Menuju konten utama
GWS

Di Balik Bebalnya Orang-Orang Soal Misinformasi Kesehatan

Seseorang yang bebal memercayai informasi salah tak bisa dihakimi sepihak. Itu berkaitan dengan psikologi korban hoaks juga tanggung jawab sumber informasi.

Di Balik Bebalnya Orang-Orang Soal Misinformasi Kesehatan
Ilustrasi Hoaks Vaksin. foto/Istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Siapa pun yang mengikuti Tirta Mandira Hudhi di media sosial pasti familiar dengan antiknya yang doyan misuh-misuh dan marah-marah. Ini memang sudah jadi bagian dari citra dirinya. Namun, kemarahan yang diumbar lewat media sosial medio Januari 2026 lalu terasa berbeda. Jika biasanya segala umpatan tersebut disampaikan dalam balutan canda, kali ini alumnus Universitas Gadjah Mada itu tampak betul-betul muntab.

"Saya terpaksa banget buat video agak ngegas ini gara-garane sejawat saya, senior-senior saya, dosen-dosen saya di bidang perjantungan digoblok-goblokke wong sing ra dong, bajingan," ucap Tirta, dikutip dari Jawa Pos.

Duduk perkaranya, Tirta mendapati seorang dokter spesialis jantung bernama Dwita Rian Desandri dicemooh pengguna X setelah mengunggah cuitan, yang menjelaskan bahwa GERD tidak menyebabkan penyakit jantung. Sontak, Tirta pun naik darah, balas memaki si pembuat komentar, sebelum membuat video edukatif yang menjelaskan bahwa ucapan Dwita itu benar.

Cerita di atas adalah satu fragmen yang menggambarkan betapa berbahayanya misinformasi, terutama di bidang kesehatan. Bayangkan saja ada seorang awam, yang bebal memercayai informasi ngawur entah diperoleh dari mana, berani mencemooh pakar yang menghabiskan bertahun-tahun mempelajari sesuatu hingga akhirnya disebut ahli. Bayangkan apabila orang yang berpegang teguh pada misinformasi itu kemudian melakukan disinformasi kepada orang lain.

Dan celakanya, realitas di Indonesia memang separah itu.

Fenomena misinformasi di Indonesia sudah menjamur dan terjadi bertahun-tahun, khususnya di bidang kesehatan. Sejak pandemi Covid-19, terutama, hoaks kesehatan bertebaran di mana-mana.

Hingga akhir 2023, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) telah menangani 12.547 isu hoaks, dengan 2.357 di antaranya merupakan hoaks terkait kesehatan. Dengan kata lain, hampir satu dari lima hoaks yang beredar di Indonesia membahas topik medis.

Setelah selama bertahun-tahun dijejali informasi yang tak jelas kebenarannya, apakah lantas proses edukasi bisa berjalan efektif untuk memberantasnya? Bahkan, dalam kasus tertentu, koreksi informasi justru membuat seseorang makin ngeyel dan meneruskan cara salah yang diyakininya itu.

Ilustrasi Hoaks Vaksin

Ilustrasi Hoaks Vaksin. foto/Istockphoto

Untuk memahami fenomena ini, mari kita bayangkan skenario sederhana. Sebut saja tokohnya Alex. Ketika terinfeksi COVID-19, Alex membaca unggahan yang menyatakan bahwa mengonsumsi bawang putih bisa membuatnya sembuh. Alex pun rutin makan bawang putih sejak itu. Namun beberapa hari kemudian, ia membaca artikel lain yang membantah klaim sebelumnya: "COVID-19 bisa sebabkan kematian dan bawang putih tidak bisa menyembuhkannya."

Logikanya, setelah membaca koreksi tersebut, Alex seharusnya berhenti mengonsumsi bawang putih, bukan? Tapi dalam banyak kasus nyata, orang-orang seperti Alex justru terus melakukannya.

Ini terjadi bukan karena mereka bodoh, melainkan karena fenomena psikologis yang disebut Continued Influence Effect (CIE) atau Efek Pengaruh Berkelanjutan. Misinformasi terus memengaruhi cara berpikir dan mengambil keputusan seseorang, bahkan setelah informasi tersebut dibantah dengan jelas dan kredibel.

CIE bukan fenomena langka. Banyak studi ilmiah mendokumentasikan pola ini. Di AS, misalnya, 96 persen orang dewasa melaporkan pernah mendengar setidaknya satu dari sepuluh klaim misinformasi medis yang umum beredar. Bahkan, empat tahun setelah studi-yang-mengklaim-vaksin-menyebabkan-autisme dicabut karena terbukti salah dan penuh konflik kepentingan, 20-25 persen orang masih percaya ada kaitan antara vaksin dan autisme.

Konsekuensinya bisa fatal. Karena misinformasi soal kemampuan alkohol membunuh virus, ratusan orang meninggal dan ribuan dirawat di rumah sakit. Bahkan, studi di Kanada menyebut, penularan Covid-19 bisa berkurang drastis jika tak ada misinformasi.

Lalu, mengapa orang-orang tetap percaya informasi salah, meskipun sudah ada koreksinya?

Ada tiga penjelasan ilmiah yang mendasari fenomena CIE ini. Pertama, bahwasanya ketakutan memperkuat kepercayaan seseorang terhadap solusi palsu. Penelitian terbaru dari Universitas Tianjin Normal mendapati, ketika koreksi misinformasi kesehatan disajikan dengan penjelasan tentang penyakit menakutkan, orang justru menjadi lebih percaya pada obat palsu tersebut.

Mari kita kembali ke contoh Alex dan bayangkan dua versi koreksi yang berbeda:

Versi A (tanpa menakut-nakuti): "Bawang putih tidak terbukti efektif mencegah COVID-19."

Versi B (dengan menakut-nakuti): "COVID-19 adalah penyakit berbahaya yang dapat melemahkan sistem imun tubuh dan bawang putih tidak terbukti efektif menyembuhkannya."

Secara intuitif, kita mungkin berpikir Versi B lebih efektif karena informasinya lebih lengkap. Namun, penelitian menunjukkan sebaliknya. Orang yang membaca Versi B justru lebih yakin bawang putih bisa membantu.

Para peneliti menyimpulkan, ketika koreksi misinformasi disertai dengan pesan yang memicu ketakutan tentang suatu penyakit, skor kepercayaan terhadap obat palsu meningkat secara signifikan—0,96 poin lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Yang lebih mengkhawatirkan, niat membeli produk palsu tersebut juga meningkat 0,73 poin.

Kuncinya terletak pada hal yang para psikolog sebut perceived efficacy atau persepsi keampuhan. Ketika seseorang membaca tentang penyakit yang menakutkan, diikuti dengan menyebutnya obat atau solusi (meskipun untuk membantahnya), otak justru memperkuat asosiasi antara masalah dan solusi tersebut. Koreksi yang bermaksud membantah malah berfungsi seperti iklan: "Ada masalah besar, dan ini adalah solusinya!" Orang tetap percaya meski kalimat berikutnya menegaskan, "Tapi solusi ini tidak efektif."

Mekanisme tersebut bekerja melalui kepercayaan pada keampuhan solusi, bukan karena orang menjadi lebih takut pada penyakitnya. Perceived efficacy adalah mediator utama, sementara perceived threat (ketakutan terhadap penyakit) tidak berperan signifikan.

Dengan kata lain: koreksi dengan konteks menakutkan membuat Alex lebih yakin bawang putih ampuh, tanpa membuat Alex lebih takut pada COVID-19. Otak Alex fokus pada "mencari solusi" dan bawang putih, yang disebutkan berulang kali dalam konteks COVID-19, terdengar masuk akal baginya.

Kedua, bagaimana jika CIE sebenarnya adalah fitur penting bagi kelangsungan hidup manusia? Inilah argumen yang diajukan dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Cognition.

Kembali ke skenario Alex, mungkin kita dengan mudah mengatakan bahwa dia mestinya mematuhi pemberi koreksi yang punya penjelasan ilmiah. Namun, realitasnya tidak sesederhana itu di kepala Alex. Para peneliti menyebutnya temporal dependency atau ketergantungan temporal; koreksi (sumber kedua) selalu datang setelah misinformasi (sumber pertama), yang berarti pemberi koreksi bereaksi terhadap klaim sebelumnya.

Di sinilah CIE bermain: jika sumber kedua tahu akan adanya sumber pertama, mengapa keduanya bertentangan? Kalau keduanya saling bertentangan, berarti setidaknya satu di antaranya salah, atau bahkan keduanya. Imbasnya, Alex pun memutuskan mengurangi kepercayaan pada kedua sumber tersebut. Secara matematis masuk akal untuk mengurangi kepercayaan pada kedua sumber. Akan tetapi, yang sering kali jadi korban malah sumber pemberi koreksi. Mengapa? Karena motivasi sumber kedua lebih "mencurigakan".

Sumber pertama memberikan klaim tanpa tahu akan ada bantahan. Sementara itu, sumber kedua membantah setelah mengetahui adanya klaim pertama. Ini membuka kemungkinan bahwa sumber kedua punya agenda tertentu, entah karena ingin menutupi kebenaran, ada tekanan politik atau komersial, atau mungkin sedang bersaing dengan sumber pertama.

Penanganan isu hoaks Pemilu 2024

Warga memeriksa kebenaran informasi melalui laman anti hoaks Kemenkominfo di Senayan, Jakarta, Kamis (4/12024). Kemenkominfo berhasil menangani 203 isu hoaks atau informasi bohong terkait Pemilu 2024 yang ditemukan dalam periode Desember 2022 hingga 2 Januari 2024 dengan sebaran di platform digital sebanyak 2.882 konten. ANTARA FOTO/Muhammad Ramdan/sgd/foc.

Ketiga, faktor emosi. Penelitian dari University of Michigan menemukan, ketika keterlibatan emosional tinggi, bukti statistik jauh kalah persuasif dibanding bukti anekdotal atau cerita personal. Dalam eksperimen mereka, orang lebih terbujuk testimoni dan pengalaman pribadi daripada data penelitian ilmiah.

Studi yang sama juga menyimpulkan, orang tetap akan melakukan sesuatu meski tahu bukti ilmiahnya lemah, selama hal tersebut sejalan dengan kepercayaan dan pengalaman pribadi.

Dalam salah satu eksperimen, partisipan mengakui bahwa bukti ilmiah untuk suatu intervensi pendidikan itu cacat, tapi mereka tetap memilih menerapkannya karena dianggap lebih masuk akal dari pengalaman pribadi.

Penelitian tentang penyebaran misinformasi di media sosial juga mengonfirmasi pola ini. Konten yang memicu emosi kuat, baik berupa kemarahan, ketakutan, atau harapan, jauh lebih sering dibagikan daripada konten netral atau faktual. Algoritma media sosial pun turut memperparah situasi, dengan memprioritaskan konten berdasarkan keterlibatan serta konten yang mengundang emosi.

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk "memerangi" CIE dalam konteks koreksi informasi soal kesehatan?

Sedikit banyak, edukasi dr. Tirta sudah sesuai dengan teori-teori di atas, mulai dari edukasi berbalut komedi, landasan pengalaman sehari-hari, serta transparansi sumber (mengingat dia merupakan praktisi dan ahli kesehatan). Sebab, menurut WHO sendiri, tidak ada sosok yang lebih efektif dalam memberikan penjelasan dan edukasi selain para profesional di bidang kesehatan itu sendiri.

Baca juga artikel terkait LAWAN HOAKS atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - GWS
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin