tirto.id - Dalam beberapa tahun terakhir, perdebatan soal makan sendirian, terutama di restoran atau kafe, sering kali muncul di media sosial. Banyak pihak masih menilai orang yang makan sendiri itu menyedihkan, sampai-sampai seruan untuk "normalize" atau menormalisasi makan sendirian pun muncul sebagai narasi tandingan.
Rupanya, tren untuk mulai sering makan sendirian di restoran pun terwujud di dunia nyata. Menurut survei sebuah perusahaan reservasi restoran online, ada kenaikan reservasi makan untuk satu orang hingga 60 persen dan ini sudah terjadi sejak awal 2024. Mayoritas yang melakukannya adalah milenial dan gen z dengan persentase 68 persen.
Para ahli berpendapat makan sendirian punya sejumlah manfaat. Pertama, menunjukkan kemandirian. Kedua, memaksimalkan metode mindful eating, yakni cara menyantap makanan dengan kesadaran penuh. Cara ini bisa membiarkan tubuh mengenali berbagai sinyal, salah satunya mengenali rasa kenyang untuk menghindari overeating. Terakhir, makan sendirian bisa membuat seseorang dengan diet khusus (seperti vegetarian) lebih bebas memilih makanannya.
Namun, makan sendirian tidak selamanya positif, terutama jika ini terjadi pada orang lanjut usia (lansia). Studi di Australia, misalnya, menemukan kaitan antara makan sendirian pada lansia dengan asupan nutrisi yang buruk dan meningkatnya risiko isolasi sosial.
Para peneliti yang terlibat dalam studi tersebut tidak langsung melakukan eksperimen, melainkan mengumpulkan studi-studi yang sebelumnya sudah dilakukan untuk memastikan kaitan antara makan sendirian pada lansia dengan risiko-risiko yang mengintai. Total, ada 24 makalah yang dikaji oleh para ilmuwan di Flinders University.
Dalam kajian itu, yang dimaksud dengan lansia adalah orang berusia 65 tahun ke atas. Makalah yang mereka kaji berasal dari berbagai negara, mulai dari Swedia, Jepang, hingga Amerika Serikat. Dari sana ditemukan bahwa makan sendirian berkorelasi dengan rendahnya kualitas asupan dan variasi makanan, rendahnya konsumsi buah, sayur, serta daging, dan meningkatnya risiko penurunan berat badan serta kerapuhan.
Soal menurunnya kualitas asupan ini bisa dilihat langsung pada hasil riset yang dilakukan di Swedia. Dalam studi tersebut, para peneliti dari Uppsala University mendapati orang berusia 70-75 tahun di Swedia cenderung lebih malas makan sayuran, lebih sering makan makanan siap saji, dan frekuensi makan per harinya lebih rendah. Sisi positifnya, orang-orang tua ini juga lebih jarang mengonsumsi makanan dan minuman manis.

Para peneliti menyadari hasil temuan mereka tidak serta-merta berarti kualitas makan para lansia yang makan sendirian jadi bisa dibilang buruk, terutama karena asupan lain seperti buah-buahan dan ikan tetap terjaga. Ditambah lagi, Swedia adalah negara yang penduduknya memang cenderung individualistis. Akan tetapi, mereka juga tidak menutup kemungkinan bahwa pola makan yang mereka temukan bisa mengakibatkan malnutrisi atau gangguan kesehatan lain, di mana frekuensi makan adalah sesuatu yang krusial.
Di Korea Selatan, ada pula studi yang menyoroti makan sendirian pada lansia. Menggunakan data Korea National Health and Nutrition Examination Survey (KNHANES) 2016–2020 dengan total 7.037 responden, para peneliti menemukan sejumlah fakta yang bisa dibilang mengkhawatirkan.
Tingkat kerawanan pangan moderat hingga berat meningkat dari 3,41 persen pada kelompok “makan bersama” menjadi 7,86 persen pada kelompok “3x makan sendirian/hari”, atau selisih sekitar 4,45 persen. Asupan buah dan sayur juga menurun, dari rata-rata 301,2 gram pada kelompok “makan bersama” menjadi 266,2 gram pada kelompok “3x makan sendirian/hari”. Selain itu, analisis skor PHQ-9 memperlihatkan bahwa kelompok “3x makan sendirian/hari” memiliki risiko depresi 1,775 hingga 2,464 kali lebih tinggi dibanding mereka yang makan bersama.
Dari menurunnya kualitas asupan serta berkurangnya frekuensi ini, konsekuensi pertama yang berpotensi muncul adalah penurunan berat badan. Namun, ini bukan penurunan berat badan dalam artian positif, melainkan berkaitan dengan malanutrisi.
Para peneliti Flinders University tadi mempelajari sejumlah temuan yang berasal dari Jepang. Salah satunya mengungkap risiko nyata penurunan berat badan akibat seringnya makan sendirian bagi para lansia. Para lansia di Jepang yang jarang makan bersama menghadapi risiko penurunan berat badan hingga lebih dari 10 persen. Temuan lainnya, masih dari Jepang, menyebutkan bahwa mereka yang makan sendirian cenderung lebih jarang mengonsumsi daging dan sayur.
Temuan-temuan tersebut mengkhawatirkan karena, pada lansia, penurunan berat badan yang tidak disengaja (unintentional weight loss) meningkatkan risiko terkena penyakit (morbiditas) serta kematian (mortalitas). Makalah terbitan American Family Physician ini menyebutkan, ada sejumlah penyakit serius yang bisa menyerang lansia yang mengalami unintentional weight loss, mulai dari kanker, penyakit kardiovaskular, hingga gangguan psikososial.
Dalam makalah itu juga disebutkan bahwa unintentional weight loss umumnya disebabkan oleh masalah-masalah seperti kecanduan alkohol, kesulitan finansial, kesulitan mendapatkan makanan karena cacat tubuh tertentu. Namun, faktor-faktor seperti hilangnya lingkar pertemanan serta keluarga juga tak kalah berbahaya karena itu semua bisa membuat seseorang merasa depresi dan kesepian, sehingga asupan nutrisinya berkurang drastis.

Sama seperti makalah tersebut, para peneliti dari Flinders University juga menyatakan bahwa salah satu solusi dari permasalahan ini adalah dengan menghubungkan para lansia tdengan program makan komunitas (Meals on Wheels dalam konteks Amerika Serikat).
"Dengan mengenali kaitan antara isolasi sosial dengan nutrisi, profesional di bidang kesehatan bisa menghubungkan lansia dengan program makan komunitas atau kesempatan makan bersama yang berpotensi membuat perbedaan signifikan," ujar salah satu peneliti Flinders yang terlibat, Dr Alison Yaxley.
Mengapa para lansia itu perlu teman saat makan? Salah satu jawabannya adalah demi menggugah selera makan. Temuan dari Jepang menunjukkan lansia yang makan sendirian berpotensi kehilangan selera 1,75 kali lebih besar. Salah satu kelompok lansia yang paling rentan kehilangan selera makan adalah mereka yang baru saja ditinggal mati oleh pasangannya.
Temuan-temuan ini tidak semuanya mempelajari para lansia yang sudah tidak punya siapa-siapa. Lagi-lagi di Jepang, para lansia yang masih punya keluarga pun turut diteliti. Para lansia yang masih punya keluarga, atau hidup dengan orang lain, tetapi lebih sering makan sendiri punya potensi lebih besar untuk mengalami frailty, atau situasi di mana para lansia secara gradual kehilangan fungsi tubuhnya sehingga kesulitan untuk sembuh dari penyakit apa pun.
Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa makan sendirian bukan hal positif bagi para lansia. Mereka punya kecenderungan untuk makan lebih sedikit makanan bergizi, makan lebih jarang dari biasanya, dan itu semua berpotensi membuat kondisi tubuh mereka melemah.
Bagi para lansia yang sudah tak lagi memiliki sanak saudara, tentu saja negara harus bertanggung jawab atas mereka. Indonesia sendiri sudah memiliki berbagai undang-undang yang mengatur hal tersebut mulai dari UUD 1945 Pasal 34 ayat (1), UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 28 Tahun 2024 tentang Pelaksanaan Undang Undang Kesehatan No. 17 Tahun 2023.
Sementara itu, lansia-lansia lainnya jelas merupakan tanggung jawab keluarga masing-masing. Dengan memahami pentingnya tidak membiarkan lansia makan sendiri, kita bisa melakukan berbagai tindakan pencegahan untuk menghindarkan orang-orang tua kita dari berbagai risiko yang mengintai.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































