15 Juli 1940

Robert Pershing Wadlow dan Riwayat Panjang Gigantisme

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah - 15 Jul 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Para ilmuwan telah meneliti gigantisme sejak abad ke-16. Sementara bukti paling tua terdapat pada mumi Firaun Sa-Nakht yang hidup sekitar tahun 2.700 SM.
tirto.id - Jumat pagi, 22 Februari 1918, menjadi hari istimewa bagi Harold Franklin dan Addie May. Pasangan itu dikaruniai buah hati setelah beberapa bulan menikah. Bayinya laki-laki, sehat, fisiknya sempurna, beratnya 3,8 kg. Mereka menamai anak pertamanya Robert Pershing Wadlow.

Seperti bayi pada umumnya, Wadlow hidup dengan kebiasaan berulang: menangis, minum ASI, dan tertidur. Dari bulan ke bulan, berat badan dan tingginya mulai bertambah. Menginjak usia 6 bulan, sesuatu yang berbeda terjadi pada fisiknya. Berat badannya sudah mencapai 13 kg, di luar kenormalan bayi seusianya yang pada umumnya berkisar 6-10 kg.

Saat ulang tahunnya yang pertama, ia sudah memiliki berat 20 kg dengan tinggi 92 cm. Memasuki sekolah dasar di usia 6 tahun, tingginya mencapai 152 cm. Tiga tahun kemudian beratnya mencapai 80 kg dan tinggi 180 cm. Bahkan pada usia tersebut, ia sudah bisa bertukar pakaian dengan ayahnya. Kondisi ini terus berlanjut dan membuat tubuh Wadlow menjulang dan melebar, berbeda dengan anak-anak seusianya.

Namun, pertumbuhan itu harus terhenti ketika ia meninggal akibat infeksi di kakinya pada 15 Juli 1940, tepat hari ini 82 tahun lalu. Di akhir hayat, Wadlow tercatat memiliki tinggi 2,72 m dan berat 199 kg. Angka ini membuat Guinness World Records menjadikannya sebagai manusia tertinggi di dunia. Rekor tersebut terus dipegang oleh Robert Wadlow sampai sekarang karena belum ada manusia yang bisa setinggi itu.

Riwayat Panjang Gigantisme

Sejak lama manusia memiliki gambaran tentang orang bertubuh besar, menjulang sangat tinggi dan di luar kenormalan, yang dalam bahasa medis modern disebut gigantisme dan akromegali. Biasanya, gambaran ini dibalut dengan mitos, sihir, dongeng, ataupun agama. Seperti penggambaran Goliath dan tokoh mitologi Yunani, Hercules, yang diinterpretasikan berperawakan sangat besar.

Para arkeolog menemukan bukti paling tua pada mumi Firaun dari Dinasti Ketiga bernama Sa-Nakht yang hidup sekitar tahun 2.700 SM. Mumi ini memiliki ukuran badan dan tengkorak lebih besar dan panjang dari manusia normal. Para ahli meyakini tingginya lebih dari 180 cm. Ini menjadi petunjuk awal tentang gigantisme dalam sejarah. Di wilayah lain, pada masa peradaban kuno, juga terdeteksi keberadaan manusia dengan fisik demikian, seperti kerangka manusia besar dari zaman Romawi Kuno yang berasal dari abad ke-3 Masehi.

Ilmuwan asal Belanda, Johannes Wier, adalah orang pertama yang membuat deksripsi klinis terkait gigantisme. Pada 1567, Wier menerbitkan risalah berjudul "Medicarum Observationum". Ia mendeskripsikan seseorang dengan sebutan Gygantea, merujuk pada orang yang kelewat besar dan tinggi, tetapi tidak menjelaskan penyebabnya.

Setelah Wier, Herder dalam “Acromegaly and Gigantism in The Medical Literature” (2009) mencatat 19 ilmuwan lain di berbagai wilayah di dunia yang turut menulis keberadaan orang dengan kondisi seperti itu, dari tahun 1567 sampai 1886. Mereka menyebut kondisi itu dengan sebutan bermacam-macam, seperti Ge´ant scrofuleux, prosopo-ectasia, macrosomia, dll, yang seluruhnya merujuk kepada orang dengan tubuh raksasa. Dari sejumlah deskripsi tersebut setidaknya ada dua alasan berbeda tentang penyebab gigantisme.

Para ilmuwan yang hidup dan menulis sebelum abad ke-19, menyebut gigantisme disebabkan oleh myxedema, TBC, sifilis, dan masalah tulang. Pendapat ini muncul karena pemahaman sistem endokrin atau sistem hormon tubuh belum berkembang.

Sementara para ilmuwan abad ke-19 mulai menganalisis bahwa gigantisme disebabkan oleh kelainan pada sistem endokrin manusia, tepatnya menyerang kelenjar hipofisis atau pituitari.

Kelenjar pituitari adalah kelenjar yang berfungsi memproduksi dan melepaskan hormon untuk sistem organ tubuh, termasuk hormon pertumbuhan. Tapi temuan itu tidak menjelaskan lebih lanjut penyebab kelainan pada pituitari. (Antonius Mammis, dkk, 2010, “Early Descriptions of Acromegaly and Gigantism and their Historical Evolution as Clinical Entities”).


Infografik Mozaik Robert Wadlow
Infografik Mozaik Robert Wadlow. tirto.id/Tino


Penyakit ini semakin sulit dipecahkan ketika Pierre Marie menemukan kasus baru dan berbeda. Ahli syaraf asal Prancis itu kedatangan dua orang pasien, berusia 37 dan 54 tahun, yang juga mengalami pertumbuhan fisik sangat cepat. Bedanya pertumbuhan itu terjadi ketika keduanya memasuki usia 25 tahun atau fase dewasa. Sebelum menginjak usia tersebut, mereka berukuran normal. Kasus ini tentu berbeda dengan gigantisme, ketika pertumbuhan cepat terjadi sejak bayi. Pada 1886, ia menyebut kelainan yang menyerang dua pasien itu sebagai acromegaly yang disebabkan oleh pembesaran kelenjar pituitari--untuk membedakan dengan gigantisme.

Pengamatan lebih saksama dilakukan oleh Harvey Curshing pada awal abad ke-20. Dokter bedah syaraf asal Amerika Serika ini, seperti dijelaskan dalam The Pituitary Body and Its Disorders: Clinical Status Produced by Disorders of the Hypophysis Cerebri (1913), berhasil mengidentifikasi penyebab gigantisme dan akromegali, yakni hiperfungsi kelenjar pituitari yang bisa saja disebabkan oleh tumor dan kelainan lain.

Tumor itu merangsang kelenjar untuk melepaskan hormon pertumbuhan yang membuat orang menjadi berukuran lebih besar dari semestinya. Singkatnya, ketika kelenjar yang terletak di otak itu bermasalah, maka produksinya akan terganggu. Hormon pertumbuhan akan terus diproduksi dan dilepas hingga mendorong cepatnya pertumbuhan fisik pada penderita.

Temuan ini menjadi alasan paling logis dari penyebab gigantisme dan akromegali, termasuk dalam kasus Robert Wadlow. Dua orang dokter, Behrens dan Barr, dari Washington University dan Rumah Sakit Barnes yang secara khusus meneliti kelainan pada fisik Wadlow selama setahun, juga sepakat dengan Curshing. Dalam tulisan keduanya di “Hiperpituitarism Beginning In Infancy” (1932), Wadlow didiagnosa mengalami hiperplasia kelenjar pituitari.

Sejak itu, wawasan tentang akromegali dan gigantisme menjadi lebih terang. Bersamaan dengan hal tersebut, dirumuskan pula upaya penanganannya untuk mencegah kelainan lebih parah. Inovasi kedokteran seperti neuroimaging, operasi bedah modern, dan radioterapi berkontribusi pada kemajuan untuk mengatur harapan hidup penderita akromegali dan gigantisme.

Baca juga artikel terkait RAKSASA atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fakhriansyah
(tirto.id - Humaniora)

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah
Penulis: Muhammad Fakhriansyah
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight