tirto.id - Bagi banyak kalangan, apalagi pekerja yang sering dan lama duduk di depan meja, mereka kerap membunyikan kretek leher lantaran dianggap bisa mengurangi rasa pegal. Namun demikian, terdapat sejumlah fakta dan risiko akibat kretek leher.
Orang yang merasa pegal sering membunyikan leher dengan cara menarik ke kanan dan kiri hingga terdengar “kretek”. Hal ini biasa disebut kretek leher dan umum dilakukan dalam keseharian.
Kretek leher kerap dilakukan setelah berjam-jam duduk atau menatap layar komputer dalam waktu lama. Bunyi kretek bisa saja timbul usai memutar leher. Ketegangan atau kekakuan di sekitar leher seolah seketika hilang.
Sebagian orang melakukan secara mandiri tanpa menyadari risiko di baliknya. Kretek leher yang tidak tepat ternyata bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari yang ringan hingga serius.
Fakta di Balik Kretek Leher: Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Leher Kita?
Seorang profesional yang membantu melakukan aktivitas kretek leher biasanya adalah ahli tulang belakang atau kiropraktor. Untuk itu, tidak disarankan untuk melakukan aktivitas kretek leher secara mandiri dan terlalu sering.
Leher sendiri adalah bagian penting dalam anatomi tubuh. Isi leher tidak hanya saluran-saluran pernapasan dan pencernaan, tapi juga berperan vital dengan tulang belakang.
Melansir laman Neurosurgery One (26/7/2023), terdapat 7 tulang yang dihubungkan oleh sendi kecil di leher. Sendi itu disebut juga sendi faset. Tugasnya membantu menggerakkan kepala.
Sendi faset mengandung campuran gas (nitrogen, karbon dioksida, dan oksigen) serta cairan sinoval. Ketika membunyikan leher atau melakukan kretek leher, tekanan cairan sinoval berubah.
Perubahan tekanan, seperti mengutip Spine Instituteof North America, dapat menyebabkan gelembung gas terbentuk dan pecah. Saat gelembung gas terbentuk dan pecah, hal berikutnya adalah timbul suara letupan atau retakan.
Ketika gelembung terbentuk dan pecah, tekanan terus menumpuk di dalam persendian. Gelembung itu terbentuk dan pecah kembali. Ini butuh waktu sekitar 20 menit agar tekanan internal kembali normal sebelum bisa membunyikan persendian lagi.

Tak hanya soal persendian, kretek leher juga melibatkan ligamen dan tendon yang menghubungkan tulang dan persendian. Keduanya berfungsi seperti karet gelang yang kuat.
Ketika menggerakkan persendian, tendon dan ligamen meregang di atas tulang dan persendian, lalu kembali ke posisi semula dengan cepat. Gerakan kembali dengan cepat ini merupakan salah satu penyebab potensial bunyi retakan di leher.
Selain itu, jika timbul bunyi disertai rasa sakit atau ketidaknyamanan, salah satu yang bisa menjadi penyebab adalah gesekan antartulang. Tulang rawan berfungsi sebagai bantalan bagi tulang dan persendian sehingga bisa bergerak bebas tanpa menimbulkan rasa sakit.
Namun, tulang rawan kian menipis mengikuti pertambahan usia. Sehingga, tulang dan persendian rentan terhadap gesekan satu sama lain yang menyebabkan munculnya bunyi dan gesekan, disertai ketidaknyamanan pada leher dan keterbatasan gerak.
Apa Saja Risiko Kretek Leher?
Pada dasarnya, kretek leher dilakukan dengan tujuan agar mengurangi tekanan pada persendian dan membuat terasa lebih baik, terutama setelah berjam-jam duduk atau menatap laptop terlalu lama.
Mengutip UPMC Health Beat (25/7/2025), kegiatan ini juga bisa melepaskan hormon yang bisa menimbulkan perasaan nyaman, seperti oksitosin. Hormon-hormon tersebut bisa membuat lebih rileks dan bahagia.
Namun, hal ini ternyata cukup berisiko jika dilakukan terlalu sering atau dengan cara yang salah. Memaksa leher untuk memunculkan bunyi berulang kali bisa menyebabkan berbagai masalah. Di antaranya seperti ketidakstabilan sendi.
Jika terlalu sering kretek leher, ligamen dan tendon bisa menjadi longgar. Ini bisa menyebabkan hipermobilitas, yakni suatu kondisi ketika leher tidak ditopang dengan benar dan menjadi terlalu fleksibel. Orang dengan kondisi hipermobilitas lebih rentan terkena cedera.

Terlalu sering atau keras melakukan kretek leher bisa juga menyebabkan saraf terjepit. Kondisi ini menyebabkan berbagai masalah, seperti nyeri, kesemutan, dan mati rasa. Gejalanya bahkan bisa berlangsung dari beberapa hari hingga beberapa minggu.
Di kasus tertentu, jika kretek leher dilakukan dengan terlalu keras, bisa menyebabkan kondisi serius yang mengancam nyawa. Gerakan kretek leher tiba-tiba menyebabkan robekan pada dinding arteri. Akibatnya, aliran darah ke otak berkurang sehingga meningkatkan risiko stroke.
Apa Alternatif untuk Menggantikan Kretek Leher?
Kretek leher sebenarnya bukan sesuatu yang perlu dilakukan. Jika memiliki keinginan untuk menggerakkan leher agar tidak kaku atau pegal, beberapa gerakan bisa menjadi alternatif.
Pada dasarnya, kretek leher hampir sama dengan aktivitas peregangan leher. Namun, melansir Physio Works, peregangan leher akan lebih efektif jika dilakukan dengan lembut, konsisten, dan dikombinasikan dengan kebiasaan baik.
Peregangan leher juga sangat cocok bagi orang yang sering merasakan nyeri leher. Kebiasaan baik yang perlu dilakukan mencakup perubahan postur, gerakan teratur, dan, jika diperlukan, penguatan otot leher.

Kendati demikian, peregangan leher juga tidak cocok untuk setiap masalah. Misalnya jika nyeri sudah terasa parah, terjadi setelah trauma, menyebabkan sakit kepala atau pusing, hingga menjalar ke lengan, disarankan untuk konsultasi dengan dokter atau ahli.
Peregangan leher bisa membantu mengurangi ketegangan otot, meningkatkan mobilitas jangka pendek, dan membantu bergerak lebih nyaman setelah lama berada di satu posisi
Bentuk peregangan leher yang bisa dilakukan, selain dengan kretek leher, salah satunya adalah peregangan rotasi leher. Caranya dengan menggerakkan kepala perlahan ke satu sisi hingga merasa sedikit peregangan. Kemudian, tahan selama 5–10 detik, lalu kembali ke tengah. Ulangi gerakan ini pada sisi lainnya.
Peregangan tekuk samping juga termasuk cara lainnya. Gerakkan telinga perlahan ke arah bahu tanpa mengangkat bahu. Kemudian, tahan selama 5–10 detik. Ulangi gerakan ini pada sisi lainnya.
Menundukkan dagu atau menarik leher ke melakang juga termasuk alternatif berikutnya. Gerakan dilakukan dengan menarik kepala lurus ke belakang seolah membuat dagu ganda dengan lembut.
Gerakan ini bukan merupakan peregangan, melainkan lebih ke pengaturan ulang postur. Tapi, gerakan ini sering kali membantu ketika kekakuan terkait postur tubuh ketika kekakuan terkait dengan postur tubuh saat menatap layar.
Cara lainnya adalah gerakkan kepala sedikit, lalu lihat ke bawah ke arah ketiak hingga merasakan peregangan di bagian belakang atau samping leher. Lakukan gerakan ini dengan lembut dan terkontrol.
Selama melakukan peregangan, jangan sampai melakukan sejumlah kesalahan umum, lantaran bisa juga berisiko fatal. Contohnya memaksakan peregangan alih-alih tetap nyaman. Lalu menahan terlalu lama saat leher sudah terasa iritasi.
Kesalahan lain adalah peregangan yang menyebabkan nyeri lengan, kesemutan, atau pusing. Tak lupa hindari melakukan peregangan semata tanpa memperbaiki postur, kekuatan, atau manajemen beban.

Paling penting, pastikan melakukan gerakan-gerakan peregangan leher dengan lembut dan terkontrol. Ingat kapan membutuhkan peregangan dan jangan tunggu sampai leher terasa sangat berat dan sakit.
Selain gerakan kesehatan leher, aktivitas peregangan juga bisa dilakukan dengan memperbaiki postur dan bagian tubuh lainnya. Ini akan memudahkan dalam menghindari risiko nyeri atau sakit lainnya.
Tak hanya peregangan, pastikan pula cukup istirahat ketika tubuh sudah lelah, tidak hanya kaku atau nyeri. Gerakan lain, seperti berjalan kaki dan menghirup udara segar, juga bisa membantu menghindari kaku hingga nyeri.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id































