tirto.id - Jemari Vickry Irham (57) bergerak lincah menorehkan tinta bolpoin di atas selembar kertas resi pengiriman. Di meja kasirnya, tumpukan kaset pita dari berbagai genre bersanding dengan tape deck yang tak henti memutar alunan lagu.
"Bentar ya, saya mau nulis dulu nama, alamat, dan penerimanya sebelum kelupaan," ujar pria asal Aceh yang telah puluhan tahun merantau di Bandung itu kepada Tirto, Kamis (23/7/2026).
Malam itu, dua pelanggan datang membawa sebungkus martabak. Mereka tidak membeli, melainkan melepas sebagian koleksi kaset pribadinya. Bagi Vickry, riung kecil seperti inilah yang menjadi nyawa pekerjaannya. Kaset bisa berganti pemilik, tetapi cerita di baliknya selalu menetap.
"Sebetulnya saya lebih suka ngobrol dan berinteraksi seperti ini," tuturnya terkekeh.
Suasana hangat itu adalah pemandangan saban hari di DU68 Musik, toko yang terselip di lantai dua sebuah bangunan di kawasan Dipatiukur, Kota Bandung. Di rak-rak kayunya, ribuan kaset pita, CD, piringan hitam (vinyl), hingga perangkat pemutar berdiri berdampingan. Koleksinya tak berjarak: dari dangdut, hip-hop, lagu daerah, nasyid, hingga murottal.
Namun, kehangatan DU68 tidak hadir secara instan. Ada napas panjang perjalanan selama hampir 26 tahun sebelum tempat ini menjadi suaka bagi para pencinta rilisan fisik.

Dari Trotoar Dewi Sartika hingga Ruko Sekeloa
Perjalanan DU68 ditarik jauh ke belakang, sekitar tahun 1993. Kala itu, Vickry masih berstatus mahasiswa Sastra Rusia Universitas Padjadjaran (Unpad). Demi bertahan hidup di tanah rantau, ia dan seorang kawannya nekat menjual koleksi kaset pribadi—salah satu harta paling berharga milik anak kos.
Alih-alih menjual murah ke pedagang besar, mereka memilih menggelar plastik di trotoar Jalan Dewi Sartika. Tanpa lampu penerang, bermodal sebatang lilin, dan keberanian menembus dinginnya malam Bandung.
"Kaset ori! Kaset ori!" seru mereka di tengah lalu lalang pejalan kaki, membedakan lapaknya dari serbuan kaset bajakan yang marak kala itu.
"Malam Minggu pertama jualan, kaset kami laku keras. Dari situ sadar, ini bukan cuma cara bertahan hidup, tapi bisa jadi peluang usaha," kenang Vickry.
Modal nekat itu berkembang menjadi sistem konsinyasi (titip jual). Banyak pedagang dan kolektor mempercayakan kasetnya kepada Vickry. Tanpa modal uang yang besar, usaha jalanan itu terus bergulir.
Namun, berdagang di trotoar era Orde Baru bukanlah urusan gampang. Hujan turun adalah musibah kecil; selebihnya adalah jatah piring untuk preman, ancaman orang mabuk, hingga oknum aparat yang asal comot tanpa membayar.
Begitu jalanan makin berisiko, Vickry menggeser lapaknya ke selasar kampus Unpad Dipatiukur dan pelataran Masjid Salman ITB setiap Jumat. Di situlah lapak kasetnya bertransformasi menjadi titik temu pegiat musik dan kebudayaan Bandung. Nama-nama seperti personel Pure Saturday, Harapan Jaya, Herry Sutresna (Ucok Homicide), Arian13 (Seringai), hingga sutradara Joko Anwar yang saat itu masih berkuliah di ITB, rutin mampir.
Bekal interaksi jalanan selama hampir delapan tahun itu memantapkan niat Vickry membuka toko permanen. Peluang datang saat sebuah ruko bekas kebakaran di Sekeloa selesai direnovasi. Meski rekan-rekannya ragu, Vickry berani menyewa tempat itu selama dua tahun.
"Teman-teman lain takut enggak balik modal, tapi saya yakin tempat ini bakalan ramai karena dekat Unpad dan ITB," ujarnya.
Tepat tebakannya. Dalam empat bulan, modal sewa dua tahun sudah menutup. Nama "DU68" pun lahir secara organik: gabungan dari nama jalan Dipatiukur dan nomor bangunan 68.

Melawan Badai Digital dan Kurasi Tanpa Kasta
Gelombang zaman tak pernah ramah pada rilisan fisik. Periode 2007–2008 menjadi fase krusial saat industri musik dihantam pembajakan masif, disusul era disrupsi platform streaming. Satu per satu toko musik arus utama gulung tikar.
Anehnya, DU68 justru bergeming.
Secret recipe DU68 terletak pada model bisnisnya. Jika toko musik konvensional bergantung pada pasokan label dan produk baru, DU68 hidup dari sirkulasi koleksi antar-penggemar.
"Kalau toko musik biasa, cari album lama God Bless pasti sudah enggak ada karena enggak diproduksi. Di sini ada, karena berasal dari koleksi orang yang menjualnya ke kita," terang Vickry.
Selain itu, harganya relatif bersahabat bagi kantong pelajar dan mahasiswa. Di DU68, musik juga diperlakukan tanpa kasta. Kaset pengajian bisa berdampingan dengan heavy metal, dangdut bersisian dengan black metal, dan lagu Sunda menempati ruang yang sama dengan rock klasik.
"Merendahkan satu genre sama saja meremehkan kerja keras musisi. Semua punya proses kreatif yang patut dihargai," tegasnya.
Soal digitalisasi, Vickry mengoperasikan toko secara adaptif. Akun Instagram dan lapak online DU68 bukan lahir dari idealismenya, melainkan "paksaan" anak-anak muda yang rajin nongkrong di tokonya. Meski kini pesanan datang dari luar pulau, Vickry melarang dirinya melupakan esensi toko fisik.

Uniknya lagi, Vickry tak pernah berambisi menjadikan DU68 sebagai warisan keluarga. Kedua anaknya telah memilih jalan masing-masing—satu di bidang IT, satu lagi menempuh pendidikan kedokteran.
"Kalau nanti saya sudah enggak ada, mungkin DU juga selesai. Realistis saja, nikmati yang sekarang," ucapnya santai.
Keinginan Vickry agar DU68 tetap menjadi ruang inklusif terbukti saban hari. Toko ini dipenuhi lintas generasi—termasuk Gen Z yang tumbuh di era Spotify.
Malam itu, Ajun (31), alumnus Seni Rupa UPI, tampak sibuk memilah piringan hitam sembari memeluk CD album Harapan milik band indie The Cottons. Berawal dari rekomendasi dosen saat menyusun skripsi pada 2017, Ajun kini menjadi pelanggan setia.
"Selain senang dengerin musiknya, saya senang lihat cover kaset fisiknya. Menarik banget. Di sini banyak lagu yang sebelumnya enggak pernah saya dengar di platform digital," kata Ajun.

Hubungan di DU68 kerap melampaui relasi penjual dan pembeli. Pelanggan datang untuk menyeduh kopi, bertukar pikiran, atau sekadar menumpangkan kisah hidup. Tak sedikit pasangan yang berkenalan di lorong kaset ini, lalu bertahun-tahun kemudian kembali hanya untuk melakukan sesi foto pre-wedding atau merayakan anniversary membawa kue tar.
“Ada yang datang bilang, 'Om, dulu kami jadian di DU.' Sampai seperti itu,” kenang Vickry tersenyum.
Sebelum pamit dan menitipkan walkman untuk diservis, saya memutuskan membeli kaset kompilasi Iwan Fals bertajuk Prihatin seharga Rp35 ribu. Vickry mengambil kaset itu, memasukkannya ke tape deck, dan memutar lagu "Yang Terlupakan". Alunan vokal khas Iwan Fals seketika memenuhi sudut ruangan.
Ia kemudian menyerahkan kaset tersebut dengan ramah. Saat langkah saya makin jauh meninggalkan toko, Vickry dan pekerjanya kembali sibuk merawat kaset-kaset di rak.
Di DU68, waktu mungkin terus berjalan, tetapi lagu-lagu lama dan kenangan di dalamnya menolak untuk usang.
Penulis: Akmal Firmansyah
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id
































