menimpa Käthe memang fakta. Sebab, kasus tersebut memang dikisahkan dari berbagai sumber dalam berbagai konteks. Terlebih lagi, tak cuma Käthe yang dikisahkan, tetapi juga yang lain, termasuk yang dikisahkan oleh Perty.
Namun, pendapat terakhir tersebut segera ditampik oleh Boris Alejandro Chiriboga-Oleszczak, seorang ahli dari Rumah Sakit Neuropsychiatric Hospital di Lublin.

Menurut analisis literaturnya, yang diterbitkan diCurrent Problems of Psychiatry (2017), kebanyakan penelitian terkait terminal lucidity hanya berfokus pada cakupan fenomenologisnya, bersumber dari keterangan para saksi dan, mentok-mentoknya, laporan-laporan kuno. Studi macam itu belum memenuhi kriteria medis yang berlaku kiwari.
Tak hanya itu. Sebagaimana juga diungkapkan Nahm dan Greyson, para peneliti yang menuliskan laporan-laporan lawas soal terminal lucidity menuai banyak kritik dan dicurigai "mengada-ada." Mereka dianggap memanfaatkan kesenjangan dalam pengetahuan ilmiah untuk membenarkan klaim-klaim nirilmiah.
Kemungkinan lainnya, seturut hemat Boris, para "saksi" di masa lalu itu menuliskan kesaksian yang hiperbolis. Misalnya, menggambarkan keadaan delirium (kebingunan akut/mengingau) dengan pengisahan yang terstruktur dan dramatis. Dugaannya, mereka melakukannya karena pengaruh emosional yang sangat kuat.
Yang jelas, tidak cukup hanya dengan kesaksian dan "cerita turun-temurun" untuk menyebut suatu fenomena sebagai persoalan ilmiah. Perlu penerapan prosedur yang terstandarisasi untuk memperoleh kasus-kasus tepercaya.
Boris sebenarnya menyadari, eksperimen atau penelitian ihwal terminal lucidity berpotensi menimbulkan persoalan etis serius. Bayangkan, seseorang hendak meninggal dan hanya punya waktu beberapa hari, bahkan beberapa jam saja, sebelum akhirnya wafat. Namun, mereka justru perlu "diteliti" oleh saintis.
Kalaupun mau, menurut Boris, penting untuk memikirkan metode yang paling tidak invasif atau menggunakan elektroensefalografi. Itu pun kalau kondisi pasien memungkinkan dan keluarga mengizinkan.
Lain daripada itu, banyak pula bermunculan hipotesis soal kesadaran yang jernih. Ada yang bilang itu berkaitan dengan lonjakan gelombang otak. Ada yang berteori bahwa itu berkaitan dengan pelepasan neurotransmitter berskala besar. Ada yang bilang itu merupakan peristiwa lesapnya mekanisme "Rem" otak. Bahkan, ada ahli yang bilang itu terjadi ketika jalur alternatif di otak sedang aktif tiba-tiba, yang berbeda dari cara kerja otak normal.
Dua abad silam, orang-orang mungkin menganggapnya sebagai kekuatan gaib, ramalan, bahkan fenomena hantu, sebagaimana digambarkan oleh Perty (hlm. 60). Bahwasanya pada jam-jam terakhir menjelang kematian, semua hambatan patogolis yang menyengsarakan seseorang bertahun-tahun dapat tetiba lesap, lalu melahirkan suatu "kehidupan batin yang begitu indah." Seolah-olah, semua kesengsaraan selama di dunia dapat sedikit terobati dalam sekejap malam.
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































